"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Erlangga perlahan membuka pintu kamar. Menyadari sang istri tengah tertidur pulas, langkah kakinya langsung terhenti di sisi ranjang. Ia hanya berdiri terpaku di sana dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
Tanpa sengaja, ekor matanya menangkap layar ponsel Kara yang menyala dan bergetar pelan di atas ranjang. Dengan gerakan pelan, Erlangga langsung mengambil ponsel itu.
Alisnya langsung berkerut tajam saat matanya menelusuri deretan chat antara Kara dan Anya.
Di layar itu, terpampang jelas pesan Kara yang tengah membanggakan dirinya sendiri, Karena merasa telah berhasil membohongi suaminya.
Perlahan, sudut bibir Erlangga terangkat tipis. "Ck... Lo pikir lo sudah menang, Kara?" gumamnya pelan.
Setelah itu, Erlangga kembali meletakkan ponsel itu di tempat yang semula, lalu ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar.
Begitu melewati koridor, langkah kaki Erlangga langsung terhenti saat ia berpapasan dengan Martha yang tengah berjaga malam.
"Martha," panggil Erlangga dengan suara baritonnya yang tenang.
"Ya, Tuan?" Martha langsung menghentikan langkahnya dan menunduk hormat.
"Buatkan jamu untuk Kara besok pagi. Dia sedang sakit perut karena datang bulan." ucap Erlangga.
"Baik, Tuan."
Setelah mengucapkan itu, Erlangga kembali melangkah. Tujuannya saat ini bukanlah kembali ke kamar, melainkan ke arah ruang kerjanya.
**
Kara mengerjap pelan saat sinar mentari pagi menembus tirai dan menyinari matanya.
Wanita itu menggeliat malas. Dengan mata yang setengah terpejam, tangannya meraba-raba sisi ranjang untuk mencari keberadaan ponselnya.
Begitu jemarinya menyentuh benda pipih itu, ia segera menyalakannya dan mengintip layar dengan dahi yang berkerut dalam.
"Hoaah... masih jam sepuluh pagi ternyata," gumam Kara sambil menguap lebar, dan bersiap untuk menarik selimutnya kembali.
Namun, detik berikutnya, kesadaran Kara mendadak pulih sepenuhnya.
Matanya langsung membelalak lebar. Ingatan tentang kejadian semalam langsung berputar cepat di kepalanya. Ia ingat betul bagaimana ia berpura-pura sakit perut demi menghindari Erlangga. Dan seingatnya... Pria itu tidak pernah kembali lagi ke kamar ini setelah menggendongnya ke ranjang.
Kara langsung menegakkan tubuhnya, dan duduk bersila di atas ranjang. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menatap ke sisi kasur yang kosong di sebelahnya.
"Dia semalam tidur di mana, ya?" batin Kara dengan alis yang bertaut.
Namun, ekspresi bingung itu tidak bertahan lama. Kara segera mengendikkan bahunya acuh dan mencebikkan bibirnya. "Ngapain juga gue mikirin dia? Bukan urusan gue juga dia mau tidur di mana. Bagus malah dia nggak tidur disini," gerutunya dalam hati.
Dengan gerakan cepat, Kara langsung menyibakkan selimutnya. Lalu turun dari ranjang dan melangkah riang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Satu jam kemudian, Kara keluar dengan penampilannya yang jauh lebih segar. Dan ia memutuskan untuk langsung turun ke lantai bawah.
Begitu kakinya menginjak lantai bawah, pandangan Kara langsung tertuju ke arah ruang makan. Di sana, terlihat Martha yang tengah sibuk mengelap permukaan meja.
"Martha..." sapa Kara, ia melangkah lebar mendekati wanita itu sambil menyunggingkan senyum lebar.
Martha yang tengah fokus mengelap meja itu langsung tersentak. Tubuhnya berputar cepat menghadap ke arah Kara.
Setelah melihat siapa yang datang, ekspresi terkejut di wajah Martha langsung berubah, digantikan dengan senyuman yang ramah.
"Eh, Nyonya sudah bangun?" tanya Martha.
"Udah dong!" sahut Kara. "Erlangga dimana ya? Lo tahu nggak?"
"Seperti biasa, Nyonya. Tuan Muda Erlangga sudah berangkat ke kantor sejak pagi tadi," ucap Martha.
"Oh iya Nyonya sebentar," lanjut Martha yang langsung berbalik ke arah pantry, lalu kembali sambil menyodorkan sebuah gelas kaca. "Tadi Tuan Muda juga berpesan kepada saya untuk membuatkan Anda jamu pereda nyeri."
Kara langsung melirik cairan pekat berwarna coklat di dalam gelas itu. Seketika, senyum di wajahnya lenyap. "Hah? Jamu? Nggak, nggak! Gue nggak mau, Martha!"
"Tapi ini perintah langsung dari Tuan Muda, Nyonya," potong Martha. "Beliau bilang, Anda mengeluh sakit perut semalam karena sedang datang bulan. Makanya, Tuan Muda menyuruh saya membuatkan jamu untuk anda."
"Udah, buang aja ke wastafel. Gue nggak mau minum. Bau aromanya aja udah aneh, pasti rasanya pait banget, kan?"
"Tapi Nyonya..."
"Udah aman! Dia juga nggak bakal tahu kalau lo buang jamu itu ke tempat cucian piring."
Martha langsung menggelengkan kepalanya pelan, lalu perlahan mengangkat satu tangannya, mengarahkan jari telunjuknya ke bagian atas dinding. "Masalahnya, Tuan Muda selalu memantau keadaan rumah ini lewat CCTV, Nyonya."
Tubuh Kara langsung membeku. Lalu pandangannya mengikuti arah telunjuk Martha dan mendarat tepat pada sebuah benda bulat kecil berwarna hitam yang terpasang di setiap sudut langit-langit ruangan.
"Hah! Jadi selama ini gerak-gerik gue diawasin Erlangga?" batin Kara menjerit frustrasi. Wajahnya langsung memucat membayangkan sandiwaranya semalam yang ketahuan.
Kara langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Lalu ia kembali menatap Martha dengan mata yang menyipit. "Sejak kapan... Erlangga pasang kamera pengintai kayak gitu di rumah ini?"
"Kamera CCTV di rumah ini memang sudah terpasang di setiap sudut sejak dulu, Nyonya. Bukan baru-baru ini," jawab Martha.
"Yaudah sini gue minum jamunya." Kara langsung menyambar gelas kaca itu dan langsung menenggaknya habis.
Setelah itu, Kara langsung memegangi perutnya yang terasa mual, lalu menyeka sisa air di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Wajahnya langsung memerah, menahan kombinasi antara rasa pahit yang membakar tenggorokan dan rasa kesal yang meledak-ledak di dalam dadanya.
Sambil menatap tajam ke arah kamera CCTV di sudut ruangan, ia mengepalkan tangannya erat.
"Sialan lo, Erlangga!" umpat Kara dalam hati, dadanya naik-turun menahan ledakan jengkel yang luar biasa pada suaminya itu.
Tanpa Kara sadari, Di dalam ruang kerja yang mewah di lantai atas gedung Maheswara Group, Erlangga tengah duduk bersandar di kursi kebesarannya. Alih-alih memeriksa laporan keuangan di laptopnya, layar monitor di hadapannya justru menampilkan live streaming CCTV dari ruang makan rumahnya.
Sudut bibir Erlangga terangkat tipis, membentuk senyum miring yang penuh dengan kepuasan saat melihat wajah Kara yang mendadak pias di layar monitor.
Erlangga langsung terkekeh pelan.
"Sedikit hukuman karena lo berani bohongin gue, Lengkara!" bisik Erlangga pada layar monitornya.
thor tolong kasih pelajaran ke kara🤣🤣🤣
yg ada kara takut kehilangan erlangga
lanjut double up kak
lanjut kak
lanjut kak
lanjut kak