Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Permintaan Aina
"Siapa orang-orang yang telah membuangku ke tempat jauh ini. Menyebalkan, tidak ada ojek atau taxi yang lewat!" sesekali Alee menengok ke belakang di sela dirinya berjalan kaki dengan memegang pahanya yang mulai kelelahan.
Sudah hampir sepuluh kilo dia berjalan di pinggir jalanan aspal, tapi hanya kendaraan motor yang berpenumpang yang melewati dirinya. Hanya beberapa mobil yang lewat namun tidak ada yang berhenti saat Alee melambaikan tangannya, peluhnya sudah membasahi dahi dan tubuhnya.
Alee bekerja paruh waktu di sebuah restoran. Dulunya dia adalah pemilik Restoran ternama, namun ia gulung tikar lantaran kedua orang tuanya mengalami kecelakaan dan membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk operasi.
Sehingga ia menjual Restoran dan juga rumahnya untuk biaya pengobatan. Namun sayang, setelah mendapatkan pengobatan di luar negeri, orang tuanya tidak bisa bertahan dari sakitnya dan kemudian menghembuskan napas terakhir di rumah sakit tempat mereka di rawat.
Alee benar-benar terpuruk, bukan karena kehilangan restoran dan hartanya, melainkan yang lebih berat adalah di tinggal orang tuanya untuk selamanya.
Alee masih berjalan tertatih-tatih lantaran kakinya sudah mulai pegal. Kebetulan pada saat itu sebuah mobil lewat dan Alee menghentikannya dengan cara berdiri di depan mobil tersebut. Mau tidak mau mobil itu berhenti dan membuka jendela mobilnya.
"Aku mau ke kota, tolong beri aku tumpangan!" ucapnya dengan napas naik turun.
Pengemudi itu adalah pria muda yang tak lain adalah Yama. Ia menoleh ke kursi pengemudi dan meminta persetujuan Naomi dan Aluna yang sedang duduk di sana.
"Biarlah dia naik, sepertinya dia memang butuh pertolongan!" ucap Aluna yang ber notabene adalah anaknya Kenzo dan Vannya.
Yama mengangguk kemudian mengizinkan pria itu duduk di sebelahnya.
"Aku Alee, maaf aku mengganggu perjalanan kalian!" ucapnya dengan wajah tersenyum lega.
"Tidak apa-apa. Kau tidak berasal dari sini?"
Alee menggeleng. Ia pun menjelaskan bahwa dirinya asli orang Jakarta dan saat ini ia terkena musibah hingga ia terdampar di desa kecil ini tanpa bekal apapun.
Pria itu hanya menjelaskan garis besarnya saja karena baginya sangat tidak penting membicarakan pribadinya pada orang lain, walau mereka yang saat ini telah menolongnya.
"Untung saja tujuan kita sama, jadi aku bisa mengantarmu sekalian ke rumah mu!"
"Thanks." Ucapan singkat namun terlihat pria itu begitu lega.
Alee melirik ke arah Aluna dan Naomi yang sedang berbincang di belakang kemudian kembali menatap Yama.
"Bisa aku tahu namamu?"
"Ah, aku Yama, kedua gadis di belakang itu adalah kakak-kakakku, yang seperti orang Jepang itu namanya Naomi, yang satunya Aluna. Naomi kakak kandungku!"
Alee tersenyum pada Naomi dan Aluna yang juga terlihat ramah padanya.
"Aku tidak memiliki saudara. Mungkin kita bisa menjadi teman setelah ini!"
"Aku harus memanggil apa padamu? Namamu atau kak? Sepertinya kau lebih tua dariku!"
"Yap, you're right. Usiaku sudah 28 tahun. Kalau boleh aku menduga, kau berusia 24 tahun sedang kakak-kakakmu itu setidaknya seusia denganku atau dibawahku sedikit!"
Yama tertawa kecil," Ternyata kau pintar menebak,"
"Belajar dari pengalaman. Panggil Alee saja!"
Mobil mereka melaju memasuki wilayah Jakarta yang selalu padat akan kendaraan. Mereka melewati tol agar mereka bisa segera sampai ke rumah masing-masing.
Sungguh perjalanan panjang membuat mereka begitu lelah.
Terlebih dahulu, Yama mengantar pulang Aluna, kemudian Alee dan setelahnya ia pulang ke rumahnya sendiri.
Saat mereka memasuki rumah, terlihat papa dan mamanya menunggu mereka di ruang tamu.
"Pa, Ma," Yama dan Naomi mencium punggung tangan orang tuanya dan menjatuhkan diri mereka di sofa yang berseberangan dengan Rei dan Nina.
"Apa kalian senang dengan liburan kalian?" tanya Nina yang dijawab anggukan oleh keduanya.
"Sayangnya Davian tidak ikut bersama kami. Andai dia ikut, liburan kami pasti lebih menyenangkan lagi."
"Davian workaholic, mana bisa dia ikut kalian berlibur dan bersantai seperti itu!" Nina memanggil pelayan untuk membawakan makanan untuk kedua anaknya.
"Setelah ini, Yama harus ikut papa ke hotel, kau harus bisa mempelajari apa saja yang harus di kerjakan di hotel, agar suatu saat nanti kau bisa mengelola hotel menggantikan papa." Ucap Rei tegas.
"Okay pap, mulai besok aku akan bersiap ikut papa!"
**
"Agil, ruangan ini akan menjadi ruang kerjaku, jika kau butuh aku di rumah ini kau bisa langsung mencariku di sinisini!"
"Okay,"
"Sekarang kau boleh pergi dan carikan aku pelayan untuk mengurus rumah ini!"
Agil mengiyakan sebelum akhirnya ia meninggalkan Dav yang masih berada di dalam ruangan kerja barunya.
Di luar ruangan, Agil berjalan dan berpapasan dengan Aina yang melangkah tegap menuju ke ruangan Dav. Ia tidak menyapa Agil walau hanya sekedar mengangguk saja, padahal Agil sudah menganggukkan kepalanya hingga hampir terjatuh.
Aina meninggalkan kesan judes, sadis dan dingin pada Agil.
"Dav juga sedikit dingin. Sepertinya mereka akan cocok jika di satukan!" Agil mengedikkan bahunya sambil berjalan meninggalkan rumah Dav.
Aina masuk ke dalam ruangan Dav dengan angkuhnya. Rambutnya tergerai sedikit berantakan, mungkin dia masih bersedih pikir Dav yang saat ini menatap wajah wanita itu dengan santai. Sedih dan angkuh menjadi satu, itulah Aina dimata seorang Dav.
"Kenapa kau kemari?" tanya Dav setelah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Beri aku kamar sendiri! Aku tidak mau sekamar dengan pria yang tidak aku kenal!" ucapnya dengan begitu sinis. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan berbicara tanpa menatap Dav.
"Ini rumahku, kau harus mengikuti apa yang aku katakan!"
"Apa kau mau mengatur ku? Aku tidak mau!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Tidak ada orang yang peduli denganku, termasuk dirimu. Kau hanya ingin menyiksaku kan, kau berkonspirasi dengan mamaku untuk merebut perusahaan papa!"
'Apa yang wanita ini bicarakan?' kata Dav dalam hati. Ia masih tenang membiarkan Aina meluapkan emosinya.
"Apalagi yang kau lihat dariku?"
Aina berdecak." Dugaanku memang benar. Kau hanya ingin menyiksaku sesuai dengan perintah mama. Kau membicarakan rencana kalian saat kalian di bawah tadi bukan? Jangan munafik dan sok baik di depanku!"
Dav berdiri. Apa yang diucapkan Aina semua tidaklah benar, tapi sepertinya tidak bisa dengan mudah ia jelaskan pada gadis di hadapannya ini.
"Lebih baik kau makan. Mungkin perutmu lapar sehingga pikiranmu tidak sinkron dengan hatimu!" Dav berjalan menuju ke nakas dan mengambil satu kotak pizza yang dipesankan Agil tadi.
"Apa yang dia ketahui tentang hatiku," ucap Aina dalam hati.
"Duduk dan makanlah. Kau akan bisa bertemu dengan papamu jika setiap hari kau menjaga kesehatanmu agar tidak sakit."
Ucapan Dav seakan memaksa Aina untuk menelan semua pizza itu. Iya, Aina kelaparan saat ini, tapi ia juga harus menjaga image nya. Tidak mungkin jika setelah marah dia makan dengan rakusnya di hadapan pria itu.
Dav membuka box pizza dan mengambilkan satu potong untuk Aina." Sepertinya kau malu untuk mengambilnya sendiri!"
Aina hanya melihat uluran tangan Dav padanya, setelahnya ia melengos menatap arah lain.
"Yakin tidak mau?"
Gadis itu masih pada pendiriannya.
Dav menggigit pizza tersebut dan mengunyah nya tepat di hadapan Aina, membuat wanita itu sedikit menelan ludahnya.
"Enak sekali. Baik aku tinggal pergi dulu. Aku mau istirahat di kamar baruku!" Dav hendak pergi namun perkataan Aina membuat langkahnya terhenti.
"Bagaimana dengan kamar baruku?"
"Terkadang rumah yang lama tak berpenghuni, menjadi dihuni makhluk yang lain yang aku juga belum berkenalan dengan mereka!" Dav meninggalkan ruangan tersebut sekaligus meninggalkan Aina yang berpikir dua kali untuk minta kamar sendiri.
"Menyebalkan," umpat nya.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..