Indonesia
NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Sang Direktur

Pintu kaca tebal ruang audit bergeser terbuka dengan bunyi desis yang halus. Aroma parfume wangi kayu sandalwood yang elegan namun dingin seketika memenuhi udara ruangan, menggantikan aroma kertas tua dan kopi hitam.

Sabrina Kusuma melangkah masuk. Tumit sepatu heels hitamnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang teratur dan penuh penekanan.

Dua orang pengawal berbadan tegap bersetelan jas serba hitam berdiri berjaga tepat di depan pintu yang tertutup kembali, mengunci ruang audit itu dalam atmosfer yang mendadak mencekam.

Rhea dan Rayven berdiri tegak di samping meja kerja. Tatapan mata Rhea terkunci rapat pada sosok wanita itu. Ada getaran aneh di dada Rhea, perasaan tak asing begitu pekat, seolah wanita di hadapannya ini menyimpan potongan teka-teki besar dari Bu Mira

"Selamat pagi," suara wanita itu bergaung datar. Ia mengehentikan langkahnya menatap Rhea dan Rayven dengan pandangan meneliti di ujung kepala hingga ujung kaki. "Kalian tim pendamping legal eksternal yang baru datang hari ini?"

Rayben melangkah satu jengkal ke depan, menempatkan posisinya sedikit melindungi Rhea seraya memasang senyum formal yang sangat tenang.

"Selamat pagi. Benar, Ibu. Saya Rayven dari kantor hukum avokat, dan ini rekan saya Rhea. Kami ditugaskan berdasarkan perintah kerja direksi utama untuk melakukan verifikasi data sekunder dan administrasi lima tahun terakhir," jawab Rayven dengan suara yang mantap.

Wanita itu menyunggingkan senyum tipis di bibir. Senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Saya Sabrina Kusuma. Direktur operasional dan keuangan di perusahaan ini," ujarnya memperkenalkan diri dengan nada angkuh. Matanya menyipit tajam menatap Rayven. "Sejak kapan masalah audit administrasi internal diurus oleh pengacara eksternal? Apakah ada sesuatu yang ingin kalian cari di perusahaan saya?"

Rhea menatap lurus ke dalam sepasang mata milik Sabrina. "Kami hanya menjalankan kewajiban sesuai prosedur, Bu Sabrina. Dokumen yang rapi akan melindungi perusahaan dari potensi masalah hukum di masa depan. Bukankah begitu?"

Sabrina mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Rhea. Tatapannya meneliti garis wajah Rhea dengan kecurigaan yang membara.

"Nona Rhea. Cukup mengesankan untuk seorang pengacara muda," gumam Sabrina pelan.

Sabrina melangkah mendekati meja kerja Rhea. Jemarinya yang lentur mengetuk pelan permukaan kayu meja tepat di samping laptop Rhea yang menyala.

"Tapi biarkan saya mengingatkan kalian berdua," lanjut Sabrina dengan nada suara yang merendah, sarat akan intimidasi yang menekan. "Di tempat ini, saya yang menentukan dokumen mana yang sah dan dokumen mana yang dianggap sampah. Jangan melangkah terlalu jauh dari area yang sudah ditentukan, atau kalian akan tahu akibatnya."

Rayven tidak bergeming sedikit pun. "Tentu saja, Bu Sabrina. Kami sangat menghormati otoritas anda."

"Bagus kalau kalian paham," potong Sabrina dingin. ia berbalik memunggungi mereka, memberi isyarat kepada kedua pengawalnya. "Awasi mereka dengan ketak. Jika ada pergerakan yang mencurigakan, langsung laporkan pada saya."

"Baik, Bu," sahut kedua pengawal itu serentak.

Sabrina keluar dari ruangan audit dengan langkah angkuh, meninggalkan aroma harumnya yang mendadak terasa mencekam.

Sementara itu, di dalam kabin belakang mobil van terparkir lima puluh meter dari gedung utama, Zora bernapas memburu. Keringat dingin menetes dipelipisnya.

Di layar monitor utama, gratis berwarna hijau dan merah berkedip liar. Kemarin Zora menari di atas dua papan ketik sekaligus dengan kecepatan luar biasa

"Rhe. Lu berdua denger gue kan. Gue barusan berhasil membobol folder terenkripsi ganda di server operasional tempat kalian berdiri," bisik Zora panik melalui sambungan earphone nirkabel.

Rhea berpura-pura membuka lembaran kertas arsip di mejanya, seraya berbisik sangat pelan melalui mikrofon tersembunyi di kerahnya. "Zora, lu nemu apaan?"

"Ini benar-benar gila sih! Data keuangan PT gemilang utama lima belas tahun lalu ada yang sengaja dihapus secara permanen. Tapi gue nemu satu salinan berkas fisik lama yang di scan diam-diam," seru Zora dengan nada bersahut-sahutan antara kaget dan takut.

Rayven yang berpura-pura memeriksa rak dokumen di sudut ruangan menyahut pelan.

"Fokus, Zora. Apa isi berkasnya?" tanya Rayven.

"Dokumen masuk atas nama Sabrina Kusuma tiga puluh tahun lalu. Di berkas itu, benar-benar bersih tanpa celah. Tapi ada satu keganjilan fatal," celetuk Zora, matanya menatap layar monitor yang menampilkan dokumen kusam berwarna kekuningan.

"Keganjilan apa?" desak Rhea dari balik meja audit.

"Kolom nama orang tua dan asal-usul keluarga di formulir pendaftarannya diisi dengan nama fiktif yang enggak terdaftar di catatan sipi negara. Dan yang paling mencurigakan, ada catatan medis rahasia dari rumah sakit sehat sejahtera yang dilampirkan di folder khusus," kata Zora.

Rhea dan Rayven terhenyak secara bersamaan. Rumah Sakit Sehat Sejahtera? Tempat di mana Bu Mira pernah dirawat dan menghembuskan napas terakhirnya.

"Sebutkan isi catatan medis itu, Zora. Cepat," bisik Rhea dengan nada bergemuruh kencang.

"Sebentar... gue lagi decrypt filenya, tahan sebentar...," jemari Zora mengetik kode bypass dengan cepat. "Oke. Kebuka! Di sini tertulis, pada tahun yang sama saat Sabrina masuk ke perusahaan ini, ada transaksi pembayaran biaya perawatan medis intensif atas nama pasien Mira Sastro yang dilunasi setiap bulannya melalui rekening penampung anonim dari PT gemilang utama."

Napas Rhea seolah terhenti seketika. "Berarti... selama tiga puluh tahun ini, Sabrina yang membiayai seluruh rumah sakit Bu Mira."

"Bukan cuma itu, Rhe. Gue nemu surat pernyataan pribadi bertanda tangan basah di dalam folder itu. Nama asli yang tertera di bawah stempel merah... adalah Amara Sastro," suara Zora mendadak gemetaran hebat.

Tepat saat Zora membocorkan pernyataan dahsyat itu melalui sambungan suara, layar monitor di mobil van mendadak berkedip merah terang.

Sebuah peringatan bahaya skala besar muncul menutupi seluruh layar monitor Zora.

CRITICAL SECURITY BREACH DETECTED - IP ADDRESS TRACED.

"Astaga! sistem firewall mereka nembus akses point gue. Mereka lagi melakukan tracking balik ke lokasi mobil van sekarang," teriak Zora histeris dari dalam mobil van.

Di saat yang bersamaan, di ruang audit lantai empat, pintu kaca mendadak terbuka kasar.

Salah seorang pengawal Sabrina melangkah masuk dengan wajah dingin, memegang radio panggil yang berbunyi nyaring. Matanya menatap tajam langsung ke arah Rhea dan Rayven.

"Pak Rayven, Bu Rhea. Ibu Sabrina meminta kalian berdua untuk segera menghadap beliau di ruangan pribadi lantai atas. Sekarang juga," ujar pengawal itu dengan suara berat yang mengintimidasi.

Rayven dan Rhea saling berpandangan dengan raut wajah menegang. Apakah penyamaran mereka telah terbongkar.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!