Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Pengkhianatan yang Terlihat Nyata
Di dalam kamar itu, kabut di kepala Yb belum benar-benar hilang. Pandangannya masih terasa samar, namun sosok yang ada di hadapannya terlihat persis seperti orang yang dicintainya — rambut panjang yang terurai, wajah yang tampak lembut, senyum yang menenangkan. Di matanya yang masih terasa berat, perempuan itu adalah Cynthia. Ia sama sekali tidak tahu bahwa minuman yang diminumnya tadi sudah dicampuri sesuatu. Yang ia ingat hanyalah bertemu dengan Cynthia di kafe tadi sore, mengobrol mesra, lalu kepalanya perlahan terasa pening dan tubuhnya terasa lemas sekaligus panas.
"Cynthiaku..." bisiknya pelan, menarik tubuh itu mendekat ke dalam pelukannya. "Aku rindu... rindu sekali..."
Perempuan itu membiarkan dirinya didekati, dikecup, dipeluk erat. Yb menciuminya, memeluknya, dan dalam keadaan setengah sadar, ia melampiaskan segala kerinduan yang selama ini terpendam. Ia mengira dirinya sedang bersatu dengan wanita yang dicintainya — melaksanakan hubungan selayaknya suami dan istri, tanpa keraguan sedikit pun. Ia tak tahu bahwa di hadapannya bukan Cynthia, melainkan orang lain yang sengaja disiapkan untuk menipu pandangannya.
Semuanya berlangsung dalam keheningan kamar yang tertutup rapat. Hingga akhirnya, setelah melepaskan segala hasrat yang tertahan, kelelahan pun menyelimuti tubuh Yb. Ia merebahkan diri kembali ke atas kasur, menarik perempuan itu ke dalam pelukan erat. Tangannya menyentuh rambut wanita itu, mengusapnya pelan, seakan tak ingin melepaskannya lagi. Keduanya terbaring tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh, hanya diselimuti kain tebal yang ada di tempat tidur itu. Napas mereka teratur, perlahan terlelap — Yb masih yakin sepenuhnya bahwa yang ada di sampingnya adalah Cynthia.
Sementara itu, di perjalanan menuju hotel, hati Karen berdebar kencang. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Cynthia duduk di sampingnya, wajahnya tampak tenang namun di dalam hatinya, ia tahu momen yang telah direncanakan dengan teliti sebentar lagi akan terwujud.
Sesampainya di lobi hotel, Karen melangkah cepat menuju meja resepsionis.
"Permisi..." suaranya terdengar bergetar. "Saya ingin menanyakan di mana kamar yang dipesan atas nama Reza Oktovian."
Petugas resepsionis menatapnya sejenak, lalu bertanya sopan. "Maaf, boleh saya tahu siapa Anda?"
"Saya istrinya," jawab Karen mantap. "Saya istri sah Reza Oktovian."
Petugas itu mengangguk, memeriksa daftar di layar komputernya. "Baik, Ibu. Bapak Reza menginap di Kamar VVIP Nomor 3, Lantai 5. Kamar-kamar di lantai ini hanya bisa dipesan oleh anggota member terdaftar, dan hanya ada lima kamar seperti ini di lantai tersebut."
"Bisakah saya meminta kartu kunci cadangan?" tanya Karen, matanya berkaca-kaca. "Saya istrinya, saya butuh masuk ke sana."
Petugas itu ragu sejenak, namun melihat wajah Karen yang cemas dan berair mata, akhirnya menyerahkan kartu kunci cadangan itu. "Baik, Ibu. Silakan."
Karen menggenggam kartu itu erat, lalu berbalik menatap Cynthia. "Ayo..."
Mereka berdua berjalan menuju lift, naik ke lantai lima, melangkah menyusuri lorong yang sepi menuju pintu bernomor 3. Hati Karen berdegup kencang, napasnya terasa sesak. Di sampingnya, Cynthia berjalan tenang, seakan ikut cemas, padahal ia tahu persis apa yang akan terlihat di balik pintu itu.
Dengan tangan yang gemetar, Karen menempelkan kartu kunci ke alat pembaca. Bunyi terdengar — pintu terbuka.
Pemandangan di dalam kamar itu membuat kaki Karen terasa lemas seketika.
Di atas tempat tidur yang besar, terbaring suaminya — Yb — sedang tidur pulas sambil memeluk erat seorang perempuan lain. Kedua tubuh mereka telanjang bulat, hanya tertutup sebagian oleh selimut tipis. Tangan Yb menyusur lembut rambut wanita itu, wajahnya terlihat damai seakan sedang bermimpi indah. Tidak ada keraguan sedikit pun — mereka baru saja melaksanakan hubungan suami istri, dan kini tertidur berpelukan mesra tanpa pakaian sehelai pun.
Dunia seakan runtuh di depan mata Karen.
"Kau tidak tahu malu ya, Yb!"
Teriakan itu menggema di seluruh ruangan. Yb tersentak bangun, matanya menyipit bingung, masih berusaha mengumpulkan kesadarannya yang belum utuh. Ia menoleh ke samping, lalu ke arah pintu. Di sana berdiri Karen — istrinya — dengan wajah pucat pasi dan air mata yang sudah mengalir deras. Dan di sampingnya... Cynthia.
Yb terkejut luar biasa. Ia menunduk melihat perempuan yang masih dipeluknya. Wajahnya berbeda. Bukan Cynthia.
"Si... siapa kau?" serunya, segera melepaskan pelukan, menarik selimut menutupi tubuhnya sendiri. "Kau... kau bukan Cynthia..."
"Bukan?" Karen tertawa getir, air mata tak berhenti jatuh. "Jadi kau mengira selama ini kau sedang bersamanya? Kau mengira kau sedang memeluk Cynthia? Dan di mana Cynthia sebenarnya? Di sini! Di sampingku! Yang kau kira kau cintai itu bukan dia, Reza! Kau meniduri perempuan lain dan kau bahkan tidak menyadarinya!"
Yb menatap ke arah Cynthia, lalu kembali menatap perempuan asing itu. Kepalanya terasa pening, bingung, namun ia tetap diam soal siapa yang mengajaknya ke sini. Ia sama sekali tidak tahu bahwa minuman yang diminumnya tadi sudah dicampuri sesuatu. Yang ia ingat hanyalah bertemu dengan Cynthia di kafe tadi sore. Namun ia menelan kembali kata-katanya — ia tidak akan memberitahu Karen hal itu sekarang. Belum waktunya. Ia ingin menjaga hubungan rahasianya dengan Cynthia tetap tersembunyi, sampai saat yang tepat tiba — saat ia sendiri yang akan mengatakannya, bersamaan dengan pemberitahuan bahwa surat rumah sudah berpindah nama menjadi milik Cynthia. Ia tidak ingin Karen mengetahui hubungan itu dari kejadian hari ini.
"Aku..." suaranya tertahan, ia menunduk. "Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang..."
"Karena kau tidak punya alasan!" Karen membentak, langkahnya mundur perlahan. "Kau tidak bisa berbohong lagi! Mataku sudah melihat semuanya!"
Yb terdiam. Ia menahan diri untuk tidak menyebutkan nama Cynthia, tidak menceritakan pertemuan di kafe tadi, tidak mengungkapkan apa pun yang bisa membuka rahasia mereka sebelum waktunya. Semua penjelasan yang ada di ujung lidahnya ia telan kembali. Biarlah ia dianggap bersalah sekarang, asal rahasia itu tetap aman sampai hari yang telah ditentukan.
Cynthia berdiri di ambang pintu, menunduk seakan tak tega melihat pemandangan itu, padahal di dalam hatinya, rasa puas perlahan tumbuh. Langkah pertamanya berhasil. Karen kini membenci Yb, dan Yb memilih diam demi melindungi rahasia mereka.
"Aku pulang..." Karen berucap pelan, suaranya hancur. "Kau tidak perlu ikut aku. Aku sendiri yang akan pergi."
Ia berbalik, melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan Yb yang duduk terpaku di tepi tempat tidur, membiarkan dirinya disalahkan tanpa membela diri. Cynthia melirik sekilas ke arah Yb — tatapannya penuh makna yang hanya mereka berdua pahami — lalu bergegas menyusul Karen keluar.
Di lorong yang sepi, Karen berjalan dengan langkah gontai, bahunya berguncang menahan tangis. Cynthia berjalan di sampingnya, tak mengucapkan sepatah kata pun. Pekerjaannya sudah selesai. Satu babak berakhir, dan babak berikutnya tinggal menunggu waktu.