"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Setibanya di area persawahan, angin pagi berembus pelan menyapu hamparan padi yang mulai menguning. Abi berjalan menyusuri pematang, mengarahkan langkahnya menuju titik aliran irigasi yang mengaliri lahan miliknya.
Di sana, terlihat Pak Darno dan Pak Cecep, dua orang pekerja kepercayaan yang sehari-hari membantu menggarap sawah Abi, sedang sibuk memegang cangkul. Kedua pria paruh baya itu tampak telaten mengatur pintu air dan membersihkan sisa-sisa jerami serta ranting yang menyumbat aliran.
"Pagi, Pak Darno, Pak Cecep," sapa Abi ramah seraya mendekat.
Pak Darno menoleh lebih dulu, lalu menyunggingkan senyum lebar. "Eh, Mas Abi! Pagi, Mas. Kok sendirian saja? Pasukan kecilnya ndak diajak?"
Abi tertawa pelan. "Ndak dulu, Pak. Kalau diajak bisa-bisa air irigasinya dipakai berenang lagi sama mereka. Ini saya cuma mau mampir sebentar buat memastikan saja, aliran airnya aman ndak ada kendala?"
Pak Cecep yang sedang menyodok tumpukan sampah di mulut saluran ikut menimpali. "Aman tenang saja, Mas Abi! Ini saya sama Pak Darno lagi lancarkan alirannya. Sebentar lagi air masuk makin deras ke petakan bawah. Lahan Mas Abi tinggal nampung saja, siap diolah."
Abi memperhatikan alur air jernih yang mulai mengalir lancar memenuhi parit-parit kecil di sawahnya. Pria muda itu mengangguk puas melihat kecekatan kedua pekerjanya.
"Alhamdulillah kalau lancar. Berarti hari ini semuanya aman ya, Pak?"
"Aman bersih, Mas. Tinggal pasrahkan ke kami berdua saja hari ini," jawab Pak Darno mantap sambil mengacungkan jempolnya.
"Matur nuwun ya, Pak Darno, Pak Cecep," ucap Abi tulus. "Saya memang ndak bisa lama-lama di sini. Soalnya tadi Ibu sudah pesan wanti-wanti suruh cepat pulang. Ndak tega juga ninggalin Ibu sendirian meladeni Si Mas sama Si Adek."
Pak Cecep terkekeh sambil menyenderkan cangkulnya di tanggul. "Hahaha, ya wajar toh, Mas. Bu Marni kan sampun sepuh, kalau disuruh ngejar-ngejar Mas Akbar sama Aqil ya tumpah napasnya. Udah, Mas Abi pulang saja, urusan sawah biar kami yang beresin semuanya."
"Iya, Mas Abi tenang saja," tambah Pak Darno seraya menyeka keringat di dahi dengan kain lap. "Nanti kalau pematang sama alirannya sudah beres semua, saya kerek bentar kabarnya ke rumah Bu Marni."
"Nggih, Pak. Maturnuwun sanget," balas Abi lega.
Setelah memastikan seluruh saluran air berjalan lancar tanpa ada sumbatan berarti, Abi pun pamit. Ia melangkah kembali menyusuri pematang sawah menuju arah desa.
Baru saja Abi berjalan mendekati sepeda motornya yang terparkir di pinggir jalan setapak persawahan, ponsel di dalam saku celananya berdering nyaring.
Abi menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Bu? Kenapa? Akbar sama Aqil buat masalah lagi?" tanya Abi cepat, mengira kedua putranya sudah mulai bikin ulah.
"Bukan! Bukan itu!" sahut Bu Marni dari seberang telepon dengan nada panik dan cemas. "Ini adikmu balik sendiri ke rumah!"
Dahi Abi seketika berkerut dalam. "Nadia? Nadia kenapa, Bu?"
"Ibu juga ndak tahu, Bi! Ditanya kenapa, dia malah menangis terus mengurung diri di kamar!" omel Bu Marni gusar.
Abi makin bingung mendengar penuturan ibunya. "Maksud Ibu, Nadia lari gitu? Ngga ngasih tahu suaminya?"
"Iya! Dia lari ndak ngasih tahu suaminya! Sudah, kamu cepat saja ke sini, pusing Ibu lihatnya ini!" desak Bu Marni sebelum akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Perasaannya mendadak tidak enak. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera mengantongi ponselnya, memutar kunci kontak, dan menstarter motornya. Pria itu melaju kencang membelah jalanan desa menuju rumah ibunya.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, suara deru motor Abi sudah terdengar memasuki pekarangan rumah Bu Marni. Pria itu mematikan mesin, menstandarkan motornya asal-asalan, dan bergegas naik menaiki tangga panggung dengan langkah lebar-lebar.
Begitu melewati pintu depan, suasana rumah terasa sangat tegang. Akbar dan Aqil yang biasanya ribut bermain mobil-mobilan kini duduk tenang di sudut ruangan. Kedua bocah itu tampak bingung melihat nenek mereka yang berjalan bolak-balik di depan pintu kamar dengan wajah panik.
"Bu! Ada apa sebenarnya?" tanya Abi setengah terengah-engah seraya mendekati ibunya.
Bu Marni menoleh dengan wajah penuh kecemasan. "Itu, Bi... Nadia di dalam. Tiba-tiba datang naik travel sendirian sambil bawa tas baju besar. Ibu tanya suaminya di mana, dia ndak mau jawab. Langsung masuk kamar, dikunci dari dalam, terus menangis sesenggukan."
Abi memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing. Nadia baru saja menikah beberapa bulan lalu dan saat ini sedang mengandung anak pertamanya. Tindakan nekad adiknya yang kabur dari rumah suami tanpa pamit tentu bukan masalah sepele.
"Suaminya sudah dihubungi belum, Bu?" tanya Abi pelan agar suaranya tidak terdengar sampai ke dalam kamar.
"Sudah Ibu coba telepon berkali-kali, tapi nomornya ndak aktif," jawab Bu Marni frustrasi. "Ibu takut terjadi apa-apa sama kandungannya, Bi. Dia kan lagi hamil muda, kok ya nekad banget lari-lari naik travel sendirian dari kota!"
Abi mengembuskan napas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia melangkah mendekati pintu kamar yang tertutup rapat, lalu mengetuknya dengan ketukan pelan dan teratur.
"Nad... Ini Mas Abi," panggilnya lembut namun tegas. "Buka pintunya sebentar, ya? Mas mau bicara."
Tidak ada jawaban langsung dari dalam, hanya samar-samar terdengar suara isakan napas yang tertahan di balik pintu kayu tersebut.
"Nad, jangan bikin Ibu sama Mas khawatir," lanjut Abi dengan nada sehalus mungkin, meski hatinya cemas setengah mati. "Kalau ada masalah sama suamimu, cerita baik-baik. Kamu lagi hamil, kasihan anak di dalam kandunganmu kalau kamu stres begini."
Hening sejenak. Suara tangis dari dalam kamar perlahan surut, digantikan bunyi gesekan grendel pintu yang digeser pelan.
*Klek.*
Pintu kamar terbuka sedikit. Dari balik celah pintu, muncul sosok Nadia dengan mata yang membengkak merah dan hidung memerah bekas menangis. Wajahnya pucat pasi, rambutnya sedikit berantakan.
Melihat kondisi adiknya, Abi langsung menahan daun pintu agar tidak ditutup kembali, lalu mendorongnya pelan dan melangkah masuk. Bu Marni mengekor rapat dari belakang dengan wajah cemas.
"Kamu kenapa, Nad? Cerita sama Mas," tanya Abi seraya menuntun Nadia untuk duduk di tepi ranjang.
Nadia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat saat tangisnya kembali pecah.
"Mas Arya, Mas..." bisiknya terbata-bata di antara isakannya.
"Arya kenapa, Nad?" tanya Abi menuntut penjelasan.
"Dia... dia kan sudah seminggu dinas luar kota, Mas. Harusnya semalam dia sudah pulang ke rumah..." Nadia menyapu air matanya kasar, dadanya naik turun menahan sesak.
"Tapi tiba-tiba dia telepon bilang ngga jadi pulang karena masih ada urusan tugas."
Bu Marni memotong cepat, "Lho, terus kenapa kamu malah kabur ke sini naik travel sendirian?"
Nadia mendongak, menatap Abi dan ibunya ganti berganti dengan derai air mata yang makin deras. "Aku dapat kabar... Mas Arya selingkuh, Mas! Dia ndak pulangnya itu karena sama perempuan lain!"