Indonesia
NovelToon NovelToon
Al & El

Al & El

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / CEO / Beda Usia / Nikahmuda / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Flower vin

Setelah 3 tahun menjalin hubungan Virtual akhirnya Elfesta memutuskan bertemu dengan pacarnya. Namun bukannya pacarnya Elfesta yang datang melainkan istrinya sang pacar yang tengah mengandung. Mengetahui bahwa dirinya telah ditipu membuatnya sangan kecewa.

kebahagiaan yang ia nantikan berakhir menjadi air mata, lagi dan lagi Elfesta harus berusaha kuat.Sedari kecil ia selalu menutupi luka dengan tersenyum, terlebih El terlahir dari keluarga broken home.

Hingga suatu ketika takdir mempertemukan Elfesta dengan Alvares Smith Ackerley seorang pria yang tidak pernah jatuh cinta. Pertemuan tidak terduga mereka inilah yang membuat Alvares dengan Elfesta tinggal di tempat yang sama.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Al akan jatuh cinta kepada El atau sebaliknya?dan apakah Alvares berhasil menghilangkan luka lama Elfesta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flower vin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tak Terduga dan Awal dari Kekacauan

"Nggak pernah nyangka, nolong orang bisa bikin aku ketemu kamu."

 

--------------------------------------

Beberapa hari setelah insiden Elfesta mabuk dan dibawa pulang oleh Alvares, gadis itu mulai menghindari Alvares dengan cara apapun yang bisa ia pikirkan. Setiap kali melihat sosok Alvares, hatinya terasa berdebar aneh. Ia tahu, perasaan canggung mulai tumbuh di antara mereka, dan ia tak sanggup menghadapinya. Jadwal kuliah yang sama sekali tidak mendukung pelariannya membuat Elfesta harus lebih banyak berstrategi untuk menghindari pertemuan dengan dosennya yang tampan namun dingin itu. Meskipun ia berusaha keras, ada perasaan bingung yang terus menghantuinya: kenapa ia begitu takut untuk bertemu dengan Alvares?

Sore itu, Elfesta memutuskan untuk berjalan kaki pulang ke kosannya. Angin lembut menyapu wajahnya, menyusup ke sela rambutnya yang dibiarkan terurai. Langit mulai berwarna keemasan. Hari itu ia sengaja melewati rute berbeda, berharap suasana baru bisa mengurangi kekusutan di kepalanya.

Namun ketenangan itu hanya berlangsung sebentar.

Di seberang jalan, sebuah mobil hitam mewah berhenti. Seorang wanita paruh baya turun, mengenakan blus putih satin dan rok pensil abu-abu. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya terawat dengan riasan ringan yang anggun.

"Orang kaya banget pasti," pikir Elfesta sekilas.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, seorang pria berjaket gelap muncul, berjalan cepat dan mencuri tas wanita itu. Teriakan keras menggema.

“Toloooong! Copet!”

Refleks, Elfesta melompat ke tengah jalan, mengejar si pencuri tanpa pikir panjang. “Hei! Berhenti!”

Si copet menoleh, kaget melihat ada gadis muda mengejarnya. Ia berusaha menendang Elfesta agar menjauh, tapi Elfesta cekatan. Dengan semangat entah dari mana, ia menerjang pria itu dan berhasil menarik tas dari tangannya.

Mereka sempat bergumul. Kuku Elfesta melukai wajah pria itu, namun lengannya ikut tergores pisau tajam.

Akhirnya, si copet menyerah dan kabur. Nafas Elfesta terengah, tangannya gemetar sambil memegang tas yang berhasil ia rebut.

Ia menghampiri wanita tadi. “Tante, ini tasnya…”

Belum sempat wanita itu menjawab, tubuhnya goyah. Ia mendadak lemas dan memegangi dadanya. “Ja... jantungku…”

Elfesta panik. “Astaga, Tante? Jangan pingsan! Tenang, saya bantu!”

Dengan susah payah, ia membantu wanita itu masuk ke mobil. Meski tangannya berdarah dan napasnya berat, ia menyetir menuju rumah sakit terdekat. Pikiran panik dan adrenalin mendorongnya melampaui batas.

 Di rumah sakit, Elfesta duduk di kursi tunggu, tangannya dibalut perban seadanya. Ia menolak dirawat sebelum memastikan wanita itu selamat. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Akhirnya, dokter keluar. “Pasien sudah stabil. Beliau terkena serangan jantung ringan, untung kalian cepat membawanya ke sini.”

Elfesta menghela napas lega. Ia meremas sisi kursi, merasa sedikit lebih tenang.

Tak lama, wanita itu membuka matanya dan tersenyum lemah. “Kau… menyelamatkanku.”

Elfesta tersenyum kaku. “Saya cuma kebetulan lewat, Tante.”

"Astaga, tanganmu berdarah, Nak! Cepat panggil suster!” seru Helen, matanya membelalak panik saat melihat luka di lengan Elfesta.

Wanita paruh baya itu refleks hendak bangkit dari ranjang, tapi segera dicegah oleh suster yang baru masuk ke ruang rawat.

“Tenang, Bu Helen. Biar kami yang urus. Ibu istirahat saja, ya,” ucap suster dengan lembut.

Elfesta menurut saat suster menuntunnya duduk di kursi di sisi ranjang. Gadis itu menggigit bibirnya pelan saat cairan antiseptik menyentuh lukanya—perihnya menusuk, tapi dia hanya meringis tanpa suara.

Suster bekerja cekatan, membalut luka dengan perban steril. Helen mengawasinya dengan penuh perhatian, wajahnya mencerminkan kekhawatiran yang tulus.

Setelah luka selesai dibalut, suara Helen terdengar lebih tenang, tapi tetap hangat.

“Nama saya Helen. Siapa namamu, Nak?”

Elfesta mengangguk kecil sambil mengusap pelipisnya yang basah keringat.

“Elfesta, Tante.”

“Elfesta…” Helen mengulangnya pelan, seolah menimbang-nimbang nama itu. Senyumnya muncul perlahan. “Namanya unik, dan cantik. Berani juga… seperti orangnya.”

Elfesta terkekeh kecil, kaku.

“Tante bisa aja. Tapi saya nggak seberani itu, kok.”

Helen menggeleng, tatapannya lurus dan tulus.

“Tidak semua orang mau menghadapi copet sendirian. Apalagi sampai terluka begitu. Kamu luar biasa, Elfesta.”

Gadis itu tersenyum canggung, menunduk sedikit. Ada rasa malu sekaligus bingung dalam dirinya.

Suara Helen kembali terdengar, kali ini lebih lembut dan dalam.

“Kau harus bertemu putraku. Aku rasa… kalian akan cocok.”

Elfesta langsung mendongak. “Putra Tante Helen?”

Helen mengangguk sambil merapikan selimutnya.

“Iya. Dia anakku satu-satunya. Sifatnya… agak rumit. Terlalu banyak mikir, pendiam. Tapi aku tahu dia bukan dingin—dia cuma terlalu takut untuk merasa. Padahal, hatinya lembut.”

“Kedengarannya… berat ya, Tan,” ujar Elfesta pelan, ada nada ragu dalam suaranya.

Helen tertawa kecil.

“Seperti es batu. Tapi aku yakin, kamu bisa mencairkannya.”

Elfesta mengeratkan pelukannya sendiri, gugup.

“Tapi… saya cuma orang biasa, Tan. Saya nggak yakin cocok dengan anak Tante. Dia pasti luar biasa.”

Tatapan Helen menjadi serius, tapi tetap lembut.

“Elfesta, kamu punya hati yang besar. Dan itu sudah lebih dari cukup.”

Elfesta ingin menjawab, tapi Helen mengangkat tangan, menghentikan kata-katanya.

“Begini saja,” ucapnya sambil membuka laci kecil di sebelah ranjang. Ia mengambil sebuah kotak beludru kecil dan menyerahkannya pada Elfesta.

Elfesta menerima dengan bingung. “Ini…?”

Helen membuka kotaknya perlahan. Di dalamnya ada gelang emas klasik dengan ukiran mawar dan batu zamrud kecil di tengahnya.

“Gelang pusaka keluarga kami. Aku ingin kamu menyimpannya,” ucap Helen mantap.

Elfesta terkejut. “Tante… ini terlalu berharga. Saya nggak bisa terima.”

Helen mengelus lembut tangan Elfesta yang masih diperban.

“Aku memberikannya bukan karena kamu minta, tapi karena kamu pantas menerimanya. Anggap saja… hadiah kecil karena kamu sudah menolong tante tua sepertiku.”

Elfesta masih tampak ragu. Tapi tatapan Helen—penuh kasih dan tulus—membuatnya akhirnya mengangguk pelan.

“Kalau begitu… terima kasih, Tante. Tapi saya tetap nggak janji bisa ketemu anak Tante, ya?”

Helen tersenyum tipis, seperti sudah tahu jawabannya.

“Datang saja besok. Nggak usah mikir yang aneh-aneh dulu. Biarkan hatimu yang memutuskan nanti.”

Elfesta berdiri, berpamitan dengan sopan. Saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit, langkahnya terasa ringan… tapi juga berat. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya—perasaan asing yang belum bisa ia pahami.

Siapa sebenarnya putra Tante Helen itu?

Dan kenapa… hanya membayangkannya saja membuat jantung Elfesta berdetak tak karuan?

 

Di saat yang bersamaan, Alvares berjalan cepat menuju kamar rumah sakit ibunya. Ia mendapat kabar bahwa ibunya dibawa ke rumah sakit karena serangan jantung, dan ia tak sabar untuk memastikan bahwa ibunya baik-baik saja.

Sesampainya di kamar ibunya, Alvares menghela napas lega melihat sang ibu duduk dengan tenang di ranjang, namun tatapan tajam ibunya langsung tertuju padanya.

“Kau terlambat,” tegur Helen dengan nada tajam.

“Maaf, aku langsung datang setelah mendapat kabar,” jawab Alvares sambil menarik kursi di dekat ibunya.

Helen mendengus ringan, lalu melirik jam dinding. “Ada orang lain yang datang jauh lebih cepat darimu. Bahkan sebelum aku sempat kehilangan kesadaran sepenuhnya, dia sudah ada di sisiku.”

Alvares mengernyit. “Siapa?”

“Seorang gadis,” jawab Helen, senyumnya mulai merekah. “Dia menolongku waktu itu. Menghadang pencopet dan membawaku ke rumah sakit. Hebat sekali. Dan manis. Namanya Elfesta.”

Alvares terdiam sesaat. Nama itu terasa asing dan familiar sekaligus. “Tunggu... Elfesta?”

Helen mengangguk kecil. “Iya. Gadis itu bilang dia mahasiswi di kampus tempatmu mengajar. Aku suka caranya bicara, caranya membantu. Instingku bilang dia gadis yang baik.”

Alvares terdiam mendengar nama itu. Elfesta?

'Apakah dia Mahasiswi yang selalu membuat onar di kampus?' batin Alvares dalam hati

“Entahlah Al. Tapi Mama merasa tertarik dengan gadis itu." Helen menatap putranya dalam. “Kupikir... dia akan jadi pasangan yang cocok untukmu.”

Alvares menghela napas. “Ma, ini bukan saat yang tepat membicarakan jodoh. Lagi pula, aku yakin dia bukan tipeku.”

Helen menyentuh tangan Alvares. “Kamu selalu bicara soal tipe, logika, dan rencana hidup. Tapi hidup nggak selalu bisa direncanakan. Kadang, hal yang paling berharga datang dari kejutan yang tak kita harapkan.”

Alvares menghindari tatapan ibunya dan hanya mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ada gejolak yang sulit diabaikan. Nama Elfesta kini terngiang di pikirannya, dan ia merasa canggung dengan semua ini.

Namun, permasalahan makin rumit. Alvares sebenarnya berada di tengah tekanan besar. Ayahnya, Raymond, yang sangat gila harta, telah menyiapkan rencana perjodohan antara Alvares dan Jena Natasya Alexandria, anak konglomerat yang angkuh dan sombong. Perjodohan ini dilakukan dengan dalih untuk memperluas kerajaan bisnis keluarga mereka. Raymond tidak mau menerima penolakan, dan Jena yang ambisius tampaknya akan melakukan apa saja untuk menikah dengan Alvares.

 

-----

Keesokan harinya, suasana kamar rumah sakit kembali tenang. Matahari pagi menyelinap lewat tirai tipis, menciptakan cahaya hangat di dalam ruangan.

Pintu kamar perlahan terbuka.

Elfesta melangkah masuk, membawa kotak makanan hangat yang dibungkus rapi. Ia ingin membalas kebaikan Helen, sekaligus memenuhi janjinya untuk kembali.

Namun langkah Elfesta terhenti seketika saat melihat sosok pria yang berdiri membelakanginya. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan ia tampak sedang menuang air minum ke gelas di atas meja kecil dekat ranjang.

Elfesta menahan napas. Ia mengenali siluet itu terlalu baik.

“Ba… Bapak…” gumamnya refleks, nyaris tak terdengar.

Pria itu menoleh perlahan. Matanya langsung membulat saat mengenali wajah yang tak asing di hadapannya.

“Kamu?” Alvares mengernyit, suaranya terdengar bingung. “Ngapain kamu di sini?”

Elfesta mundur setengah langkah, gugup. “Saya… cuma ngantar makanan untuk Ibu Helen.”

Sebelum suasana makin canggung, Helen angkat suara dengan senyum hangat. “Oh, bagus sekali! Kalian sudah saling kenal rupanya.” Ia menoleh ke putranya. “Alvares, ini Elfesta—gadis yang Mama ceritakan itu.”

Alvares memalingkan wajah, berusaha menutupi keterkejutannya. Ia menarik napas dalam, mencoba mengatur pikirannya. Nama itu... sudah memenuhi kepalanya sejak tadi malam. Tapi ia tak menyangka akan benar-benar bertemu dengannya secepat ini—dan dalam kondisi seperti ini.

Elfesta berusaha mengalihkan perhatian, membuka kotak makanan yang dibawanya. “Ini... saya buatkan rebusan ayam herbal. Untuk bantu pemulihan, Bu.”

“Terima kasih, sayang.” Helen meraih tangan Elfesta dan menepuknya lembut, penuh rasa terima kasih. “Kamu ini memang malaikat kecil Mama.”

Elfesta hanya tersenyum kecil, menunduk malu.

Alvares tetap diam, matanya sesekali melirik gadis itu. Ada yang berbeda dari sosok Elfesta di hadapannya. Bukan seperti mahasiswi keras kepala dan suka membantah yang sering mengacaukan kelas. Wajahnya tampak tulus. Sederhana. Ada kelembutan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Dan entah mengapa, firasat aneh mulai muncul di hatinya.

Pertemuan ini... rasanya bukan yang terakhir.

1
Abell Iya
sangat menarik, cerita nya tidak membosankan
minsook123
Got me hooked, dari awal sampe akhir!
kawaiko
Ceritanya begitu memukau, sulit dilupakan.
I,ts Zero
Terima kasih author, cerita ini bikin hari-hariku jadi lebih indah! ❤️👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!