Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perbedaan istri dan kekasih
Hari ini merupakan hari dimana Rangga berjanji ketemuan dengan Tiwi di Cafe Heaven, tempat dimana Revan bekerja. Mereka sudah membahas acara bertemu ini sejak semalam melalui sambungan telpon. Tapi, pagi tadi Nisa juga mengajaknya jalan-jalan. Istrinya itu beralasan bosan di rumah terus, tapi Rangga malah menyuruhnya untuk beristirahat saja di rumah karena Rangga tidak bisa mengikuti keinginan sang istri, Rangga berkata kalau dia ada pekerjaan mendesak di kantor. Jelas itu suatu kebohongan.
Nisa hanya mengangguk sebagai respon walau dia tau kalau suaminya membohonginya. Nisa sudah melihat jadwal pekerjaan Rangga dan mengetahui kalau pria itu tidak mempunyai jadwal apapun hari ini, itulah sebabnya dia mengajak pria itu jalan-jalan. Nisa juga tahu alasan suaminya menolak ajakannya karena pria itu pasti ingin bertemu dengan kekasihnya, Tiwi
"Ya sudah kalau begitu! Tidak apa- apa! Mas berangkat kerja saja," ujar Nisa lembut sambil tersenyum. Rangga yang melihat sang istri merasakan sedikit penyesalan telah membohongi istrinya itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa- apa. Dia sudah berjanji pada Tiwi, dan disinilah dia sekarang, duduk berdua dengan wanita pujaan hati. Tiwi tak henti-hentinya tertawa bahagia saat mendengar candaan ringan sang kekasih hati, tapi Rangga kembali merasakan hal yang janggal dengan hatinya. Entah kenapa dia merasa begitu bersalah pada Nisa, apalagi saat matanya menangkap pergelangan tangan Tiwi yang memakai gelang pemberiannya.
Wanita itu terlihat begitu cantik. Rangga tidak akan membantah fakta itu. Rambut Tiwi panjang dan hitam lebat, wajahnya cekung dan Tiwi juga memiliki tubuh layaknya model serta kulit yang terawat indah. Tubuh wanita itu tinggi ideal hingga membuat banyak pria ingin memilikinya, tapi anehnya Rangga seakan tidak lagi memiliki rasa ingin memiliki itu. Dia malah merasakan hal lain dengan dirinya.
Rangga membayangkan Nisa yang begitu berbeda dengan Tiwi. Dari postur tubuh, Nisa sedikit pendek dan mungil, wajah wanita itu Chubby yang sebenarnya sangatlah menggemaskan. Nisa sebenarnya sangat manis walau tidak kentara cantik, apalagi Nisa berkerudung, melindungi surai indahnya dari mata para lelaki yang tidak sah untuknya. Kendati demikian, Rangga harus tetap mengakui kalau senyuman Nisa lebih indah dan lebih adem dari senyum Tiwi. Bibir istrinya itu kecil mungil yang membuat senyumannya terlihat makin manis, Rangga bahkan tidak percaya dia pernah menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Mata Nisa bulat besar seperti biji almond, mata yang sebenarnya sangat indah dengan bulu mata lentik panjang yang alami, tapi akhir-akhir ini mata itu selalu terlihat kosong dan sembab, tidak ada lagi cahaya riang di mata indah itu.
Dan perbedaan paling signifikan yang Rangga tangkap antara Tiwi dan Nisa adalah, Nisa tidak pernah menunjukkan wajah jutek dan judesnya. Istrinya itu selalu tersenyum indah walau tampak begitu menyedihkan. Suara Nisa juga begitu indah dan lembut saat dirinya mengalunkan ayat-ayat suci Al-qur'an, dan Rangga juga selalu mendengar setiap doa yang dipanjatkan wanita itu pada Sang Maha Kuasa, doa yang dominan untuk kebaikan diri Rangga.
Rangga bahkan sempat bertanya dalam hati 'Apa wanita itu tidak pernah meminta untuk dirinya sendiri?'. Sedangkan Tiwi, wanita itu adalah kebalikannya dari Nisa. Rangga tidak pernah melihat Tiwi mengerjakan shalat dan sering sekali wanita itu menunjukkan wajah jutek dan judesnya saat kemauannya tidak dituruti, dan yang paling membuat Rangga heran, Tiwi kadang-kadang sering mengeluarkan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan.
"Rangga, kenapa melamun, sih?" tanya Tiwi heran sekaligus sedikit kesal saat kekasihnya itu seperti tidak mendengarkan apa yang diceritakannya barusan. Rangga terlihat sibuk dengan dunia dalam pikirannya.
"Eh, tidak! Aku hanya sedang kepikiran kerjaan kantor yang belum ku selesaikan." Rangga mencoba menghindar sembari membuang pandangan kearah jalan, dan begitu matanya melihat kearah itu, Rangga merasa beku seketika saat melihat sepasang mata yang memandangnya marah serta tangan yang mengepal.
🍀🍀🍀
Annisa hanya mondar-mandir di dalam rumah. Dia merasa begitu jenuh, bosan dengan rasa sepi yang merayapi hari-harinya. Namun, beruntung hari ini Ali, sang kakak datang mengajaknya jalan-jalan
"Hai adikku sayang! Apa kabarmu?" sapa Ali saat Nisa membuka pintu setelah menjawab salam pembukanya
"Kak Ali!" seru Nisa langsung menghambur memeluk sang kakak begitu melihat tampang Ali saat membuka pintu. Nisa bahkan melupakan keadaannya yang sedang hamil besar dan sedikit kesusahan untuk memeluk Ali.
"Oh adikku, lama tidak berjumpa, aku merindukanmu." Ali balas memeluk sang adik sambil sesekali mengecup kepalanya yang berkerudung. Dia sungguh menyayangi adiknya.
Ali sudah hampir tujuh bulan tidak bertemu dengan adiknya ini. Setelah Nisa menikah dengan Rangga, mereka memilih tinggal terpisah dan Ali tidak bisa melarangnya, apalagi setelah itu Ali juga sibuk mengurus perusahaan peninggalan ayahnya hingga hampir tidak ada waktu untuknya hanya untuk sekadar menyapa adiknya itu. Tapi sekarang perusahaannya sudah stabil, dan Ali memutuskan mengambil cuti seharian penuh hanya untuk mengajak adiknya jalan-jalan.
"Iya, aku juga merindukan kak Ali. Kakak apa kabar?"
"Kabar baik, bagaimana denganmu?" tanya Ali lagi saat matanya dengan jelas dapat menangkap ketidak bahagiaan di mata adiknya.
"Aku juga baik, kak"
"Baik apanya heoh! Coba lihat mata dan wajahmu! Kau terlihat semakin kurus dan apa ini! Apa kau habis menangis?" Ali bertanya seraya menyentuh mata sang adik. Ya... Jelas Nisa habis menangis saat mengetahui suaminya berbohong padanya hanya demi bertemu sang kekasih, padahal walau Rangga tidak berbohong, Nisa akan tetap mengizinkannya.
"Tidak, ini tadi aku kelilipan. Makanya mataku sembab." Nisa mencoba memberikan alasan paling logis yang terpikir olehnya secara cepat.
"Sudah, jangan berbohong! Aku tahu bagaimana hidupmu. Dasar bodoh!" cibir Ali bernada lembut pada sang adik yang kini tersenyum.
"Oh ya, mari masuk kak! Kakak mau minum apa?" Nisa menawarkan setelah sebelumnya hanya membiarkan Ali berdiri di pintu.
Ali perlahan melangkah sambil memperhatikan furnitur rumah itu. Tak ada sesuatu yang hidup, rumah itu terlihat begitu sunyi seakan mati. Tidak ada foto pernikahan bahkan foto salah satu dari Rangga dan Nisa. Ali hampir saja menitikkan air matanya membayangkan kehidupan sang adik setelah menikah, tapi untung Nisa cepat datang membawakan segelas minuman untuk kakaknya.
"Mari di minum kak."
Ali menganguk sembari wajahnya celingak celinguk seakan sedang mencari sesuatu
"Iya, tapi ngomong- ngomong kemana suami brengsekmu itu?" tanya Ali yang sama sekali tidak menutupi rasa ketidak sukaannya pada Rangga
"Kakak, jangan pakai embel- embel berengsek dong! Mas Rangga sedang ada pekerjaan di kantor." jawab Nisa yang sedikit menunduk. Dia jelas tahu kemana Rangga pergi tapi tidak bisa memberitahu kakaknya yang mungkin akan semakin membenci Rangga. Nisa memilih berbohong walau jujur dia tidak nyaman melakukannya.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean