Zara florenzia adalah anak dari pengusaha terpandang dikotanya, apapun yang dia inginkan akan sangat mudah dia dapatkan. Namun karena sifat keras kepalanya dia lebih memilih bekerja paruh waktu di toko roti kekasihnya. Mereka saling mencintai bahkan berniat akan menikah.
Namun siapa sangka bahwa ada rahasia dibalik itu, pemuda tampan yang menjadi kekasihnya adalah saudara kandungnya.
Untuk mencegah mereka selalu bersama Zara dijodohkan dengan Zachry Richad CEO muda yang kaku diluar namun manja didalam.
Apakah Zara akan percaya bahwa Aariz adalah saudara kandungnya? dan apa yang terjadi saat dia tahu bahwa semua orang merahasiakan itu darinya?
Lalu siapakah yang berhasil mendapatkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayesha Razeeta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8| Lowongan
Zach masih terus membawa Zara keluar dari cafe, karena tidak ingin membuat tunangannya merasa sedih melihat kekasihnya bersama wanita lain, yah walaupun Sekarang Zach adalah tunangannya. Tetap saja dia tidak suka wanitanya sedih karena hal yang tidak penting.
"Zach..lepas.." Zara terus menarik tangannya yang digenggam kuat Zachry keluar dari cafe.
"Tuan Zachry Richards lepas" Teriak Zara dengan menekan nama Zack karena ia merasakan pergelangan tangannya semakin sakit.
Zack yang mendengar itu, berhenti dan melepas tangan Zara. "Maaf aku hanya -"
"Aku bilang berhenti Tuan Zachry". Zara mengangkat tangan karena tidak ingin mendengar alasan apapun, dia malu karena Zachry menariknya seperti anak kecil.
"Dan satu lagi, kita tidak seakrab itu untuk kau menyentuhku". lanjut Zara
"Dan kau harus ingat Nona kau tunanganku, asal kau lupa". Mendengar zara tidak ingin disentuh olehnya membuat emosi Zachry naik, Zara sepertinya salah karena karena memancing kemarahan Zach.
"Aku tidak lupa, tapi jangan menyeretku seperti itu kau tidak berhak". Pekik Zara yang sudah diliputi emosi sejak tadi.
"Baiklah, Baiklah aku minta maaf, aku hanya tidak ingin kau menatap orang lain.
Zara mengerutkan dahi mendengar Zachry
"Menatap orang lain katanya?" Gumam Zara dalam hati.
"Ah sudahlah..aku akan pulang dengan taxi". Zara hendak melangkah meninggalkan Zach, tapi dengan cepat tangannya ditarik menabrak dada bidang Zachry.
Zara yang terkejut karena Zach memeluknya memberontak ingin dilepas, tetapi semakin Zara memberontak semakin kuat pelukan zach.
"Lepaaassss". Deru nafas Zara naik turun menahan emosi.
Zara masih memberontak, membuat pengunjung lain diam-diam berbisik, tidak ada yahg berani melerai karena mereka tahu siapa Tuan Zachry.
"Aku bilang lepaskah". Zara semakin emosi dan meminta dilepaskan dengan menekan setiap kata-katanya.
Karena Zara semakin tidak terkendali, berteriak dan mengamuk dipelukan Zach membuat zach mau tidak kau terpaksa mengangkat tubuh mungil itu dipundaknya, membawanya ke mobil dan melemparnya masuk, tampa membuang waktu Zach masuk dan memerintahkan supir meninggalkan tempat tersebut dengan zara terus-terusan berteriak.
Sepanjang jalan Zach maupun Zachry hanya terdiam, tidak ada diantara mereka yang memulai percakapan.
Kini hanya mereka berdua didalam mobil, karena ditengah jalan tadi zach meminta untuk mengemudi sendiri membuat Zara semakin takut.
"kau akan bawa aku kemana?" akhirnya Zara membuka suara karena melihat mobil yang mereka tumpangi semakin jauh dari kota.
"Tuan Zach...". Zara melirik ke arah Zach yang hanya diam menyetir.
Zara hanya menghela nafas panjang, karena percuma saja berbicara sekarang, Pria yang sudah menjadi tunangannya ini tidak akan berbicara.
*
*
*
Sementara di cafe tadi Aariz yang melihat semuanya, hanya bisa mengepalkan tangan, melihat kekasihnya disentuh seperti itu.
"Masih ada waktu membuat mereka berpisah". Agatha yang mengerti perasaan mantan kekasihnya hanya bisa memberi dukungan walau disudut hatinya dia tidak suka.
"Sudahlah,, aku akan kembali ke toko, ingat besok kau sudah kembali kerja". Aariz melangkah meninggalkan agatha sendiri yang menatapnya dengan senyum getir.
Sepanjang jalan menuju toko Aariz terus mengumpat karena tidak bisa berbuat apapun mempertahankan kekasihnya.
"Aaaghhh Sial". Pekiknya sambil memukul setir mobil dengan keras, setelah memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan.
Selain karena janji pada Tuan besar Dixon Dad Zara waktu itu Aariz yakin bisa mempertahankan hubungan mereka. Tetapi sungguh disini Aariz tidaklah bisa egois, karena ada yang harus diutaman selain perasaannya .
Drt...drt....
Aariz mengangkat menegakkan badan dan mengambil ponselnya disaku celana, melihat nama yang tertera disana membuat dahinya sedikit mengkerut.
"Hallo"..
(......)
"Baik, minta dia menunggu, aku dijalan".
Setelah menerima panggilan Aariz kembali melajukan mobilnya ke toko, hari sudah sore, jika Zara masih bekerja ini sudah jam pulangnya. Zara diberi keistimewaan untuk itu.
Sedang di bagian sana dua orang manusia tengah terlihat perang dingin. wanita cantik itu lebih memilih diam, karena sejak tadi dia yang ingin pulang selalu di gagalkan.
"Sekarang katakan, untuk apa kau bawa aku kemari"?. Tanya Zara melipat tangan di dadanya. Rambut panjangnya tergerai sangat indah diterpa tiupan angin pantai.
Ya, Zach membawa gadis manisnya ke Pantai. Hari sudah sore, dan Zach ingin membawa Zara melihat matahati terbenam.
"Temani aku melihat matahari terbenam" Jawab Zach acuh, dan duduk diatas bebatuan
"Kau..aku tidak punya banyak waktu untuk itu, lagi mom pasti akan mencariku".
"Mom Lucy tidak akan hawatir karena kau bersama tunanganmu".
Zara menghela nafas pelan, dia baru tersadar, dia sudah bertunangan, dengan pria aneh yang tengan duduk disampingnya. Zara yang masih berdiri sejak tadi akhirnya memilih untuk duduk juga.
"Apakah kau sering kemari?" Tanya Zara akhirnya.
"Dulu, aku sering menghabiskan waktu berjam-jam setelah melihat matahari terbenam". Terlihat senyum tipis dibibirnya
"Sendiri? Atau dengan....?
Zach menoleh ke arah Zara, melihat wanita cantik itu tidak melanjutkan pertanyaannya.
"Kau mau jawaban apa? Jujur atau dusta?" tanya zach balik, masih memandang wajah Zara membuat yang dilihat seperti itu salah tingkah. Malu.
"Coba lihat..." Zara menunjuk ke arah depan menyaksikan matahari yang tebenam perlahan di ujung pantai. mata indah itu membola, takjub.
Sedang Zach masih menatap lekat pada wajah cantik itu tampa memperdulikan yang lain. Semakin dekat, semakin terasa hembusan nafas Zach di kulit wajah Zara. Zara sadari tapi takut berbalik.
"Cup"
Zara membola saat merasakan benda kenyal yang lembut mengenai pipi kanannya.
"Kau-" Zara memegang pipinya dengan matanya melotot ke arah zach yang tersenyum tampa dosa.
Zara menghapus bekas ciuman Zach dengan kasar. Tetapi tangannya dipegang oleh Zach. Satu kecupan berhasil mendarat kembali.
"Cup"
Zara yang sudah emosi karena lagi-lagi Zach mencium pipinya semakin emosi.
Ia ingin melayangkan pukulan ke wajah tampan itu tetapi lagi-lagi zach berhasil menangkap tangannya.
Dengan gerakan cepat Zach menarik tubuh mungil Zara ke pelukannya.
"Jangan gunakan tangan manismu menamparku".
serunya masih memeluk Zara.
Zara yang dipeluk mencoba melepaskan diri tapi lagi-lagi gagal, dan akhirnya dia pasrah, merasakan tangan besar Zach mengusap rambutnya lembut. Sangat menangkan
"Lepaskan aku.."pinta Zara kembali setelah sekian lama membujuk agar zach melepaskan pelukannya.
Perlahan Zach melepas pelukanya dan menatap lekat wajah cantik tunangannya.
"Cup"
Kali ini bukan di pipi tetapi dibibir mungil itu, Zara yang tersadar dari terkejutnya hendak mendorong Zach menjauh tetapi tengannya dengan cepat ditangkap Zach sehingga kecupan di bibir terulang dan kali ini lebih lama dari sebelumnya. Dua bibir itu hanya menempel tidak lebih. Dibawah gelapnya malam yang dingin.
*
*
*
"Baiklah Nona Stella, kau bisa bekerja mulai besok, dan sekali lagi aku ingatkan, jam masuk nona lebih awal dari karyawan lainnya.
Aariz memang sengaja membuka satu lowongan untuk membuat pie di tokonya, posisi yang awalnya kekasihnya punya kini dia berikan ke orang lain. Bukan tampa alasan, karena dia yakin Zara tidak akan kembali bekerja setelah menikah.