Berlatar belakang jaman perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Ada kisah cinta yang bersemi di sana.
Kisah sepasang sejoli yang berjanji bertemu usai 'berjuang bersama' untuk mewujudkan mimpi mereka.
Akankah mereka bertemu dan berhasil mewujudkan mimpi indah mereka ?.
Ikuti kisahnya yuukk ...
(Kisah ini dibuat sebagai apresiasi pada para pejuang yang telah gugur sekaligus untuk mengenang jasa mereka. Tak ada maksud menyudutkan karena kisah ini murni buah pemikiran author)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Meninggalkan Adik ?
Pelatihan militer tentara PETA pun dimulai. Arman, Buyung, Komarudin, Ujang dan Surya masuk ke barak militer bentukan Jepang itu di akhir Oktober 1943.
Selama Arman mengikuti pelatihan militer, diam-diam Melati juga bergabung dengan organisasi wanita bentukan Jepang yang bernama Fujinkai. Di sana para wanita dilatih khusus dan dipersiapkan untuk membantu pasukan yang dikirim ke medan perang nanti. Fungsi dan tugas utama mereka adalah sebagai team medis yang membantu merawat luka para tentara korban perang.
Melati belajar banyak hal termasuk cara memegang senjata. Namun Melati lebih fokus mendalami obat-obatan.
Rupanya Melati dan teman-teman wanitanya juga punya misi yang sama dengan kaum pria. Mereka juga ingin Indonesia segera merdeka dari penjajah. Dengan cerdik mereka memilih menjadi anggota Fujinkai untuk 'membekali' diri.
Awalnya Mardian dan istrinya tak pernah tahu sepak terjang Melati di luar rumah. Mereka hanya tahu Melati keluar rumah untuk belajar bersama dengan teman-teman wanitanya. Hingga suatu hari Mardian yang pulang bekerja mengantar barang pun melihat Melati keluar dari sebuah gedung bersama teman-temannya.
"Melati ...!" panggil Mardian lantang sambil mengayuh sepedanya kearah Melati.
Melati pun menoleh dan terkejut melihat ayahnya. Ia pun meminta teman-temannya meninggalkannya.
"Tapi Kami bisa bantu bicara sama Ayahmu nanti Mel," kata Prapti cemas.
"Ga usah Ti, biar Aku aja. Kalian ga tau gimana Ayahku kalo lagi marah," tolak Melati sambil menggelengkan kepala.
"Ya udah kalo itu maumu. Kami duluan ya," kata Prapti sambil bergegas menyusul teman-temannya.
"Melati, apa-apaan ini ?!" tanya Mardian saat tiba di hadapan anak perempuannya itu.
"A-Aku bisa jelasin Yah," sahut Melati gugup.
"Itu harus. Ayo ikut Ayah," kata Mardian datar.
Melati pun mengangguk lalu naik ke boncengan sepeda sang ayah. Mardian melajukan sepedanya dalam diam dan berhenti di tepi sawah milik warga. Mereka turun lalu bicara di sana. Melati pun menjelaskan alasannya bergabung dengan Fujinkai.
"Sebenarnya Aku juga sedang belajar melindungi diriku sendiri dari gangguan para tentara Nippon yang mesum itu Yah," kata Melati kemudian.
"Apa maksudmu ?" tanya Mardian tak mengerti.
"Dengan bergabung dengan organisasi Fujinkai, secara ga langsung Aku mengamankan diriku sendiri. Mereka akan berpikir seribu kali untuk menyentuhku karena namaku tercantum sebagai anggota yang akan membantu mereka saat perang nanti. Itu artinya mereka juga wajib melindungi Aku. Bukan begitu Yah ?" tanya Melati sambil menatap ayahnya.
"Tapi Ayah khawatir ini siasat mereka untuk memperdaya Kamu dan temanmu Mel. Bukan kah Nippon jadi mudah melihatmu dan mengenalmu lalu berusaha mendapatkanmu," kata Mardian cemas.
"Aku tau Yah. Tapi lebih baik masuk ke lingkungan musuh untuk tau kelemahan mereka daripada Aku cuma berpangku tangan menunggu kabar," sahut Melati cepat.
Ucapan Melati menyadarkan Mardian jika jiwa patriotisme juga ada di diri anak perempuannya itu. Mardian pun tersenyum sambil mengusap kepala Melati dengan sayang.
"Berhati-hatilah Nak," kata Mardian lirih.
"Siap Yah," sahut Melati cepat.
\=\=\=\=\=
Selama pendudukan Jepang, rakyat Indonesia makin terpuruk dan menderita. Kelaparan terjadi dimana-mana. Itu karena rakyat dipaksa menyerahkan sebagian besar hasil panen mereka kepada team yang dibentuk Jepang dengan dalih untuk kemakmuran. Jepang juga memaksa para pria usia produktif untuk menjadi Romusha.
Karena kondisi makin tak terkendali, Mardian pun mengajak istrinya untuk hijrah ke kota lain.
"Tapi gimana sama Arman dan Melati Yah ?. Gimana kalo mereka pulang tapi ga nemuin Kita di sini ?" tanya Arti cemas.
"Itu gampang Bu. Kita bisa kirim pesan nanti. Yang penting Kita pergi sekarang karena di sini udah ga aman lagi," kata Mardian.
"Tapi si Adik juga lagi sakit Yah. Apa ga besok aja perginya. Aku khawatir sakitnya tambah parah kalo kena angin malam," kata Arti mencoba menawar.
"Ga bisa Bu. Sekarang atau ga sama sekali. Dan itu artinya Kamu harus siap dengan sesuatu yang buruk nanti," sahut Mardian tegas.
Saat Arti sedang bimbang, sebuah ketukan di pintu terdengar. Sangat keras hingga membuat Arti takut.
Mardian bergegas membuka pintu lalu menoleh kearah Arti. Rupanya itu salah satu teman Mardian yang datang dan memberitahu jika tentara Jepang sedang memburu orang-orang produktif seperti mereka untuk dikirim sebagai Romusha ke perbatasan Indonesia dan Malaysia.
"Lari sekarang, jangan lewat depan tapi lewat belakang. Kalo beruntung Kita ketemu lagi. Kalo ga, Kita jalan masing-masing dan semoga selamat sampai tujuan," kata teman Mardian sambil berlalu.
Mendengar ucapan teman Mardian membuat Arti panik. Rasa takut menyelimutinya. Ia berdiri sambil mendekap si bungsu lalu mengajak Mardian untuk hengkang dari rumah itu segera.
Mardian pun bergegas membawa istrinya pergi. Bukan lewat pintu belakang seperti saran sang teman tapi lewat jendela samping. Entah mengapa Mardian merasa khawatir sang teman berbohong dan justru menjebaknya dengan mengatakan jalan yang harus dia tempuh tadi.
Setelah berhasil melompati jendela, Mardian pun menggandeng tangan Arti dan membawanya lari secepat mungkin. Meski tahu jalan itu bukan jalan yang sering dilalui karena langsung berhadapan dengan hutan, tapi Mardian merasa lebih tenang melaluinya.
Saat berlari, berkali-kali Arti menoleh. Ia mendengar jerit tangis warga dan suara letusan tembakan.
"Jangan liat ke belakang lagi Bu. Kita harus cepat sebelum mereka mengejar Kita !" kata Mardian.
Arti hanya mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.
Setelah setengah jam berlari, Mardian pun berhenti. Saat itu mereka berada dekat dengan sebuah mata air. Mardian menoleh kearah istrinya yang tampak kelelahan itu. Saat diamati, Mardian melihat air mata membasahi wajah Arti.
"Kenapa Bu ?" tanya Mardian.
"A-Adik ... Yah," sahut Arti sambil terisak.
"Kenapa sama Adik ?" tanya Mardian sambil meraih tubuh si bungsu dari gendongan Arti.
"Di-dia ga bernafas. Dia ...," ucapan Arti terputus dan Mardian tahu kelanjutannya.
"Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Adiiikkk ...," panggil Mardian dengan suara bergetar.
Untuk sejenak Mardian membisu. Ia menatap istrinya yang menangisi kepergian si bungsu. Tak lama kemudian Mardian berjongkok lalu mengambil air dari mata air dan membasuh wajah si bungsu yang telah membeku itu. Setelahnya Mardian membungkus tubuh si bungsu dengan selimut dan meletakkannya di tanah.
"Tolong maafin Ayah ya Nak. Ayah ga bisa menjaga Kamu dan mengurus jasadmu dengan baik. Ayah dan Ibu harus pergi sekarang karena Nippon mengejar Kami. Ayo Bu !" ajak Mardian sambil menarik lengan Arti.
"Kenapa meninggalkan dia di sini, Kita bisa membawanya dan menguburnya di tempat yang layak nanti !" protes Arti.
Mardian hanya membisu sambil terus berlari. Meski diam, Mardian juga menangis. Dan Arti tahu itu. Akhirnya Arti diam dan memilih mengikuti langkah Mardian yang membawanya berlari entah kemana.
Di saat yang sama di tempat lain.
Melati dan rekan-rekannya juga tengah berlari untuk menghindari kejaran tentara Jepang. Sebelumnya mereka menyaksikan para wanita bersuami dan gadis remaja yang diseret paksa dari rumah mereka. Para wanita itu kemudian dimasukkan ke kamp khusus untuk dijadikan pemuas hasrat tentara Jepang secara bergantian.
"Ternyata masuk Fujinkai ga membebaskan Kita dari na*su bejat Nippon sia*an itu !" kata Prapti marah.
"Berhenti mengomel Ti. Hemat lah tenagamu," kata Melati mengingatkan.
"Kita kemana sekarang Mel ?" tanya Prapti.
"Bergabung dengan tentara PETA yang membelot. Kita lebih aman di sana," sahut Melati sambil tersenyum.
Prapti dan rekan-rekannya mengangguk. Mereka yakin akan mendapat perlindungan di sana karena Melati pernah bercerita ada kakak kandungnya yang juga anggota PETA yang lebih dulu bergabung.
Tiba-tiba pelarian Melati dan rekan-rekannya terhenti. Di depan sana tampak pasukan Jepang menghadang dengan senjata api yang siap meletus. Di sampingnya terdapat sebuah truk yang berisi belasan wanita yang diikat.
Melati, Prapti dan rekan-rekannya hanya bisa pasrah saat beberapa tentara Jepang mendekat kearah mereka sambil menodongkan senjata api.
\=\=\=\=\=
kasihan sekali nasibmu dok .