Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Club Malam
Malam harinya…
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alea datang ke sebuah club malam bersama dengan Jihan.
Lampu warna-warni berkelip di seluruh ruangan. Musik terdengar keras.
Orang-orang memenuhi lantai dansa.
Alea terlihat sangat canggung.
Ia bahkan beberapa kali menutup telinganya karena suara musik yang terlalu keras.
“Aku mau pulang aja ah. Disini terlalu berisik dan bikin pusing.”
“Kok pulang sih? Tanggung, udah masuk juga. Ayo, ikut aku.”
Tanpa basa-basi lagi, Jihan langsung menarik tangan Alea. Memasuki area dalam club. Mencari tempat yang kosong untuk duduk dan memesan minuman.
“Aku nggak nyaman, Han.” ucap Alea, melirik ke kiri dan kanan. Menatap pemandangan yang selama ini tidak pernah ia lihat.
“Tenang. Ada aku disini. Jangan takut.”
Jihan kemudian memesan minuman. Awalnya hanya satu gelas. Kemudian satu gelas lagi.
Alea yang tidak terbiasa minum alkohol mulai kehilangan kesadarannya.
“Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Jihan.
“Aku baik-baik saja.” jawab Alea sambil tertawa kecil.
Namun beberapa menit kemudian, langkahnya mulai tidak stabil.
“Alea. Tapi kamu sudah mabuk.”
“Hmmm? Mabuk? Aku nggak mabuk Jihan.”
Alea tertawa lagi. Kemudian tubuhnya hampir terjatuh jika Jihan tidak segera menahannya.
“Kita pulang, ya ,Al.” bujuh Jihan yang mulai panik karena Alea mulai kehilangan kesadarannya.
Namun Alea justru menggeleng dan tetap bertahan di dalam club itu.
“Tidak... Aku tidak boleh pulang sekarang. Kak Agam harus tahu kalau aku bukan perempuan yang cocok untuk dia.”
Jihan mulai merasa bersalah.
Rencana yang awalnya terdengar lucu kini mulai berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.
“Alea, dengarkan aku. Kita pulang sekarang, ya. Bukankah, tadi.kita sudah ambil foto dan video untuk diperlihatkan sama dia. Ayo bangun. Kita pulang.”
Jihan pun segera memboyong Alea menuju pintu keluar. Namun sebelum mereka sampai di pintu, tiba-tiba beberapa pria datang, menghadang mereka. Salah seorang dari mereka mendekat.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya.
Jihan langsung mendekap erat tubuh Alea. Mencoba melindungi sahabatnya sebisa mungkin.
“Tidak perlu. Saya bisa sendiri.” tolaknya.
Jihan segera menarik Alea menjauh.
Namun kondisi Alea yang semakin lemas membuat langkah mereka tidak lagi mudah.
“Alea, bangunlah. Jangan seperti ini.”
Jihan terus berusaha membangunkan Alea. Meskipun gadis itu tidak menjawab. Namun ia terus mencoba membangunkan sahabatnya itu.
Akan tetapi, bukannya terbangun Alea malai terkulai di bahu Jihan membuat Jihan semakin panik.
Jihan pun bergegas merogoh ponselnya, berniat memesan kendaraan online untuk membawa mereka pulang.
Namun, sebelum sempat membuka aplikasi, sebuah tangan tiba-tiba meraih lengan Alea.
“Biar saya bantu.”
Jihan langsung menepis tangan itu. Lalu membawa Alea semakin menjauh dari pria asing itu. Membuat pria tersebut tertawa kecil.
“Jangan sentuh dia!”
“Temanmu sudah mabuk. Kamu tidak mungkin bisa membawanya sendiri.”
“Jangan ikut campur. Aku bisa kok.”
Jihan berusaha menopang tubuh Alea. Namun tubuh sahabatnya itu benar-benar lemas.
Untuk pertama kalinya malam itu, Jihan merasa sangat takut.
Rencana bodoh mereka telah berjalan terlalu jauh.
Ia hanya ingin membantu Alea agar terbebas dari perjodohan dengan pria bernama Agam. Namun, ia tidak pernah menyangka jika ide nya itu justru membuat situasi yang berbahaya.
Buka cuma untuk Alea, namun untuk dirinya sendiri juga. Karena jujur, saat ini, Jihan merasa sangat ketakutan.
Jihan semakin erat memeluk Alea yang sudah tidak sadarkan diri, ia berusaha membawa Alea menjauh dari tempat tersebut.
Namun beberapa pria itu masih mengikuti mereka. Sehingga, Jihan pun segera mempercepat langkah.
Sementara itu, diluar club malam. Sebuah mobil hitam baru saja berhenti tidak jauh dari pintu masuk club.
Pintu mobil terbuka, menampilkan seorang pria turun dari dalam mobil itu. Ia mengedarkan pandangannya, menatap ke sekeliling tempat itu.
“Kenapa harus buat janji ditempat seperti ini?” gumamnya sambil mencari orang yang hendak ia temui.
Namun, tanpa sengaja, tiba-tiba matanya menangkap sosok gadis yang sangat ia kenali. Tengah dipapah oleh gadis lain dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Mata pria itu langsung membulat sempurna. Rahangnya mengeras.
Dengan kedua tangan yang terkepal kuat.
Pria itu tidak pernah menyangka jika ia akan bertemu dengan Alea di tempat seperti ini. Dan dalam keadaan yang seperti itu pula.
“Alea...?” gumamnya.
Suara pria itu terdengar rendah. Namun penuh dengan penekanan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… Agam melihat Alea menjadi orang yang berbeda.
***
Keesokan harinya…
Cahaya matahari pagi perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar, menerangi sebagian ruangan kamar.
Alea mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menetralkan pandangannya yang sedikit buram. Kepalanya terasa sangat berat.
Pelipisnya berdenyut. Tenggorokannya terasa kering, sementara tubuhnya terasa lemas seperti baru saja melakukan pekerjaan yang melelahkan.
Ia mengerang pelan sambil mengangkat tangan, memijat pelipisnya sendiri.
“Ahh… kepalaku.”
Alea mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Club. Musik yang terlalu keras. Minuman. Dan Jihan.
Kemudian…
Samar-samar ia mengingat dirinya yang hampir tidak sadarkan diri.
Alea langsung membuka kedua matanya lebih lebar.
“Jihan…”
Ia buru-buru bangkit dari tempat tidur.
Namun gerakan mendadaknya membuat kepalanya kembali berdenyut hebat.
“Aduh… aduh, kepalaku.”
Alea memejamkan mata sejenak, menahan rasa pusing yang menyerang.
Setelah beberapa saat, ia menoleh ke sekeliling kamar.
Ini kamarnya. Kamar pribadinya.
Ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, meskipun sepatu dan beberapa aksesori yang dikenakannya sudah tidak ada. Alea menatap dirinya sendiri dengan bingung.
“Bagaimana aku bisa sampai di sini?” gumamnya.
Ia mencoba mengingat lebih keras kejadian semalam. Namun, semakin ia berusaha mengingat, kepalanya semakin terasa sakit.
Yang terakhir ia ingat hanyalah Jihan yang memeluknya dan berusaha membawanya keluar dari club.
Lalu… Setelah itu… tidak ada lagi yang dia ingat.