Sepagi ini Adam Halilintar bersama pemuda desa sudah mangkal di depan sebuah Sekolah PAUD, demi melihat Ibu Guru Jingga, guru honorer di sekolah tersebut, kembang desa yang menjadi idaman dan rebutan para pemuda desa.
"Ibu guru datang," seru salah satu kawan barunya yang bekerja sebagai penadah aren.
Lalu dari balik semak, muncul seorang gadis yang ditunggu-tunggu sedari tadi.
Ketika lewat di depannya, matanya mengamati gadis itu dari atas ke bawah. Otaknya merespon dengan cepat informasi yang ditangkap matanya, spontan memberikan penilaian terhadap gadis itu.
Di bawah standar.
Hatinya mendongkol karena gadis yang ditunggunya ternyata jauh dibawah ekspektasinya.
Deretan wanita yang pernah jatuh ke dalam pelukannya, kelasnya jauh di atas wanita yang baru lewat tadi.
Bila ia turut menggoda Ibu Guru Jingga seperti pemuda desa, lantas berpacaran dengan gadis itu, maka akan menjadi pencapaian terburuk dalam sejarah percintaannya.
Ia yakin, dirinya akan menjadi bahan tertawaan dan bahan lolucon teman-temannya di kota.
Karena kenakalan Adam, ayahnya mengirimnya untuk belajar agama di sebuah desa. Di desa itu, ia menemui kehidupan yang jauh berbeda dari tempat asalnya.
Bagaimana petualangan cinta selanjutnya setelah ia tinggal di desa tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Rasa Malu Yang Mengerdil
Malam sunyi dan gelap Bukit Hejo berganti pagi. Sinar matahari masuk melalui kisi-kisi jendela. Aroma makanan yang tercium dari dapur Bibi Hasnah memicu isyarat air liur. Semestinya menjadi pemantik semangat dan inspirasi sebelum memulai pagi.
Ironisnya, Adam duduk tertunduk di depan Ustadz Zaenal dengan rasa bersalah. Bukan karena ia terlelap dan melewatkan Sholat Subuh. Bagaimana tidak, kemarin ia membuat ulah yang menghebohkan penduduk kampung Bukit Hejo dan Kampung Kopi.
Ia beserta pasukan berani matinya pulang dari hutan sehabis menyadap aren dalam keadaan mabuk. Begitu melewati Masjid, ia masuk ke halaman Masjid, memukul bedug Masjid seperti bermain drum, diantara waktu Ashar dan Maghrib. Sehingga para warga yang berada di ladang dan kebun, berbondong-bondong pulang, mengira sesuatu yang darurat terjadi di kampung.
Lalu ia dan pasukan berani matinya bernyanyi dan berteriak-teriak di tengah kampung. Begitu gembiranya bak pasukan tempur yang pulang berperang membawa kemenangan. Padahal meraka pulang hanya membawa jerigen berisi tuak.
Hingga Ustadz Zaenal datang dan menyeretnya pulang. Begitupun pasukan berani matinya, diseret oleh keluarga masing-masing.
Tetapi Arsal bernasib apes. Gangguan sistem saraf yang disebabkan oleh mabuk alkohol membuat Arsal melakukan hal yang lebih memalukan.
Dari depan rumah Teh Jujuk, wanita yang sudah dua kali bercerai di kampung itu, Arsal berpantun sambil berteriak,
"Buah mangga buah jambu, mana bisa dijadikan jamu. Teh Jujuk cintaku, daku siap jadi suami ketigamu. Teh Jujuuuuuuk, ai lopiuuuuu!"
Teh Jujuk muncul dari dalam rumah setengah berlari membawa sapu lidi, menghantam Arsal bertubi-tubi dengan sapu lidi.
Mereka membuktikan diri bahwa mereka adalah sahabat terbaik. Sahabat yang tertawa terbahak-bahak melihat teman mereka menderita kesakitan akibat gempuran Teh Jujuk dengan senjata sapu lidi.
"Maafkan aku, Paman. Kemarin khilaf, minum tuak sampai mabuk," pintanya setelah melihat celah untuk meminta maaf terbuka. Ia tertunduk mengamati jemarinya yang mulai kasar sejak tinggal di Bukit Hejo. Tugasnya mengambil rumput gajah di bukit seberang untuk makanan kambing setiap pagi, membuat tangan halus ala Bandungnya berubah menjadi tangan kasar ala Bukit Hejo.
Yang ia sesalkan bukan meminum tuak manis, tetapi terlalu banyak minum tuak yang telah terfermentasi. Membuat ia dan teman-temannya kehilangan kontrol kesadaran dan melakukan tindakan di luar akal sehat.
Ia merasa bersalah terhadap Ustadz Zaenal yang menanggung malu terhadap warga kampung akibat ulahnya. Seorang pemuda kota yang datang belajar agama, tetapi malah mabuk-mabukan bersama pemuda kampung. Warga bisa menganggap Ustadz Zaenal gagal menanamkan nilai agama padanya.
"Maafkan aku, Paman. Karena ulahku Paman menanggung malu."
Tiba-tiba ia teringat kedua orang tuanya. Yang berkali-kali dibuat malu karena kenakalan yang dilakukannya. Anak laki-laki yang begitu diharapkan kehadirannya, justru merusak reputasi orang tuanya.
Namun justru sikap tenang dan diam Ustadz Zaenal, semakin memperdalam rasa bersalahnya. Karena ia sudah menyiapkan diri menerima amarah dari Ustadz tersebut.
Tubuh kurus Ustadz Zaenal berbalut baju koko putih. Warna favorit Pak Ustadz.
Ustadz Zaenal bergumam pelan,
"Adam anakku. Paman yang kamu pandang sebagai orang yang bertaqwa, bukanlah orang yang tanpa aib dan dosa. Namun karena Allah SWT menutupi aib dan dosa Paman, sehingga dipandang orang yang bertaqwa oleh para hamba Allah."
"Sifat malu memiliki kedudukan yang agung dalam syariat. Sebab sifat malu dapat menahan diri seseorang untuk melakukan perbuatan tercela, hina dan keji."
"Belajarlah mengintrospeksi diri. Apakah sifat malu itu masih tertanam pada diri."
Mungkin ia sudah tidak memiliki sifat atau rasa malu lagi. Sehingga ia merasa santai saja saat melakukan perbuatan tercela. Tidak merasa berdosa. Mungkinkan hatinya telah membatu? Atau mungkin karena ke-malu-an nya besar sehingga sifat malunya mengerdil? Dimana hubungan korelasinya?
Ia melihat Ustadz Zaenal bernafas dengan berat namun tetap tenang. Sebuah ekspresi yang sulit diterjemahkan. Tak nampak gurat emosi sama sekali. Mungkin Ustadz Zaenal telah mencapai tingkat kerohanian yang tinggi. Karena semakin tinggi kerohanian seseorang, semakin rendah emosinya.
"Sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Namun bila setelah melaksanakan sholat kita mendapati hati tidaklah berubah, masih condong kepada maksiat, maka kesempurnaan sholat dipertanyakan."
"Jikalau shalat yang kita lakukan tidak mencegah dari yang mungkar, maka sungguh itu berarti kita semakin jauh dari Allah."
"Salah satu cara mendekati Allah adalah hati yang bersih dan tulus. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan mendekati Allah Yang Maha Pengasih sebelum kita menghilangkan hal-hal yang dibenci oleh Allah. Yaitu melewati batas, berlebih-lebihan, melakukan kezaliman dan menyombongkan diri."
"Runtuhkan tembok kesombongan, keakuan diri, dan berlarilah mendekati Allah."
Ngomong-ngomong, ada yang membuatnya bersemangat saat ini. Karena ia memiliki misi
yang lain selain belajar agama di Bukit Hejo. Misi barunya adalah menggaet kembang desa yang tinggal di dusun sebelah, Kampung Kopi. Namanya Ibu Guru Jingga. Seorang guru PAUD Melati di Desa Cisari.
Kecantikan ibu guru itu konon tersohor ke seluruh pelosok kecamatan. Sama tersohornya dengan ayah Jingga yang galak. Rasa penasarannya meletup-letup. Tidak sabar melihat bagaimana cantiknya Ibu Guru Jingga.
Setelah Sholat Magrib di Masjid dan makan malam di rumah, ia pamit pada Ustadz Zaenal untuk ke rumah Jusman. Ia akan mengajak Jusman ke Kampung Kopi. Demi bertemu wanita tercantik di Desa Cisari.
Bila perlu malam ini ia akan melamar ibu guru Jingga pada sang ayah yang galak. Karena dinginnya Bukit Hejo kala malam nyaris membuatnya membeku. Ia butuh seseorang untuk menghangatkan bagian diri yang nyaris membeku. Bagaimana bila andalannya yang satu itu ikut membeku dan tidak bisa difungsikan lagi?
Tiba di rumah Jusman, ia mendapati Jusman sedang mengaduk kuali besar. Membuatnya terpingkal-pingkal karena Jusman si pemberani tidak ubahnya ibu-ibu, melakukan pekerjaan perempuan.
"Ini lagi masak air nira, mau dibuat gula aren," jelas Jusman sambil mengaduk air nira di dalam kuali dengan arah memutar ke kanan.
Ia duduk tidak jauh dari sahabat barunya. Menahan tawa akibat perut yang merasa tergelitik melihat Jusman memasak. Ia terus mengamati Jusman mengaduk isi kuali yang mulai mendidih.
Jusman kemudian membuang buih yang keluar dari nira yang sudah mendidih menggunakan sendok besar.
"Masih lama?" sosornya, tidak sabar segera melintasi dusun.
"Tunggu sampai mengental lalu dicetak. Mau main domino atau main remi ya?"
"Nggak. Temenin ke Kampung Kopi dong. Datang ke rumah Ibu Guru Jingga. Udah lama nggak dipijat tangan halus." Ia menepuk dan memutar bahunya sendiri seolah bahunya sedang pegal.
"Eleh eleh eleh. Jangan mimpi dipijat Ibu Guru Jingga. Mau mati malam ini dibunuh ayahnya? Besok aja kita samperin di sekolahnya," sahut Jusman melotot padanya.
Setelah direbus beberapa lama, cairan gula di dalam kuali berubah warna secara perlahan menjadi warna cokelat. Mengeluarkan letupan - letupan kecil seperti magma.
Jusman menguji nira itu sudah siap cetak atau belum dengan melarutkan sedikit nira yang dimasak ke dalam air dingin. Karena nira langsung membeku, maka gula merah siap untuk di cetak.
Ia membantu Jusman memasukkan cairan gula ke dalam cetakan bambu.
"Ini dibiarkan semalam, besok pagi baru dilepas dari cetakan dan dibungkus daun jati," terang Jusman.
"Dijual di mana? Harganya berapa?"
"Ya di pasarlah Dam, masa dijual di hutan. Gimana sih kamu." Jusman menertawainya seolah dirinya makhluk paling pandir.
"Hey bung, tempat penjualan sebuah produk itu macam-macam. Bisa di pasar desa, pasar kecamatan, pasar kabupaten. Bisa di minimarket, supermaket, bisa di hotel. Produk yang sama harganya bisa macam-macam, tergantung di jual dimana," paparnya pada Jusman yang menertawainya. "Ini pasti dijual di pasar desa, berapa harganya?" Ia menunjuk gula merah dalam cetakan.
"Sepuluh rebo sekilo," jawab Jusman mendadak berhenti tertawa melihatnya kesal.
"Hanya sepuluh ribu?" pekiknya.
Ia tidak habis pikir bila memikirkan semua tahapan produksi yang dilalui sampai menjadi gula merah, sementara produknya hanya dijual sepuluh ribu rupiah perkilogramnya.
Ia lalu mencicipi segigit gula merah yang telah mengeras.
Pantas temannya tertawa saat ia memakai sepatu sport masuk hutan. Karena harga sepatu sport -nya tidak mungkin terbeli meskipun setahun menyadap aren untuk membuat gula aren.
"Jusman! Dengar baik-baik. Kamu harus jalan jauh masuk ke hutan, bertaruh nyawa memanjat pohon aren. Harus pakai proses maninggur pula nggak langsung disadap. Berhari-hari baru bisa disadap. Sudah disadap masih harus dimasak, dicetak, dibungkus. Trus dijual hanya sepuluh ribu? Kalau gula aren ini hanya dijual sepuluh ribu perkilo kamu rugi. Mending tuak manisnya kamu minum saja daripada dibuat gula."
"Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara meningkatkan nilai jual dari gula arenmu itu," komentarnya, otaknya mulai berpikir. Melupakan niat awalnya datang ke rumah Jusman.
"Bisa dijual mahal ya? Bagaimana caranya, Dam?" Jusman melongo memandangnya, namun sangat tertarik mendengar penuturannya.
"Jadi begini, kita buat brand-nya dulu. Trus buat kemasan yang lebih menarik, kemudian kita lebarkan pemasarannya," tangkasnya.
Tetapi Jusman bukan teman diskusi yang tepat, karena memiliki pengetahuan yang minim serta pergaulan yang sangat terbatas.
"Bung, brem itu bukan dari gula aren. Tapi dari air tape ketan," kekeh Jusman kembali menertawainya.
Bagaimana ia tidak semakin kesal melihat penadah aren yang sok pintar dalam kebodohan?
"Brand, Jusman. Bukan brem. Brand itu nama produkmu. Kamu pengen beri nama apa gula arenmu itu. Yang penting jangan pakai namamu, karena orangnya sendiri sampai sekarang belum laku apalagi produknya," kesalnya, mulai kehabisan kesabaran menghadapi Jusman yang sok tahu dan sering menertawainya.
Pandangannya teralih ke kayu bakar yang masih menyala. Karena ia ingin melempar Jusman ke dalam bara, memanggangnya sampai hangus dan menjualnya besok di pasar desa, dengan harga seribu rupiah. Lebih murah dari harga gula aren.
Sekarang misinya di Bukit Hejo bertambah.
Yang pertama, belajar agama.
Yang kedua, saling menghangatkan dengan Ibu Guru Jingga.
Yang ketiga, membantu Jusman meningkatkan nilai produk gula aren, juga membantu Jusman dalam pemasaran gula aren.
Cukup tiga misi saja dulu. Karena misi pertama sangat berat baginya. Yang paling mudah baginya adalah misi kedua.
Besok targetnya, membawa Ibu Guru Jingga ke dalam semak-semak. Karena di kampung ini tidak tersedia hotel ataupun kos, tempat untuk mojok. Sementara tubuhnya sudah lama tidak merasa sentuhan tangan lembut.
masih mau ngelanjutin cerita nya
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
moga sehat sehat
Selamat datang bayi cantik🥰
makasih k ina udah up kembali🙏🥰