Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Dua Alam Yang Berbeda
Di pusat Kota Zenith, suasana pasca hilangnya portal raksasa terasa begitu hening dan membingungkan. Rehan, Arkan, Abzari, dan Serafe berdiri tercengang menatap langit ungu yang perlahan kembali membiru. Empat pahlawan terkuat mereka—Ayyasy, Night, Azkailah, dan Sintia—baru saja lenyap ditelan anomali dimensi tepat di depan mata mereka.
Di tengah ketegangan dan kebingungan itu, Serafe mendadak memanyunkan bibirnya. Raut wajahnya berubah menjadi sangat cemberut.
"Hmph! Masa aku gak diajak sih?!" celetuk Serafe dengan nada polos tanpa dosa. "Padahal kan aku masuk top 3 Miracle terkuat! Kenapa Erebos gak ngambil aku juga?! Huaaa... aku ngerasa gak dihargai sebagai Miracle top 3! Huwaaa!"
Serafe malah jongkok di atas semen retak dan menangis sesenggukan, membuat suasana mencekam seketika berubah menjadi aneh.
Abzari yang mendengarnya langsung melebarkan mata, menatap Serafe tak percaya. "Woy! Lu malah nangis, Ser?! Orang mah bersyukur kaga kesono, elu malah ngerasa gak dihargai! Otak lu ketinggalan di markas apa gimana?!" seru Abzari dengan nada tinggi.
"Tapi kan aku kuat, Abzari! Kenapa musuhnya pilih-pilih?!" balas Serafe sambil mengusap air matanya, tidak mau kalah.
"Ya mana gua tau! Tanya Erebos-nya langsung sana! Lagi situasi darurat begini lu malah drama top 3!" sembur Abzari lagi, memicu perdebatan konyol di antara mereka berdua di tengah jalanan kota yang hancur.
Sementara Abzari dan Serafe sibuk beradu argumen, Rehan dan Arkan memilih untuk bertindak cepat. Rehan menekan tombol darurat pada komunikator tangannya, mencoba memulihkan sinyal inter-dimensi untuk menghubungi sisa anggota Miracle di Kota Cyber, Harvest, dan Kosmik.
"Arkan, buka frekuensi darurat," ujar Rehan tegas. "Kita harus kumpulkan semua anggota yang tersisa di sekolah sekarang juga. Ayyasy dan yang lainnya dalam bahaya besar."
Di Realm of Oblivion
Sementara itu, di dalam alam kehampaan yang dingin dan mencekam, situasi tiga belas pahlawan Miracle berada di tingkat yang sangat kritis. Erebos tidak memberikan mereka jeda sedetik pun untuk bernapas.
BOOM! BOOM! BOOM!
Dengan kibasan tangan kanannya, Erebos menghujani ketiga belas pahlawan itu dengan gelombang proyektil kristal hitam secara bertubi-tubi. Kecepatan dan daya hancur serangan tersebut sangat masif, membuat Ayyasy, Night, Davi, dan yang lainnya harus bergerak ekstra keras hanya untuk bertahan dan menghindar.
"Jangan cuma bertahan! Kitalah yang harus ambil alih alur pertarungan!" teriak Ayyasy memecah gemuruh ledakan.
Sadar bahwa berada di posisi bertahan hanya akan menguras energi mereka, tiga belas pahlawan Miracle Zenith secara serentak melancarkan serangan balasan dahsyat dari berbagai sudut!
Ayyasy menghantamkan kedua telapak tangannya ke lantai kristal hitam. "Dragon Flame: Ombak Lava!" Semburan lahar keemasan raksasa membumbung tinggi, menerjang lurus menghantam Erebos dari depan.
Di saat yang sama, Sintia mengacungkan tangannya ke udara. "Ceracak Es!" Puluhan tombak es raksasa bernoda kebiruan mencuat tajam dari bawah tanah, mengunci pergerakan Erebos dari bawah.
Dari balik bayangan, Night menebaskan samurainya. "Shadow Zombie!" Bayangan-bayangan prajurit mistis berwujud pekat keluar mengelilingi Erebos, mencengkeram tangan dan kakinya.
Arunnaqa melompat ke udara dengan konsol terbukanya. "Techno Blast!" Tembakan gelombang energi siber terkonsentrasi meluncur deras tepat dari atas.
Tasya memutar tubuhnya seraya melempar senjatanya dengan presisi tinggi. "Chakram Black Hole!" Pusaran gravitasi tajam meluncur membelah udara menuju leher Erebos.
Tak mau kalah, Davi menghentakkan kakinya melahirkan mahakarya sihir pertahanan dan serangannya. Timbul sosok Titan batu raksasa yang dilapisi oleh berkas cahaya emas Matahari milik Iyan di tangan kanan, serta pendar perak Bulan milik Ghofar di tangan kirinya! Titan itu mengayunkan kedua tinju besarnya menghantam tubuh Erebos dari dua sisi!
Azkailah yang melayang di udara terus-menerus mengarahkan tangannya ke bawah. "Hujan Halilintar Merah!" Sambaran petir merah berdaya rusak tinggi meletup bertubi-tubi menembus dada sang musuh.
Untuk memastikan seluruh kombinasi mematikan itu mendarat sempurna, Dimas mengaktifkan sihir temporal pada kacamata Kosmik-nya. "Pemutar Waktu!"
Seketika, siklus waktu di sekitar Erebos berputar balik secara singkat. Rangkaian serangan Ombak Lava, Ceracak Es, Techno Blast, hingga Hujan Halilintar Merah terulang dan menghantam tubuh Erebos secara berulang-ulang tanpa ampun!
BOOOOOOOOOOMMMM!
Ledakan energi raksasa mengguncang seluruh Realm of Oblivion. Asap tebal dan kilatan sihir membumbung tinggi menutupi pandangan.
Ayyasy dan kawan-kawannya mendarat dengan napas terengah-engah, memandangi pusat ledakan dengan penuh harapan.
Namun, ketika asap perlahan terkikis oleh angin hampa, matanya mereka membelalak tak percaya.
Erebos masih berdiri kokoh di posisinya. Ia sama sekali tidak terluka, tidak terhempas, dan tidak meringis sedikit pun. Gabungan seluruh serangan terkuat dari tiga belas pahlawan Miracle itu hanya sanggup merobek jubah hitam yang dikenakannya.
Erebos mengusap sedikit debu dari bahunya, lalu mendongak menatap Ayyasy dan timnya dengan ukiran senyum dingin yang teramat sangat mengerikan.
"Kombinasi yang menarik..." bisik Erebos, suara gema dinginnya menusuk hingga ke tulang rusuk mereka. "Tapi apakah ini batas maksimal dari apa yang kalian sebut sebagai pahlawan?"