Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Di Jenewa, tepatnya di ruang kerja Regantara. Ruangan itu hanya diterangi oleh pendar cahaya dari deretan monitor dan lampu meja yang temaram.
"Tuan." panggil Alaric sambil melangkah mendekat, ia meletakkan laporan di atas meja.
Regantara tidak memalingkan pandangannya dari pemandangan kota Jenewa yang kini basah oleh hujan.
"Katakan."
"Nyonya Zara baru saja keluar dari kantor hukum Arya & Partners." lapor Alaric. "Beliau langsung memanfaatkan akses keuangan dan nama besar Anda, tetapi tidak untuk berbelanja barang mewah atau menolong perusahaan ayahnya." jelasnya.
Regantara memutar tubuhnya perlahan, sepasang matanya yang tajam menatap Alaric dan mengisyaratkan sang sekretaris untuk melanjutkan ucapannya.
"Nyonya Zara mengalirkan dana melalui perusahaan cangkang yang terenkripsi untuk membeli seluruh utang-utang Adhitama Corp yang tersisa di bank, Tuan." jelas Alaric.
"Beliau melakukannya secara sangat senyap, agar Ibu tirinya dan Hendra Adhitama tidak sadar bahwa kreditur utama yang kini memegang leher perusahaan mereka bukanlah pihak bank, melainkan putri yang mereka buang."
"..."
Regantara menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja secara teratur. Senyum tipis yang berbahaya tiba-tiba terbit di bibirnya.
"Gadis yang sangat menarik, dia tidak menggunakan cakarnya secara langsung. Dia memilih bertindak seperti racun yang mengendap."
"Apakah kita perlu mengambil tindakan untuk memblokir aliran dana tersebut, Tuan?" tanya Alaric.
"Memblokirnya?" Regantara terkekeh dingin, mata kelamnya berkilat menyala. "Untuk apa? Dia sedang memainkan permainan yang sangat menyenangkan, biarkan dia bergerak sesukanya."
Regantara mengambil cangkir kopinya, lalu menyesapnya perlahan sambil menatap dokumen transaksi atas nama Zara.
"Bantu dia mempermudah jalur transaksi itu tanpa sepengetahuannya."
"..."
"Aku ingin melihat seberapa jauh Nyonya Benedict ini bisa menari di atas kehancuran keluarganya sendiri, sebelum aku kembali untuk menagih bagianku."
Regantara akan menjadi penonton yang paling diam sekaligus paling berbahaya dalam panggung sandiwara ini.
Bagi seseorang yang telah menaklukkan berbagai kompetisi bisnis berdarah sepertinya di dunia internasional, melihat manuver kecil dari Zara adalah sebuah hiburan berkelas yang tidak datang dua kali.
Ia tidak berniat menghentikan langkah wanita itu.
"Tuan, apakah Anda tidak khawatir jika tindakan Nyonya Zara akan menyeret nama besar Benedict Group jika permainannya terbongkar?"
Regantara terkekeh pelan, suara kekehannya berat, dan sangat mengintimidasi membuat Alaric merinding.
"Terbongkar?" Regantara mengangkat pandangannya, lalu menatap sekretarisnya.
"Jika dia sampai membiarkan wanita serakah seperti Roselin mendeteksi pergerakannya, maka dia tidak pantas menyandang nama Benedict. Tapi sejauh ini, dia melangkah dengan sangat rapi, Alaric."
Regantara meletakkan cangkir porselennya kembali dengan denting halus.
"Aku akan menjadi penonton yang duduk di barisan paling depan. Aku ingin melihat bagaimana gadis kecil itu menguliti keluarganya sendiri secara perlahan-lahan, sampai akhirnya mereka memohon ampun di kakinya." lanjut Regantara dengan senyum miring.
"Lalu... kapan kita kembali, Tuan?"
Regantara menatap jadwal di layar komputernya
"Sampai aku bosan melihatnya dari kejauhan, Alaric. Kita lihat saja seberapa jauh kelinci kecil itu bisa berlari sebelum dia menyadari kalau seluruh lapangan tempatnya melompat sekarang, adalah milikku."
Alaric hanya menundukkan kepala dengan senyum tipis. Ia paham betul tabiat tuannya. Bagi Regantara, seorang musuh yang menyerang secara terang-terangan adalah hal biasa, tetapi seorang istri yang diam-diam menyusun intrik?
Itu adalah teka-teki yang menyenangkan.
"Lalu bagaimana dengan rencana suntikan dana resmi Benedict Group ke perusahaan Adhitama minggu depan, Tuan? Hendra Adhitama sudah berkali-kali mengirim email memohon audiensi." tanya Alaric memastikan.
Regantara menyilangkan jemarinya di atas meja.
"Berikan saja mereka harapan sedikit demi sedikit, tapi jangan pernah tanda tangani dokumen apa pun. Biarkan Hendra dan istrinya merasa di atas angin karena berpikir pernikahan ini berhasil. Makin tinggi mereka terbang karena ilusi itu, makin hancur saat Zara menarik pijakan mereka."
Pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, menatap rintik hujan yang membasahi kota Jenewa.
.
Setelah meninggalkan kantor Pak Arya, Zara meminta Pak Karta membawanya pergi ke sebuah kafe terbuka di dalam mal eksklusif.
Ia tidak bermaksud menghamburkan uang atau membeli barang-barang bermerek. Zara hanya butuh ketenangan sejenak dan melarikan diri dari bayang-bayang masa lalunya, ia menenangkan jemarinya yang masih sedikit bergetar setelah menandatangani berkas-berkas eksekusi balas dendamnya tadi.
Zara sudah menyusun rencana balas dendam sejak dulu, tapi masih ada ragu di hatinya bukan untuk Roselin apalagi Selene, tapi untuk Hendra.
Bagaimanapun Hendra adalah ayahnya kan?
Zara menghela nafas, ia meminum kembali kopi dingin yang ia pesan ketika suara langkah sepatu hak tinggi yang tak asing melangkah mendekati mejanya.
"Astaga... Mami, coba lihat siapa yang duduk santai di sini!"
Suara melengking bernada ejekan itu sangat familiar di telinganya. Ketika ia mendongak, sosok Selene berdiri tegak di hadapannya, wanita itu mendekap tas desainer terbaru di lengannya dan pakaian mewah yang terlihat mencolok.
Di sampingnya, ada Roselin yang berdiri sambil menyilangkan tangan dengan tatapan meneliti kearah Zara.
Selene tertawa sinis, lalu melangkah memutari meja Zara.
"Aku pikir kamu sedang dikurung atau menangis histeris di pojokan kamar monster itu, Zara. Ternyata kamu malah berani keluyuran ke tempat mahal seperti ini? Apa kamu mencuri uang Regantara untuk pamer?" ejek Selene sambil berkacak pinggang.
Zara menatap adik tirinya dengan wajah tenang tanpa ekspresi, tidak ada lagi raut takut atau pasrah seperti yang biasa ia tunjukkan di rumah Adhitama dulu.
"Aku hanya sedang menikmati tehku, Selene dan rasanya tempat umum seperti ini tidak pernah melarang siapa pun untuk berkunjung." jawab Zara santai sekali, menatap lurus ke dalam mata Selene yang tampak melebar.
Roselin melangkah mendekat, matanya menyipit tajam menatap gaya busana dan keanggunan dari Zara yang tidak seperti biasanya. Ada secuil kecurigaan yang menyelinap di benak ibu tirinya itu, namun langsung ia tepis jauh-jauh.
Tidak mungkin wanita penakut seperti Zara bisa bertransformasi menjadi wanita anggun, ini pasti hanya akting atau sikap sok berani agar Roselin merasa bersalah.
"Jaga bicaramu, Zara." potong Roselin. "Jangan berlagak seperti orang kaya hanya karena kamu memakai gaun bagus hari ini. Kamu bisa duduk di sini juga karena pengorbanan Selene yang membiarkanmu menikahi Regantara! Seharusnya kamu berterima kasih pada kami!" ucapnya.
"Berterima kasih?" Zara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan mendiang Ibunya, dan hal itu membuat Roselin mendadak merinding tanpa alasan.
"Kenapa aku harus berterima kasih untuk sesuatu yang memang seharusnya menjadi milikku? Bukannya Selene sendiri yang lari ketakutan dan menyerahkan pernikahan itu padaku?" bisik Zara pelan namun penuh penekanan.
Wajah Selene seketika memerah menahan malu dan amarah.
"Kamu!"
"Ingat posisimu, Zara!" ancam Roselin lagi, ia mengetukkan jarinya ke meja berniat mengintimidasi memainkan psikologis Zara seperti biasa.
"Regantara bahkan tidak mendampingimu dan langsung meninggalkanmu di altar waktu itu! Seluruh kalangan atas sudah tahu kalau kamu ditinggalkan sendirian! Kamu hanyalah istri formalitas di atas kertas. Jika kami mau, kami bisa membuat Hendra membatalkan ikatan ini!"
Zara menatap kedua wanita di hadapannya dengan tatapan kasihan.
"Cobalah kalau begitu, Tante." bisik Zara.
"..."
"Minta Papi membatalkannya sekarang. Tapi ingat satu hal, saat ini ikatan di atas kertas milikku adalah satu-satunya hal yang menahan perusahaan Papi dari jurang kebangkrutan."
Selene dan Roselin terpaku.
Sebelum mereka sempat membalas, Pak Karta melangkah mendekati meja dengan sikap penuh hormat pada Zara.
"Nyonya Benedict, mobil dan pengawalan pribadi Anda sudah siap di depan. Apakah ada masalah dengan dua orang ini?" ujar Pak Karta lantang, sengaja menekankan gelar resmi Zara hingga mengundang perhatian pengunjung kafe di sekitar mereka.
Mendengar sebutan Nyonya Benedict yang diucapkan oleh sopir resmi keluarga berkuasa itu, wajah Roselin dan Selene seketika pucat pasi.
Zara bangkit dari duduknya, lalu merapikan blazernya dengan sangat anggun. Ia melirik Selene sekilas, memberikan senyuman manis yang membuat Selene menahan kesal.
"Nikmatilah belanjaan kalian, aku permisi." ucap Zara sebelum melangkah pergi, meninggalkan Roselin dan Selene yang membeku.