[Sequel of Friendshut]
Buat yang belum baca Friendshut silahkan dibaca.
»Sedang mengikuti perlombaan YAAWS4, mohon dukungannya 🤗 «
~~
Kepergian seseorang yang berarti cukup menguras hati. Bukan hanya hati, tapi fisik dan sikap. Karena kepergian itu semuanya berubah. Waktu yang terus berjalan tak mampu merubah apapun, meskipun nyatanya semuanya telah berubah.
Kedatangan seseorang diharapkan mampu menggantikan posisi orang yang pergi itu. Tapi nyata, tak membantu apapun.
Not different.
Gak ada yang berubah.
Hatinya sudah mati, sudah tak bisa lagi menerima hati. Hatinya mati rasa, masih belum bisa merasakan sesuatu yang berharga.
Tapi, ternyata pikirannya salah.
Nyatanya, dia mampu menggantikan perempuan itu dari hatinya. Dia mampu membuat senyum yang sudah lama hilang dari bibirnya, muncul kembali. Dia mampu, membuka hatinya kembali bahkan menggesernya sedikit untuk dia tempati.
Dan saat hatinya mulai menerima ini semua, pikirannya kembali membuat semuanya semuanya semakin rumit.
Masalalu
Kepergian
Kepercayaan
Bahkan sama sebuah
Secret
Kembali mengobrak-abrik hati dan perasaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon katatokoh16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6 : Gak ikhlas, bilang!
Tiffany menghentikan langkahnya saat netra nya tak sengaja menangkap tubuh Delfano yang tengah duduk di pojok Komawa. Kakinya langsung dia langkahkan dengan senyum lebar tercetak jelas di bibirnya. Tiffany tak datang seorang diri menemui Delfano, melainkan bersama Yolanda di sampingnya. Tak mungkin kan kalau dia menemui Delfano seorang diri? Dia itu sudah terkenal seantero kampus, makin terkenal lagi kalau dia ketahuan di muka umum berduaan bersama Delfano. Apalagi, insiden dimana Delfano yang menolongnya saat itu pasti menimbulkan berbagai persepsi di benak setiap orang.
Tiffany berdehem, membuat lelaki yang tengah menikmati semangkuk makanan berkuah itu mendongak menatapnya. Namun, itu tak berlangsung lama saat detik berikutnya, lelaki itu malah kembali menikmati makanannya tanpa peduli kehadirannya. Dia mendengus, mencoba bersabar dan kembali mengingat pertolongan lelaki itu beberapa saat yang lalu.
Tiffany menarik kursi kosong, duduk di hadapan Delfano yang masih mengacuhkannya. Dia mendongak, menatap Yolanda yang memilih berdiri tak jauh darinya yang kini mengangguk. Dengan sekali helaan napas, akhirnya kata itu meluncur dari mulutnya.
“Makasih,”
Tiffany berdecak saat tak mendapat respon apapun dari Delfano. Lelaki itu bersikap seolah dirinya tak ada, bersikap seolah hanya ada lelaki itu seorang di meja ini. “Woy!” panggil Tiffany, dia mengibaskan tangannya di depan wajah Delfano.
Akhirnya, Delfano mendongak dan menatapnya.
“Lo ngomong sama gue?”
Tiffany ternganga, tak percaya mendengar pertanyaan itu. Sabar... Sabar... Gumam hatinya. Ingat, ingat pertolongan lelaki itu. Kalau bukan karena dia, mungkin dia sudah tak disini sekarang. Sisi baiknya terus berbicara.
“Iya,”
“Oh...”
Tiffany menghela napas kasar. “Gue cuma mau bilang makasih. Makasih karena Lo udah tolong gue tadi.” ucap Tiffany, setidaknya dia sudah mengucapkan kata itu kepada Delfano yang sudah menolongnya.
Delfano masih diam, dia selesai dengan mie nya kemudian meneguk air mineral dalam botol. Lalu kembali menatap Tiffany. Jujur saja, ada getaran di hati Tiffany saat lelaki itu menatapnya cukup lama dan dalam. Entah apa maksudnya. Yang dia tahu, hatinya berdebar kencang.
Deg... Deg...
“Berarti kita impas, ya. Gue gak punya hutang budi lagi sama lo.”
Pernyataan yang baru saja dilontarkan Delfano membuat debaran aneh di jantungnya berganti dengan kekesalan yang sudah membuncah di dadanya. Tiffany mengeram kesal, menatap sebal dan tajam Delfano yang sudah beranjak dari duduknya.
Tiffany ikut beranjak dari duduknya dengan kasar. “Lo tuh ya, gue sebel banget sama Lo!” tukas Tiffany, dia menunjuk wajah Delfano dengan gregetnya. Asli, dia sedang mode gemas dalam artian lain pada lelaki itu.
Delfano mengerutkan keningnya, dia mengendikan bahunya. “Dasar cewek gak jelas.” ejek Delfano kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Tiffany yang sudah membuncah ingin marah.
“Dasar cowok songong!!”
Yolanda segera menghampiri Tiffany, menahan tubuh itu. “Sabar Fan... Sabar...”
“Nyebelin!”
***
Tiffany menerima minuman yang diulurkan Yolanda untuknya. Dan hanya sekali tegukan, minuman itu tandas seketika. Memang yang dibutuhkannya saat ini hanya air, dia butuh air untuk menyirami api amarah yang membuncah dalam dirinya karena kelakuan songong si Delfano itu. Dia masih kesal, malah semakin bertambah kesal. Dadanya bergemuruh dengan cepat, pikirannya masih mengingat sikap songong Delfano. Setiap kali dia mengingat itu, rasanya dia ingin marah sekarang juga. Dia tak mau mengingat, tapi pikirannya malah selalu tertuju pada lelaki itu.
Sedangkan Yolanda yang duduk di sampingnya hanya bisa diam sambil sesekali mengusap pelan punggung tangannya. “Sabar... Sabar... Orang sabar disayang Allah.” ucap Yola, dia meringis saat tangan Tiffany terkepal kuat.
*A*rgh....
Tiffany memekik kesal, menendang-nendang udara di hadapannya dengan kesal seolah di hadapannya adalah orang yang menjadi sumber utama kekesalannya.
“GUE BENCI DELFANO!”
***
Tiffany turun dari motornya, dia berhenti tepat didepan sebuah mini market yang tak jauh dari toko nya berada. Dia berniat membeli sesuatu, seperti cemilan mungkin yang nanti akan menemaninya malam ini. Dia melepas helm yang dikenakan untuk melindungi kepalanya, namun gerakkannya langsung terhenti saat matanya malah menangkap pemandangan tak enak di depannya.
Kakinya kini melangkah lebar, bahkan terkesan berlari pelan untuk segera melerai perkelahian itu. Dan tanpa aba-aba, dia langsung menendang punggung orang yang tengah memukul Delfano itu. Alhasil, orang itu kini sudah jatuh tersungkur.
Tiffany terdiam, menatap Delfano yang sudah terbaring babak belur. Entah ada apa dengan hidupnya akhir-akhir ini, setiap bertemu Delfano pasti keadaannya lelaki itu tengah berkelahi.
Tiffany bisa melihat wajah orang yang baru saja memukul Delfano yang juga tak kalah babak belurnya. Orang itu menarik sudut bibirnya, tersenyum meremehkan menatap dirinya yang sebenarnya sudah berdebar tak karuan.
“Wih, ada jagoan nih.” cibir orang itu, dia terkekeh pelan sambil beranjak berdiri dan membenarkan kemejanya dengan kasar. “Lo siapa? Ceweknya atau selingkuhannya? Yang ke berapa?”
Tiffany mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu, tak ada niatan sedikitpun membalas ucapan itu. Yang dia lakukan kini adalah membantu Delfano beranjak berdiri dan membawanya ke tepi. Setelah itu, dia kembali berhadapan dengan orang itu sambil berdecak pinggang.
“Apa?”
“Lo mau lawan gue?”
Tiffany tersenyum meremehkan. “Lawan Lo? Boleh aja sih. Tapi, emangnya lo berani lawan gue? Kalau iya, berarti lo banci. Lo beraninya sama cewek.”
Lelaki itu terdiam, menatap kesal dan tajam Tiffany yang kini sudah tersenyum lebar
Tiffany membuka helmnya, membiarkan rambutnya kini tergerai di hadapan orang itu. Dia segera memukul kan helm nya ke lengan orang itu dengan keras, kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan orang itu yang kini mengumpat sambil meringis.
Tiffany segera menghampiri Delfano yang masih meringis, berjongkok di hadapan lelaki itu sambil mengendarkan pandangannya. Dan saat matanya menemukan salah satu karyawan tokonya, dia segera melambaikan tangannya meminta bantuan.
“Mas, tolong bantuin bawa ke toko!”
***
Delfano meringis, dia menatap tajam Tiffany yang tengah mengobati luka-lukanya. Perempuan itu dengan teliti meneteskan antiseptik pada lukanya.
Delfano menahan lengan Tiffany yang tengah mengobatinya. “Pelan-pelan, bisa kan?” tanya Delfano dengan kening mengerut kesal. Dia menatap tajam Tiffany yang menatapnya datar.
“Iya... Iya... Tapi, lepasin tuh tangan gue.”
Detik berikutnya, Delfano mendengus sambil melepas cekalan tangannya di lengan Tiffany. Delfano kembali meringis saat Tiffany mengobati lukanya lagi, matanya terpejam beberapa saat sebelum kemudian kembali terbuka lebar.
Tiffany mencebik. “Lemah banget sih jadi cowok. Baru begini juga.” tukas Tiffany sambil kembali mengobati luka Delfano tanpa memperdulikan ringisan lelaki itu.
“Selesai.”
Tiffany menatap Delfano yang masih diam. “Lo kenapa sih, hobi banget berantem? Perasaan setiap gue ketemu lo, kerjaan lo tuh berantem mulu.” tukas Tiffany, dia membereskan alat-alat p3k yang digunakan untuk mengobati Delfano barusan.
“Bukan urusan Lo!”
“Dasar ya, cowok songong!”
“Lo? Cewek gak jelas.”
“Lo tuh harusnya terimakasih sama gue. Kalau gak ada gue, gak tau lagi Lo masih disini atau enggak.”
“Gak ikhlas bilang,”
“Ya, bukan karena gak ikhlas. Tapi ada gitu, orang yang susah banget ngomong terimakasih? Heran.”
Delfano tak peduli, dia beranjak dari duduknya sambil meringis saat perutnya kembali sakit. “Banyak omong!” ketus Delfano, dia menarik jaket yang diletakkan di sofa yang didudukinya kemudian menentengnya.
Tiffany mendengus. Dia menatap kepergian Delfano dari ruangannya sekilas sebelum kemudian menunduk sambil membereskan kembali alat P3K.
“Makasih.”
Sontak saja Tiffany langsung mendongak mendengar kata itu terlontar dari mulut Delfano. Seulas senyum manis terbit dari bibirnya. Tak menyangka, ternyata lelaki itu bisa juga mengucapkan kata itu.
aku menungguuuuu
cepat up ya udah nggak sabar baca kisah lanjutannya
jangan di gantung terus ya thor😊
kenapa tata harus mati sih thor?😪😪