Tidak pernah menyangka akan terjerat cinta bersama pria yang pernah hidup berumahtangga sebelumnya.
Kenyamanan itu selalu diberikan, sehingga membuat Tyas menaruh harapan meskipun tak sepenuhnya. Ia masih berjaga-jaga untuk segala kemungkinan nantinya. Apalagi ia selalu membayangkan betapa sedihnya anak kecil itu tanpa didampingi oleh kedua orangtuanya secara lengkap.
Sedangkan di sisi lain, ada pria lain yang selama ini mencintai Tyas. Namun, karakternya yang pemalu, selalu kalah dengan teman-temannya, termasuk pria yang saat ini masih dekat dengan Tyas. Mereka hidup di lingkungan yang sama.
Hingga di kemudian hari, kenyamanan itu berubah. Tyas harus berada di dalam situasi mengikhlaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 : Saya Jinak Kok
Pagi hari, Tyas sudah ikut membantu mbak Marni dan mbak Sela yang bergelut dengan peralatan dapur. Tyas hanya sekedar mengupas bumbu-bumbu, setidaknya ia tidak berdiam diri.
''Mbak, sapunya dimana? aku mau nyapu halaman depan.'' tanya Tyas.
''Ada di samping Yas, oh ya, sekalian itu kunci gerbang bawa aja kalau nanti mas Adnan datang, kamu bisa bukakan gerbangnya, maap yak malah nyuruh, hehe.'' ucap mbak Marni.
''Siaap, nggak papa Mbak, aku malah bingung kalau diam aja.'' jawab Tyas tidak merasa keberatan.
''Ok deh, kuncinya di gantungan atas televisi ya '' ujar mbak Marni.
Tyas mengangguk paham dan langsung menuju tempat yang sudah di beritahu oleh Marni.
Setelah menemukan kuncinya, ia langsung memasukkan ke dalam kantong celananya dan segera keluar rumah untuk menyapu halaman.
Dengan telaten, Tyas menyapu daun-daun yang rontok dan membawanya ke tong sampah.
Setelah selesai, ia menyirami tanaman-tanaman yang sudah terlihat kering. Bukan pekerjaan yang berat, karena ini aktivitas yang sudah biasa Tyas lakukan saat di rumah.
Tin
Tyas tidak ngeh dengan suara klakson, karena jarak rumah yang saling dekat membuat ia tidak mempedulikan suara klakson. Ia mengira suara itu bersumber dari rumah lainnya. Apalagi ia masih dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan baru di sini.
Tin Tin, suara klakson kembali terdengar.
"Mbak Tyaas!''
Tyas langsung mematikan kran karena merasa ada yang memanggil namanya dan ia pun mencari sumber suara. Suara laki-laki yang tidak ada di rumah ini.
''Ehh,'' Tyas langsung meletakkan sembarang selang yang ia pegang tadi dan langsung setengah berlari menuju pintu gerbang.
''Maaf Mas, maaf banget ya, nggak ngeh.'' ucap Tyas tidak enak sambil membuka gembok dengan kunci yang ia bawa tadi.
Sementara Adnan masih di depan gerbang hanya mengangguk dan tersenyum.
Dengan kekuatan tenaga yang sudah ia maksimalkan, Tyas hendak membuka gerbang tersebut, tapi, sayangnya sangat berat bagi dirinya. Atau bisa jadi semua itu karena belum terbiasa ia lakukan.
Adnan yang tahu bahwa gerbang tersebut sangat berat, langsung mengambil alih, tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan Tyas.
''Eh, maaf.'' Tyas langsung menarik tangannya.
"Maaf ya Mas berat, saya nggak kuat." ucap Tyas jujur.
"Iya berat kalau sendiri, makanya perlu di jalani bersama biar lebih ringan." ujar Adnan cengengesan.
Tyas menggaruk kepalanya. Melihat Adnan sepertinya tidak merasa keberatan ketika membuka pintu gerbang itu.
"Canda, canda, Tata sudah bangun kah?" tanya Adnan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak tau Mas, belum keluar kamar tadi, nggak tau kalau sekarang." jawab Tyas.
''Ohh, iya nggak papa.'' jawab Adnan.
Adnan langsung masuk ke dalam rumah, lalu mengambil kunci mobil. Ia mendengar suara teriakan Tata yang seperti biasa jika di mandikan, selalu ada drama di balik kemanisannya. Adnan memilih untuk langsung memanasi mesin mobil, sembari menunggu ia membersihkan kaca-kaca mobil tersebut agar lebih kinclong.
##
''Mas Adnan, nanti abis nganterin anak-anak sekalian ajak bareng Tyas ke kantor ya, dia masih bingung dan belum tau dimana kantornya.'' ujar mbak Marni saat melihat Adnan.
''Mbaaakk, jangan ... malu.'' bisik Tyas yang langsung tidak enak.
"Oh alaaahhh, gampang, iya iya, nggak usah malu mbak Tyas, saya jinak kok, nggak gigit." ujar Adnan dengan guyonan.
''Jangan serius-serius banget ya Yas, mas Adnan memang begitu orangnya, pokoknya jangan kaget." ujar mbak Marni pada Tyas.
Tyas mengangguk.
Adnan memang memiliki karakter yang senang becanda, namun, ketika sedang menghadapi masalah yang menurutnya sangat rumit, maka ia bisa hilang kendali. Dia juga sosok yang mudah terpancing emosi.
"Siap-siap aja Mbak, nanti selesai antar sekolah biar langsung ke kantor." ucap Adnan yang masih belum terbiasa memanggil nama Tyas.
"Iya, terima kasih." jawab Tyas.
Sepeninggalan Adnan mengantar sekolah anak-anak bersama dengan mbak Sela, Tyas langsung bersiap-siap juga, ia tidak ingin membuat orang menunggunya nanti. Ia orang yang sangat simple, jadi persiapan tidak menghabiskan banyak waktu. Apalagi ini hari pertamanya masuk ke dunia baru.
##
Setelah berpamitan dengan mbak Marni, Tyas berjalan keluar rumah. Dengan langkah yang ragu, ia menghampiri Adnan yang sudah siap membawanya dengan motor.
"Ayok Mbak, apa perlu di gendong nih?" tanya Adnan yang gemas melihat langkah Tyas.
"Enak aja!" tolak Tyas, ia langsung naik ke atas motor.
"Haha, becanda Mbak Tyas." ucap Adnan langsung tancap gas.
Mereka menyusuri jalanan yang sangat padat, karena hari Senin pagi, semua sudah mulai beraktivitas normal seperti biasa. Tyas mengitari pandangannya di sepanjang jalan menuju kantor.
"Kok masih sepi Mas?" tanya Tyas menatap sekeliling kantor.
"Iya, biasanya jam 08.30 baru pada datang, ini cuma yang bersih-bersih aja yang datangnya duluan." jelas Adnan.
Tyas pun langsung manggut-manggut.
"Oh ya, kalau boleh tau pak Aji memberikan kamu job apa ya?" tanya Adnan penasaran.
"Nggak tau Mas, aku baru lulus sekolah kejuruan, karena bapakku ingin anaknya kerja di kantor, soalnya mau kuliah belum siap biayanya jadi yan coba-coba tanya ke pakde Rahman, akhirnya ya ikut kesini." jelas Tyas
"Baru lulus sekolah?" tanya Adnan lagi.
"He'em, baru lulus tahun ini." jawab Tyas.
"Pantesan masih terlihat sangat cute, ternyata anak remaja. Duuuhhh, tapi, perasaanku kok gemetaran terus gini, apa dia mau sama duda anak satu sepertiku." bathin Adnan.
Baru juga perkenalan ini di mulai, Adnan harus bisa menjaga sikap. Terutama untuk membuat teman barunya nyaman berada di sini. Apalagi orang-orang yang baru datang di luar pengetahuannya, karena mereka tidak bertugas di kantor ini.
semangat othor💪
gk ngerti perasaan anak.
telur d kasih trigu d goreng d makan rame
enak e polll tiada taraa😁