Manusia hanya bisa berencana, terlaksana dan tidaknya rencana itu bukan kita yang menentukan. Namun apa jadinya jika semua yang sudah direncanakan harus gagal.
Itulah yang kini dialami Salma. Rencananya harus gagal. Semua kegagalan pun kini mendatangkan cacian, hinaan serta gunjingan.
Disaat terpuruk, hanya keluarga terutama bapak dan ibu yang selalu memberikan semangat dan mendorong untuk bangkit.
Ibu begitu mencurahkan kasih sayangnya untuk Salma memberikan kekuatan dan keyakinan untuk bangun dari keterpurukan tidak terhalang oleh statusnya hanya sebagai ibu tiri. Ibu kandungnya meninggal ketika Salma berusia 2 tahun.
Selain Bapak dan Ibu, Akmal beserta teman-temannya juga selalu menemani dalam keterpurukan. Apalagi sosok Akmal yang hadir entah sebagai seorang kakak atau seorang laki-laki yang mencintai Salma.
Bagaimana kisah hidupnya? Mampukah ia bertahan dengan semua kegagalan serta gunjingan dan cacian kepada Salma?
Mampukah pula Salma meraih harapan dan Asa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @tha90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERAGUAN SANG CALON PENGANTIN
"Teh gimana jadi ga hari ini nganterin baju mamah Dika?" Tanya ibu melihat Salma duduk di dapur setelah kembali dari warung.
"Insya Alloh hari ini jadi. Maaf dua hari kemarin Salma sibuk ga sempet" ucap Salma menjawab ibunya.
Setelah mendengar jawaban dari Salma ibu kembali ke ruang jahitnya. Dua hari lalu Salma memang sibuk disekolah membantu mengolah nilai raport para guru lainnya jadi rencana untuk memberikan baju kepada orang tua Dika harus diundur.
Salma masuk ke kamar untuk mandi, dan mengganti bajunya. Saat akan memakai kerudung jarumnya habis. Kebiasaan kalau kehabisan jarum pentul. Ia pun pergi ke kamar Fiya untuk mencari jarum.
Dan apa yang dicari sudah terpasang di kerudungnya. Saat akan kembali tak sengaja menyenggol parfum yang ada di tempat rias, menggelinding hingga masuk ke laci yang sedikit terbuka. Diambilnya parfum tersebut disimpan kembali ke tempat semula.
Salma melihat sebuah kantong kresek. Karena penasaran dibukalah kantong tersebut. Isinya membuat Salma keheranan. Untuk apa Fiya membeli itu.
"Kenapa Fiya membeli ini, jangan suudzon, ga mungkin" batin Salma.
Tak mau berburuk sangka, Salma akan menanyakan terlebih dahulu pada Fiya. Ia pun segera keluar. Hendak menanyakan barang tersebut pada ibunya.
"Mah itu....." Ucapannya terpotong karena takut ibunya kepikiran.
"Apa?" Melihat Salma berdiri samping ibunya yang sedang menjahit.
"Itu,,,,,, maksudnya baju yang mau dianterinnya mana?" Salma bicara tergagap.
"Loh, mamah kan tadi udah simpan di depan di meja tamu" ucap ibu.
"Ya Alloh Salma lupa, ya udah aku berangkat" Salma beranjak pergi meninggalkan ibunya dan mengambil kantong yang berisi baju orang tuanya Dika.
Diperjalanan pun Salma masih kepikiran dengan isi kantong kresek. Hingga tak terasa sampailah di rumah Dika.
Di rumahnya Dika ada ibunya dan kakaknya yang pertama teh Dewi yang sedang berada di dapur. Salma pun mengucapkan salam dan bersalaman.
"Loh neng Salma ke sini, silahkan duduk?" Tanya Bu Leni keheranan melihat Salma datang.
"Iya Bu, maaf bajunya baru saya antar, ibu menyuruhnya kemarin hanya saja kemarin Salma sedikit sibuk" jawab Salma dan duduk di dekat Dewi
"Bukan bajunya, tadi ibu suruh jemput kamu buat bantuin masak katanya kamu akan pergi dengan Dika bahkan Dika baru aja pergi mau ke rumah" Salma pun kebingungan karena hari ini tidak ada janji dengannya.
"Kok Salma sampe lupa. Kalo gitu Salma langsung pulang aja, kasihan Dika pasti nunggu" Salma tersenyum tipis tak ingin membuat ibu Leni khawatir.
"Jangan dulu, udah biarin aja Dika nunggu. Kamu bantu ibu memasak dan membuat kue aja ya. Sekalian ada yang mau ditanyain sama neng Salma" ibu Leni memperlihatkan foto dalam ponselnya. Dan ternyata foto beberapa set perhiasan emas dengan beberapa model.
"Kamu pilih mau yang mana nanti bibinya Dika dari Medan mau beli, untuk perhiasan yang akan dibawa nanti. Kamu udah bicara sama Dika, mas kawinnya mau apa?" Ucap Bu Leni pada Salma.
"Udah ah Bu, Salma mah terserah ibu aja" tolak Salma mengembalikan ponselnya pada ibu Leni.
"Aneh kamu mah Ma, di tawarin malah ga mau, sini kasih ke teteh aja" teh Dewi menimpali dan mengambil ponsel ibunya dari Salma.
"Mamah ga nawarin ke kamu, kamu mah ga disuruh milih ge pasti mintanya banyak" ledek ibu Leni pada Dewi.
"Maksudnya bantu milihin buat Salma, meni sok curigaan ka teteh teh" Salma hanya tersenyum melihat obrolan ibundanya anak di depannya.
Akhirnya perhiasan yang ditawarkan ibu Leni dipilih oleh Dewi. Salma hanya mengikuti saja. Bahkan untuk urusan mas kawin pun ia sudah menyerahkan kepada mereka. Salma tak ingin disebut aji mumpung segala meminta walaupun kata ibu Leni akan mengabulkan permintaannya.
Hari beranjak siang Salma sudah empat jam berada di rumah Dika. Setelah tadi acara memilih perhiasan, ibu Leni mengajak Salma untuk membuat kue ulang tahun dan nasi kuning untuk acara ulang tahun anak pertama Dewi.
Kue ulang tahun pun sudah jadi, Dewi dan ibu Leni terlihat puas dengan kue dan nasi kuningnya. Bu Leni melarang Salma untuk pulang karena acara ulang tahun akan dimulai pada sebelum ashar mengundang teman-teman sekolah TPA nya.
"Jangan pulang dulu ya Ma, bentar lagi anak-anak pasti datang, kamu mandi sama sholatnya di sini aja" ucap Dewi melarang Salma untuk pulang.
"Teh Salma ga bawa baju, ini habis masak bau keringat" elak Salma.
"Tenang aja itu ada baju punya Yuli badan kalian kan hampir sama, bahkan kecilan kamu, bantuin teteh ya, Yuli katanya ga bisa ke sini, dia lagi ga enak badan lagi hamil muda" Salma tak bisa menolak akhirnya hanya mengiyakan keinginan Dewi.
Dengan terpaksa Salma mengikuti kemauan Dewi. Kini Salma sedang mandi dan shalat di kamar Yuli. Bajunya ganti sudah dipersiapkan Dewi.
Salma kembali ke dapur untuk mempersiapkan acara, terlihat ayahnya Dika yang baru datang mungkin dari tokonya.
"Baru datang neng" pa Bani bertanya pada Salma yang hendak ke dapur.
"Dari tadi pa, ini katanya teh Dewi mau dibantuin buatin nasi kuning" Salma menyalami pa Bani.
"Ya sudah bapa mandi dulu, acaranya sebentar lagi mau dimulai" pa Bani beranjak pergi ke kamar mandi disusul Bu Leni yang hendak membawakan handuk.
Anak-anak dari TPA sudah datang, siap dengan acara ulang tahun anaknya Dewi. Semua sudah berkumpul di ruang tamu yang di sulap menjadi tempat ulang tahun. Dewi menyuruh Salma untuk menjadi pembawa acara.
Acara dimulai dari pembukaan, tiup lilin, pembagian nasi kuning kepada anak-anak TPA, dan sekarang ditutup dengan doa bersama.
"Nah sekarang sudah selesai, sekarang kita makan-makan. Tapi sebelum makan, nenek sama kakek mau memberikan kado untuk Wildan" ucap Bu Leni memberikan kadonya.
"Tinggal dari mamah dan papah yah, kata papah maaf tidak bisa pulang, nanti papah akan VC malam. Jadi anak yang Sholeh ya" Dewi memberikan kado pada anaknya. Suami Dewi memang tidak pulang karena kerja diluar kota.
"Dari bi Salma apa yah,,,, dari bibi mah cuma bisa doa aja, semoga A Wildan jadi anak Soleh, berbakti kepada orang tua, dan selalu jadi anak yang pintar. Amiinn" ucap Salma mengusap kepala anaknya Dewi. Sengaja menyebut dirinya bibi, supaya nanti terbiasa.
"Kata siapa bi Salma ga bawa kado, itu kue sama nasi kuning kado dari bi Salma. Bagus ga kuenya?" Bu Leni menunjukan kue ulang tahun.
"Bagus nek, Ndan suka" Wildan mengacungkan jempolnya.
Karena acara telah selesai, Bu Leni menyuruh makan dulu. Tak lama Dika datang.
"Kenapa baru datang om Dika, ayo makan, nanti setelah makan kita ngobrol. Dari tadi dihubungi ga aktif-aktif" tanya Bu Leni ketus pada Dika yang baru datang.
Dika pun tak menjawab, ia kelihatan bingung. Saat makan semuanya tersenyum melihat kelucuan Wildan yang sedang membuka kado-kadonya.
"Kamu dari mana aja sih, katanya ada janji dengan Salma, eh Salma nya malah disini" Dewi memarahi Dika.
"Tadi aku ke toko dulu. Lanjut ke rumah Salma. Kata ibunya Salmanya pergi ke sini, ya udah pulang lagi" jawab Dika
"Jam berapa kamu ke toko, bapa seharian di toko ga lihat kamu datang" pa Bani menyangkal omongan Dika. Dika menggaruk-garuk kepalanya bingung harus jawab apa.
"Mau ke toko, bukan ke toko belum sempet nyampe ketemu temen dijalan, ya udah ngobrol aja sampe lupa pulang lagi" jawab Dika terbata-bata.
"Jam berapa sampe disini yang" berusaha mengalihkan pembicaraannya.
"Jam sembilan lebih" jawab Salma singkat. Salma melihat kebohongan pada Dika.
"Oh,,,, kado dari om besok aja ya Ndan" Dika pergi melihat Wildan yang sibuk dengan kadonya di ruang tamu.
Kecanggungan pun terjadi. Dewi dan Bu Leni saling pandang. Setelah mencuci dan membereskan bekas makan, Salma pamit pulang. Pa Bani menyuruh Dika mengantarkan Salma.
"Ga usah pa, Salma bawa motor" tolak Salma.
"Motor simpen aja di sini, nanti diantar oleh Dika, lagian bawaan kamu banyak, udah pake mobil aja diantar oleh Dika" jawab pa Bani.
Salma pun tak bisa menolak, terlihat Dika dengan terpaksa mengantarkan Salma memakai mobil.
Saat diperjalanan mereka hanya diam. Akhirnya Salma memberanikan diri untuk berbicara "tadi mamah nyuruh untuk mengantarkan baju, bukan sengaja datang".
"Aku tidak tahu kamu akan datang ke rumah, akhir-akhir ini kamu jarang ngasih kabar, kadang pesan yang aku kirim juga cuma di baca doang" ucap Salma.
"Aku sibuk" Dika menjawab dengan ketus.
"Nganterin nya ga usah sampe rumah, mau belanja dulu, bahan-bahan buat masak udah abis"
"Kamu kenapa sih, selalu begitu bikin aku pusing tahu tidak, cuma masalah jarang ngasih kabar doang jadi ribet gini" Dika membentak Salma. Mobil pun dihentikan di tepi jalan.
Tak ada pembicaraan di mobil, Salma menunduk menahan air mata yang hendak keluar.
"Kamu ngerti ga sih, aku lagi pusing. Kenapa kamu malah nambah masalah sih. Tenang aja kamu bakal tetep aku nikahin kok, kamu ga usah lebay deh. " ucap Dika dengan emosi.
"Bukan gitu Dik, kamu ada masalah? Kalo memang ada masalah coba cerita, barang kali aku bisa bantu" Salma berusaha memegang lengan Dika. Dika menepis tangan Salma, dan menunduk memegang setir. Sakit terasa hati Salma mendengar ucapan dan sikap Dika.
"Ada masalah atau tidak itu bukan urusan kamu, jangan lebay dengan hal-hal sepele. Aku ga akan kemana-mana, tolong mengerti" ucap Dika dengan ketus.
Air matanya tak mampu Salma tahan. Salma semakin menunduk terisak-isak. Lama diam Dika merasa bersalah melihat Salma menangis.
"Maaf akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah. Aku harap kamu mengerti" Dika berusaha menahan emosinya, tangannya mengusap-usap kepala Salma.
"Oh ya tadi di jalan aku ketemu temen, dia minta undangannya" berbicara dengan lembut berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Masss.....salah undangan kemarin Akmal ngehubungi ......... katanya minggu ini datang ........ akkkk......ku udah ada daftar orang-orang yang diundang, sisanya tinggal aku kasihkan ke kamu, bag.....gaiiii.... mana" ucap Salma terbata masih menunduk, menyusut air matanya dengan kerudung.
"Iya, aku coba lihat daftarannya, takutnya ada yang aku undang kembali, padahal di kamu udah diundang. Maaf ya udah buat kamu menangis" Dika membalikkan wajah Salma dan menyusut air mata Salma dengan tisu.
"Sekali lagi maaf ya" Dika mengelus pipi Salma. Salma tersenyum dan mengangguk.
Dika kembali melajukan mobilnya. Salma yang hendak belanja tidak berani meminta turun.
Mobil pun telah sampai di depan rumah. Saat hendak turun, tangan Salma ditarik oleh Dika.
"Maaf yah yang tadi, ga maksud bentak kamu" ucap Dika memegang tangan Salma. Salma menganggukan kepala. Kembali Dika mengusap kepala Salma.
Salma turun dari mobil dengan membawa tas berisi makanan dari rumah Dika. Dika tidak ikut mampir karena sudah terlalu sore.
Saat masuk rumah semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Hanya Fiya yang tidak ada, Salma bergabung dan membuka makanan yang dibawanya. Salma pun menceritakan alasan pulangnya sore.
Adzan pun berkumandang, bapak dan Abi pergi ke mesjid. Ibu, Salma dan dua adik perempuannya hanya melaksanakan shalat di rumah.
Setelah shalat Salma hanya diam di kamar. Memikirkan masalah yang menimpa Dika. "Apa yang terjadi dengan Dika" batin Salma. Apakah cuma perasaan Salma sikap Dika berubah.
Tok...tok...tok... Terdengar suara ketukan pintu. Pintu pun terbuka ternyata ibu Salma masuk, dan duduk di tepi ranjang.
"Penganten jangan banyak ngelamun, pamali" goda ibu Salma hanya tersenyum. Salma ikut duduk di samping ibunya.
"Teh, mamah kok aneh sama Fiya"? Ucap ibu
"Aneh kenapa mah" jawab Salma heran.
"Itu Fiya jadi pendiam, kaya tertutup gitu. Sekarang main HP melulu, terus kalo mamah pengen lihat pasti we langsung ditutup, disembunyikan"
"Fiya juga punya privasi, ada hal pribadi" jelas Salma.
"Dulu mah ga gitu teh, sekarang-sekarang sikapnya kaya gitu"
"Sekarang Fiya udah lulus SMA mah, ga akan sama. Atau mungkin juga punya pacar dia belum berani bilang ke kita. Wajarlah kalo Fiya sekarang berbeda"
"Ngomongin masalah pacar, tadi mamah ke warung depan. Itu Ceu Halimah katanya bilang ke mamah, Fiya suka diboncengin sama cowok, tapi ga tau cowoknya siapa da suka ditutupin mukanya. Kayanya orang jauh. Tiap hari pasti Fiya dijemput sama cowok itu" cerita ibu.
Salma terdiam. Pikirannya kembali saat menemukan benda yang ada di laci Fiya. Ia bingung jika mengungkapkannya pada ibu, takut ibu kepikiran yang lebih jauh padahalkan belum terbukti.
"Salma coba tanya yah mah, kalo benar Fiya punya pacar, selamat anda beruntung akan mempunyai mantu langsung dua hihihi" Salma tertawa mencoba mengalihkan pikirannya.
"Dasar kamu, satu juga belum, mamah maunya langsung tiga" ucap ibu
"Dasar emak-emak hobi diskonan, beli 2 dapet 3." Salma tertawa.
Mendengar ucapan Salma, ibu pun ikut tertawa. Salma pun teringat kalau Dika katanya ke rumahnya dan ketemu ibu. Entah kenapa ia ingin sekali menanyakan.
"Mah, boleh tanya ga" ucap Salma serius.
"Tanya apa, asal jangan tanya malam pertama, nanti aja kamu juga akan mengalami" goda ibu
"Ih bukan itu. Tadi Dika kesini? Salma ragu-ragu.
"Emang Dika ke sini? Mamah ga lihat dia kesini, atau mungkin pas lagi di warung ya Dika ke sininya" jelas ibu
Salma mengerutkan keningnya, merasa aneh. Jelas-jelas Dika tadi menyebutkan ketemu sama ibunya.
"Oh iya, mungkin pas mamah lagi di warung" jawab Salma. Tak ingin panjang lebar takut ibunya curiga.
"Mulai Minggu depan kalian harus dipingit, jangan banyak ketemu, biasanya mendekati acara suka banyak masalah" ibu pamit pergi keluar. Dan menyuruh Salma untuk istirahat.
Namun bukannya istirahat, Salma melangkahkan kakinya ke kamar Fiya. Ada yang mesti ditanyakan dengan dia. Mendekati kamar Fiya terdengar isakan tangis. Siapa yang nangis malam-malam begini. Pikir Salma.
Tanpa mengetuk perlahan-lahan Salma membuka pintu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Dilihat tempat tidur Bila kosong mungkin tidur di ruang tv karena Bila suka nonton tv sampai malam.
Pandangan pun beralih ke tempat tidur Fiya, ternyata Fiya menutup penuh badannya dengan selimut. Hanya terlihat cahaya dari ponsel Fiya menyala. Ternyata sedang menelpon.
"Apa yang harus aku lakukan?" Fiya terisak. Salma hanya memperhatikannya. Tidak berani mendekat.
"Kita ga mungkin begini terus, aku harus bagaimana" isakannya semakin keras.
Lama berdiri akhirnya Salma menghampiri Fiya yang sedang menelpon. Dibukanya selimut. Menampilkan Fiya yang penuh dengan air mata sedang memegang ponsel yang didekatkan ke telinga.
"Teteh" ucap Fiya kaget.
"Kamu kenapa? kenapa nangis sambil nelpon, ini lagi ditutupin selimut. Putus cinta ya" Salma duduk di tepi ranjang. Fiya pun akhirnya duduk.
"Udah dulu ya, ini ada tetehku yang paling cantik" ucap Fiya kepada yang nelpon. Tak lama Fiya pun menutup telponnya, dan menyimpan ponsel di bawah bantal.
Mereka berdua duduk di tempat tidur. Salma duduk di tepi ranjang, sedangkan Fiya duduk di kasur menghadap Salma dengan memeluk bantal.
"Coba ceritain ke teteh kenapa nangis" Salma memandangi Fiya.
"I....tuh.... mmmmmm apa yah. Temen aku sebentar lagi mau nikah, tapi ga tau mereka ga cinta, hanya perjodohan. Jadi temen aku nangis harus bagaimana" jawab Fiya dengan terbata-bata.
"Oh, malah kamu yang nangis, atau yang mau nikah itu pacar kamu" goda Salma. Fiya pun tersentak kaget.
"Apaan sih teh, aneh" bentak Fiya.
"Kok jadi kamu yang emosi, biasa aja dong cantik. Kok teteh jadi curiga" Salma tersenyum sambil terus menggoda. Fiya hanya cemberut.
"Kamu punya pacar ya? Tanya Salma.
"Kata siapa teh, jangan dengerin gosip orang-orang" jawab Fiya
"Kata siapa gosip orang, teteh pernah liat kamu diboncengin sama cowok" pancing Salma. Fiya langsung melotot.
"Teteh dimana liat Fiya dibonceng cowok, kalo emang pernah liat teteh tahu dong siapa dia" Fiya tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
Fiya langsung menangis keras. Salma semakin bingung. Niatnya ingin menggoda Fiya.
"Kok nangis lagi, ih teteh bercanda, maaf..... iya itu teteh kata orang orang kamu suka di boncengan cowok" Salma kebingungan. Fiya langsung memeluk Salma. Dan kembali menangis di pelukan Salma.
"Udah ah, meni ogo, udah punya pacar juga. Atau jangan-jangan bener ya pacar kamu mau nikah" ucap Salma menepuk-nepuk pundak Fiya.
Kembali Salma berbicara "sabar kalo jodoh tak akan kemana kata mang Sopyan, selama janur kuning belum melengkung itu tandanya masih ada usaha buat ngerebut hehehe" Salma melepaskan pelukan. Memegang pipi Fiya mengusap air matanya.
Melihat kondisi Fiya tadinya mau menanyakan tentang benda yang ada dilaci tapi diurungkannya.
"Coba berdoa, minta sama Alloh jodoh yang terbaik untuk kamu, kalo memang dia jodoh kamu pasti ada jalan kalian untuk berjodoh, jangan bersedih terlalu lama" ucap Salma. Salma pun pergi keluar dan menutup pintu.
Kembali ke kamar, Salma langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Diambil ponselnya. Ternyata ada beberapa pesan dari Dika.
Dika : lagi apa yank😍? Belum tidur?
Dika : kok ga dibales? 🤔
Dika : maaf🙏
Dika : masih marah yang tadi ya?
Salma tersenyum melihat pesan-pesan dari Dika. Ia segera membalas pesannya.
Salma: maaf lagi di kamar Fiya, HP ga di bawa.
Lama menunggu balasannya, Salma pun teringat kejadian hari ini. Kenapa Dika membohonginya. Apa yang dia sembunyikan. Masalah apa yang sedang dihadapi Dika.
Karena tak ada jawaban, Salma pun menelpon Dika, namun hanya dijawab operator yang menyebutkan nomornya sibuk. Berkali-kali menelpon jawabannya tetap sama.
Disimpan ponselnya, Salma kembali membaringkan tubuhnya. Pikirannya terus berkecamuk. Perasaan ragu kini menghampiri. Apa ini yang dirasakan oleh orang yang menikah. Matanya mulai menutup.
Terdengar tanda notifikasi pesan masuk. Dibukanya ponsel. Ternyata Dika membalas pesannya.
Dika : Besok aku jemput di tempat biasa, kita akan menyelesaikan masalahnya bersama. Love you baby.
Salma tersenyum sinis melihat pesan dari Dika. Hatinya perih, mata mulai berkaca-kaca. Tangisnya pun tak mampu ia tahan.
Dikeheningan malam Salma terus menangis tanpa suara. Pesan yang dia dapat dari Dika tak mau ia balas. Rasa kantuk pun langsung hilang tiba-tiba. Matanya tidak mau terpejam.
...****************...
Kira-kira kenapa yang terjadi ya?
Kenapa Salma menangis bukannya dia menunggu pesan balasan dari Dika.
Apa yah yang dilihat Salma dalam lacinya Fiya?
Hayoh siapa yang dulu mendekati pernikahan ada perasaan ragu atau galau dalam hati????????