Tiga tahun aku merawat cinta dan membesarkan anak seorang diri di balik bayang-bayang kesibukan perusahaan, sementara tunanganku, Rian, bersiap menyambut hari pernikahan kami. Namun, tepat di altar suci di mana harusnya aku bersumpah setia, ia justru mempermalukanku di hadapan ratusan tamu undangan demi bersanding dengan wanita lain yang dihamirinya.
Mereka mengira aku akan hancur lebur dan memohon iba. Mereka salah besar. Aku tidak datang ke altar untuk menangis, melainkan untuk mengambil alih seluruh imperium bisnis keluarganya dan membuat pria itu berlutut di lantai kotor tanpa sisa.
Apakah Rian benar-benar mengira air mataku adalah kelemahan, sebelum aku mencabut seluruh kekuasaannya dalam satu malam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PRESIDIR MAHARDIKA IKUT BERSIMPUH
Pintu kaca utama lobi Gedung Konsorsium Vion terbuka lagi.
Kali ini tidak ada teriakan, tidak ada dorongan kasar. Semua karyawan otomatis mundur selangkah, menahan napas.
Gunawan Mahardika masuk.
Presdir Grup Mahardika, ayah kandung Clarissa, pemilik utang 2,3 triliun yang hampir bangkrut. Di belakangnya sepuluh pengawal berjas hitam dan dua pengacara dengan koper kulit.
Wajahnya merah padam. Jas biru dongkernya rapi, tapi sorot matanya memancarkan amarah yang membunuh.
"PAPA!"
Clarissa yang tadi mematung melihat Rian dan ibunya tersungkur di lantai marmer, langsung berlari memeluk lengan ayahnya.
"Papa lihat! Perempuan sialan itu! Dia bikin Rian berlutut kayak anjing! Dia rebut perusahaan Rian! Panggil polisi, Pa!"
Gunawan tidak menjawab putrinya. Matanya lurus ke depan, ke lift eksekutif tempat Alesha berdiri di samping Vion.
Vion masih merangkul pinggang Alesha posesif. Tatapannya dingin tanpa ekspresi, tapi Alesha tahu tatapan itu yang paling berbahaya.
Gunawan berhenti tiga meter di depan mereka. Ia melirik sekilas ke lantai. Di sana Rian dan Nyonya Listia masih lemas di atas marmer dingin dengan mawar layu berserakan.
"Rian, berdiri!" bentak Gunawan menggelegar. "Kau calon menantu keluarga Mahardika! Apa-apaan kau bersimpuh di lantai lobi seperti pengemis!"
Rian mengangkat kepala dengan sisa tenaga. "Papa Gunawan... tolong... Alesha... dia..."
"DIAM! Kau sudah mempermalukan keluarga kami di Hotel Grand Mulia kemarin!"
Setelah membentak Rian, Gunawan menatap Vion dan mencoba memasang senyum bisnis yang dipaksakan.
"Tuan Vion. Lama tidak bertemu. Saya tidak menyangka jumpa dalam situasi tidak menyenangkan seperti ini."
Vion bergeming. Ia hanya menunggu.
Gunawan lalu menatap Alesha dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sama seperti di hotel kemarin.
"Nona Alesha. Saya dengar pagi ini Anda akuisisi Vantec dengan bantuan konsorsium Tuan Vion. Langkah yang cukup agresif untuk wanita muda."
Alesha membalas tatapan itu tanpa gentar. Setelan jas charcoal grey-nya membuat ia terlihat seperti jenderal wanita.
"Terima kasih, Presdir. Saya hanya ambil kembali apa yang memang jadi hak saya. Paten kode fondasi Vantec itu milik saya. Rian mencurinya dan menjualnya ke keluarga Anda."
Gunawan terkekeh sinis.
"Hak? Nona muda, dalam bisnis tidak ada yang namanya hak. Yang ada hanya modal dan kekuasaan. Dan Grup Mahardika sudah suntik dua triliun ke Vantec. Ada perjanjian investasi sah yang ditandatangani Rian selaku CEO sah. Jika Anda tidak kembalikan Vantec dan buka blokir rekening Rian, kami akan bawa ke pengadilan niaga. Dengan koneksi kami, Anda tidak akan pernah menang, bahkan dengan bantuan Tuan Vion sekalipun."
Ancaman itu menggema. Clarissa di belakangnya tersenyum penuh kemenangan, sementara Rian menatap Alesha penuh harap.
Alesha tidak gentar. Ia justru tersenyum tipis, lalu melirik Vion sekilas.
Vion mengangguk kecil ke sekretaris pribadinya.
Layar proyeksi raksasa di dinding lobi yang tadi menampilkan berita akuisisi Vantec kini berganti. Bukan lagi berita bursa, melainkan sebuah dokumen rahasia berlogo Grup Mahardika.
Sang sekretaris membacakannya dengan suara lantang dan jelas:
"Laporan Audit Internal Grup Mahardika Q2 2026. Kerugian bersih 1,8 triliun. Utang jatuh tempo 2,3 triliun kepada Konsorsium Vion. Jaminan: 40% saham Grup Mahardika."
Seluruh lobi mendadak mati. Tidak ada napas terdengar.
Wajah Gunawan yang semula merah padam karena marah kini pucat pasi seperti mayat. Matanya membelalak kaget. Dokumen itu sangat rahasia, hanya ia dan dewan direksi inti yang tahu.
"Dari mana... dokumen palsu! Itu palsu!" teriak Gunawan panik, suara bergetar.
"Palsu?" Vion akhirnya bersuara. Pelan, tapi setiap katanya menghantam seperti palu godam.
"Presdir Gunawan. Anda lupa? Dua tahun lalu, saat proyek properti fiktif Anda di Jakarta Selatan hampir menyeret Anda ke penjara, siapa yang kasih pinjaman lunak 2,3 triliun?"
Gunawan gemetar.
"Saya," lanjut Vion dengan senyum sinis paling mematikan. "Dan di dalam perjanjian itu ada Klausul 12 Ayat 3: Jika Grup Mahardika terbukti melakukan akuisisi ilegal yang merugikan investor, Konsorsium berhak eksekusi jaminan empat puluh persen saham tersebut dan ambil alih kendali tanpa melalui proses pengadilan."
Clarissa membelalakkan mata. "Papa? Apa maksudnya diambil alih?"
Alesha melangkah maju satu langkah, berdiri tepat di hadapan Gunawan yang kini pucat pasi.
"Presdir Gunawan," sapa Alesha dengan suara lembut dan manis, tapi beracun. "Anda bilang bisnis itu soal modal dan kekuasaan?"
Ia mengangkat Black Card dari genggaman Rian yang masih lemas di lantai.
"Anda benar. Dan hari ini saya punya keduanya. Dengan kartu ini, saya tidak hanya beli Vantec. Pagi ini saya juga baru saja beli empat puluh persen saham Grup Mahardika Anda."
Kekuatan di kaki tua Gunawan runtuh seketika.
Di tengah lobi megah, di hadapan ratusan karyawan serta putrinya yang menjerit histeris, sang presdir yang kemarin duduk di kursi kehormatan dengan senyum angkuh, tersungkur. Ia jatuh terduduk di samping Rian dan Nyonya Listia.
Tiga orang. Mantan pengantin pria, mantan calon mertua, serta Presdir Grup Mahardika yang paling angkuh.
Mereka tersungkur bersama di kaki Alesha.
"Nyonya Vion... ampun... jangan eksekusi saham kami... kami akan bangkrut..." bisik Gunawan dengan kepala tertunduk dalam-dalam ke lantai marmer dingin.
Clarissa yang melihat ayahnya tersungkur di hadapan Alesha, menjerit histeris hingga jatuh pingsan, gaun mewahnya berserakan di lantai.
Alesha menatap pemandangan itu dengan kepuasan dingin, lalu menoleh ke Vion.
"Bagaimana, Ratuku? Cukup untuk membuat mereka mengerti siapa yang mereka buang kemarin?" bisik Vion tepat di telinganya.
"Belum," balas Alesha pelan. "Saya ingin mereka tetap di sana. Sampai mereka bayar lunas rasa sakit saya di altar kemarin."
Vion tertawa rendah penuh kepuasan, lalu memberi isyarat ke para pengawalnya.
"Seret mereka keluar. Dan pastikan headline sore ini berbunyi: Presdir Mahardika Bersimpuh di Depan Nyonya Vion."
Para pengawal bergerak menyeret Rian, Nyonya Listia, dan Gunawan keluar dari ruangan.
Lobi kembali sunyi.
Hanya Alesha dan Vion yang tersisa.
Vion menatap Alesha dengan penuh kekaguman.
"Selamat datang di kerajaanmu, Nyonya Vion. Sekarang, mau kau apakan utang 2,3 triliun mereka?"
Alesha tersenyum, seulas senyum paling mematikan.
"Tagih. Mulai hari ini, setiap rupiah yang dihasilkan Grup Mahardika adalah milikku."