Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peraturan baru
Beberapa jam seteah kejadian itu…
PLAK!
Kay Morgan masih diam ketika papanya melayangkan sebuah tamparan keras ke pipinya. Tamparan itu terdengar tidak main-main, pastinya terasa begitu sakit dan mengejutkan.
"Gini kelakuan kamu luar rumah?!" Fredi Morgan memandang putra bungsunya dengan tatapan marah dan kecewa.
"Bisanya bikin orang tua kecewa kamu, Kay Morgan!" bentaknya yang tidak dihiraukan oleh Kay Morgan.
Cowok itu hanya berdiri diam, dengan kepala terangkat menatap ayahnya dengan sorot tanpa minat. "Kamu kalau mau jadi preman nggak usah sekolah sekalian! Kerjaannya cuma berantem!"
Lagi, Fredi Morgan mencengkram rahang putranya agar tetap menatap wajahnya dengan kuat. "Anak yang kamu pukuli itu koma! Sadar nggak kamu!"
"Bukan salah Kay Morgan, kalau dia kalah!" jawab Kay Morgan dengan tegas.
PLAK!
"Udah mas!!!" Anastasya yang sudah tidak tega melihat putranya dipukuli akhirnya berjalan mendekat. Menarik lengan suaminya dengan kedua mata memerah nyaris memohon.
"Ini anak makin dibiarkan, makin ngelunjak! Nggak ada takut-takutnya sama orang tua!" Kay Morgan tidak menghiraukan ucapan papanya.
Baginya, pendapat pria itu terhadapnya sangatlah tidak penting.
Saat ini kedua netra tajam milik Kay Morgan hanya fokus pada figur cantik Anastasya, mamanya. Tengah menahan tangis dengan wajah memerah. Tengah mencoba meredam emosi suaminya yang selalu meledak-ledak. Selalu seperti itu—sungguh membuat Kay Morgan naik pitam di tempatnya.
"Udah cukup! Kita bicarain baik-baik," bisik Anastasya mengusap pundak suaminya dengan lembut.
Rahang Kay Morgan mengeras melihatnya. Akhirnya cowok itu memilih melengos, pergi dari hadapan papanya sebelum amarahnya terpancing di tempat.
"HEH! SINI Kay Morgan, PAPA BELUM SELESAI BICARA!"
Kay Morgan membanting pintu kamarnya, menguncinya sebelum berjalan ke arah kamar mandi. Cowok itu menunduk di wastafel, mencuci wajahnya—mencoba menghilangkan jejak sentuhan milik Fredi Morgan dari jengkal kulitnya rahangnya.
Menjijikkan!
Dada Kay Morgan sesak, merasa terlalu marah dengan keadaan dan dirinya sendiri.
Menyebalkan mendapati pria itu yang membantunya keluar dari tahanan. Dengan uang tentu saja, tidak heran mengapa mereka sering menganggap uang bisa membeli segalanya.
Termasuk nyawa seseorang, mungkin.
Kasus itu berhasil ditutup dengan kekuasaan dan uang milik Fredi Morgan. Skandal sebisa mungkin ditutupi, berusaha diberhentikan agar tidak semakin menyebar ke publik. Tidak hanya Kay Morgan—orang tua teman-temannya juga melakukan hal yang sama, apa lagi Mahendra. Ayah cowok itu langsung turun tangan, bahkan beliau juga membayar pihak sekolah agar tidak membuka mulut.
Dan keluarga korban? Mereka hanya perlu menyebutkan nominal uang, dan kasus selesai. Semudah itu.
Miris memang, tapi begitulah dunia bekerja.
Dengan uang, mereka aman. Semua baik-baik saja. Kecuali hukuman dari pihak sekolah, tentu saja mereka masih menegakkan sanksinya kepada kelima muridnya itu. Dengan skorsing, Kay Morgan sendiri juga langsung diberhentikan dari posisinya sebagai ketua OSIS.
Melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi, Kay Morgan menarik bangku di meja belajarnya. Menghela nafas kasar, tanpa sadar kedua netranya menatap gelang tali berwarna biru tua yang masih melingkar di tangannya. Kay Morgan menaikkan tangannya, dengan teduh dirinya memandang gelang itu tanpa jeda.
Kay Morgan melirik jam dinding di kamarnya, pukul 11 malam. Dirinya keluar dari sel tahanan pukul 9 setempat. Sesaat cowok itu terkekeh miris. Hari ini masih ulang tahunnya tapi lihat yang dirinya alami.
Hidupnya benar-benar sempurna!
Detik selanjutnya, cowok itu melepaskan gelang pemberian Aurora Grey. Dimasukkannya ke dalam kotak di mana dirinya menyimpan surat-surat itu. Tidak hanya surat, Kay Morgan juga masih menyimpan plester bergambar dinosaurus setelah melaminatingnya, beberapa ikat rambut yang dirinya tarik langsung dari rambut sang pemilik.
Kay Morgan menekan pelipisnya keras. Merasa bodoh menyadari hal yang dirinya lakukan.
Dimasukkannya kembali kotak itu ke dalam lemari pakaiannya. Seharusnya Kay Morgan tidak bermain-main pada sesuatu yang tidak seharusnya. Jelas, sesuatu itu bernama Aurora Grey.
Kay Morgan akui ucapan Mahendra tadi benar. Jika dirinya memang kecewa, bukan karena Aurora Grey tapi dirinya kecewa, karena rencana yang dirinya buat tidak berjalan sesuai semestinya.
****************
Beberapa minggu setelahnya, Kay Morgan dan teman-temannya sudah diperbolehkan masuk sekolah. Berita itu mendapatkan berbagai respon dari murid lain. Ada yang beranggapan jika keputusan pihak sekolah yang tidak langsung mengeluarkan kelima murid itu dianggap salah, tetapi ada juga yang senang dan menyambut kembalinya para most wanted itu dengan perasaan suka-suka.
Emang yang namanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang berpenampilan menarik, itu terbukti ada.
Anak-anak cewek yang jelas udah lama nggak lihat yang ganteng-ganteng histeris dong waktu lihat Kay Morgan dan teman-temannya sudah menampakkan diri di sekolah. Tapi ya itu—mereka jalannya sendiri-sendiri, nggak kelihatan ngegerombol kayak biasanya. Cuma nyisain Digo dan Tristan yang duduk di meja pojok kantin. Biasanya suasana ramai dan rusuh datangnya dari mereka, tapi sekarang nggak ada tuh yang ngerusuh di meja pojok kantin.
Ya jelas lah! Orang si Digo ngomong, disahurin sama Tristan aja udah bersyukur—gimana mau bikin rusuh.
Yang ada diinjak-injak sama Tristan, gara-gara banyak bacot.
Ada yang salah. Iya, memang pihak sekolah memberi peringatan untuk mereka, agar saling menjaga jarak. Apaan banget emang kepala sekolahnya, padahal tanpa diminta pun mereka sudah renggang hubungannya. Ini berawal dari Mahendra dan Kay Morgan yang masih terlibat perang dingin sejak keluar dari sel tahanan, belum lagi Mahendra yang tiba-tiba hilang kontak alias keluar dari obrolan chat mereka.
Grup chat yang biasanya yang selalu ada aja yang dibahas alias ramai mendadak sunyi dan hening. Sumpah kalau ada nggak disematin itu grup chat udah tenggelam sampai ke palung mariana.
Lebay amat! Tapi emang, serius... nggak ada lagi yang chat di sana. Si Devandra yang bisanya spam nggak jelas, sampai diusir Tristan berkali-kali aja ada jadi diam-diam membisu.
Sombong parah! Pikir Digo.
Nggak tau aja mereka, kalau ponsel dia disita sama papaknya. Pulang dari sel, si Devandra langsung dikirim ke gereja, ayahnya minta anaknya itu untuk dibaptis ulang. Nah! Berhubung si Devandra udah suci kembali, dia lagi males deket-deket sama sumber dosa kayak temen-temennya, apalagi si Digo.
Bukan apa-apa, si Digo itu jenis manusia yang nafas aja udah nyebar maksiat.
"Devandra anjing! Sini lo!" Kan benar! Baru ketemu aja udah mancing berbuat dosa.
Devandra yang lagi pesen bakso mendadak dipanggil oleh Digo yang tengah duduk bersama Tristan. Melongos, Devandra dengan berat hati berjalan mendekat ke meja mereka. "Dengan apa kau memanggilku tadi?" herdik Devandra ke arah Digo.
"Devandra anjing!" sanggah Digo penuh nafsu.
Di tempatnya Devandra menghela napasnya, dia dengan sabar mengusap dadanya. Mencoba meredam emosi dan air mata. "Gue habis dibaptis. Jangan mancing gue berbuat maksiat wahai manusia penuh dosa."
Sejurus kemudian Devandra ikut duduk bersama mereka, namun dengan sengaja cowok itu menarik kursinya agak menjauh dari dua manusia pendosa di sebelahnya.
Makin eneg aja Digo lihatnya. "Dih sok suci lo!"
"Ngapain lo pada manggil-manggil gue? Kangen gue pasti?" cerocos Devandra super narsis.
"Mata lo, kangen! Lo pindah planet aja gue nggak peduli."
"Sialan!"
"Kita mau jemput Kael William, dia keluar dari rumah sakit hari ini. Ikut nggak lo?" tanya Digo seraya melahap mie ayamnya.
Devandra memutar kepalanya samping. "Gue nggak mau kalau ada Kay Morgan sama Mahendra." Ceritanya ini si Devandra masih marah sama dua temennya yang kayak babi itu.
Ingat ketika mereka berdua berkelahi di dalam sel? Tak lama setelahnya petugas datang dan memarahi mereka, kalau cuma ngebacot sih nggak masalah. Ini jadinya mereka ngehukum buat squat jump di tempat. Devandra sih nggak peduli kalau mereka berdua doang yang kena, kan yang gelut mereka—eh! Ini yang disuruh squat jump mereka semua.
Makin kesel aja Devandra hari itu. Pengen langsung ngajak Kay Morgan sama Mahendra duel bareng... tapi takut.
"Yaelah! Kayak banci aja lo ngambek-ngambek," ucap Digo dengan wajah sewot.
"Terserah gue lah! Wle..." Devandra menganggah lantas menjulurkan lidahnya.
Ya Allah! Digo jijik banget lihat si Devandra kayak gitu. Mending kalau mukanya mendukung—lah ini jelek banget!
"Najis banget, lo!" seru Digo emosi. Mendadak nyesel nyuruh si Devandra makan bareng.
"Jadi ikut nggak lo?!" ketus Digo nggak pakai lama.
"Ikut lah, di rumah suruh baca Al-kitab terus gue." Mendengar keluhan itu, Digo langsung menyemburkan es tehnya.
Beruntung tidak sampai mengenai wajah Tristan. Bisa jadi ayam geprek dia.
"Bangsat lo, jorok!" umpat Tristan seraya memasang wajah jijik dan menoyor kepala Digo.
Bukannya minta maaf, si Digo malah ngakak. Dih! Makin aneh aja itu bocah.
"Hahahaha!!! Sumpah?! Jangan-jangan lo mau jadi pendeta juga kayak bokap lo?"
"Aamiin." Di tempatnya, Tristan langsung mengamini.
Jelas, omongan itu doa dan untuk pertama kalinya omongan si Digo itu baik.
"Ide bagus!" celetuk Devandra memasang wajah tertarik. "Biar gue bisa ngebaptis lo yang udah banyak dosa."
Mendengar itu, wajah Digo langsung berubah sewot. "Gue ini Islam!"
"Oh iya! Lupa, soalnya gue nggak pernah liat lo sholat." Detik itu juga Digo merasa tertampar dan terjungkal.
Tapi kalau diingat-ingat bener juga, dia sholat kalau di rumah aja—itu pun nunggu ibunya nyuruh dulu, sama kalau lagi ada ujian praktik pelajaran PAI. Pendosa betul si Digo.
"Yang penting gue selalu ikut jumatan," ucap Digo membela diri.
"Halah! Orang wajib kok dibanggain," balas Devandra sok bijak.
Tiba-tiba saja kehadiran Mahendra di kawasan kantin membuat para gadis menoleh. Menikmati dan mengagumi wajah tampan itu. Sama halnya dengan ketiga orang itu, mereka langsung menoleh ketika langkah Mahendra kian mendekat.
"Anjing! Males gue kalau ada si Mahendra!" ketus Devandra buru-buru menghabiskan makanannya, berniat lekas pergi dari meja itu.
"Gimana bon cabe? Udah bosen tinggal di botol, makannya balik ke sini?" sindir Digo yang tidak dihiraukan oleh Mahendra.
Cowok itu baru saja keluar dari kelas ketika bel istirahat milik anak kelas 11 berbunyi. Jika kalian bertanya mengapa jam istirahat antara kelas 12 dan 11 berbeda, itu karena anak kelas 12 lagi pada praktik ujian—jadi mereka dapat slot istirahat lebih cepat.
"Kael William nanti balik dari rumah sakit?" tanya Mahendra membuka pembicaraan, membuat Digo mengangguk membenarkan. Berbeda dengan Devandra yang langsung menyingkirkan kursi di sebelahnya, agar Mahendra nggak bisa duduk.
Jelas! Si Devandra ini masih marah.
Sayang seribu sayang, Mahendra itu jenis manusia yang kepekaannya itu minim. Seminim akhlaknya, makannya waktu si Devandra sibuk ngelirik sinis si Mahendra, dia nggak ngerespon. Orang nggak peka.
Kalau pun tahu sih ya, Mahendra pastilah bodo amat.
"Gue ikut ke rumah sakit." Mahendra yang sudah menarik kursi di sebelah Digo kembali membuka suara.
Di sebelahnya Digo berdehem pelan. "Ajak Kay Morgan nggak nih?"
"Nggak!" jawab Devandra dan Mahendra bersamaan.
Lah! Sehati rupanya mereka.
Di tempatnya Digo mendengus. "Halah! Baperan lo pada! Mau sampe kapan marahan gini, kayak anak paud aja."
"Sampe dia minta maaf ke gue," kata Mahendra bersungguh-sungguh.
Devandra melempar Mahendra dengan kerupuk. "Lo juga harus minta maaf ke kita njing! Gara-gara lo berdua kita ikut squat jump."
Digo langsung mengacungkan jempolnya ke arah Devandra. Sementara Tristan diam, kayak biasa. "Halah! Baperan lo pada! Kayak anak paud." Setelah mengatakan itu, Mahendra beranjak—memilih pindah meja.
Buka apa-apa, kalau sampe ketahuan Bu Damara mereka kumpul-kumpul gini, bisa langsung dihukum.
Di sisi lain Devandra langsung menghela napasnya berkali-kali. Makin yakin aja dia, kalau waktu Tuhan menciptakan Mahendra dari tanah—itu tanahnya udah kecampur eek kuda.
****************
"Ck! Itu si Digo bisa main nggak sih, meleset terus mukul bola!" Aurora Grey memutar bola matanya bosan, entah sudah berapa kali Rami mengeluhkan hal itu.
Saat ini mereka sedang berada di lapangan belakang sekolah, ngeliatin Tim Baseball SMA Garuda Indonesia yang lagi latihan. Biasanya mereka berdua ini bukan tipikal orang yang mau panas-panasan gini sih, tapi ya gabut aja, orang lagi jamkos. Jika kalian ingin tahu kenapa mereka berdua aja, itu karena Sheila sedang sibuk dengan urusan OSIS.
Satu hal yang harus kalian ketahui, setelah Kay Morgan benar-benar dikeluarkan dari organisasi itu, Sheila yang mengambil alih posisi Kay Morgan. Seperti yang diperkirakan. Ya! Gadis itu lah yang menjadi ketua OSIS di SMA Garuda Indonesia saat ini.
Tatkala pertandingan Baseball lagi seru-serunya, tiba-tiba aja ada pengganggu dateng. Dania, si wakil kelas yang entah sejak kapan menjabat jadi tangan kirinya guru. Tipikal anak-anak caper kalau ketemu sama guru. Rami yang udah punya firasat buruk menoleh ke samping.
"Rami! Lo dicariin Pak Galih, katanya ada tugas yang masih kurang."
Rami langsung tepok jidat. Dia lupa kalau masih ada utang keterampilan di mapel prakarya.
"Mampus gue!" Rami meringis kecil sebelum menepuk lengan Aurora Grey. "Gue ke kantor guru dulu, bye!"
Itu si Rami langsung nyelonong gitu aja, nggak ada makasih-makasihnya sama Dania yang udah nyari dia sampe muterin sekolah dari tadi. "Gue kelas duluan ya!" pamit gadis itu kepada Aurora Grey.
Aurora Grey mengangguk seraya tak lupa tersenyum manis.
Gadis itu kembali di tempatnya, lanjut nonton pertandingan. Alasan kenapa Aurora Grey males kalau di kelas, soalnya dia kayak orang buangan alias nggak ada temen. Ya gimana dong, orang Aurora Grey nempelnya sama Sheila & Rami terus. Lagian anak cewek di kelas dia kurang bersahabat kalau sama Aurora Grey. Ada sih yang deket, tapi palingan temen bangku depan, belakang sama samping.
Duh! Derita anak pindahan, pasrah aja.
Terik matahari terasa semakin panas, Aurora Grey memilih untuk beranjak dari tempatnya. Di pikir-pikir sok iye banget dia nonton baseball di pinggir lapangan, sendirian pula. Aurora Grey memilih untuk kembali ke kelas saja, lagian habis ini balik—jadi kalau bel sekolah udah bunyi bisa langsung gas balik.
Emang ya! Nggak ada yang bisa ngalahin jamkosnya mapel terakhir.
Langkah kaki yang terbalut sepatu sneakers itu perlahan melewati lorong kelas yang terlihat sepi. Iyalah! Orang lagi pada pelajaran. Tiba-tiba saja langkah gadis itu terhenti di ruang taekwondo lantaran presensi seseorang mengambil alih seluruh atensinya.
Kay Morgan, terlihat begitu menarik dengan pakaian putih taekwondonya.
Aurora Grey langsung bergeming diam. Memperhatikan Kay Morgan yang tengah berlatih. Kayaknya cowok itu bolos kelas, soalnya ruang latihan kelihatan sepi, nggak ada pelatih juga di sana.
Entah apa yang mendorong Aurora Grey sampai berani mengalahkan kakinya masuk ke dalam. Aurora Grey pastilah gila, tapi bagaimana lagi—setelah kejadian beberapa minggu lalu, dirinya tidak mendengar kabar dari cowok itu. Aneh mendapati dirinya sendiri merasa perlu tahu tentang keadaan cowok itu setelah di skors selama 10 hari.
"Hei!"
Duh! Kok Rora ngerasa deg-degan gini?!
Mendengar suara familiar itu, Kay Morgan menoleh. Kedua netra coklatnya terlihat terkejut mendapati Aurora Grey di sana. Sekarang gadis itu mendekat, sukses membuat tatapan milik Kay Morgan terlihat semakin tajam.
"Lo bolos kelas?" tanya Aurora Grey, yang belum juga mendapat respon dari Kay Morgan.
Cowok itu masih diam memperhatikannya, membuat Aurora Grey yang kikuk langsung menghentikan langkah. Sekarang terbentang jarak 2 langkah di antara keduanya.
"Ngapain di sini?" Pertanyaan yang lolos dari bibir Kay Morgan itu terdengar begitu dingin dan menusuk.
Sukses membuat Aurora Grey terkejut di tempatnya.
"Gu-gue tadi lewat." Aurora Grey berdehem pelan. Sial! Dia nggak boleh kelihatan gugup.
Tapi dia gugup, gimana dong?
Gadis itu mengusap tengkuknya. "Gue kebetulan lewat terus liat lo—"
"Pergi!" usir Kay Morgan seolah terganggu dengan keberadaan gadis itu.
Aurora Grey menggigit bibirnya kuat-kuat. Merasa sangat bodoh dengan sikapnya sendiri. "Sorry kalau gue ganggu." Setelah mengatakan itu, Aurora Grey membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya dengan berat untuk keluar dari ruangan itu.
Namun tiba-tiba saja suara milik Kay Morgan kembali menginterupsi. "Tunggu!" katanya yang langsung membuat Aurora Grey berbalik.
Jantung Aurora Grey berdegup sangat kencang melihat Kay Morgan berjalan ke arahnya. Sesaat kerutan muncul di dahi Aurora Grey menyaksikan Kay Morgan melepas gelang pemberiannya. "Ambil lagi!"
Refleks Aurora Grey bekerja cepat ketika Kay Morgan melemparkan gelang tali berwarna biru itu ke arahnya "Sekarang lo bisa pergi."
Di tempatnya Aurora Grey terdiam. Menatap kosong gelang di tangannya. Tanpa disadari sesak mulai menyerang rongga dadanya. Kedua mata gadis itu mengerjap bingung. "Kenapa dibalikin?"
"Bukannya lo sendiri yang bilang, kalau hadiah lo itu jelek dan murahan. Apa pantes orang kayak gue nerima hadiah kayak gitu?"
"Terus kenapa kemarin diterima?"
"Karena gue nggak tau cara nolaknyya."
Bajingan!
"Gue ada salah sama lo?" tanya Aurora Grey seolah lupa dengan harga dirinya sendiri.
"Nggak." jawab Kay Morgan singkat. Cowok itu sesaat melirik Aurora Grey yang terlihat sangat marah di tempatnya. "Bukannya sejak awal emang kayak gini ya Rora, kenapa lo kelihatan kecewa?"
Aurora Grey menarik napas dalam, tersenyum miris, seolah masih berusaha tegar sambil memunguti kepingan-kepingan harga dirinya. "Terus... kenapa lo nyium gue waktu itu?"
Kay Morgan mendengus, tersenyum miring sebelum mengalihkan pandang menghindari tatapan menuntut dari gadis di hadapannya itu. "Karena Gue pengen. Bukannya lo juga nggak nolak?"
Aurora Grey terperangah, nyaris tercekat di tempatnya. "Brengsek!" umpat Aurora Grey tertahan, seraya mengulum bibirnya kuat-kuat.
Sungguh! Aurora Grey merasa sangat kecil sekarang. Di hadapan Kay Morgan, satu-satunya cowok yang berhasil membuat Aurora Grey merasa dungu dan menyedihkan secara bersamaan.
"Jadi nggak ada artinya?" Aurora Grey berbisik tanpa sadar.
Bodoh lo Rora! Seharusnya lo pergi, bukannya mancing hal-hal yang nggak seharusnya!
Kay Morgan perlahan berjalan mendekat, sekarang cowok itu berdiri tepat di hadapan Aurora Grey. Menjulang tinggi di hadapan gadis itu. Sorot matanya memperhatikan wajah Aurora Grey dengan intens, nyaris menuntut. "Arti apa?" Kay Morgan berbisik halus, sialnya terdengar menusuk di telinga Aurora Grey.
"Ciuman-ciuman aja kali," lanjut Kay Morgan tanpa beban. "Emang lo pikir, waktu gue cium lo pake hati?"
Cowok itu terlihat santai sekarang, berbanding terbalik dengan Aurora Grey yang sudah hampir meneteskan tangis dari pelupuk matanya. Tidak tahukah cowok itu, kalau ciuman yang dianggap remeh sekarang adalah ciuman pertama Aurora Grey?
Gadis itu pastilah menyedihkan sekarang.
"Kenapa nangis?" Aurora Grey langsung menggeleng keras, menoleh ke arah lain seraya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya.
Kay Morgan semakin berani mengikis jarak keduanya ketika mendapati Aurora Grey masih diam di tempat dengan kedua tangan mengepal kuat. Dengan pelan cowok itu mendorong tubuh Aurora Grey ke dinding, memojokkan gadis itu lantas memenjarakannya dengan kedua tangannya.
Tubuh keduanya terasa sangat dekat, nyaris tak bersekat.
Di tempatnya Aurora Grey semakin terasa sesak. "Jangan nangis kali!" ejek Kay Morgan dengan brengseknya.
"Jahat tahu nggak?" cicit Aurora Grey tertahan.
"Kenapa jahat?" Tatapan Kay Morgan berhasil mengunci gadis itu untuk tetap diam. "Bukannya lo juga jahat, mau-mau aja dicium padahal udah pacar."
Bibir Aurora Grey bergetar. Merasa sakit hati dan bersalah secara bersamaan. Gadis itu bergeming dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipi. Tanpa sadar tangannya meremas gelang yang berada di genggamannya kuat-kuat. Mungkin kuku-kuku gadis itu akan melukai permukaan kulitnya.
Tapi Aurora Grey tidak peduli, nyatanya apa yang keluar dari bibir Kay Morgan terasa lebih menyakitkan dari apapun.
Aurora Grey mendongak, membalas tatapan Kay Morgan dengan tak kalah tajam. "Lo—"
"Mau ciuman lagi sama gue?" Tanpa berpikir panjang, Aurora Grey langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Kay Morgan.
"Brengsek!" desis Aurora Grey tepat di depan wajah Kay Morgan. Didorongnya cowok itu dengan keras sampai menyingkir dari hadapannya.
Kay Morgan menunduk, terdiam menatap lantai putih setelah Aurora Grey melangkah keluar dari ruangan itu. Hilang. Gadis itu benar-benar sudah hilang dari hadapannya. Sekarang hanya tersisa dirinya seorang.
Tak lama sebuah notifikasi pesan memaksanya untuk mengalihkan fokus. Dirogohnya ponsel dari dalam sakunya. Cowok itu menatap kosong pesan yang dikirimkan oleh mamanya. Tanpa sadar cowok itu mencengkram ponselnya kuat-kuat, sampai kukunya mulai memutih.
Sial! Kenapa hal terakhir dirinya harapkan harus terjadi secepat ini?
[MAMA CANTIK]
Pulang sekolah jangan kemana-mana ya nak! | Kasihan Shayen kalau kelamaan nunggu di bandara.