Mira adalah seorang gadis yang ditemukan di depan pintu sebuah panti asuhan.Saat ditemukan dilehernya ada sebuah kalung cantik dengan permata zamrud.Setwlah lulus sekolah menengah,karena tidak bisa melanjutkan kuliah,dia mencari pekerjaan dan diterima sebagai OG di sebuah perusahaan.Tidak disangka dia harus bertemu dengan owner perusahaan tersebut,yang langsung terpana melihat wajahnya yang sangat mirip dengan istrinya.Sayanganya beliau tidak bisa serta merta mengakuinya sebagai anaknya karena musuh-musuhnya,demi menjaga keselamatannya.Dia menikah dengan seorang manager,yang keluarganya hanya menganggapnya rendah,hanya karena dia lulusan SMA dan bekerja sebagai OG,sehingga mereka memperlakukannya dengan buruk.Bahkan dengan tidak mengingat perjuangannya mendapatkan Mira,Agus dengan tidak berperasaan menceraikan Mira.Akankah kehidupan bahagia menghampiri Mira?Bagaimana pula dengan keluarga mantan suaminya?Bagaimanapun kelanjutan kisah Mira?Silakan ikuti kisahnya berikut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa Galea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA MIRANTI
Mira dan Dini sudah selesai dengan kegiatan mereka,lalu mereka membereskan pantry,membereskan semua peralatan,yang sudah kering di lap dan dikembalikan ke lemari penyimpanan.
Mereka bekerjasama membereskan tempat tersebut.Setelah itu,Mira membuat kopi untuk pak Arya dan pak Rony,karena sudah hampir jam tiga .Dia mengantarkannya ke ruang mereka.
Sepanjang dia menghidangkan kopinya,mata pak Arya terus mengamatinya.Entah mengapa,dia begitu tertarik dengan gadis tersebut.
Ada sesuatu yang membuatnya peduli pada gadis yang baru bekerja di perusahaannya tersebut.Hal itu juga yang menarik perhatian pak Rony,yang melihat perbedaan bosnya tersebut.
Setelah mengantarkan kopi,Mira kembali ke pantry dan membantu Dini,membersihkan ruangan tersebut,lalu keluar,mulai membersihkan kaca-kaca jendela dan pintu.
Meskipun sudah ada petugas yang membersihkan,tetapi mereka membantu untuk ikut membersihkan ruangan mereka sendiri.
"Tadi kamu makan di mana,sih,Mir?"tanya Dini.
"Di kantin,mbak,sama temanku,jadi aku tidak menunggu mbak Dini yang sedang antri,maaf,ya,mbak,"kata Mira merasa bersalah.
"Ah,tidak apa-apa,Mir,santai saja.Aku tadi makan dengan temanku,kok,"sahut Dini."Temanmu kerjanya di lantai berapa?"
"Semua di lantai satu,mbak.Yang satu khusus buat membersihkan kaca jendela dan pintu di lantai satu,yang dua kata mbak Hesti bagian logistik lantai satu,mbak,"sahut Mira.
"Ooh ..semoga kamu betah,ya,Mir,meskipun tidak bisa satu lantai dengan teman-temanmu,"kata Dini lagi.
"Pasti,mbak,karena aku butuh pekerjaan ini untuk membantu ibu panti.Akhir-akhir ini donaturnya sering terlambat memberikan bantuannya,mbak,kasihan adik -adik kalau sampai mereka tidak makan."
"Ya,Allah,mulia sekali hatimu,Mir.Lalu apa ketiga temanmu juga berpikiran yang sama denganmu?"
"Aku tidak tahu,mbak,aku juga tidak mau memaksa mereka,mbak,biar lahir dari hati mereka sendiri."
"Kamu benar,Mir,berbuat baik tidak boleh dipaksa,biarkan mereka berbuat baik karena kesadaran mereka sendiri.
Semoga kamu selalu dilimpahkan dengan rejeki yang banyak dan juga diberikan kesehatan dan selalu bahagia,Mir.
Kamu orang baik,semoga segala kebaikan selalu menyertai kamu,"kata Dini,membuat Mira terharu.
"Mbak,memangnya Pak Arya biasa ngopi sore,ya?"tanya Mira,membuat Dini menghentikan gerakannya mengelap kaca jendela.
"Kok kamu bertanya begitu,mengapa?"tanya Dini sambil mengerutkan keningnya.
"Itu,mbak,tadi sebelum keluar saat mengantar makan siang,pak Arya mengatakan kalau nanti jam tiga aku harus mengantar kopi ke ruangan beliau,"kata Mira apa adanya.
"Ooh...aku juga tidak tahu,karena selama ini beliau belum pernah meminta aku membuatkannya kopi di sore hari.
Barangkali beliau baru ingin minum kopi saja,Mir.Ya,sudah,sih,kamu buatkan saja."
"Iya,mbak,nanti aku buatkan.Sebenarnya aku agak takut,mbak kalau harus masuk lagi ke sana,"kata Mira.
"Mengapa takut?Tadi kamu baik-baik saja,kan?"tanya Dini mengerutkan keningnya.
"Tadi siang aku sudah membuat pak Rony membuka pintu,mbak,dan wajah beliau nampak kurang suka,"kata Mira sendu.
"Loh,mengapa kamu meminta pak Rony membuka pintu?"tanya Dini heran.
"Karena aku nggak bisa membukanya sendiri,mbak,kan aku membawa nampan yang penuh makanan,"kata Mira polos.
Dini menepuk dahinya.Salahnya tidak memberitahu Mira kalau ada troli meja di pantry yang bisa dipakai untuk membawa makanan .
Diapun menghentikan pekerjaan mereka dan menggandeng tangan Mira masuk ke pantry,lalu mulai menjelaskan kegunaan meja- meja beroda tersebut pada Mira,yang memperhatikannya lalu tersenyum malu.
"Maaf,ya,mbak,kalau Mira membuat kesalahan.Maaf juga kalau nanti mbak Dini ditegur karena kesalahan Mira,"kata Mira dengan wajah sedihnya.
"Hei...tenang,Mir,"kata Dini menepuk pundak Mira."Tadi Pak Rony tidak mengatakan apa-apa,kan?"
"Tidak,mbak,"sahut Mira sambil menggelengkan kepalanya.
"Itu artinya tidak akan ada yang ditegur,kecuali kamu dapat muka masam saja.Sudah,tenang saja.
Ke depannya,kalau membawa barang atau makanan dan minuman,meskipun hanya dua,kamu bawa meja troli ini,ya?
Jangan sedih,tidak apa-apa.Memang bekerja ada saja seninya,dan kamu sudah mendapatkan seninya,yaitu di beri muka masam,he...he...he..."
Mira tersenyum kecut,karena menyadari kesalahannya,dan memang tadi pak Rony tidak mengatakan apa-apa,tetapi mukanya masam.
Beliau membuka pintu juga,meskipun sebenarnya itu belum pernah beliau lakukan untuk seorang OG ataupun OB.
Mira lah yang pertama mendapatkan perlakuan istimewa tersebut.Dan justru dia menjadi takut karena mendapat perlakuan istimewa tersebut.
Dini berusaha menenangkan Mira,agar gadis itu tidak terlalu ketakutan dan nanti keluar dari pekerjaan ini.Dia tidak ingin gadis itu putus asa.
"Kamu tenang saja,Mira,karena dengan tidak mengatakan apa-apa,itu berarti kesalahan kecilmu juga tidak berarti apa apa buat mereka.
Sudah,sana buat kopi,katanya jam tiga pak Arya minta kopi?Ini sudah jam tiga lebih lima menit, sana buatin.Semangat!"
Mira tersenyum lalu mengambil dua buah cangkir beserta piring kecilnya,lalu meletakkannya di meja troli kecil,karena hanya membawa dua buah cangkir saja.
Lalu membuat kopi hitam untuk pak Arya dan cappuccino untuk pak Rony.Dia menambahkan juga sepiring kentang goreng dan sausnya lalu mendorong meja tersebut keluar dari pantry,menuju ke ruangan CEO ,dan mengetuk pintunya.
Tok...
Tok....
Tok...
"Masuk!"
Mira membuka pintunya,lalu masuk mendorong meja kecilnya,lalu menghidangkan kopi hitam dan camilan di meja pak Arya dan cappuccino di meja pak Rony.
Sepanjang dia melakukan kegiatannya tersebut,mata Pak Arya tak lepas dari dirinya.Bahkan wajahnya sudah terekam jelas di memori pak Arya.
Ada sedikit getaran di dada pak Arya.Wajah cantik gadis itu mengingatkan dia pada wajah cantik istrinya.Sayang sekali,kalung Mira ada di dalam bajunya,sehingga beliau tidak melihatnya.
"Silakan,Tuan,"kata Mira sopan.
"Tunggu,"kata Pak Arya.Mira berhenti sebentar dengan hati berdebar keras."Mulai hari ini jangan panggil kami Tuan,panggil kami bapak,oke?"
"Oh,iya,tu...eh..pak,maaf,saya permisi,"kata Mira lalu keluar dari ruangan tersebut membawa trolinya.
"Ron,kamu melihatnya seperti melihat Kinanti bukan?"tanya Pak Arya pada pak Rony.
"Mirip,sih,bos,tapi...mengapa bos bertanya seperti itu?Jangan bilang kalau pikiran kita sama,ya,bos?"ejek pak Rony .
Ya,hanya dia yang bisa mengejek dan meledek pak Arya,karena mereka sahabat dari kecil.
"Memangnya kamu pikir apa yang aku pikirkan,Ron?"tanya Pak Arya sambil meminum kopinya dan mencomot kentang goreng dan mencocolnya ke dalam saus dan menikmatinya.
Pak Rony hanya terkekeh lalu membawa cangkirnya dan duduk di depan pak Arya,minum dan ikut makan kentang goreng tersebut.
"Dari tadi pagi,aku sudah berpikir yang absurd,Ron,"kata pak Arya."Aku sudah berpikir kalau dia adalah putriku yang dititipkan oleh Kinan kepada temannya.
Sayang sekali temannya meninggal dunia,tertabrak mobil.Aku curiga kalau mobil itu memang mengincar teman Kinan,karena mereka tahu kalau putri kami dibawanya.
Sejak hari itu,kami benar benar e kehilangan putri kami.Dan kamu tahu,Ron?Karena stress memikirkan putri kami,Kinan harus pendarahan hebat,dan untuk menyelamatkan nyawanya,aku terpaksa merelakan pengangkatan rahimnya.
Sekarang kami hanya hidup berdua saja,Ron.Meskipun si brengsek Tedi sudah membusuk di penjara,karena membunuh papa,tetapi kami juga kehilangan putri kami.
Entah di mana dia sekarang,karena teman Kinan meninggal sebelum sempat mengatakan di mana putriku.Tetapi kata Kinan,dia memberikan kalung batu zamrud miliknya,dan juga ada tanda hitam di lengan kirinya dan di bahunya.
Akh....kalau tidak melupakan kesopanan,ingin aku meminta OG tadi membuka lengan bajunya."
"Jangan ngaco,kamu,Arya!"bentak Pak Rony."Bisa-bisa kamu dikira pedofil!"
Tak...
"Aduh....!"
Pak Rony mengusap keningnya.yang mendapat lemparan pena dari pak Arya sambil meringis.
"Kamu pikir aku akan melakukan apa?"bentak Pak Arya.
"Ini sih KDRT!"
"Apalagi itu?"
"Kan aku keluargamu,pelanggaran ini!"
"Huh,cepat habiskan kopimu,kita pulang!Aku mau bercerita dengan Kinanti."
"Boleh,ayo,aku bantu menghabiskan kentang goreng mu!"
"Huh,maunya!"
Mereka segera menghabiskan kentang goreng dan kopi mereka,lalu beranjak dari tempat duduk mereka dan melangkah keluar dari ruangan mereka.
Sepanjang perjalanan pulang,mereka hanya diam ,sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Dalam benak pak Arya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan,tetapi tersimpul dalam satu kata tanya,siapa Miranti?
*************
Bersambung....