Bagaimana mungkin Carlos harus menikahi seorang sipir penjara tanpa perasaan cinta atau sayang sama sekali.
Pria bertubuh tegap, berkepala plontos ini harus melakukannya demi meringankan hukuman, untuk menyelamatkan diri sendiri agar bisa terbebas dan hidup bahagia bersama sang kekasih yang tengah mengandung.
Fitnah kejam yang harus Carlos terima, membuat dirinya berjuang sendiri di luar sana untuk meringankan hukuman mati, walau sesungguhnya itu tidak akan mungkin ...
Apa yang dialami Carlos ... Sehingga dia harus dijatuhkan hukuman dengan kasus yang sengaja di buat oleh Landong ...
Simak kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu menginginkan ...
Waktu terus bergulir begitu cepat. Tidak terasa kedekatan Carlos dan Latisa semakin membuat Landong harus berjaga-jaga. Bagaimana tidak, Landong pernah mengadakan acara pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya, untuk mencarikan satu pria yang ia selenggarakan pada malam hari.
Entah mengapa, Carlos dan kedua sahabat berkulit hitam, menghadiri acara pesta dansa malam itu ...
Satu pesta besar yang di selenggarakan oleh Landong, untuk para pemuda yang memiliki bisnis yang sama dengannya.
Tentu saja dengan pesta topeng dan kostum yang sangat lucu. Malam itu Carlos dan Claire mengenakan pakaian sedikit berbeda ...
Carlos mengenakan pakaian yang bersayap bak malaikat berwarna abu-abu, sementara Claire Danes yang merupakan sahabatnya mengenakan pakaian berwarna pelangi sesuai dengan aliran yang menjadi pilihan dalam hidupnya, sebagai pencinta sesama jenis.
"Apakah kau yakin, dia memiliki anak gadis yang sangat cantik? Aku tidak ingin meninggalkan kekasih ku yang masih belia, dan aku rasa kita dalam masalah besar, jika harus memasuki gerbang kediaman mafia itu! Karena setahu ku, Paman Herald berada di sana bersama Tante Charlotte. Aku tidak ingin mereka melihat ku, Claire!" tegasnya ketika berada di dalam mobil sedan sport yang terbuka.
Claire justru menepuk pipi Carlos dua kali, dan memberi isyarat pada pria gagah itu sambil berkata, "Tenanglah baby, buka mulut mu! Malam ini milik kita, kita kesana untuk berpesta, bukan untuk berselingkuh dari kekasih mu yang masih muda itu, baby!"
Dengan sigap Claire memasukkan satu pil laknat berlambangkan hati kedalam mulut Carlos, membuat pria itu harus menelan salivanya dengan bantuan air soda yang langsung lolos masuk kedalam tubuhnya.
Tidak menunggu lama. Reaksi pil laknat yang merupakan ekstasi kelas satu berwarna putih kemerahan, bekerja dengan cepat, begitu mereka memasuki gerbang utara kediaman Landong, dengan menghadapi beberapa penjaga yang sangat ketat ...
Betapa takjubnya Carlos, ketika melihat kediaman mewah milik seorang mafia dengan kerlipan lampu diskotik dengan dentuman musik yang semakin meningkatkan adrenalin seorang pria dalam pengaruh pil laknat pemberian sahabatnya, Claire.
Mereka berpisah, agar tidak di ketahui oleh para pengawal kediaman mafia tersebut, bahwa Carlos Tevez datang bersama Claire yang memiliki undangan itu secara langsung.
Benar saja, di dalam sesaknya acara pesta, Carlos kehilangan kendali agar bisa melihat dengan sempurna. Acara begitu terasa sesak, bahkan sangat ramai dengan para pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia Eropa.
Pandangan Carlos membayang serta berkabut, ia merasakan tubuhnya lebih merinding dan terasa sangat dingin, membuat dirinya harus menjauh dari acara yang semakin lama semakin memekakkan gendang telinganya.
Carlos menekan tombol lift, untuk mencari tempat yang sepi, atau keran air, untuk membasuh wajahnya.
Namun, pandangan Carlos yang berkabut seketika harus di kejutkan dengan kehadiran Latisa di hadapannya, yang tengah berdiri sendiri di dalam lift tersebut dengan costum malaikat yang ia kenakan.
"Honey, what are you doing here?" (Sayang, apa yang kamu lakukan di sini ...)
Pertanyaan yang sama Latisa ucapkan dari bibirnya, ketika bertemu dengan Carlos.
"Darling, apa yang kamu lakukan disini? Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu! Cepat masuk!"
Latisa menarik tangan Carlos, kemudian menutup pintu lift, menuju lantai kamarnya, sambil menempelkan bibirnya untuk pertama kali, di bibir sang kekasih agar menutupi wajah Carlos, karena sudah menjadi target operasi sang Daddy.
"Aku mencintai mu, darl ...!"
.
Malam di Kota San Moreno Italia menjadi saksi, bagi dua insan saling mendecap mesra, mencapai nikmat, keindahan surga dunia. Keringat mengucur deras, pada tubuh yang tengah menggeliat hebat, saat keduanya saling memburu nikmat. Tidak ada kata yang keluar dari bibir indah itu, hanya mampu menyapa melalui dessahan indah yang sangat bergairah.
Pria tampan bertubuh atletis, dengan aroma maskulin, masih enggan melepas dekapan nya pada gadis selembut Latisa. Nafas panjang mengusap lembut bagian kenyal yang dirindukan sejak mereka semakin dekat. Jemari saling menyatu dalam genggaman, menanti sang fajar menembus nirwana sang pujangga malam.
Wanita lembut bak penari saling menggenggam, bahkan tak kuasa menahan yang seketika akan mendapatkan keindahan rona memerah. Saat pertama saling menyapa, tanpa mau mendengar rintihan yang seketika terdengar indah.
Pria itu penuh kelembutan melepaskan genggaman, menatap sendu mata teduh yang berada di bawah tubuhnya, seketika ******* bibir tipis nan ranum dengan aroma wangi mawar menjadi candu baginya.
"Maafkan aku," pria itu mengecup punggung telanjang Latisa.
Gadis itu kembali mendekap, sesuatu yang tak biasa dia rasakan, hanya mampu menikmati keindahan malam dari tubuh tegap Carlos Tevez.
"Maaf untuk apa, darl ...?" Latisa tersenyum mengecup bibir basah Carlos.
Carlos mendekap tubuh langsing Latisa, menciumi cerug leher yang sangat khas baginya.
"Apa kamu merasa tidak nyaman?" Carlos kembali mengecup wajah cantik yang masih berada dihadapannya.
Latisa tersipu malu, "Ini yang pertama, tapi aku sangat mencintai mu, jadilah pria terbaik untuk hidup ku, jangan pernah berhenti berjuang untuk ku, darl ..."
Carlos mengangguk, membawa gadis itu dalam pelukannya, membuat keduanya semakin terlelap. Pertemuan singkat memberikan sinyal yang luar biasa bagi keduanya, menghabiskan malam panjang bersama di kamar Latisa, yang merupakan putri kesayangan Landong.
.
Pagi membuka mata, Latisa bergegas membersihkan diri, namun tak mampu menahan rasa perih teramat sangat dibawah sana.
"Agh, hufgh, hmm ..." seketika rintihannya, membuat Carlos terjaga.
"Kamu kenapa?" Carlos mendekati gadisnya.
"Hmm ternyata sangat sakit," peluk Latisa pada tubuh kekar Carlos.
Bergegas pria tampan itu, menggendong gadisnya menuju kamar mandi, membantu Latisa untuk membersihkan diri.
"Bukankah, lebih baik kita melakukannya agar terbiasa dan menjadi lebih dekat?" goda Carlos saat melihat keindahan yang sangat sempurna di matanya.
"Apa kamu menginginkan aku lagi?" Latisa sedikit tersipu.
Perlahan pria itu memeluk erat tubuh gadisnya, kembali menatap, memberikan sesuatu yang semakin menjadi candu dalam merengkuh yang akan menjadi biasa.
Tangan halus yang menopang di dinding, dengan hangatnya sesuatu yang semakin melesat hebat dibawah sana, memberikan sesuatu yang berbeda. Mereka saling menyapa, tanpa mau bibir berucap mengapa ...
Lebih tiga puluh menit keduanya masih berada dalam suasana penuh gairah, semakin lama bibir mereka enggan untuk menyatakan berpisah.
"Hmm apa yang kita lakukan?" Latisa tertawa manja, menepuk dada Carlos yang menatapnya penuh cinta.
Carlos memposisikan menatap gadisnya, "Apakah kamu merupakan putri dari Landong? Hmm mengapa kamu tidak mengatakan apapun pada ku sejak awal, honey?"
"Aku tidak ingin kamu menjauh dari ku, darl. Aku jatuh cinta pada mu sejak awal kita bertemu. Acara tadi malam, merupakan salah satu acara untuk memutuskan, dengan pria mana aku akan bertunangan," ceritanya membuat Carlos terdiam sejenak.
Carlos kembali menutup matanya, ia tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini. Tangan kanannya langsung mendekap tubuh langsing gadis cantik yang masih berada di dekatnya.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar kamar, membuat Latisa bergidik karena merasa ketakutan.
"Latisa!" terdengar suara Landong dari balik pintu.
"Ya, wait Dad!"