Indonesia
NovelToon NovelToon
About His Key

About His Key

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Trauma masa lalu
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ryuzy Hdr

Dulu dirinya sangat disayangi keluarganya, tapi semua berubah karena suatu hal. Mereka menuduhnya, membencinya, dan mengacuhkannya. Gadis ini merasa telah kehilangan kepercayaan, berbagai fakta mengusik hidupnya, membuat dirinya merasa hancur.
Saat itu, ada seorang pemuda yang mendekatinya dan mengaku akan menjaganya. Namun, kepercayaan dan harapannya kembali mematahkan hatinya. Tak pantaskan dirinya mendapatkan kasih sayang? Apakah dirinya tak berhak mendapatkan cinta yang tulus?
Atau ... haruskah dirinya pergi untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryuzy Hdr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisi Lain Rio

'Bugh!'

"Astaga! Itu suara apa?" Gadis itu terlonjak saat mendengar suara benda jatuh.

Saat ini, yang dia tahu dirinya sedang di rumah sendiri. Cakka, Alvin, Ellen, dan Ray sedang pergi karena ada urusan. Sedangkan Rio, ia belum melihat pemuda itu sejak pulang dari sekolah.

Key pun berjalan cepat ke kamar Rio yang berada di sebelah kamar Cakka. Gadis berambut pendek itu memegang knop pintu dan memutarnya perlahan. Ada rasa khawatir, meski dirinya berkata benci.

"Bang Rio ...?" panggilnya dengan ragu. Kedua kakinya melangkah perlahan memasuki kamar bernuansa biru gelap itu.

Tidak ada Rio di sana, tetapi dia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi yang ada di situ. Pelan-pelan ia berjalan ke sana dan pintu kamar mandi tidak ditutup dengan rapat. Perasaannya mendadak tidak enak, dengan nekat Keynara membuka pintu kamar mandi itu.

"BANG RIO!" pekik Keynara. Key langsung menghampiri Rio yang tengah meringkuk di dekat bak mandi. Pelipisnya berdarah, wajahnya pun tampak pucat.

"Lo kenapa, Bang?" Key menatap cemas Rio. Dengan hati-hati dirinya membantu Rio berdiri dan mendudukkannya di tempat tidur. Ia mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka di pelipis Rio.

"Pembunuh, dia pembunuh ...." Pemuda itu bergumam pedih, tetapi tatapannya menatap tajam ke satu arah. Key melirik ke arah pandang Rio, dan di sana terdapat beberapa foto seorang pemuda yang penuh coretan bertinta merah.

'Ya Tuhan ....' Nafasnya tercekat saat menyadari siapa sosok pemuda di dalam foto itu.

"Bang, tolong jangan kayak gini. Lo kenapa, sih? Aneh tau nggak? Lo nyalahin dia atas dasar apa, ha? Udah cukup lo nuduh gue, nggak usah bawa-bawa orang lain juga!" Key menatap Rio tak mengerti. Tatapan pemuda itu beralih ke arah gadis di hadapannya.

"Lo nggak salah, tapi kenapa dia jahat sama lo? Dia ngerusak kebahagiaan lo!" bentak Rio keras. Key memejamkan matanya, ia bukannya takut mendengar bentakan itu, hanya saja ia tak sanggup melihat luka di mata itu.

"Udah berapa kali gue bilang? Semua itu takdir Tuhan!" Rio menggeleng dan meremas kepalanya kuat.

"Nggak! Dia yang udah bunuh orangtua kita! Dan lo, jangan pernah ketipu sama dia! Dia cuma pura-pura baik! Dia jahat sama lo!" Key mencoba meraih tangan Rio, tetapi Rio menepisnya dengan keras. Key tidak menyerah, dia langsung memeluk tubuh tinggi kakaknya itu.

Selama beberapa menit, mereka tetap berada di posisi itu dalam diam. Keynara mencoba meredamkan amarahnya sendiri, dan Rio yang diam menikmati kehangatan pelukan sang adik. Dekapan yang mengingatkan dirinya dengan ibu mereka.

"Bukannya selama ini lo bencinya sama gue, Bang?" Key tiba-tiba melepaskan pelukan itu dan menatapnya datar. Pemuda berkulit hitam manis itu hanya terdiam dengan tatapan sendu.

"Tapi itu apa?" Tak ada jawaban dari kakaknya itu. Namun, dia melihat setetes air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

"Jawab gue, Bang! Atau selama ini lo cuma pura-pura benci sama gue? Lo juga ikut-ikutan kayak Ko Alvin dan Kak Cakka? Asal lo tau, Bang, gue nggak suka sama sikap kalian itu. Benci? Gue jauh lebih benci sama kalian."

"Nggak gitu, Key. Gue punya alasan, tolong jangan salah paham ...." Akhirnya pemuda itu membuka suara meski lirih.

"Apa alasannya?" Key membalas tatapan itu dengan datar.

"Karena gue sakit? Lo udah tau itu, kan? Gue tau, selama ini lo ngikutin gue ke rumah sakit. Dari awal sebelum gue tau kalau ada hal aneh di tubuh gue, sampai akhirnya gue divonis. Lo nggak benci gue tentang kematian ayah dan bunda, tapi lo benci sama gue yang penyakitan gitu?" Gelengan keras Rio tunjukkan kepada Keynara. Dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu.

"Bukan, Key. Bukan itu alasannya ...."

"Ya terus apa?! Kasih tau gue, kenapa lo bersikap kayak gitu ke gue!" bentak Key dengan mata memerah. Pemuda itu tak menyangka jika adiknya akan semarah ini.

"Gue belum bisa jelasin ke lo, Key ...."

"Jangan pernah bicara sama gue, kalau lo belum bisa jelasin alasan lo apa. Gue permisi." Key segera beranjak dari tempatnya, tetapi tangannya dicekal oleh pemuda itu.

"Lo mau ke mana ...? Jangan pergi, gue minta maaf ...." Gadis berambut pendek itu pun melepaskan cekalan itu dan menatap tajam Rio.

"Ada urusan, dan lo nggak perlu ikutin gue. Gue nggak suka," ucap Key dingin. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Rio yang hanya mampu terdiam dengan tatapan sedih.

"Maaf, Key ... gue belum bisa jujur sama lo," gumam pemuda itu sedih. Ia pun mengirim pesan kepada seseorang untuk mengawasi adiknya diam-diam, setelah itu dia menghubungi seseorang.

"Halo, Fy, kamu di mana?" tanya Rio dengan pelan. Ia menghela napas begitu mendengar balasan dari seberang sana.

"Aku ke sana, ya?"

"Aku ... baik-baik aja, Fy. Tunggu, ya?" Rio pun mematikan panggilannya secara sepihak lantas mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju suatu tempat.

Di sisi lain, Keynara sedang duduk termenung di sebuah cafe. Gadis itu memutuskan untuk menyusul Ellen. Seorang gadis yang sedang bersama Ellen pun memberi kode kepada gadis berpipi chubby itu untuk menegur adiknya.

"Key?" Ellen mengusap lembut kepala adiknya. Gadis berdagu tirus itu menoleh dengan tatapan linglung.

"Lo kenapa ...?" Tatapan itu berubah menjadi sendu. Ellen menatap sahabatnya, seolah meminta waktu untuk berbicara berdua dengan adiknya.

"Ellen, Key, gue angkat telepon dulu, ya? Sekalian ke toilet," ucap gadis itu. Ellen tersenyum dan mengangguk kecil. Sedangkan Key hanya mengangguk dengan wajah menunduk.

"Sekarang cuma ada kita, lo bisa cerita sama gue ada apa." Keynara menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan mulai bercerita dengan pelan. Ellen mendengarkannya dengan saksama.

"Jadi lo udah lihat foto itu? Key, gue awalnya juga sama kagetnya kayak lo. Gue juga nggak percaya, tapi gue nggak pernah bisa marah sama Kak Rio." Key menatap Ellen bingung, dia tak mengerti apa alasan kakaknya tidak bisa marah ataupun benci kepada Rio.

"Kenapa lo nggak bisa marah atau benci dia?" Ellen menghela napas panjang, lalu menjelaskan sesuatu tentang Rio, yang selama ini hanya dia dan Rio yang tau.

"Huft ... gue bakal coba buat nggak benci sama dia." Ellen tersenyum manis, ia yakin jika adiknya sudah besar dan dapat mengambil keputusan yang benar bagi dirinya.

"Ya udah, gih, makan dulu terus gue pesenin ice cream oreo. Mau nggak?" Gadis itu mengangguk cepat dengan wajah berbinar. Ellen tertawa lalu memesankan ice cream untuk sang adik bersamaan kembalinya sahabatnya dari toilet.

Di tempat lain, Rio sedang duduk menikmati suasana taman bersama gadis pujaannya. Berbaring di paha sang gadis, sembari memejamkan matanya menikmati usapan yang kekasihnya berikan di kepalanya.

"Kamu masih mikirin soal itu, Yo?" tanya kekasih Rio yang bernama Lifyana Ninara atau singkatnya Ify.

"Keynara tadi lihat, tapi aku belum bisa cerita sama dia. Sekarang kedua adik aku udah tau, dan pasti mereka nunggu penjelasan sama bukti dari aku." Lify membalas tatapan lekat Rio, dan ia dapat melihat banyak sekali luka di mata elang itu.

"Aku bakal bantu kamu, Yo. Kita cari bukti sama-sama, ya?" Rio tersenyum tipis, ia merasa beruntung memiliki Lify. Gadis yang penyabar, perhatian, dan selalu mengerti apapun yang dia rasakan sebelum ia mengatakannya.

"Terus, sekarang kamu mau bersikap gimana ke Keynara? Masih mau dingin sama dia?" Rio menatap mata Lify lama.

"Aku ... mau coba ubah semuanya. Aku mau bersikap kayak aku yang dulu, dan berusaha bikin key percaya. Ray bilang, Keynara benci sama aku, Alvin, dan Cakka." jawab Rio dengan yakin. Lify tersenyum senang, dia yakin Rio memang tidak akan pernah bisa berlama-lama berpura-pura benci kepada adik bungsunya itu.

Setelah menyelesaikan urusan masing-masing. Kini baik Rio maupun adik-adiknya sudah kembali ke rumah. Rio yang baru saja selesai mandi pun berjalan menuju kamar si bungsu untuk melihat apa yang sedang gadis itu lakukan.

'Tok Tok Tok!'

"Masuk aja, nggak dikunci," sahut Key dari dalam. Rio pun membuka pintu itu perlahan dan melangkah memasuki ruangan itu, serta tak lupa menutupnya. Key yang sedang berbaring pun menatap bingung ke arah kakaknya itu.

"Lo udah mau tidur?" Keynara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Gue boleh tidur sama lo?" tanya Rio dengan ragu. Key menatap Rio lama sebelum mengangguk kecil, meski masih ada rasa takut di hatinya. Rio melangkah menuju tempat tidur dan berbaring di samping adiknya yang masih diam menatapnya.

"Key ... maafin gue, ya?" Rio menatap sendu langit-langit kamar bernuansa biru itu.

"Gue mau banget jelasin ke lo, tapi gue masih butuh waktu buat buktiin semua biar lo dan Ellen percaya. Gue mohon, tolong tunggu gue ...." Suara itu terdengar sangat lirih. Key memejamkan matanya sejenak, ia dapat merasakan kesungguhan dari ucapan Rio.

"Oke, gue kasih lo waktu. Gue yang harusnya minta maaf udah marah-marah sama lo tadi."

Rio menarik Key ke dalam pelukannya. Gadis itu memejamkan matanya dan membalas dekapan itu, menikmati kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan dari Rio. Ia senang, karena perlahan semua mulai membaik, tetapi fakta yang tadi dia dapatkan malah membuat hatinya terusik.

"Bang ... gue mau bilang sesuatu, tapi maaf kalau misalkan lo nggak setuju atau mikir gue bela dia. Gue cuma mau, apapun hasilnya nanti, jangan ada lagi kebencian. Gue mau bahagia sama kalian, saudara-saudara gue." Rio mencium kening Key lama.

"Gue akan berusaha untuk itu. Demi lo, gue bakal mengubur dendam gue. Tolong bantu gue untuk itu, ya?" Key tersenyum tipis, ia memegang tangan Rio yang kini menangkup wajahnya.

"Argh ...." ringis Rio pelan. Keynara terkejut dan menatap khawatir kakaknya yang meringis saat dirinya menyentuh pergelangan tangannya.

Gadis itu menatap lengan Rio yang saat itu mengenakan pakaian lengan panjang. Dengan perlahan dirinya menyingkap lengan tersebut, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat banyak sekali bekas sayatan di sana. Pikirannya mulai tak enak, ia pun menyingkap lengan satunya dan hasilnya sama.

"Sejak kapan lo lakuin ini?" tanya Key dengan nada bergetar dan menatap tajam ke arah sang kakak. Rio menatap sayu Keynara.

"Sejak ayah dan bunda pergi. Dan gue tau lo juga lakuin ini," lirih Rio. Tatapan si bungsu pun perlahan melunak, kini dirinya yang memeluk erat tubuh Rio.

"Maafin gue yang nggak pernah paham perasaan lo. Lo pasti jauh lebih menderita dibandingkan gue. Mulai sekarang, lo boleh cerita apapun ke gue, jangan lo pendam sampai berbuat gini lagi."

"Lo nggak salah ... gue emang sengaja nggak cerita ke kalian karena gue takut," kata Rio lirih. Keynara mengusap lembut punggung pemuda itu.

"Ya udah, sekarang kita tidur," kata gadis itu pelan. Rio menurut, perlahan keduanya mulai pergi ke alam mimpi.

1
Mawar_Jingga
halo kak aku mampir🥳
Kresentia Putri Amelia: Wah! Halo juga! Terima kasih, ya, sudah mampir. Selamat membaca, dan semoga kamu suka :)
total 1 replies
Fainancey F_16
Jadi ketagihan deh!
Kresentia Putri Amelia: terima kasiih
total 1 replies
Kresentia Putri Amelia
bab lainnya sedang proses yaaa😁
Leon
Perasaan campur aduk. 🤯
Kresentia Putri Amelia: Hehehe terima kasih sudah mampiir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!