Maretta anggraini, seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai manager sebuah perusahaan garment. Dia bercerai dari suaminya lantaran suaminya ketahuan sudah menikah lagi.
Kemudian dia bertemu dengan seorang Dokter muda yang bernama Didi rangga dinata. Ternyata, Dokter itu langsung jatuh cinta sama Maretta.
Bagaimana perjalanan kisah cinta antara Maretta dan Didi.
Ikuti dalam novel yang berjudul KAU YANG SELALU ADA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 6 (Pedekate)
Didi masih menatap Retta dengan posisi yang masih menggenggam tangan Retta. Perlahan Retta melepaskan genggaman itu lalu tersenyum.
"Maksud kamu apa, Di?"
"Apa Mbak Retta keberatan, jika aku dekat dengan Mbak Retta?" tanya Didi.
"Di, aku faham niat kamu baik. Tapi, aku ini janda. Apa kata orang jika kamu dekat-dekat sama, aku." jawab Retta meyakinkan.
"Kenapa harus pikirin omongan orang. Ini hidup kita, Mbak Retta nggak boleh gitu. Aku yakin saat ini Mbak Retta butuh teman untuk mencurahkan semua apa yang menjadi beban dalam pikiran Mbak." ucap Didi.
Retta semakin sedih ketika Didi bicara seperti itu. Memang benar, sejak perceraiannya dulu, dia mudah rapuh dan gampang menangis. Padahal sebenarnya Retta bukan type wanita seperti itu. Diluar memang dia bisa ketawa dan lain sebagainya, tapi dalam hatinya dia rapuh.
Tak terasa air matanya pun menetes dipipi. Didi yang melihat Retta seperti itu langsung dia mengusapnya dengan punggung tangannya. Retta nggak ngerti dengan anak ini. Kenapa dia masih terus berusaha untuk mendekatinya. Padahal dia juga mau dijodohkan sama orang tuanya.
"Di, kamu ini aneh, ya. Kamu Dokter, ganteng, masih muda lagi. Tapi, kenapa kamu justru buang-buang waktumu buat urusin aku." ucap Retta pelan.
"Emang nggak boleh, ya Mbak. Atau kamu malu kalau dekat sama cowok yang usainya lebih muda dari Mbak Retta?" tanya Didi.
"Bukannya malu, Di. Tapi, aku nya aja yang belum bisa dekat dengan cowok secepat ini. Ya mungkin aku juga butuh waktu. Lagian kamu itu pantas jadi adikku." jawab Retta.
"Ya sudah kalau Mbak Retta belum siap. Tapi, ingat Mbak. Aku akan tetap selalu ada didekatmu setiap saat. Jika kamu butuh apa-apa jangan sungkan-sungkan kasih tahu aku." ucap Didi.
"Baiklah. Oh iya, aku sampai lupa. Kamu baru pulang, kan. Pasti lapar. Bi Sila masakin aku sop ayam. Ayo makan!" ajak Retta.
"Makasih, Mbak. Lain kali aja. Aku langsung pamit, ya. Mbak Retta hati-hati." ucap Didi.
"Baiklah. Kamu juga hati-hati." jawab Retta.
Akhirnya Didi meninggalkan rumah Retta. Kini Retta kembali masuk rumah. Dia mencari Bi Sila untuk mengajaknya makan. Dan ternyata semua sudah siap dimeja makan. Kemudian mereka berdua makan malam bersama.
.
.
.
Saat malam menjelang, Retta menutup dan mengunci pintu pagar dan rumah. Dia mengecek satu persatu mungkin saja ada yang belum ke kunci. Setelah itu dia menyuruh Bi Sila untuk tidur dan dirinya juga masuk kamarnya.
Dalam kamar, Retta masih memikirkan apa yang dibilang sama Didi tadi sore. Kenapa dia kekeh banget deketin dirinya. Dia itu kan Dokter, harusnya dia kan sibuk dirumah sakit, kenapa dia malah sibuk deketin dirinya.
Dia jadi keinget akan omongan Bundanya soal dia akan dikenalkan dengan anak teman Ayahnya.
"Apa aku harus menerima tawaran Bunda untuk perkenalan itu?" ucap Retta dalam hati.
Retta bingung tidak bisa tidur karena memikirkan masalah ini. Dia tidur miring sambil memeluk guling. Tak terasa airmata pun menetes dipipinya. Dia jadi teringat sama mantan suaminya dulu. Seandainya suaminya nggak selingkuh dan menikah lagi, mungkin dia tidak akan segalau ini.
(***)
Pagi ini di kantor ada meeting dengan supervisior. Setelah melalui perencanaan dan perundingan dalam meeting tersebut, akhirnya Retta memutuskan untuk memberikan reward kepada setiap supervisior jika target tahun ini bisa goal.
Setelelah dia mengakhiri meetingnya, Retta langsung bergegas ke ruangannya. Dia membuka ponselnya dan ternyata nihil. Biasanya ada pesan dari Didi.
"Kok, aku jadi mikirin Didi, sih!" ucapnya dalam hati.
Akhirnya dia membuka kembali laptopnya dan melajutkan kembali kerjaannya.
♥ RUMAH SAKIT ♥
Hari ini, Didi malas keluar untuk makan siang. Dia masih kepikiran Retta yang sulit sekali dideketin. Padahal Didi sudah jatuh cinta sama dia. Dia masih duduk dikursi diruangannya.
"Tok..tok..!"
"Masuk,!" jawab Didi dari dalam.
"Maaf, Pak Didi. Ini ada pasien komplain soal pelayanan di ruang poli umum." ucap Perawat itu.
"Kok bisa seperti itu. Apa masalahnya?" tanya Didi.
"Dia mempermalasahkan soal sistem pembayaran yang kita punya. Dia nggak mau katanya terlalu ribet." jawab Perawat itu.
"Ya sudah, kalau gitu bebaskan saja untuk soal biayanya. Daripada ribet juga hadapi satu pasien, akhirnya pasien yang lainnya jadi terbengkalai." jawab Didi.
"Baiklah, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu." jawab Perawat itu sambil berlalu.
Didi memang bekerja dirumah sakit ini. Tapi, rumah sakit ini adalah punya Orang tuanya. Disamping dia bekerja seperti pada umumnya Dokter yang lain. Dia diberi wewenang oleh Papanya untuk memegang jabatan sebagai Direktur utama. Jadi jika ada permasalahan yang memang benar-benar urgent seperti barusan. Dia bisa ambil keputusan.
Papanya juga seorang Dokter. Tapi, sejak dia mengalami kecelakaan dan menyebabkan kakinya patah, dia sudah nggak aktif lagi. Tapi, Pak Hendra terkenal sebagai Dokter yang bagus. Rumah sakit yang dia miliki termasuk rumah sakit yang memiliki kualitas bagus.
.
.
.
Malam harinya sekitar pukul tujuh malam, Retta baru pulang kantor. Hari ini ada lembur karena besok ada pameran di "Hotel Purnama". Dia dan teamnya harus mempersiapkan segala sesuatunya. Sebagai team Marketing, dia harus tanggap dalam hal memasarkan produknya. Apalagi kalau ada acara even atau pameran dia yang terdepan berperan.
Dengan mengikuti banyak event dan pameran, maka masyarakat akan lebih banyak yang mengenal produknya. Disamping memasarkannya ke pusat perbelanjaan dan online. Cara lain untuk memajukan produknya agar lebih dikenal konsumen adalah mengikuti even dan pameran tersebut.
Retta selama menjabat sebagai Manager pemasaran di perusahaan dimana dia bekerja sekarang, tidak pernah mengalami penurunan dalam hal pendapatan. Omzet penjualan bahkan selalu meningkat. Mungkin itu dikarenakan pengalaman dia selama bekerja diperusahaan itu dari level paling bawah yaitu Sales Promotion Girl.
"Bi Sila,!" serunya sesampainya diruang tengah.
"Iya, Non." jawabnya.
"Bi, tolong rebusin air buat aku Mandi, ya. Pemanas dikamar mandi lagi rusak." titahnya.
"Baik, Non. Bibi siapin.!"
Setelah selesai mandi, Retta kedepan untuk melihat siapa yang datang, karena pas dia mandi Bibi bilang ada tamu.
"Kamu, Di.!"
"Malam, Mbak.!"
"Masuk aja!"
"Mbak, ini aku bawain makan malam buat Mbak Retta sama Bi Sila." ucapnya sambil meletakan bungkusan dalam tas.
"Apa, ini. Seharusnya kamu nggak usah repot-repot" serunya sambil mengamati bungkusan itu.
"Mbak,! keluar yuk?"
"Kemana?"
"Jalan aja, ntar Mbak pingin kemana tinggal bilang, lalu aku anterin." jawab Didi.
"Emm.. gimana, ya. Boleh deh!"
"Okey, deh. Ayo!"
"Aku ganti baju dulu, Di."
"Udah gitu aja, cantik kok!"
"Baiklah,!"
Kemudian Retta melangkah dibelakang Didi. Dia bingung kok nggak ada mobilnya yang seperti biasa. Didi tersenyum melihat Retta yang bingung mencari mobilnya. Tanpa pikir panjang Didi langsung menggandeng tangan Retta kemudian mengajaknya ke depan pintu pagar. Ada sebuah motor gede terparkir diluar. Retta melotot kearah Didi mengisyaratkan sesuatu.
"Motor kamu?"
"Yuupss,! kenapa Mbak. Ngak suka naik motor?"
"Suka. Suka banget malahan,"
"Ayo naik. Kita keliling kota"
Kemudian Retta mengangguk dan Didi memakaikan helm ke kepala Retta. Setelah itu Didi menyalakan mesin motornya.
"Ayo naik,!" ucap Didi ketika sudah diatas motor.
Kemudian Retta naik motor itu dengan malu-malu. Didi yang melihat sikap Retta yang kaku dan canggung seperti itu jdi pingin ketawa.
Motor gede milik Didi mulai membelah jalan raya. Laki-laki muda itu terus menyungging senyum sejuta makna dari sudut bibirnya. Rona kebahagiaan terlihat jelas dari mimik wajahnya. Rasa senang yang menggunung dari dalam hatinya meluap dan tak sanggup dia sembunyikan lagi.
"Kemana, Mbak?" Didi menolehkan wajahnya kesamping sembari bertanya.
"Terserah kamu," jawab Retta.
"Ya sudah kita keliling aja kalau gitu. Nanti kalau Mbak Retta pingin sesuatu langsung bilang aja." ucap Didi.
Retta mengangguk sembari pegangan jaket yang dikenakan Didi. Dia nggak berani pegangan pinggang Didi, karena memang nggak berani.
Retta mengakui kalau dia merindukan moment seperti ini. Selama ini dia hanya sendirian semenjak perceraianya dengan suaminya. Tanpa terasa dia mulai menikmatinya. Kemudian Didi meraih tangan kiri Retta untuk diletakan dipinggangnya sebelah kiri.
Retta terkejut dan hendak menariknya, tapi tangan Didi menggenggamnya begitu erat jadi dia tidak bisa apa-apa. Didi tersenyum sambil melihat raut muka Retta dari balik spion motor.
"Biar nggak jatuh, Mbak. Makanya aku pegangin gini!" ucapnya sambil menoleh kekiri.
"Aku laper!" Bisik Retta disamping telinga Didi yang terbungkus helm.
"Baiklah, kita ke angkringan dekat sini, ya?" ucapnya.
Didi membelokkan motornya disebuah warung pinggir jalan. Kemudian dia memarkirkan motornya disebelah warung itu.
"Bi,! Susu hangat seperti biasa, dua ya?" ucapnya.
"Eh, Den ganteng. Tumben baru nongol. Ini siapa Den?" tanya Bibi penjaga warung.
"Iya, Bi. Saya sibuk urusin bini'? ucap Didi sembari melirik ke arah Retta.
Retta seketika mendelik kearah dirinya. Kemudian mencubit pinggang Didi kencang.
"Adauuw,! sakit beibz., kamu galak banget," sahut Didi sambil menahan sakit.
"Kamu apaan, sih! sok-sok an bilang gitu sama Ibu itu." ucap Retta sewot.
"Maaf, Mbak. Aku hanya ingin mencairkan suasana aja. Dari tadi Mbak Retta tegang amat." jawab Didi.
"Ini Den Ganteng susunya. Mau tambah apa lagi?" tanya Bibi.
"Tambah mie rebus satu, Bi. Pakai telor, ya?" ucap Retta.
"Oh iya, kamu tadi bilang kalau laper, ya Mbak. Maafin aku lupa." ucap Didi.
Kemudian mereka berdua menikmati makanan. Sambil ngobrol-ngobrol. Tak terasa malam semakin larut. Didi mengajak Retta pulang. Dalam perjalanan menuju rumah Retta memilih diam. Mungkin dia kecapek'an karena kerja tadi pulangnya malam.
Akhirnya sampai juga dirumah Retta. Didi membelokan motornya memasuki pelataran rumah Retta. Kemudian Retta pun turun dari motor, sedangkan Didi masih berada diatas motornya.
Retta kesulitan untuk membuka helmnya, kemudian dengan cepat Didi membantu melepaskan helm tersebut.
"Aku nggak mampir, ya. Udah malam." ucap Didi.
"Iya, nggak apa-apa. Makasih jalan-jalannya." ucap Retta.
"Oke. Kamu langsung istirahat, ya. Dah malam, besok ngantor lagi." ucap Didi dengan lembut.
"Okey, Hati-hati.." jawab Retta.
Kemudian Didi memutar motornya dan meninggalkan rumah Retta. Setelah di tidak terlihat, Retta masuk rumah dengan senyum-senyum sendiri.
----------Bersambung----------
.retta
.