Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Mami! Kalau fasilitas yang Zara dapatkan dari Regantara seperti tadi... aku ingin Regantara kembali padaku!" seru Selene dengan nada menuntut.
Selene menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah bersungut-sungut.
Roselin menatap putrinya. "Selene, apa yang kamu bicarakan? Kamu sendiri yang menangis-nangis menolak pria itu karena takut mati!" ucapnya.
"Itu kan sebelum aku lihat sendiri betapa hebatnya kekuatan nama Benedict, Mi!" potong Selene cepat, matanya berkilat penuh keserakahan.
"Mami lihat sendiri kan tadi di kafe? Sopir pribadi kelas atas menunduk patuh padanya! Mobil Rolls-Royce, pengawalan pribadi, gelar Nyonya Benedict semua itu harusnya milik aku, Mi! Bukan milik si anak pembawa sial itu!"
Selene melangkah mendekati ibunya, ia memegang kedua tangan Roselin dengan tatapan memohon. Semua kemewahan itu seharusnya menjadi miliknya!
"Mami kan pintar, cari cara supaya mereka bercerai." desak Selene tanpa malu. "Kita bisa jebak Zara supaya kelihatan berselingkuh atau berbuat salah, lalu Selene yang akan masuk menggantikannya!" ucapnya.
Roselin mengelus dagunya, ia mendadak memikirkan godaan dari ucapan putrinya.
"Kamu benar." gumam Roselin dengan senyum licik yang perlahan terukir di wajahnya, ia mengelus rambut Selene dengan lembut.
"Tenang, Selene. Kamu pikir Mami akan membiarkan anak pembawa sial itu menikmati fasilitas Benedict selamanya?" bisik Roselin dengan kelicikan.
"Lagipula, Mami sudah cari tahu dari orang dalam. Sampai detik ini, Regantara belum pulang sama sekali karena dia pergi ke Jenewa. Pria itu bahkan tidak pernah menghubungi Zara walau cuma satu kali!"
Selene membelalakkan mata, lalu tertawa keras.
"Benarkah, Mi?! Jadi Regantara benar-benar menelantarkan Zara?"
"Tentu saja!" balas Roselin puas.
"Zara itu cuma memanfaatkan fasilitas rumah yang kebetulan ditinggal kosong oleh suaminya. Dia berlagak sok berkuasa di depan kita padahal statusnya di mata Regantara sama sekali tak bernilai! Suaminya tidak peduli, tidak pernah menelepon, dan membiarkannya sendirian seperti barang pajangan mati."
Roselin sudah menyusun rencana beracun di dalam kepalanya.
"Di pesta perayaan perusahaan besok, Mami akan pastikan seluruh gaun, perhiasan, dan keagungan malam itu berada di badanmu, Selene. Kita akan undang Zara datang sendirian tanpa suami di sisinya. Kita pamerkan kekayaan perusahaan Papi yang baru, lalu kita buat dia sadar bahwa tanpa Regantara di sampingnya, dia tetaplah Zara yang malang dan tak punya siapa-siapa."
Selene tersenyum puas, ia bisa membayangkan rasa malu yang akan ditanggung Zara saat hadir di pesta perayaan tanpa didampingi suaminya.
Sementara itu, di kediaman Benedict yang sunyi.
Zara sedang duduk di meja, sambil menatap layar ponselnya yang sepi. Tidak ada satu pun pesan atau panggilan masuk dari nomor Regantara yang sudah diberikan oleh Bibi Tara.
Pria itu benar-benar menghilang di seberang benua setelah malam pernikahan mereka, seolah-olah pernikahan ini memang tak pernah terjadi atau mungkin memang tak pernah ia inginkan.
Tara masuk membawakan nampan berisi teh hangat.
"Nyonya, ada surat undangan resmi yang dikirimkan dari kediaman Adhitama untuk Anda."
Zara menerima amplop berhias pita emas itu.
Saat membukanya, ia membaca tulisan tangan Roselin yang penuh kepura-puraan, sebuah undangan pesta perayaan keberhasilan Adhitama Corp yang digelar besok malam.
Zara meletakkan surat itu kembali ke atas meja, lalu menyunggingkan senyum tipis.
"Apakah saya perlu menyiapkan pengawalan untuk mendampingi Anda besok malam, Nyonya?" tanya Tara sopan.
"Tidak perlu, Bi cukup sopir saja." jawab Zara tenang, menatap pantulan matanya di cermin.
.
Regantara duduk dengan kaki menyilang di kursi kebesarannya, sambil menopang dagu dengan satu tangan. Siluet tubuhnya tampak begitu tegap dan mengintimidasi.
"Bagaimana respon Hendra?"
Alaric yang berdiri tegap di samping meja langsung menyerahkan sebuah dokumen, senyum tipis terukir di wajah sang sekretaris.
"Hendra Adhitama sangat gembira Tuan, begitu menerima konfirmasi awal restrukturisasi utang dari bank, yang sebenarnya menggunakan dana dari perusahaan cangkang milik Nyonya Zara, Hendra langsung mengira Benedict Group telah benar-benar menyuntikkan dana segar secara resmi, Tuan." kata Alaric menjelaskan.
Regantara menyunggingkan senyuman miring yang membuat siapapun yang melihatnya akan meremang.
"Pria tua yang menyedihkan, dia tidak pernah merepotkan dirinya untuk memeriksa detail dokumen?"
"Sama sekali tidak, Tuan." lanjut Alaric. "Roselin, bahkan langsung menyebarkan kabar ini ke seluruh lingkaran sosialita untuk merayakannya, besok malam Hendra dan Roselin akan menggelar pesta perayaan besar-besaran."
Regantara terkekeh pelan, suara kekehan rendah yang sanggup membuat siapa pun merinding.
"Pesta perayaan di atas tanah yang sewa bayarnya sudah kadaluarsa, lalu... apa yang dilakukan istriku?"
"Nyonya Zara memutuskan untuk datang sendirian. Tanpa pengawalan mencolok." jawab Alaric.
Regantara menegakkan posisi duduknya.
Ia menurunkan tangannya dari dagu, lalu mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni.
"Dia sengaja mengulur tali agar mereka semakin tinggi melompat, ya. Gadis yang sangat sabar." bisik Regantara, sudut bibirnya terangkat penuh kepuasan.
Regantara berdiri perlahan dari kursi, lalu ia melangkah santai menuju meja bartender pribadi yang terletak di sudut ruang kerjanya.
Suara dentang halus es batu beradu dengan gelas kristal tebal di dalam ruangan yang sunyi itu, Regantara menuangkan cairan wiski berwarna amber pekat ke dalam gelasnya, lalu memutar-mutarnya perlahan, sambil menikmati aroma alkohol kuat yang menyeruak langsung ke hidungnya.
"Jadi, mereka mengira aku menelantarkan Zara?"
"Benar, Tuan." jawab Alaric yang masih berdiri tegap di posisi semula.
Regantara menyesap wiskinya perlahan. Cairan hangat itu langsung membakar tenggorokannya, hingga memicu senyum tipis di bibirnya, sebuah senyuman yang sangat teramat misterius.
"Biarkan mereka menikmati kebodohan itu." bisik Regantara.
"Tuan." Alaric menyela dengan nada yang terdengar hati-hati dan ragu. "Apakah Anda tidak khawatir jika Nyonya Zara terdesak di pesta itu besok malam? Selene dan Roselin terkenal sangat licik di depan publik." ujarnya.
Regantara membalikkan badan, lalu menyandarkan pinggulnya pada meja bartender dengan satu tangan memegang gelas wiski.
"Jika dia terdesak hanya karena bualan dua wanita dangkal itu, maka dia bukan wanita yang pantas berdiri di sampingku." ujar Regantara tanpa sedikitpun belas kasihan.
Ia meneguk sisa wiski di gelasnya hingga habis, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja.