Indonesia
NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Amplop Coklat

Dua hari setelah malam perayaan di restoran itu, rutinitas di biro bantuan milik Rhea kembali bergulir seperti biasa. Sinar matahari sore menembus celah-celah tirai kayu.

Aroma kopi hitam yang menyengat menyeruak dari cangkir milik Rayven. Pria itu kini tampak lebih sering menghabiskan waktu dokumen hukum, biro kecil itu telah menjadi rumah kedua baginya.

"Rhe, asli deh semenjak berita kemenangan kasus Bima viral di media sosial, email masuk ke kantor kita jadi membludak banget," seru Zora dari balik layar komputernya.

Rhea tertawa halus dari meja kerjanya, menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Ingat ya Zor, kita pilih kasus yang betul-betul membutuhkan bantuan hukum dan kemanusiaan. Jangan sampai kita asal Terima cuma karena mengejar ketenaran."

"Siap, Bu Bos," sahut Zora seraya memberikan hormat.

"Betul. Kualitas penanganan kasus jauh lebih penting daripada kuantitas," sambung Rayven yang menyimak pembicaraan mereka.

Di tengah suasana sore yang tenang dan santai itu, suara bel di atas pintu depan biro mendadak berdenting nyaring.

Rhea, Zora dan Rayven secara refleks mengalihkan pandangan ke arah pintu. Seorang pria yang mengenakan seragam kurir pengiriman barang berdiri di ambang pintu dan memegang sebuah amplop coklat tebal agak kusam.

"Permisi... betul ini biro bantuan hukum Rhea & partners?" tanya kurir itu.

"Iya betul, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" jawab Zora berdiri dari kursinya.

Kurir itu menghela napas lega, lalu menyerahkan amplop coklat tersebut kepada Zora.

"Ini ada paket pengiriman khusus, Mbak. Pengirimnya minta dokumen ini disampaikan langsung ke biro ini hari ini juga," kata kurir itu.

Zora menerima amplop tersebut, mengamati bagian depan amplop yang tidak memiliki resi resmi dari jasa ekspedisi.

"Lho, Pak, ini resi pengirimannya mana ya? Terus nama pengirimnya siapa?" tanya Zora sambil membolak-balikan amplop itu.

"Aduh, Mbak... ini sebenarnya bukan dari ekspedisi resmi. Tadi pagi, ada seorang nenek tua yang mendatangi kantor cabang saya. Wajahnya pucat sekali. Beliau memohon-mohon meminta saya mengantarkan amplop ini pribadi ke alamat ini. Saya kasihan melihat kondisinya, jadi saya bantu antarkan," jawab kurir itu dengan santai.

Mendengar penjelasan kurir tersebut, perasaan Rhea mendadak berdesir aneh. Ada sebuah firasat tidak biasa yang merayap halus di dalam dadanya. Rhea segera berdiri dari sofa dan melangkah mendekat.

"Nenek tua? Bapak tahu siapa nama nenek itu? tanya Rhea pelan.

Kurir itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, mencoba mengingat-ngingat. " Kalau tidak salah, namanya Bu Mira, Mbak. Beliau cuma pesan, tolong sampaikan ke pengacara di biro itu, hanya mereka yang bisa bantu saya. Setelah itu beliau langsung pergi naik taksi."

Setelah menandatangani bukti Terima barang sederhana yang disodorkan sang kurir, pria itu pamit pergi. Pintu kembali tertutup rapat.

Zora membolak-balik amplop coklat itu ditangannya. "Bu Mira? Kita nggak punya klien atau kenalan nama Bu Mira kan, Rhe?"

"Setahu gue nggak ada," gumam Rhea.

Rayven ikut berdiri dari sofanya, melangkah mendekati meja tengah Zora.

"Coba buka, Zora. Kita lihat apa isinya,"

Dengan perlahan dan hati-hati, Zora merobek segel bagian atas amplop coklat tersebut. Di dalamnya, terdapat selembar surat pertama yang ditujukan untuk pihak biro, sebuah amplop putih berukuran lebih kecil yang segel rapat menggunakan lilin merah, serta satu foto tua yang warnanya sudah memudar.

"Ada dua surat dan satu foto," bisik Zora.

Ia mengeluarkan lembaran surat pertama lalu membacanya keras-keras di hadapan Rhea dan Rayven.

Kepada Yth. Pengacara di Biro Bantuan Hukum,

Saat surat ini sampai di tangan kalian, mungkin saya sudah tidak lagi di dunia ini...

Zora mendadak menghentikan bacaannya. Matanya membelalak kaget, Rhea dan Rayven saling berpandangan dengan raut wajah yang membeku seketika.

"Lanjutkan, Zor," desis Rayven dingin namun tegas.

Tolong... berikan amplop putih berlipat lilin ini kepada putri saya, Amara. Tiga puluh tahun yang lalu saya telah mengusirnya dari rumah dan membuat dia membenci saya setengah mati. Saya rela dibenci seumur hidup, tapi saya ingin dia membaca alasan yang sebenarnya di dalam surat ini.

Saya sendiri tidak tahu di mana Amara berasa sekarang setelah puluhan tahun berpisah. Satu-satunya kenangan yang saya miliki hanyalah foto masa kecilnya yang saya sertakan dalam amplop ini.

Tolong temukan putri saya, sampaikan surat terakhir ini padanya. Ini adalah satu-satunya penyesalan dari pengorbanan terbesar dalam hidup saya.

Keheningan total menyelimuti ruangan biro begitu Zora selesai membaca kalimat terakhir.

"Tiga puluh tahun. Ibu ini mengusir anaknya tiga puluh tahun dan menyimpan rahasianya sendiri selama itu," gumam Zora parau.

"Masalahnya bukan cuma itu. Bu Mira sendiri tidak tahu dimana anaknya berada, dan kita juga nggak tahu Bu Mira ada di mana sekarang," Rayven mengusap dagunya.

Rhea tidak menyahut. Jemarinya perlahan terulur, menyentuh permukaan amplop.

Saat jemarinya bersentuhan dengan kertas tersebut, sebuah guncangan energi yang amat dingin dan memilukan mendadak menghantam kesadaran Rhea. Penglihatannya samar-samar membayangi sesosok wanita tua dengan wajah pucat pasi yang melangkah pincang masuk ke dalam sebuah taksi berwarna biru di tepi jalan yang ramai.

Rhea menarik tangannya dengan napas yang memburu. "Kita harus cari tahu Bu Mira sekarang, mungkin kondisi fisiknya udah lemah."

"Tapi Rhe, kota ini luas banget. Kita bahkan nggak punya nomor telepon Bu Mira atau alamat tinggalnya," seru Zora panik.

"Satu-satunya petunjuk kita adalah taksi yang dinaiki Bu Mira dari kantor kurir tadi. Kurir tadi bilang Bu Mira mencegat taksi tepat di depan kantor cabangnya, kan. Saya akan coba hubungi rekan kerja saya di kepolisian lalu lintas sekarang juga untuk meminta izin membuka rekaman cctv di sekita jalan itu," sahut Rayven, otaknya berputar cepat secara realistis.

Tanpa membuang waktu, Rayven langsung merogoh telepon genggamnya dan melangkah cepat keluar Biro. Rhea dan Zora dengan sigap menyambar tas serta merapikan surat-surat penting itu ke dalam map berlapis.

Zora yang duduk di kursi belakang sibuk menatap layar ponselnya, mencoba menghubungi beberapa perusahaan armada taksi terbesar di ibu kota.

"Gue udah coba hubungi call center armada taksi biru, tapi mereka bilang tanpa nomor plat dan kendaraan yang gak jelas, mereka gak bisa melacak taksi mana yang mengangkut penumpang nenek itu," sahut Zora dari belakang kursinya.

"Rayven, bagaimana dengan cctv jalanan?" tanya Rhea cemas.

"Teman saya di kepolisian sedang memeriksa rekaman cctv simpang jalan di dekat kantor itu. Tapi karena itu area padat lalu lintas, ada belasan taksi dengan warna serupa yang melintas dalam tentang waktu yang sama," jawab Rayven.

"Artinya... kita gak tahu taksi mana yang membawa Bu Mira?" bisik Zora lemas dari belakang.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!