'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Aneka Rasa
...~•Happy Reading•~...
Nelson menyimpan sendiri dan meredam yang dia rasakan sebelum memastikan kebenaran yang dikatakan Alena, bahwa dia hamil. Dia khawatir itu adalah bagian dari ancaman Alena, atau hanya sebuah trik untuk membalasnya.
Karena sudah lebih dari dua bulan sejak dia mengancam untuk melapor tindakan pelecehan seksual kepada pihak kampus, Alena tidak terlihat di mana pun. Hingga Nelson mengundurkan diri dari asisten dosen.
Selain nomor telponnya diblokir, Alena tidak mempunyai akses lagi untuk bertemu dengan Nelson. Dia hanya menunggu pihak kampus menghubunginya atas aduan Alena tentang tindak pelecehan.
Tapi hingga Nelson wisuda, ancaman Alena tidak dilaksanakan. Dia seakan menghilang ditelan bumi dan tiba-tiba datang menemuinya dengan berita kehamilan.
~••
Setelah bisa mengendalikan hati dan perasaannya, Nelson berusaha fokus pada teman dan orang tuanya.
Dia merasa lega melihat orang tua mereka bertiga sedang menerima ucapan selamat dari berbagai pihak atas keberhasilan dan prestasi mereka yang luar biasa.
Sehingga Mama Papanya tidak tahu yang terjadi dengannya dan Alena. Dia berharap, Alena tidak kembali, agar tidak terjadi keributan yang memalukan. Sehingga mencemari rasa hati orang tua dan prestasinya di depan banyak orang.
Setelah mengabadikan momen yang membahagiakan, Nelson bergantian memeluk kedua sahabatnya yang selalu ada bersamanya dalam berbagai keadaan. "Terima kasih buat hari ini." Bisiknya sambil memeluk Angga dan Monce.
"Kami yang harus berterima kasih. Kau sudah sabar hadapi kami dan membagi ilmu, hingga kami bisa merasa bangga pada diri dan membahagiakan orang tua seperti ini." Angga dan Monce balik memeluk Nelson dengan perasaan bahagia yang meluap.
"Aku pamit duluan, ya." Ucap Nelson yang melihat kode dari Papanya untuk pulang.
"Ok. Nanti kita call call." Mereka segera mendekati orang tua masing-masing untuk pulang.
~•~
Ketika sudah berada dalam mobil, Nelson kembali diam memikirkan yang dikatakan Alena. 'Apakah aku bicara dengan Mama Papa?' Nelson bertanya dalam hati.
'Bagaimana kalau itu cuma alasan Alena untuk menyakitiku?' Nelson terus berpikir, hingga sikap diamnya mengherankan kedua orang tuanya.
Dia tidak seperti biasa bercanda dan menyebar perasaan hangat, intim, bahagia jika bersama. Hingga orang tuanya ikut diam, tidak membicarakan situasi di kampus dan perasaan orang tua Angga dan Monce.
"Nel, mau kita makan di mana?" Pak Esra coba mencairkan suasana dengan mau mengajak makan di luar.
"Kita makan di rumah saja, Pa, Ma. Aku agak lelah." Nelson meminta tanpa semangat. Sehingga Bu Weny memberikan isyarat kepada Pak Esra untuk mengikuti kemauan Nelson.
Setelah tiba di rumah, Bu Weny mengganti outfit lalu pesan menu dari restoran terdekat untuk makan siang. Tanpa banyak tanya dan percakapan, Bu Weny menata meja makan.
Suasana rumah bagaikan mereka baru pulang dari tempat kedukaan. Sunyi, sepi dan minim interaksi. Pak Esra berbicara dengan bahasa isyarat, sebab Nelson tidak keluar dari kamar.
"Nel, mari kita makan dulu." Bu Weny memanggil Nelson sambil mengetok pintu kamar. Ketika Nelson keluar, Bu Weny heran melihat Nelson belum mengganti outfit dan bertampang kusut.
Bu Weny terdiam, dan berharap Nelson tidak sakit. Walau hatinya terdorong untuk memegang dahi Nelson untuk mengecek suhu tubuhnya.
Ketika mereka duduk di ruang makan, Pak Esra berdoa syukur untuk prestasi Nelson, rencana karier dan makanan yang tersedia.
Namun setiap kata yang diungkapkan Pak Esra dalam doa membuat hati Nelson makin mendung. Rasa sedih dan was-was menguasai hatinya. Dia hampir tidak mampu menelan makanan. Hingga harus dibantu dengan minum berkali-kali.
Selesai makan, Nelson melihat kedua orang tuanya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak sanggup menanggung perasaan sedih dan kecewa pada dirinya.
"Ma, Pa. Kalau nanti ada hal buruk dan memalukan yang aku lakukan, Papa Mama boleh menghukumku. Menghukum apa saja... Tapi tolong, jangan membuangku." Ucap Nelson pelan dan tersendat.
Bu Weny dan Pak Esra saling pandang dengan jantung berdetak lebih cepat dan tidak teratur mendengar permohonan Nelson dengan nada bergetar dan mata tergenang.
Hati mereka seperti disayat melihat putra mereka yang biasanya hangat dan penuh canda dalam kondisi sedih, berantakan dan sangat mengkhawatirkan.
Biasanya setelah makan, mereka akan menceritakan yang dilakukan masing-masing sepanjang hari. Terutama Nelson akan meledek Mamanya dengan berbagai muka buruk, untuk menyenangkan hati Mamanya yang sudah menyediakan menu lezat bagi mereka.
Kini matanya menyimpan rasa sedih, luka dan kecewa yang dalam. Walau dia berusaha untuk mengendalikan rasa hati dengan menarik nafas berulang kali. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan berat oleh sesuatu yang melumpuhkan kebanggaan dan kebahagiaannya.
"Nel, ada apa? Mengapa kau berkata seperti itu di saat seharusnya kau bahagia dan bangga dengan prestasimu hari ini? Cuma kau seorang yang merai gelar summa cumlaude"
"Dan kedua teman baikmu cumlaude. Sirkel pertemanan kalian yang positif, sangat membanggakan kami orang tua. Apa yang membuatmu seperti ini?" Pak Esra bertanya pelan dan sangat berhati-hati.
Jantungnya makin berdetak kuat, melihat mata Nelson mulai tergenang. Pak Esra jadi memikirkan Nelson telah lakukan tindakan curang untuk memperoleh prestasi akademiknya.
Tapi hatinya menolak dan tidak percaya mengingat karakter Nelson yang jujur dan takut Tuhan. 'Tidak mungkin dia mempergunakan statusnya sebagai Asdos untuk melakukan kecurangan.' Pak Esra membatin sambil melihat mimik wajah putranya yang gelap.
Hal yang sama dipikirkan oleh Bu Weny. 'Ada apa dengan prestasi Nel? Dia tidak mungkin bermain belakang.' Bu Weny tidak mau percaya pada apa yang terlintas di benaknya. Kata 'tidak mungkin' terus dikatakan dalam hati. 'Dia memang cerdas.' Bu Weny meyakinkan dirinya.
Mereka hanya berpikir, sumber kesedihan dan ketidakbahagiaan Nelson adalah prestasinya di kampus. Tidak terlintas di pikiran mereka, Nelson melakukan suatu tindakan tidak bermoral lainnya.
"Aku belum bisa bilang saat ini, Pa, Ma. Berikan aku waktu untuk mengumpulkan kekuatan untuk bicara lagi dengan Papa Mama." Nelson memohon dengan suara pelan.
Melihat kondisi Nelson yang makin sedih dan tertunduk saat bicara dengan mereka, Bu Weny mengangkat perlengkapan makan dan membersihkan meja. Agar mereka bisa leluasa bicara dari hati ke hati.
Kemudian Bu Weny meletakan gelas air mineral di depan Nelson dan Papanya. Sambil berharap, air mineral bisa melegakan dan membuat mereka bisa berpikir baik.
"Nel, dengarkan Mama. Walaupun kau melakukan tindakan buruk dan sangat memalukan, tidak menggugurkan atau menghilangkan statusmu sebagai anak kami." Ucap Bu Weny sambil memegang tangan Nelson di atas meja. Hatinya seperti ditusuk jarum saat menyentuh tangannya yang bergetar.
"Benar, Nel. Mana mungkin kami meninggalkanmu sendiri dalam kondisi seperti ini?" Pak Esra menambahkan. "Kami mengenalmu lahir batin. Jadi jangan berpikir kami menghukummu, apa lagi membuangmu."
"Kau tetap anak kami dalam keadaan baik dan buruk. Kami selalu ada buatmu, mendengar curahan hatimu dan mendampingimu. Cuma kau anak kami satu-satunya." Ucap Pak Esra serius, walau suaranya ikut bergetar.
...~•••~...
...~•○♡○•~...