Indonesia
NovelToon NovelToon
NAFAN (Nai And Efan)

NAFAN (Nai And Efan)

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Contest / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Melaniasf

Cinta dan sahabat, dua hal yang tak terpisahkan. Terkadang dari dua hal itu mampu merubah hidup jadi lebih berwarna atau pun sebaliknya. Berawal dari sahabat perlahan menjadi cinta dan cinta berubah hanya sebagai sahabat.

Tak ada yang tahu jalan takdir membawa kisah yang mana namun yang jelas akan ada hal yang menyakitkan.

Naishilla, gadis manis ini memiliki dua orang yang sangat berarti untuknya yaitu Efan kekasihnya dan Amanda sahabatnya. Hubungan Naishilla dan Amanda sangatlah unik mereka saling melengkapi dan Amanda sangat kagum dengan Naishilla, menurutnya Nai itu sempurna namun tidak ada pun rasa iri pada Amanda.

Jalinan persahabatan itu mulai kendur saat Efan kekasih Nai pindah sekolah ke Sekolah yang sama dengan mereka. Amanda merasa iri dengan kemesraan keduanya dan hatinya tak terasa telah mempunyai rasa untuk Efan yang tak lain adalah kekasih Nai.

Semuanya tak lagi sama, ada sesuatu yang membuat ketiganya serasa tak saling mengenal lagi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaniasf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hilang ingatan

"Tante Efan boleh jenguk Nai yah? Efan mohon"

Efan mengantupkan kedua tangannya, wajah Efan memelas namun lawan bicaranya tidak mengatakan sesuatu, Efan masih setia menunggu dan berdoa dalam hati supaya dia di ijinkan untuk bertemu dengan gadis yang telah menyelamatkan hidupnya walau cuma sekali itu sudah cukup baginya.

"Maaf Efan, Tante melarang mu untuk bertemu dengan Nai"

Ucapnya dan langsung berjalan meninggalkan Efan.

"Tapi Tante"

Mama Nai berhenti melangkah dan langsung berbalik menatap Efan dengan penuh kekesalan, Efan begitu keras kepala padahal dirinya sedang menahan emosi. Melihat wajah Efan dia teringat wajah sedih putrinya yang dihianati dan terus tersakiti, sebagai seorang ibu, dia berhak untuk membenci orang membuat putrinya menderita.

"Tante bilang pergi!"

Nadanya masih terdengar halus tapi Efan tidak menghiraukan.

"Tante sekali saja!"

"Sudah tante bilang PERGIII!!!"

Efan sontak kaget mendengar bentakan Mama Nai, dan ini pertama kalinya Efan melihat wajah murka Mama Nai tapi Efan tidak gentar, dia ingin sekali bertemu dengan Nai.

"Tapi-"

"Tapi apa? Kalau saya ijinkan kamu menemui Nai apa kamu bisa sembuhkan Dia? Apa kamu bisa buat Nai bangun dan kembali ceria seperti dulu? kamu bisa apa tidak? JAWAB!!!"

Efan mengepalkan tangannya kuat, wanita didepannya ini sunguh sangat marah kepadanya.

Efan tidak bisa berkata apa-apa, pikirannya kacau. andai saja bisa mengulang lagi waktu Efan tidak akan membiarkan ini semua terjadi.

"Kamu nggak bisa jawabkan? Tante minta kamu jauhi Nai dan jangan menemui Nai lagi karena kamu cuma membawa kesedihan untuk Nai!"

kali ini Efan menurut tak ada gunanya berdebat dengan seorang ibu yang sedang murka.

"Baik Tante, Efan janji tidak akan menemui Nai lagi"

Efan berjalan pergi menjauh dari sana, Mama Nai mengawasi terus Efan sampai kemobilnya, dia takaut Efan akan mengikutinya dan tau kamar rawat Nai, matanya terus saja mengawasi gerak-gerik Efan hingga Efan menyalakan mesin mobilnya barulah Mama Nai masuk kedalam rumah sakit.

Dari dalam mobil, Efan melihat Mama Nai masuk dan buru-buru keluar dari mobil lalu berjalan mengikuti Mama Nai.

Sesekali Efan bersembunyi saat Mama Nai menoleh ke belakang Mungkin dia merasakan ada orang yang mengikutinya.

"Huff.. Hampir saja"

Efan terus mengikutinya sampai dia masuk ke kamar rawat paling ujung, Efan pun menghampiri kamar rawat tersebut, nomer 13.

"Apa gue masuk yah?"

Efan bertanya ke dirinya sendiri tapi batin Efan berkata lain, kalau dia masuk sekarang pasti dia langsung di usir dan mungkin Nai akan di pindahkan ke rumah sakit yang lain, pasti nya akan sulit untuk menemukannya.

"Mending gue tunggu sampai Tante keluar baru gue masuk"

Efan memutuskan untuk duduk di bangku tak jauh dari kamar rawat nomer 13.

Waktu terus berlalu Efan masih setia menunggu walau pun jenuh dan bosa ia rasakan namun berkat ponselnya ia sedikit terhibur. Lima jam sudah dia menunggu di sini dan mulai terbiasa dengan suasana rumah sakit.

"Tante cepat keluar"

Desis Efan dan tak lama seorang keluar dari kamar No 13 membuatnya merasa lega dan segera sembunyi.

Setelah orang itu pergi, Efan dengan cepat masuk ke kamar rawat no 13 dan saat dia membuka pintu itu pandangannya langsung tertuju pada gadis yang terbaring, matanya terpejam.

"Nai"

Efan menutup pelan pintu itu dan langsung berjalan menghampiri gadis yang terlelap.

"Hai"

Sapa Efan dan langsung duduk di kursi samping ranjang, tangannya langsung meraih tangan gadis itu, dikecupnya lembut punggung tangannya terasa dingin yang ia rasakan.

Air mata Efan mengalir dengan sendirinya melihat wajah tenang gadis di depanya terlihat tanpa beban.

"Kenapa elo bodoh? Harusnya elo biarin gue yang ketabrak dan pura-pura nggak lihat gue!"

ucap Efan memarahi gadis di depannya dan berharap gadis ini mendengar ucapannya.

"Lihat elo sekarang! Gara-gara elo, gue dihatui rasa bersalah dan pastinya elo senengkan? ayo jawab!!"

Efan terus saja memarahi Nai sedangkan Nai tidak merespon sedikit pun. Efan menggigit bibir bawahnya sangking kuatnya hingga berdarah namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sesak didadanya melihat gadis di depannya ini. Gadis yang menderita karenanya.

Hening kini terasa, Efan masih menangis tanpa suara.

"Maaf tapi gue nggak minta elo maafin gue nggak pantas, elo harus benci sama gue karena gue pantas di benci"

Efan mengatakan itu semua tapi tidak berani menatap Nai hanya saja berharap Nai bisa mendengarnya walau matanya terpejam. Efan bangkit dari duduknya.

"Nai, aku mohon kamu bangun!"

Suara Efan pelan dan terdengar sangat lembut seperti berasal dari lubuk hatinya yang terdalam.

Efan tersenyum sesaat melihat wajah Nai yang entah kenapa membuat rasa sakit di dadanya perlahan menghilang.

"Cepat sembuh yah"

Ucap Efan dengan lembutnya lalu mengecup kening Nai dengan hangatnya. Efan tidak menyadari kalau ada cowok yang masuk kedalam ruangan dan sepertinya cowok itu tidak suka kedatangan Efan dan yang dilakukan Efan sekarang.

Tanpa babibu atau semacamnya cowok itu langsung menarik paksa Efan ke luar kamar rawat Nai.

"Lepas!"

Efan menepis kasar tangan cowok yang menyerednya tadi. Cowok itu melihatkan tatapan membunuh tapi Efan terlihat tidak takut dan membalas tatapan itu dengan tatapan remeh.

"Apa? Elo marah Vin?"

Efan dengan beraninya mengatakan itu, ya Alvin lah yang memaksa Efan ke luar kamar rawat Nai.

"Mau elo apa sih? Gue heran sumpah elo udah punya Manda, apa satu kurang buat elo kalau ia cari yang lain jangan Nai, Nai itu milik gue!"

Ucap Alvin dengan penuh penekanan namun lagi-lagi orang didepannya ini seperti tidak menghiraukan.

"Elo mimpi yah? Nai milik elo? itu nggak mungkin paling dia cuma kasihan sama elo dan elo itu cuma pelarian buat Nai dan jangan berharap lebih dari itu! Ngerti!"

Dengan entengnya Efan mengatakan itu membuat amarah Alvin sudah memuncak dan tidak menghiraukan lagi kalau ini rumah sakit dan tidak boleh membuat keributan.

Brakkk..

Satu pukulan keras menghantam pipi Efan membuatnya mengerang kesakitan.

"Elo sudah sadar sekarang? Elo itu cuma mantan dan elo itu masalalu yang harus di lupakan dan jangan marah kalau Nai udah dapat penganti elo yaitu gue dan enyahlah dari kehidupan Nai detik ini juga!!"

Entah kanapa ada sesuatu yang mengusik di benak Efan setelah mendengar ucapan Alvin.

"Elo!!"

Efan langsung mencengkram kerah baju Alvin dengan kuat dan melihatkan tatapan mematikan.

"EFAN!!"

Seorang wanita langsung menghampiri mereka berdua, Efan melepaskan cengkramannya.

"Tante"

Plakk...

Wanita itu langsung menampar keras pipi Efan.

"Tante sudah bilang jangan temui Nai! Apa Tante harus memohon? Apa perlu tante berlutut di di kakimu?"

"Tante, tante bilang apa sih? Tante nggak usah memohon biar Alvin panggil saptam buat ngusir dia!"

Cegah Alvin, Alvin menatap tajam ke Efan yang saat ini tengah tertunduk lesu.

"Efan, Tante harus lakukannya?"

Tanyanya sekali lagi. Efan mengepalkan kedua tangannya, dan dia tau harus apa.

"Nggak usah Tante, Efan akan pergi!"

Dengan berat hati melangkahkan kakinya menjauh dari sana. Mama Nai langsung terduduk di kursi, Alvin merasa tidak tega melihat Mama Nai seperti itu.

"Tente?"

"Tante nggak apa-apa Vin"

Mama Nai menghapus air matanya semua sangat melelahkan.

"Mama"

.....

Setelah Efan dan Alvin pergi perlahan jari Nai bergerak, telinganya mendengar jelas keributan yang berasal dari luar ruangan.

Kelopak matanya membuka perlahan, silau lampu membuat matanya tidak nyaman. Gadis ini mulai melihat sekeliling terasa asing dan dia mengangkat tangannya yang tertusuk jarum infus.

"Kepala ku saki"

Gadis ini langsung memegangi kepalanya dan mengingat kejadian yang telah terjadi. sepertinya gadis ini sudah mengingat semua perlahan ia posisikan tubuhnya duduk di atas pembaringan. Tidak ada orang yang menemani membuat gadis ini ketakutan.

"Mama"

Dia berusaha memanggil Mamanya namun tidak ada orang yang masuk tapi gadis ini tidak menyerah dan memanggil lagi mamanya dengan nada yang tinggi.

"MAMA"

Dari luar terdengar jelas suara gadis itu dan membuat kedua orang ini terkejut.

"Tante itu seperti suara Nai"

"Hah?"

Mama Nai langsung berlari dan membuka pintu kamar rawat terlihat jelas gadis manis yang sedang terduduk di atas pembaringan, rambutnya pendek sebahu karena tindakan oprasi dengan terpaksa rambut panjangnya harus di potong.

"Sayang"

Melihat anaknya telah siuman membuatnya senang dan langsung memeluknya dengan erat, Alvin tersenyum sangat bahagia melihat Nai yang telah siuman.

"Nai sayang"

Gadis ini langsung melepas pelukan mamanya dan menatapnya tak suka.

"Mama aku Shilla bukan Nai!"

Ucapnya dengan nada yang tidak enak di dengar membuat dua orang ini kebingungan apa ini semua karena luka di kepalanya.

"Mama dia siapa?"

Ucap Nai sambil menunjuk Alvin,

Nampaknya kedua orang ini bingung harus menjawab pertanyaan gadis di depannya.

"Aww"

Kedua orang ini langsung panik ketika gadis ini mengeluh sakit di kepalanya.

"Sayang kamu istirahat dulu yah! Vin kamu jaga Shilla dulu Tante mau panggil Dokter"

"Ia tante"

Seperginya Mama Nai suasana sangatlah canggung Alvin ingin sekali memeluk kekasihnya namun itu tidak mungkin keadaannya sekarang seperti ini.

Nai atau sekarang bisa di panggil SHILLA merasakan tenggorokannya kering, dia menoleh kearah cowok yang berada di sampingnya.

Alvin sepertinya tau apa yang diingin kan gadis ini.

"Kamu haus?"

Tanya Alvin dengan lembutnya, Shilla langsung mengangguk pelan.

"Nih"

Alvin membatu Shilla duduk, Shilla pun meminum sedikit air putih di gelas itu.

"Udah"

Alvin pun meletakan lagi gelasnya, entah kenapa Shilla terus saja memandang Alvin membuat Alvin salting dan memberanikan diri untuk bertanya.

"Kenapa? apa ada yang salah dengan ku?"

"Kamu lucu"

Dua kata itu meluncur lancar dari mulut mungil Shilla membuat Alvin mengacak -acak poni Shilla dan senyum manis Shilla mereka dengan sendirinya. Alvin yang melihatnya bernapas lega akhirnya dia bisa melihat senyum manis kekasihnya lagi.

Tak lama pintu kamar rawat dibuka dan masuk tiga orang yang tidak lain seorang dokter dan orang tua Shilla. Ayah Shilla tersenyum senang melihat putrinya.

"Shilla"

Panggil ayah ke pada putrinya, dia tahu kalau putrinya tidak ingat kalau nama panggilannya itu Nai ya walaupun dari lahir dia sudah di panggil Shilla, nama panggilan "NAI" itu Shilla sendiri yang menginginkannya.

"Papa, papa jangan marahin Kakak. Shilla sendiri yang ngotot balapan, pa Shilla mohon jangan marahin kakak!"

Suara Shilla terdengar senduh setiap ucapanya tersirat keharusan untuk mengabulkan permintaannya.

"Shilla sayang apa yang kamu ingat?"

"Shilla maksa ikut balapan ke kak Kai dan nggak bilang sama Papa sama Mama terus Shilla nggak bisa kendaliin motor kakak karena ditikungan dan Shilla nggak inget apa-apa lagi, aww kepala Shilla sakit Pa"

Shilla merasaka kepalanya sangat sakit seakan dunianya berputar, semua yang disana panik melihat Shilla yang kesakitan.

Dokter membaringkan Shilla dan langsung menyuntikan obat pereda rasa sakit, perlahan Shilla mulai tenang dan terlelap.

"Shilla tidak apa-apa, dia butuh istirahat"

"ada apa dengan ingatan anak saya dok?"

Tanya Ayah Shilla sedangkan istrinya sudah tidak kuat berdiri untung ada Alvin yang menyangga tubuhnya.

"Sepertinya Putri bapak terkena amesia namun di kasus ini dia hanya kehilangan memori beberapa tahun ke belakang dan tenang saja ini tidak membahayakan ingatan nya bisa sembuh kembali kalau begitu saya permisi dulu"

..

Jam dinding menunjukan pukul 19.00, gadis ini masih tertidur dan di temani orang-orang yang menyayanginya.

"Alvin kamu pulang gih!"

Alvin hanya menggeleng sudah ke sekian kalinya orang tua Shilla memintanya untuk pulang karena sudah malam tapi Alvin kekuh untuk menemani Shilla.

Perlahan kelopak mata Shilla terbuka, senyum Alvin muncul saat melihatnya terbangun.

"Om.. Tante, Shilla sudah bangun"

Keduanya langsung menghampiri Shilla.

"Pa, Kakak mana?"

Tanya gadis cantik ini dia rindu sekali dengan kakaknya dia ingin memeluknya erat.

"Sayang kakak kamu di prancis"

Ucap ayahnya dengan nada menyakinkan walau sebenarnya itu cuma ke bohongan, Shilla menatap Ayahnya dengan tatapan yang sulit di artikan perlahan air matanya turun.

"Papa jangan bohong! Shilla tau Kakak sayang banget sama Shilla dan Kakak nggak mungkin ninggalin Shilla gitu aja walau pun Papa yang memintanya, Pa! Shilla mohon bicara jujur, Kakak kemana!!"

Semua yang disana terdiam beribu bahasa, lima menit berlalu akhirnya ayahnya mengatakan semua walaupun itu bisa membuat putrinya sedih, sekarang atau nanti juga sama saja kan.

"Sayang Kakak Kai sudah meninggal lima tahun lalu"

"Nggak munggkin Pa! Kakak nggak mungkin"

Gadis ini tidak bisa meneruskan kata-katanya, dia langsung menangis dan sang ibu langsung memeluknya erat menenangkan malaikat kecilnya.

Setelah tenang ayahnya menceritakan semua yang terjadi lima tahun yang di lupakan Shilla namun ayahnya hanya menceritakan yang penting dan menghapus nama EFAN dari kenangan Nai dan sekarang hanya ada Shilla.

Mungkin ini ke ajaiban tuhan untuk mengobati rasa sakit Nai dengan menghapus ingatan bersama Efan dan melahirkan kembali Nai sebagai Shilla.

"Dan ini Alvin dia pacar kamu"

Shilla nampak terkejut mendengarnya, ia alihkan pandangannya ke arah Alvin yang tengah tersenyum ke arahnya.

"Benarkah?"

Alvin hanya mengangguk pelan. Shilla mengalihkan pandangan ke arah mamanya dan menatapnya.

"ada apa?

Tanyanya bingung, jujur dia tidak tahu apa yang diinginkan putrinya.

"Mama nggak mau ngasih makan Shilla?"

"Kamu laper?"

"Dari tadi!"

Jawab Shilla dengan wajah cemberutnya dan membuat ketiga orang ini terkekeh.

"Maafin mama"

"Tapi Shilla nggak mau makana rumah sakit ma! Nggak enak"

"Terus kamu mau apa?"

"Mau bubur ayam kesukaan Shilla"

"Emm yang ada kuah karinya?"

Shilla mengganguk, Kedua orang tua Shilla pun pergi untuk membeli bubur dan meninggalkan ke dua orang ini.

Shilla kembali menatap Alvin dengan tatapan sebal dan wajahnya terlihat cemberut membuat Alvin sedikit merinding di buatnya.

"Shil?"

"Apa? Kamu nggak suka aku sembuh?"

Mata Alvin melotot mendengarnya, apa dia tidak tahu kalau Alvin sangat senang dan bahkan dia tidak mau sedetik pun meninggalkan ruangan ini.

"Eh.. Kok ngomong gitu sih?"

"Abis kenapa kamu nggak meluk aku?"

Alvin tidak menjawab melainkan memeluk Shilla erat sebenarnya Shilla tidak merasa lapar dia hanya ingin berdua dengan Alvin dan ini ke inginan hati Shilla yang seperti tahu kalau Alvin juga ingin berdua saja.

Telinga Shilla mendengar detak jantung Alvin yang membuatnya tenang dan damai. perasaan nyaman ini yang membuat Shilla yakin kalau Alvin benar kekasihnya dan orang tuanya tidak membohonginya. Shilla membalas pelukan Alvin, Alvin pun mengeratkan pelukannya.

Mereka berpelukan agak lama sampai Shilla melepaskan pelukannya dan membuat Alvin pun melepaskan dekannya.

"Alvin maaf aku tidak mengenalimu"

"Tidak apa-apa tapi sekarang kamu sudah mengenali ku kan?"

Shilla mengangguk dengan pelan.

Cup..

Shilla merasakan ke dua pipinya mulai memanas karena ulah Alvin yang tanpa permisi mencium pipi kanannya.

"Kenapa wajahmu jadi merah gitu?"

Tanya Alvin dengan polosnya atau lebih tepatnya menggoda gadis yang tengah tersipu malu ini.

"Huaaa.. Alvin!"

Shilla langsung meraih bantal dan membenamkan wajahnya di bantal itu menyembunyikan ke saltingannya. Dan tingkah Shilla membuat Alvin tertawa renyah.

"Jangan di tutupin dong, nanti aku cium lagi loh!"

Ancam Alvin dengan nada serus dan membuat Shilla melihatkan kembali wajahnya.

"Nah gitu dong!"

"Auah... Pinjam ponselnya!"

"Hah? Buat apa?"

Tiba-tiba saja Shilla meminta ponselnya untuk apa coba? Namun Alvin tidak mau membuat Shilla marah dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dan menyerahkannya ke Shilla yang tangannya sudah menadah.

"Kok di kunci huruf sih! Apa paswordnya?"

"I love you Shilla"

Alvin malah mengatakan itu dan mungkin itu paswordnya namun Shilla sepertinya tidak ngeh dengan apa yang di maksud Alvin, dia pikir Alvin sekarang sedang menggodanya.

"Haaaaahhhh.. Apa paswordnya!!"

"Aku sudah bilang sayangku!! Paswordnya itu I love you Shilla!!"

Ucap Alvin dengan gemasnya dan membuat Shilla nyengir kuda, tangannya langsung mengetik semua huruf itu dan berhasil.

Alvin hanya melihat saja kekasihnya yang tengah asik membuka file data di ponselnya, Alvin nampak tenang toh selama ini dia tidak selingkuh dan hanya ada foto-foto Shilla saja.

"Kenapa foto kita berdua cuma ada tiga?"

Tanya Shilla saat melihat ke galeri foto, tidak ada foto yang mencurigakan dan hampir semua itu foto Shilla.

Alvin tersenyum sangat manis.

"Karena aku hanya terfokus ke kamu"

"Hah?"

"Ya sudah nanti kalau kamu keluar dari sini, aku janji kita akan foto bersama"

"Kenap nanti? Kenapa nggak sekarang?"

Tanya Shilla lagi dan membuat Alvin tersenyum, Alvin tidak menjawab pertanyaan Shilla melainkan meraih ponsel yang ada di tangan gadis itu.

"Ya udah kalau itu mau kamu"

Alvin mengaktifkan kamera depan ponselnya dan mendekatkan tubuhnya ke Shilla.

Mereka menggambil foto lima kali, yang pertama mereka terlihat masih janggung tapi foto yang ke dua dan seterusnya mereka begitu lepasnya tersenyum bahkan ada satu foto yang dimana Shilla menjulurkan lidahnya ke Alvin dan Alvin menatap Shilla sebal.

"Bosan"

Rengek Shilla ke Alvin, Alvin pun sepertinya merasakan hal yang sama.

"Kita main permainan batu kertas gunting yuk?"

"Ayok yang kalah di cubit"

"Oke"

Mereka pun mulai bermainannya. Di permainan pertama Shilla yang menang dan langsung mencubit hidung Alvin.

"Aww... Awas yah nanti!"

Shilla menjulurkan lidahnya seperti mengejek Alvin.

Permainan kedua sampai ke empat lagi-lagi Alvin kalah dan Shilla sangat senang untuk "menyiksa" kekasihnya.

"Udahlah kamu nyerah aja! Kamu nggak akan menang!!"

"Nggak kali ini pasti aku yang menang!"

"Terserah, ini yang terakhir jadi aku lah yang akan menang!!"

Ucap Shilla dengan percaya dirinya dan membuat dagu Alvin mengkerut.

Batu

.

.

Kertas

.

.guntung

"Yessss gue menang!!!"

"Yah!!"

Alvin tersenyum senang akhirnya dia menang juga dan wajah Shilla yang tadinya ceria sekarang jadi muram.

"Oke sayang ku sekarang terima hukuman mu!"

Alvin tersenyum sangat manis, Shilla hanya melihatkan tatapan sebalnya Alvin pasti akan menyubitnya dengan keras, seperti yang di lakukannya ke Alvin.

"Haaa nyubitnya pelan aja kan aku lagi sakit"

Pinta Shilla namun Alvin melihatkan senyum liciknya.

"Kok gitu? Ini lihat lengan ku sampai merah gini, kamu harus merasakannya!"

Shilla berdecak kesal, tangan Alvin mulai di arahkan ke wajahnya.

"Aku akan cubit pipi kamu"

Ucap Alvin, Shilla langsung menutup matanya namun Shilla tidak merasakan sakit malah dia merasakan sentuhan yang sangat

lembut, hangat dan basah di bibirnya. Shilla membuka matanya dan di sambut senyuman manis Alvin.

"Nggak sakitkan?"

Shilla mengangguk pelan, Alvin tidak benar-benar menyubit pipi Shilla melainkan mencium bibir merah Shilla.

Tak lama orang tua Shilla memasuki kamar rawat Shilla dengan membawa dua kantong plastik.

"Mama suapin yah?"

"Nggak mau!"

"Terus kamu mau di suapin siapa?"

"..."

...

Bersambung....

1
Kim Haneul
Udh ku boomlike
Badai Putih
mantep ceritanya kk😉. update gila"an dong KK😁 sayangnya cerita bagus kayak gini pembacanya dikit😥
Daviano Aditya Putra Pehung
manda...pnghianat tk akn pernh bhgia...shbat mcam apa kamu da...
Daviano Aditya Putra Pehung
jahat bgt efan...
Daviano Aditya Putra Pehung
yg nmanya penghianat gk akn pernh bhagia kn thor. benci aq sama efan dan manda ..
Daviano Aditya Putra Pehung
seru...👍👍👍
Daviano Aditya Putra Pehung
manda...dia kyaknya bklan rebut efan...
Daviano Aditya Putra Pehung
lnjut lgi...msih pnsaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!