Sosoknya hadir bagai sukacita. Terlahir dari sendok emas tidak membuatnya menjadi pribadi yang sombong dan semena-mena. Tapi kepribadiannya terlanjur mampu membuat semua orang berpikiran negatif.
Dingin, datar dan jangan lupakan tatapan tajamnya yang mampu membuat lawan bicaranya merasa terintimidasi. Dipertemukan dengan perempuan pada situasi mengenaskan. Melihat bagaimana perjuangannya manusia lain untuk memenuhi hidup mereka.
Anna. Sosok yang mampu membuat Chandra merasa bahwa memilikinya membuatnya merasakan dunia sudah tergenggam di tangannya. Serta mampu membuat Chandra menentukan dua pilihan yang tidak pernah diduga sebelumnya.
Namun, akankah semesta merestui keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Ono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Tragedi Tak Terduga
“Besok aja. Kalau sekarang takutnya malah kenapa – napa karena ini kita mau observasi lapangan.” Beneran Chandra tidak ingin Anna terluka karena ini akan jadi pertama kalinya. Toh, sebenarnya Chandra memang tidak mengerti mengapa mengajak Anna ke Mexico. Hanya ingin saja mungkin.
Observasi lapangan kali ini akan banyak alat – alat besar yang mana harus sangat berhati – hati. Apalagi proyek ini memang baru saja dimulai yang otomatis akan banyak alat berbahaya dimana – mana.
“Gak papa. Malah kalau cuma dihotel agak ...”
“Agak kenapa?” Chandra merasa keanehan dalam kalimat yang baru saja Anna ucapkan. Terdengar gugup sekaligus ketakutan akan suatu hal.
“Eh gak papa.”
“Yaudah ikut tapi jangan jauh – jauh dari gue.” Putus Chandra. Mau bagaimana lagi nanti Sam malah berpikir yang tidak – tidak kalau anna tidak menunjukkan kehadirannya dalam setiap pertemuan ini.
Chandra sudah menjelaskan bahwa anna akan menjadi karyawan baru dan perjalanan kali ini akan menjadi pembelajaran untuknya. Tidak ingin mengatakan yang sejujurnya karena Chandra pikir itu bisa saja akan menjadi hal memalukan untuk Anna. Takut nanti Sam malah berpikir yang macam – macam.
“Mmm.” Sang perempuan langsung bersemangat dan mulai bersiap.
Saat Anna bersiap – siap, Chandra dan Sam memilih menunggu di luar, karena rasanya agak kurang sopan kalau masuk ke kamar cewek. Apalagi mereka berdua laki – laki dewasa semuanya.
“Sam, udah konfirmasi keberangkatan kita?” mengkonfirmasi kembali bagaimana keadaan disana.
“Sudah pak. Mereka sudah menunggu.” Chandra mengangguk mengerti. Dan saat Anna sudah keluar, mereka bertiga menuju tempat lokasi dimana proyek dilakukan.
Begitu sampai di tempat observasi, mereka bertiga sudah disambut oleh seseorang yang sama rapi nya dengan mereka. Setelah menggunakan helm proyek untuk keselamatan semuanya barulah mereka memulai perbincangan yang menyangkut proyek kali ini.
“Good afternoon, sir. I am Rezio who’s gonna guide you for check in this area and after this you can meet mr. Zayn.” Anna hanya tahu kalau mereka mulai berbicara dengan bahasa inggris yang untungnya ia mampu memahaminya. Karena sangking fokusnya mereka bertiga, Chandra mulai melupakan keberadaannya.
Sedari tadi yang Anna lakukan hanya mengikuti mereka sampai akhirnya high heelsnya mengenai sesuatu.
“Kirain apaan.” Ia berhenti sejenak untuk melihat keadaan high heelsnya. Takut kalau misalnya mengenai sesuatu.
“Sam, Anna mana?” sedangkan chandra baru menyadari anna menghilang dari sisinya langsung panik. Menunda sebentar percakapannya dengan Rezio dan mulai mengedarkan pandangan ke segala arah. Berusaha mencari Anna hingga akhirnya menemukannya di sana sedang menunduk membenarkan high heelsnya.
“Anna! ****!” teriak chandra sambil berlari menuju dimana anna berdiri. Tapi terlambat semuanya sudah terjadi. Bagaimana anna yang terkapar di tanah dengan tidak berdaya.
“Anna, ANNA!.” Chandra coba membangunkannya, meskipun itu terdengar mustahil. Mengingat sekarang dahi nya berdarah serta helmnya yang sempat dipakai nya retak parah.
“Call ambulance now.” Razio memerintah pengawalnya untuk segera menghubungi bantuan.
“Use my car. Right now.” Ucap Chandra sembari mulai mengangkat Anna yang benar – benar sudah tak sadarkan diri.
“Sir.” Razio bermaksud membuat Chandra menunggu ambulance saja karena dirasa lebih efektif bisa ditangani dalam ambulance. Namun, sayangnya Chandra tidak bisa menunggu lebih lama lagi setelah melihat darah yang mulai keluar dari kepala sang perempuan yang masih setia dalam pelukannya.
“I can’t wait. She bleeds a lot.” Tekannya sambil melewati Razio dan bergegas menuju mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan kencang. Bahkan Sam harus menyelipkan mobil kesana – kemari karena Chandra terus mendesaknya untuk cepat. Betapa melegakan nya bahwa sepertinya keberuntungan ada pada mereka, karena lalu lintas di jam ini tidak terlalu padat.
Bahkan sudah beberapa kali melewati lampu lalu lintas yang langsung hijau. Kala Sam berkutat dengan kecepatan mobil, berbeda lagi dengan Chandra yang terus menekan tangannya untuk menghalangi darah keluar lebih banyak lagi.
“Help her.” Begitu sampai di rumah sakit dan berada di depan ruang UGD.
“Sam telpon pihak Razio untuk mundurin meeting.” Jelasnya yang masih memikirkan nasib proyeknya. Mau bagaimanapun juga proyek ini penting untuknya. Bukan berarti Anna tidak, tapi justru karena sosok perempuan yang masih di ruang UGD itu penting, maka Chandra harus menunda ini semua.
Mulai dari observasi sampai meeting. Kalaupun harus dilakukan sekarang, mungkin Chandra akan meminta Sam saja atau kalau perlu memanggil Ardan untuk terbang ke Mexico hari ini. Memang luar biasa bapak bos yang satu ini dengan keseriusannya terhadap sang perempuan yang masih ditangani di ruang UGD.
“Baik, Pak.” Sam mengambil beberapa langkah menjauh agar tidak mengganggu pikiran sang bos, Chandra. Terlihat jelas dapat dipastikan pikiran Chandra sangat penuh kali ini. Sam sendiri masih kebingungan dengan sosok perempuan yang berhasil membuat bosnya ini begitu khawatir.
Sejauh Sam bekerja dengan Chandra memang belum pernah melihatnya menjadi seperti ini. Betul sekali bahwa chandra adalah sosok yang baik hati dan menggunakan kekuasaannya untuk melakukan hal baik. Akan tetapi, hal seperti ini masih terlalu asing untuknya.
Bagaimana bosnya terus memanggil Anna dan berharap sang empunya membuka mata dan masih tetap sadar. Selain itu, ia terus meminta Sam mempercepat laju mobil bahkan siap untuk melanggar lalu lintas kalau – kalau bertemu dengan si merah.
“Mereka setuju untuk menunda semuanya, karena mereka juga ikut merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.” Jelas Sam menyampaikan apa yang baru saja ia terima dari pihak yang bersangkutan.
Tidak ada balasan apapun dari sang bos yang terus gelisah menunggu perawatan didalam ruangan. Ia hanya melihat Chandra bergumam dan mengangguk yang menunjukkan bahwa ia paham dan mengerti.
Mereka berdua sama – sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Sam dengan pikirannya tentang sikap bosnya, sedangkan sang bos sedang merapalkan doa meminta kelancaran dalam operasi kali ini. Semoga tidak ada hal buruk yang berjangka panjang nantinya. Chandra benar – benar merasa bersalah.
Hampir beberapa jam terlewati dan akhirnya waktunya tiba. Begitu mendengar pintu ruangan di buka dan mereka bergegas ke hadapan sang dokter yang bertugas.
“Bagaimana, Dok?” tanya Chandra dengan penuh desakkan untuk menjawab dan berharap kalimat yang keluar dari mulut sang dokter adalah hal yang semua orang inginkan.
“Lukanya sudah kami tangani dan keadaan pasien sudah stabil. Semuanya masih kita pantau untuk kedepannya.” Akhirnya setelah beberapa jam terlewati dengan penuh ketegangan kali ini mereka bisa bernafas dengan lebih lega. Kala dokter menyampaikan akan memindahkan anna ke ruangan rawat pun, Chandra terus mengikutinya.
Sejauh ini siapapun bisa melihat kalau Chandra bukan seseorang yang menolong Anna, tapi terlihat seperti sosok lelaki yang sedang mengkhawatirkan pasangannya. Bagaimana tatapannya yang masih terlihat belum stabil dalam langkahnya.
Bahkan saat sudah melihat sang perempuan yang terbaring dengan mata tertutup, kepala terbungkus kain kasa dengan rapi dan jangan lupakan oksigen yang menutupi hidungnya semakin menambah ketegangan tubuh pada Chandra.
“Silahkan menemani pasien tapi tolong jangan membuat keributan apapun. Biarkan pasien istirahat sampai benar – benar sadar.”