CINTA DALAM SKETSA SEASON 2
Kisah tentang tiga saudara kembar dalam menemukan arti cinta yang sebenarnya.
"Aku kira kamu adalah wanita yang tidak pernah memandang status seseorang. Tapi ternyata aku salah, kamu sama saja dengan orang kaya di luaran sana. Seharusnya dari awal aku sadar diri." -ARBY IBRAHIM FIRAZ
"Aku tidak pernah membayangkan akan menikah dan menghabiskan sisa hidupku dengan seorang gadis asing!" -ZAHFI IBRAHIM FIRAZ
"Aku tidak pernah menganggapmu lebih dari sekedar adik, jadi jangan pernah bicara omong kosong!" -FIRZA MIKAILA FIRAZ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adeana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SETELAH LIMA TAHUN
Waktu terus berjalan, tak terasa hari ini hari kelulusan. Ketiga saudara kembar itu lulus dengan nilai yang memuaskan begitupun dengan Dea.
Dea nampak cantik dengan kebaya berwarna peach yang membalut tubuhnya. Ia datang bersama ayah, bunda dan juga Farhan.
"Dea! Kamu cantik sekali!" Puji Firza. Dea nampak tersipu mendengarnya.
"Kamu lebih cantik!" Timpal Dea. Firza mengenakan kebaya berwarna biru tua, sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
Tanpa disadari keduanya, seseorang di belakang Dea menatap Firza dengan tatapan kagum tanpa berkedip.
"Masya Allah, Kak Firza cantik sekali... Pokoknya aku harus bisa menjadikan Kak Firza bidadari surgaku..." Tekadnya dalam hati.
"Selamat pagi Pak Arya, Bu Rubby." Sapa Jordan yang langsung berjabat tangan dengan Arya.
"Pagi juga." Sapa Arya balik.
"Bu Rubby, tidak terasa ya anak-anak kita sudah lulus saja. Rasanya baru kemarin kita mendaftarkan mereka masuk SMA." Ucap Zia.
"Iya Bu Zia. Waktu cepat sekali berlalu." Sahut Rubby.
Mereka membaur dengan yang lainnya, menikmati acara itu.
Setelah acara selesai, mereka menikmati makan siang bersama di salah satu rumah makan milik Arya.
"Makanan di sini ternyata tidak kalah dengan makanan yang ada di restoran bintang lima." Puji Jordan ketika menyelesaikan makan siangnya.
"Tentu saja, karena kami menggunakan bahan yang terbaik tapi harga tetap ramah di kantong. Yang penting para pelanggan kami puas dengan begitu para pegawai kami juga akan ikut sejahtera." Ucap Arya.
"Pak Arya ini memang tidak di ragukan lagi untuk jiwa wira usahanya." Ucap Jordan.
"Dan Pak Jordan tidak di ragukan jiwa pebisnisnya." Timpal Arya. Para pria paruh baya itu tertawa, sedangkan para anak hanya menyimak dan menghabiskan makan siangnya.
"Lihat itu, ayah akrab sekali dengan Om Jordan. Mungkin bisa jika mereka menjadi besan." Batin Firza.
"Apa yang kamu rencanakan?" Bisik Zahfi sambil menyenggol pelan lengan adik perempuannya.
"Maksudnya?" Firza balik bertanya.
"Kamu dari tadi melihat Ayah dan Om Jordan begitu serius. Aku curiga kamu sedang merencanakan sesuatu." Jawab Zahfi masih dengan berbisik.
"Merencakan apa? Aku tidak merencanakan apapun." Sangkal Firza.
"Kamu jangan berfikir untuk menjadikan Om Jordan sugar daddymu." Timpal Zahfi, Firza langsung membelalakan matanya.
"Kak Zahfi!" Raung Firza, gadis itu bahkan sampai berdiri dari duduknya.
"Firza, ada apa? Kenapa berteriak seperti itu?" Tanya Rubby. Firza seketika tersadar, pandangan semua orang di meja itu tertuju padanya. Begitupun dengan pelanggan di meja lainnya.
"Ehm, maaf." Dengan kikuk Firza duduk kembali di kursinya, ia melirik sinis pada Zahfi. Sementara wajah Zahfi terlihat datar-datar saja, seperti tanpa dosa.
"Apa yang kamu katakan pada Firza?" Tanya Arby yang duduk di samping Zahfi.
"Bukan sesuatu yang penting, dia saja yang terlalu berlebihan." Sahut Zahfi dengan entengnya. Sedangkan di kursi lainnya seseorang memperhatikan Firza sejak tadi.
"Kak Firza menggemaskan sekali." Batinnya.
...****************...
Lima tahun kemudian...
Rubby's Cake, sebuah toko kue yang kini memiliki banyak cabang. Seorang gadis cantik berhijab dengan senyum yang terus melekat di wajahnya melangkah memasuki toko itu.
"Firza!" Sapa Dea begitu masuk ke toko kue Rubby's Cake yang kini dikelola oleh Firza setelah ia lulus kuliah.
"Hai, Dea!" Sapa Firza balik sambil tersenyum lebar.
"Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" Tanya Firza yang menghampiri sahabatnya, mereka berpelukan singkat.
"Aku tadi kebetulan lewat, jadi aku mampir." Jawab Dea, gadis cantik berhijab itu mengedarkan pandangan seolah mencari sesuatu.
"Cari apa?" Tanya Firza.
"Tidak." Dea menggeleng.
"Oh ya, apa ada menu baru di sini?" Tanya Dea.
"Sepertinya sama seperti di toko milikmu." Jawab Firza.
Sama seperti Firza, Dea juga kini mengelola toko kue milik bundanya.
"Ayo duduk dulu." Ajak Firza sambil menarik tangan Dea ke salah satu kursi kosong di sana.
"Mau minum apa?" Tanya Firza.
"Ck, tidak perlu. Aku sudah minum tadi." Tolak Dea.
"Benar tidak usah?" Tanya Firza lagi.
"Iya, Firza. Oh ya, kamu sendiri? Di mana kedua kakakmu?" Tanya Dea.
"Kak Arby sedang di coffe shop, kalau Kak Zahfi sebulan yang lalu pergi ke luar kota karena di terima bekerja di sana. Kamu tau kan kalau Kak Zahfi memang tidak betah di rumah, dia selalu saja pergi untuk mencari pengalaman baru." Jawab Firza.
Arby kini mengelola coffe shop milik sang ayah, Arya, yang semakin berkembang dan sudah banyak memiliki cabang.
Sedangkan Zahfi memilih untuk bekerja di luar kota. Di antara ketiga saudara kembar itu, memang Zahfi lah yang paling berbeda. Jika Arby dan Firza adalah anak rumahan, tapi tidak dengan Zahfi. Dia akan selalu pergi ke tempat baru untuk mencari pengalaman.
Arya dan Rubby tidak melarangnya, asalkan Zahfi bisa membatasi diri dan menjaga jarak dengan lawan jenis. Mereka juga masih melarang anak-anak mereka untuk berpacaran, walau kini mereka sudah menginjak usia dua puluh dua tahun. Jika mereka menyukai seseorang dan merasa cocok, lebih baik langsung melamar dan menikah saja.
"Kamu pasti kesepian karena Zahfi sudah jauh darimu." Goda Dea, ia masih hafal betul jika Firza dan Zahfi selalu saja berdebat di mana pun berada. Firza langsung cemberut, tapi kemudian ia menghela nafas kasarnya ke udara.
"Ya, memang. Tidak ada yang mengajakku berdebat lagi." Ujarnya sendu.
Firza teringat, sebulan yang lalu bahkan dirinya menangis heboh dalam pelukan Zahfi saat kakak keduanya itu berpamitan.
"Tapi kan masih ada Arby." Lanjut Dea.
"Ya, tapi Kak Arby tidak pernah mengajakku berdebat. Kak Arby kan anak baik." Sahut Firza. Dea terkekeh pelan mendengarnya.
"Apa memang setiap kakak adik seperti itu? Jika dekat pasti ribut dan jika jauh pasti saling rindu?" Tanyanya. Tapi Dea dan Farhan tidak pernah berdebat, mungkin karena usia mereka terpaut cukup jauh.
Firza mengangguk mendengar pertanyaan Dea.
"Sepertinya memang begitu. Bagaimana dengan toko kue milikmu, Dea?" Tanya Firza kemudian.
"Ya masih sama seperti biasanya." Jawab Dea.
"Apa Tante Zia masih suka datang berkunjung?" Tanya Firza lagi.
"Sekarang sudah jarang. Bunda di rumah terus karena Ayah Jordan melarangnya untuk bekerja lagi. Jadi Bunda hanya mengurus Farhan saja di rumah."
"Farhan adikmu? Bukannya dia sudah besar?"
"Ya memang, sudah SMA. Tapi justru Ayah Jordan semakin protektif, katanya di usianya sekarang adalah masa-masa kritis seorang remaja. Ayah Jordan takut jika Farhan salah memilih jalan." Jelas Dea.
Firza mengangguk-anggukan kepalanya, keluarga Dea memang tidak beda jauh di banding keluarganya. Dan Ayah Dea sama tegas dengan ayahnya.