Deva Liana Collins, hari pertama nya sebagai siswa pindahan membuat Dave William Collins teringat dengan adik kembar nya yang sudah lama terpisah
dari awal pertemuan pertama nya membuat terbongkar nya rahasia besar dimana ibu yang selalu mengasari nya bahkan tidak pernah mengurus Deva ternyata bukan ibu kandung nya sendiri
bagaimana reaksi deva setelah tahu orang yang di bela nya ternyata bukan ibu kandung nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momie all, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Bel berbunyi menandakan jam pelajaran pertama di mulai, ana menghembus kan nafas nya, hari kedua sekolah di Garuda di mulai, dan kali ini ana merasakan rindu pada teman teman nya di sekolah lama
"Pagi anak anak"
Suara tegas milik seorang pria membuat ana terkesima, tampan nya membuat ana tak percaya, dengan kaca mata yang bertengger di hidung nya malah membuat guru muda itu terlihat keren di mata ana
Ana prediksi belajar dengan guru di depan nya itu tak akan membuat nya bosan, meskipun guru itu mengajarkan fisika hal yang di benci ana
Tapi tunggu dulu! mengapa ana merasakan suasana kelas menjadi mendadak hening?
"sekarang kumpulkan tugas Minggu kemarin" titah sang guru
Satu per satu para siswa langsung ke depan menyerahkan bukunya, bahkan dapat ana lihat teman wanita dari kelas nya itu terlihat caper pada guru muda itu
"Awas" dorong Nita pada Deni
"Santai dong" balas Deni mendorong Nita
Ana terkekeh melihat Deni dan Nita yang setiap kali selalu ribut, ana hanya diam tak bergeming di saat teman teman nya satu per satu ke depan mengantarkan tugas nya
Guru muda tersebut sedari tadi memperhatikan ana yang hanya duduk di meja paling belakang, sedangkan teman teman yang lain nya sudah mengumpulkan tugas
"Yang di belakang kenapa tidak kumpulkan tugas nya" katanya dengan suara tegas nya
Ana terkesiap dengan perkataan lantang dari guru di depan nya
"Maaf pak, saya tidak tahu ada tugas" jawab ana tersenyum
"tidak tau? Yang lain juga pada tau kenapa kamu tidak?" Jawab nya dengan wajah mengintimidasi ana
Ana mengerjapkan matanya, menurunkan senyum yang dia pasang tadi
"Maaf pak saya baru di-
"Mau alasan apa? bilang saja kalo kamu tidak mengerjakan tugas, saya sudah tau alasan seperti kamu yang hanya pura pura tidak tau ada tugas" selanya
Ana merutuki pikiran nya yang tadi sempat mengagumi guru muda di depan nya itu, ana baru dua hari di sekolah ini dan dia sudah menemukan guru yang nyebelin
"Maaf pak" sela Reza mengangkat tangan nya
"Ada apa Reza? Mau bela teman nya? saya sudah bilang tidak menerima alasan untuk siswa yang tidak mengerjakan tugas" dengan tegas nya
Suasana kelas mendadak mencekam setelah bentakan dari guru muda tadi, Bahkan Reza langsung terdiam dengan bantahan guru muda itu
"Untuk kamu yang yang tidak mengerjakan tugas, keluar dari kelas saya dan kerjakan tugas nya, jangan masuk ke kelas sebelum tugas kamu sudah selesai" titah nya tidak menerima bantahan
Ana mengerjapkan matanya beberapa kali, ana akui di sekolah lama nya sedikit bandel, tapi ana belum pernah di keluarkan dari kelas
"Pak" sela gendis mengangkat tangan nya
"Apalagi? Kamu juga mau keluar kelas?" Bantah nya
Gendis menggelengkan kepala nya, nyali nya menciut mendengar bentakan dari guru itu
"Sudahlah dis, gue keluar dulu" kata ana berdiri dari bangkunya
Dapat ana lihat dari mata teman baru nya itu seperti permohonan maaf karena tidak membantu nya
"Gue kirim tugas nya lewat wa, tugas nya Minggu kemarin di kirim lewat wa" kata Nita yang langsung mengeluarkan ponsel nya
Ana hanya mengangguk dan mendekati guru muda yang tadi dia kagumi, di lirik nya name tag yang berada di baju guru muda itu
hanya memandang nya sebentar, ana langsung keluar dari kelas dengan hati yang dongkol
mendumel sepanjang jalan hingga ana tak tau kemana arah kaki nya melangkah
brakkk
dorongan keras di pintu rooftop membuat atensi anak Elang melihat ke arah pintu
gadis yang menjadi perhatian anak elang saat ini masih mendumel dengan membawa buku menuju kursi di dekat pembatas rooftop
"sialan banget tuh guru, nyesel gue bilang ganteng" dumel ana
Ting
satu pesan dari Nita membuat ana berteriak frustasi dengan soal rumus rumus di layar ponsel nya
"akhhhhh" teriak ana mengacak rambut nya
tanpa sadar sedari tadi gerak gerik ana menjadi pusat perhatian anak elang
"kenapa tuh cewe?" kata Angga
"kaya nya gara gara gak bikin pr, tuh liat aja bawa buku" timpal Dimas
Rafael melirik Dave yang sedari tadi memperhatikan ana tanpa kedip, dapat rafael lihat sorot rindu di mata Dave
sedangkan Edgar hanya diam, namun sorot mata nya memperhatikan gerak gerik teman dan gadis yang mencuri perhatian nya sedari kemarin
"samperin gih, bantuin" kata Rafael
Dave melirik Rafael seolah meminta persetujuan, hingga Rafael meng ngangguk kan kepala membuat Dave berdiri dari duduk nya
"good luck" tepuk Rafael pada bahu Dave
Dave yang di beri semangat pun langsung berjalan menuju dimana ana berada yang masih ngoceh membuat Dave tak tahan untuk tersenyum
"mau kemana tuh anak?" tanya Dimas
"nyamperin adek nya lah" jawab Rafael langsung bergabung bersama Angga kembali
sedangkan Dave tengah menahan tawanya mendengar ocehan ana yang di yakini nya adik kembar nya
"hai" sapa Dave
dapat Dave lihat sikap terkejut ana yang menggemaskan, Dave tebak pasti ana baru nyadar kalo dirinya menjadi perhatian apalagi dengan rambut yang acak acakan
"sorry ganggu, Lo anak baru kan? boleh kenalan tidak? nama gue Dave William Collins, panggil aja Dave" kata Dave menjulurkan tangannya
ana pun langsung menerima jabatan tangan dari Dave, "Deva Liana Collins, panggil aja ana" balas ana
sedetik
dua detik
tunggu!
ana merasakan familiar dengan nama pemuda di depan nya, dan ana langsung membelalakkan mata nya saat mengingat nama dari pemuda di depan nya
Deva Liana Collins dan Dave William Collins, nama kedua nya ada kemiripan apa lagi nama belakang nya sama Collins
"kenapa?" tanya Dave melihat kebingungan dari wajah ana
"Ahh.. oh engga" jawab ana mengenyahkan pikiran nya
"sedang apa di rooftop? terlihat frustasi lagi" kata Dave mengalihkan pembicaraan nya
"ouh ini.. gue di hukum di keluarin dari kelas gara gara gak bikin tugas, padahal kan gue anak baru yang gak tau kalo ada tugas" adu ana
"tugas apaan emang?" tanya Dave melihat ke arah ponsel ana yang menampilkan soal soal
"fisika, gue gak tau gimana cara nya" adu ana dengan mulut yang di moyongkan
ana entah sadar atau enggak dengan sikap nya, namun Dave sedari tadi menahan tangan nya yang ingin mengacak rambut adik nya itu
"sini gue bantu" kata Dave langsung mengambil buku yang masih kosong itu
dengan telaten Dave mengajari ana dari tugas perhitungan itu, bahkan ana dapat dengan mudahnya memahami pelajaran yang sedari dulu tidak di sukai nya