Syahna Waladhipa, sangat bahagia ketika mendapat lamaran dari kekasihnya, Erdogan. Akan tetapi, kebahagiaan itu hanya ada dalam angan-angannya.
Sampai sesaat sebelum pernikahan Syahna, sebuah keadaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya datang dan menghancurkan seluruh harapannya tentang 'rumah tangga bahagia'. Meluluh lantakkan kepercayaannya tentang cinta.
Dan demi menjaga nama baik keluarga, Syahna memaksakan dirinya untuk dinikahi oleh pria yang sama sekali tidak pernah masuk kedalam rencananya.
Follow:
ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Tidak Terlalu Cepat?
Suara berisik karna sorak sorai penonton langsung berubah menjadi hening karna ucapan Erdo terdengar di seantero sirkuit. Seluruh penonton sontak melihat kepada Erdo yang sedang berlutut sambil mengarahkan sebuah cincin ke depan. Mereka sibuk mencari gadis yang sedang dilamar oleh Erdo.
Sedangkan Syahna, masih membeku di tempatnya. Dia tidak menyangka kalau dia akan mendapat lamaran yang sangat romantis seperti itu. Didepan umum pula. Oleh seorang pria yang sangat di elu-elukan oleh dua gadis yang duduk di sampingnya, karna memiliki senyuman mematikan.
Wajah yang terasa panas karna sengatan matahari kini bertambah panas karna ucapan Erdo. Syahna masih membeku. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Walaupun dia sudah menduga kalau Erdo akan melamarnya, tapi bukan adegan ini yang terlintas difikirannya.
Syahna terus menatap lurus kepada Erdo yang masih berlutut. Tidak tau harus memasang senyuman yang seperti apa.
“Na?” Ucapan Erdo menyadarkannya. Gadis itu segera mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali.
Apa dia baru saja meleleh?
Melihat reaksi Syahna yang tetap mematung di tempat duduknya, perlahan Erdo berjalan membelah kerumunan, melewati kursi para pengunjung untuk dapat mendekati kekasihnya itu.
“Kenapa gak jawab?” Tanya Erdo setelah berhasil sampai di hadapan Syahna. Gadis itu tetap terdiam dengan menatap lekat wajah Erdo. “Will you marry me?” Kata Erdo mengulangi ucapannya.
Tatapan mata Syahna nampak kebingungan. Ia berfikir sejenak. Apa dia harus menerima lamaran itu atau tidak. Namun setelah beberapa saat, perlahan tapi pasti, Syahna mulai menganggukkan kepalanya pelan.
Membuat sesungging senyum manis kembali terkembang di bibir Erdo. Kemudian pria itu langsung merengkuh tubuh Syahna dan memeluknya dengan sangat erat.
Wajah Syahna tenggelam didada Erdo yang berkeingat, namun tetap wangi. Sementara orang-orang yang menyaksikan momen langka itu langsung bresorak riang. Melebihi saat mereka bersorak untuk selebrasi kemenangan tadi.
Sementara itu di depan podium, Lian dan Natta hanya ternganga tidak percaya dengan drama romantis yang baru saja mereka saksikan. Terlebih Lian, dia sama sekali tidak menyangka kalau Erdo akan seberani itu mengungkapkan perasaannya di depan umum.
“Wuiih,, gila bener tu anak. Di lempar kemana malunya? Sampe berani ngelamar Nana di sini?” Seloroh Lian masih dengan tatapan herannya.
Natta hanya diam saja dan terus memperhatikan kedua sejoli yang sedang berpelukan di tribun sana.
“Liat tu ta, bocil yang dulu ngejer-ngejer lo udah diambil orang. Wahh,, gak nyangka gue, bakalan keduluan sama adek gue..” Kata Lian lagi. Matanya jadi berubah berkaca-kaca. “Ternyata adek gue udah gede aja. Udah mau diambil orang.” Lanjutnya.
Lagi-lagi, Natta hanya terdiam sambil menghembuskan nafas dengan kasar. Kemudian memilih memalingkan pandangannya kearah lain. Diam-diam dia mengeratkan gigi-giginya.
“udah ah. Yuk cabut. Panas banget ini. Gue belum sholat dzuhur lagi.” Kata Natta memaksa Lian untuk mengakhiri tontonannya.
“Yaelah, ini bapak dewan, kagak seneng banget liat temen lagi menikmati suasana.” Protes Lian.
“Yaudah, gue balik duluan.” Kata Natta sambil membereskan barang-barangnya setelah tadi sempat mengganti pakaiannya.
“Eh, eh, tungguin woi.” Teriak Lian saat melihat Natta sudah beranjak hendak pergi.
Syahna dan Erdo masih saling berpelukan. Walaupun dihati keduanya masih tersisa sedikit rasa tidak nyaman. Kedua gadis yang duduk di sebelah Syahna hanya terbengong-bengong saja. Mereka syok luar biasa, tidak menyangka kalau orang yang duduk di sebelah mereka dan mengobrol dengan mereka sejak tadi itu merupakan kekasih Erdo, pujaan mereka. Seketika rasa iri menyergap. Mereka iri dengan keromantisan Erdo yang ditunjukkan dihadapan umum. Membuat otak mereka seketika berhalu ria. Ingin juga mendapatkan perlakuan seperti itu.
Erdo melepaskan pelukannya, kemudian meraih tangan Syahna dan menyematkan cincin yang sejak tadi dia genggam ke jari manis Syahna.
Hal itu kembali mendapatkan sorakan dari para penonton. Drama kedua sejoli itu lebih menarik ketimbang balapan yang baru saja selesai mereka lihat.
“Yuk, pulang,” ajak Erdo kemudian dengan merangkul kedua pundak Syahna dan membimbingnya menuruni anak tangga untuk kemudian pergi dari area tribun.
Syahna masih belum bisa mengucapkan sepatah katapun. Tapi ia terus mengikuti kemana langkah kaki Erdo mengajaknya. Gadis mungil itu masih berusaha menenangkan jantungnya yang serasa sedang memberontak ingin keluar.
“Hei, kamu gak apa-apa?” Tanya Erdo dengan tatapan khawatir saat mereka sudah berada di dekat motor Erdo terparkir. “Nana?” Panggilnya lagi.
“Oh, eh,, aku gak apa-apa. Cuma agak terkejut aja” jawab Syahna dengan terbata.
“Hemh..” Lagi-lagi, Erdo menebarkan senyuman mematikan. Dan kembali memeluk Syahna.
“Aku gak nyangka kamu bener-bener nglakuin ini. Tadi waktu kamu bilang bahas lamaran sama ayah, aku kira cuma bercanda.” Ujar Syahna lagi. Kini dia mulai bisa mengendalikan tubuhnya. Terutama mulutnya.
“Mana mungkin aku bercanda sama masalah beginian, beb. Ya aku pasti serius lah.”
Syahna kembali menatap Erdo dengan pias.
“Nanti aku bakalan dateng kerumahmu sama Om, sama Tanteku, ya..”
Deg.!
Disatu sisi, Syahna sangat bahagia dengan keseriusan Erdo tentang hubungan mereka. Tapi disisi lain, gadis itu seperti belum yakin sepenuhnya.
Menikah, diusia 24 tahun? Apa gak terlalu cepat? Fikirnya. sedangkan dia masih banyak hal yang ingin dilakukannya.
Syahna dan Erdo memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang. Mereka mampir di warung makan langganan Erdo. Warung makan khas aceh yang menyediakan bermacam-macam menu khas aceh seperti mie aceh, roti canai, ayam tangkap dan lain-lain.
Erdo memesan dua porsi roti canai dan martabak telur. Kemudian mengambil tempat duduk yang berada didekat dinding. Warungnya sangat sederhana, tapi selalu dipadati oleh pengunjung.
“Na, kamu gak suka ya aku nglakuin hal kayak tadi? Apa kamu malu karna jadi pusat perhatian?” Tiba-tiba Erdo bertanya. Reaksi dan ekspresi Syahna sangat menganggunya. Gadis itu, seperti tidak menyukai aksinya.
“Enggak kok. Aku suka. Cuman agak terkejut aja.” Jawab Syahna dengan menunduk sambil tangannya terus mengaduk-aduk es teh di atas meja. Ia bahkan tidak menatap Erdo yang sedang mengajaknya bicara. “Do, apa kita gak terlalu cepat? Aku masih ragu,,” ujar Syahna kemudian mengungkapkan keraguannya.
“Ragu kenapa? Apa yang kamu raguin dari aku?”
“Entahlah, aku juga gak tau.”
“Beb, kamu gak perlu ngerasa kayak gitu. Aku udah cukup mapan dari segi ekonomi. Aku udah lebih dari mampu buat nafkahin kamu. Jadi kamu gak usah cemas, ya..”
Bukan, bukan itu do. Hati gue masih ragu. Gue masih kurang nyaman sama lo.
Ingin sekali rasanya Syahna berkata begitu. Tapi dia tidak tega jika harus menghancurkan kebahagiaan yang sedang Erdo rasakan.
Syahna tau, Erdo pasti mengalami kesulitan saat mengajaknya menikah didepan umum seperti tadi. Hal itu membuat Syahna sedikit merasa bersalah jika harus mengutarakan keraguannya sekarang.
“Apa kamu masih butuh waktu? Aku akan menunggu selama apapun itu. Kamu cuman perlu ngasih tau aku kalau kamu udah siap buat kita nikah.” Pinta Erdo lagi dengan tatapan penuh harap kepada Syahna.
sukses
semangat thor
mksh thor
keren