Soques, merupakan negara yang tepat di mana sebuah Kerajaan berdiri megah.
Dengan kekuasaan yang dimiliki, Raja itu membuat semuanya seolah-olah sebagai permainan hidup. Memilih seorang gadis yang berasal dari Keluarga yang memiliki popularitas sebagai pendamping hidupnya.
Tidak ada rasa manis dalam setiap kehidupan, semua berubah seketika disaat melangkah di kehidupan yang baru.
~Satu Yang Terpisah~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The arrival of Zuexi & Zalfar
Menurut pengetahuan orang-orang setempat. Fenith berasal dari sebuah Negara yang cukup jauh dan termasuk keluarga Noblless atau bangsawan. Namun, ada yang berkata bahwa tempat itu berhasil direbut oleh salah satu Kerajaan sehingga semua penduduknya harus meninggalkan tempat itu.
Pembagian pun terjadi, pembagian yang dimaksud adalah pembagian para penduduk dari tempat itu. Karena mustahil hanya satu Negara yang menampung semua penduduk asing itu, oleh karena itu salah satu kerajaan membuat kesepakatan dengan Negara-Negara lain untuk menampung para penduduk. Dengan ini semua aksesbilitas pokok bisa terpenuhi dengan baik.
Fenith tiba di Soques, tepatnya di panti asuhan. Karena panti tersebut langsung dibiayai oleh pihak Kerajaan maka semua anak di sana bersekolah di tempat yang terkenal.
Akademi Fhujin bukanlah satu-satunya yang terkenal, hanya saja Akademi itu terus bersaing dengan Akademi yang lain, sehingga membuat popularitas Fhujin selalu naik turun. Di tahun yang lalu Akademi Fhujin mencapai di urutan pertama hingga sekarang.
Salah satu Keluarga Kerajaan tertarik dengan gadis yang bernama Fenith. Kejeniusannya di luar batas. Itu menjadi daya tarik bagi Keluarga Dorman.
"Jadi maksudmu Fenith bukan asli penduduk Soques?" Tanya Riena.
"Benar," Jawab Aldone. "Ibu dari Yang Mulia Vianze merupakan keluarga Dorman, akan tetapi, dirinya dan seluruh keluarga Dorman sangat berbeda."
"Aku tidak menyangka bahwa kau bisa mengetahui semua ini." Tukas Nier.
"Karena aku pemilik dari Akademi Silva, oleh sebab itu aku mengetahui semua data mengenai Fenith. Kelicikkannya juga membuat dirinya jenius, semua orang saja dapat ia labuhi dengan mudah."
"Tapi apa kau tahu, bahwa selama ini aku tidak pernah melihat ia mengeluarkan sihir jadi apa kejeniusannya?" Sepertinya Mospi kurang memahami cerita itu.
"Aku sudah mengatakannya bukan? Semua tindakkannya yang membuat semua orang tertunduk itulah kejeniusannya. Pengetahuannya mengenai sihir hampir menyamai dengan pengetahuan Raja, dalam bidang akademik atau bidang apapun dialah yang paling sempurna," Jelas Aldone. "Sampai saat ini aku juga kurang tahu alasannya mengapa ia memilih Akademi Silva melainkan Akademi Fhujin yang terkenal?"
"Argh! Sial! Aku sulit memahami hal yang seperti itu." Nier merasa bahwa kini otaknya sedang diuji oleb beberapa materi.
"Intinya dia bukanlah gadis biasa pada umumnya, Keluarga Dorman mengangkat dirinya bukan semata-mata asalan, Keluarga tersebut mungkin memiliki nyali untuk melakukan sesuatu di Istana ini."
Queena telah berapa kali terkena serangan Fenith, Lenier yang berkunjung juga terkena imbas. Jika Fenith menduduki posisi Ratu, entah apa yang terjadi. Yang menjadi pokok permasalahnya yaitu, Vianze. Jika orang itu mengetahui watak asli dari Adik angkatnya itu, semua akan berakhir dengan mudah.
Tetapi, jika salah satu mulut yang mengatakan sifat asli dari Fenith. Semua orang tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Raja mereka. Oleh sebab itu tutur kata mengenai Fenith harus dijaga dengan benar.
...👑👑👑👑...
"Ibu... Hiks!"
"Hm?" Pria yang tengah tidur pulas itu terbangun karena raungan yang membuatnya membuka kedua matanya.
"Yanze?" Vianze melihat Yanze yang sedang menangis di sampingnya.
"Kakak!"
"Tenanglah~" Vianze langsung berinsiatif untuk langsung memeluk Yanze.
Anak itu memang selalu seperti ini. Kedua Orang Tuanya harus meninggalkan Yanze di umurnya yang sangat muda. Yanze selalu mengalami mimpi buruk dan itu pasti mengingatkannya pada Ayah dan Ibunya.
"Kak Que- na." Ucapannya tersenggal-senggal karena isakkannya.
Untuk kebaikan Adiknya, mau tak mau Vianze harus beranjak dari tempat tidurnya seusai mengenakan atributnya. Yanze sangat manja saat bangun tidur itu membuat Vianze sedikit repot.
♤Di Waktu Yang Sama, Salah Satu Ruang Tamu Istana♤
"Hn... Dari mana makhluk asing ini datang?"
Fenith sama sekali tidak bisa bergerak dengan keadaan seperti itu. Tatapannya terus mengarah pada seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Seolah-olah Fenith tertindas oleh aura wanita itu.
Mungkin nyawa Fenith tertolong karena beberapa pelayan melintasi tempat itu. Dan menghampiri tamu tersebut.
"Nona Zuexi! Tuan Zalfar! Lama tidak bertemu" Teriakkan dari beberapa pelayan membuat dua orang itu menoleh.
"Yahoo!" Zalfar langsung menujukkan dirinya dari belakang Zuexi, Sang Kakak.
"Apa kalian pelayan Queena?" Tanya Zuexi.
"Benar! Silahkan kami akan mengantar kalian." Ucap pelayan itu dengan ramah walaupun Zuexi sedikit suram.
Dua pelayan yang datang itu, salah satu dari mereka mengantar Zuexi dan Zalfar. Langkah Zuexi masih tetap tergerak, namun seketika Zalfar berhenti tepat di mana Fenith masih diam dan tak bergerak.
Zalfar membuat senyumannya semakin manis, taringnya begitu tajam hingga siapa saja dapat menyentuhnya akan terluka. Tangan nan dingin dan putih itu memegang dagu Fenith dengan halus serta menyuruh gadis itu untuk menatapnya.
"Turunkan kedua matamu, jika tidak ingin kehilangan keduanya." Tukas Zalfar dengan seringai manis mematikan di bibirnya.
Zalfar langsung menghilang dari tempat dan menyisakan Fenith dan pelayan pribadinya. Bahkan kata-kata itu tidak dapat Fenith balas seperti yang ia lakukan pada Queena.
"S- siapa orang itu?" Hanya dengan kepergian Zuexi dan Zalfar kini Fenith dapat bernafas lega.
...👑👑👑👑...
"Mereka telah tiba?"
"Benar Yang Mulia, kini mereka telah berada di kamar Ratu." Ucap salah satu pengawal.
"Yang Mulia!" Panggilan dari arah lain itu membuat Vianze berpaling.
Ia mendapati Kertia dan Leonard yang telah kembali. Vianze langsung menyuruh pengawal itu untuk meninggalkannya.
"Zuexi Molfza dan Zalfar Molfza telah berada di kamar Ratu." Ujar Kertia.
"Ayo ke sana." Titah Vianze.
♤Di Kamar Queena♤
"Kira-kira kapan Ratu akan bangun?"
"Jika beliau terbangun, apa yang harus kita lakukan pada Putri Lenier. Saat ini Putri tengah di kurung di bawah tanah."
"Aku akan membicarakannya pada Ratu saat beliau siuman." Sahut Aldone yang baru saja kembali dari balkon Queena.
Cklek!
Bunyi dari pintu yang sangat meneror bagi mereka. Riena berinsiatif untuk segera menyambut Rajanya.
"Selamat datang Yang Mu-" Ucapan Riena terpotong, biasanya saat memasuki kamar Queena tanpa ketukkan adalah Raja mereka. Namun siapa sangka bahwa kedatangan mereka hampir disambut layaknya Ratu dan Raja.
"Nona Zuexi? Tuan Zalfar?" Ucap Nier dengan sedikit kegirangan.
Zuexi dan Zalfar, siapa yang tidak mengenal mereka. Enam saudara dari Keluarga Molfza sangatlah terkenal. Zuexi sebagai Kakak perempuan tertua, Zalfar sebagai Kakak pria tertua. Kedua orang itu merupakan tangan dari kepala Keluarga mereka.
Zuexi dan Zalfar memasuki kamar Queena. Belum saja mengucapkan sepatah kata, Zalfar langsung berlari ke arah gadis yang terbaring di atas ranjang. Ia meraih tubuh itu dan langsung mendekapnya serta terus mencium kening gadis itu dengan kasih sayang.
"Akhirnya aku bisa melihatmu!" Teriak Zalfar.
"Queena." Zuexi hanya bisa melihat Adiknya dari kejauhan. Ada sesuatu yang mengharuskan dirinya untuk bersikap seperti itu.
"Aku akan memanggil Dokter kembali."
"Baik aku akan-" Ucapan Vianze terpotong saat tiba di kamar Queena. Ia dapat melihat dan merasakan aura yang berbeda di tempat itu.
Zuexi mengarahkan pandangannya ke belakang dan mendapati Raja Soques dengan anak kecil di rangkuhannya. Zuexi mempertajam tatapannya serta auranya yang semakin kuat, tapi karena ada seorang bocah Zuexi mengurungkannya.
"Vianze... Ya?" Ucap Zuexi.
"B- bahkan dia berani memanggil Kakak dengan namanya?" Batin Fenith.
Walaupun merasa takut, tetapi dia beranggapan bahwa adanya Vianze di sampingnya itu membuat dirinya aman. Fenith juga ingin merasa tahu siapa wanita dan pria itu, mereka berdua memiliki wajah yang menyerupai Queena.
"Jadi... Siapa yang membuat Queena seperti ini." Zalfar yang masih dalam posisi memeluk Queena mulai bertanya pada intinya.
"Zalfar, Queena seperti ini karena sihirnya, bukankah dua manusia itu telah menceritakannya padamu?" Zuexi angkat bicara untuk meladeni Zalfar.
[Info : Dua manusia yang dimaksud adalah Kertia dan Leonard.]
"Hn... Mungkin ini menjadi kesempatan emas bagiku, aku akan menarik Reolius, sebelum itu aku harus bertanya padamu Vianze, siapa gadis ini?" Tatapan tajam Zuexi sangat menusuk pikiran Fenith.
"Apa hubunganmu dengannya?" Vianze menarik lengan Fenith dan menyuruhnya untuk bersembunyi di balik tubuh tingginya, tapi anehnya Yanze sama sekali tidak terlihat takut, dari ekspresinya bocah itu terlihat senang.
"Aku hanya merasakan bahwa ada yang aneh dengan aliran sihir di tubuhnya," Tukas Zuexi. "Ku rasa aku harus mempercepat urusan ku di sini, Adik kecilku dalam masalah aku harus menolongnya." Zuexi melangkahkan kakinya ke arah Queena.
Zuexi tidak ingin mengurus tentang masalah orang lain, prioritasnya saat ini adalah Queena. Dan dia ingin mempercepat urusannya.
"Ja- jadi mereka berdua adalah... Kakak Qu-Quueena?"
"Bagaimana mungkin?! Mereka memiliki aliran sihir yang kuat dan aura juga jauh lebih suram." Batin Fenith terus bertanya-tanya mengenai dua orang itu.
"Zalfar... Kuserahkan Adik padamu."
kalimat yunze sakti banget bisa bikin raja vianze lsg menghilang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
gemeeeessshhh banget...niat ngerawat kak queena sampe lupa apelnya diabisin sendiri
api emosi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣