Zulaikha dan sang suami terpaksa pindah ke suatu desa karena sang suami yang di pindah tugaskan ke desa tersebut untuk menjadi kepala sekolah di sekolah dasar di sana.
Radit, suami Zulaikha yang usianya sudah menginjak tiga puluh lima tahun, ia terkenal sebagai seorang guru yang cerdas dan begitu disiplin.
Mereka pindah ke rumah sederhana yang ada di ujung desa, rumah yang nampak begitu nyaman, tapi di sebelah rumah tersebut berdiri rumah besar bertingkat dua yang tak terurus dan tak berpenghuni. Kata penduduk setempat, rumah itu merupakan rumah orang kaya yang pernah tinggal di sana, tapi sayangnya sang pemilik rumah tidak pernah lagi berkunjung ke rumah itu, hingga membuat rumah itu begitu kotor dan bila di lihat, begitu menyeramkan, membuat bulu kuduk merinding. Kejadian-kejadian aneh di rasakan oleh Zulaikha sejak ditinggal di sana, yang bersumber kan dari rumah besar tersebut. Kejadian apakah yang Zulaikha rasakan dan alami? Yuk ikuti cerita ini, insya Allah menegangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 01Khaira Lubna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari
Zulaikha berlari dengan cepat menuju rumah yang di anggap nya angker, rumah yang terdapat di sebelah rumahnya. Ia yakin sekali kalau kuntilanak itu membawa Aqeel ke rumah itu.
Begitu tiba di depan pintu utama yang nampak kotor dengan tumbuhan merambat yang sudah merambat menaiki pintu, Zulaikha mendorong pintu itu, ia menanggal semua rasa takut nya, yang terpenting bagi nya sekarang adalah ia bisa menemukan keberadaan sang putra semata wayang. Sang putra yang sangat disayanginya.
Hanya dengan sekali dorongan saja pintu berukuran lebar dan tinggi itu terbuka, Zulaikha melangkah kakinya memasuki rumah besar itu dengan tengkuk terasa merinding, tapi lagi-lagi karena mengingat keselamatan sang putra, akhir nya ia masuk ke dalam rumah itu semakin jauh. Selama melangkahkan kaki ke dalam rumah itu, ia terus memegang tengkuk nya dengan tangan, tatapan mata yang tidak bisa fokus, ia selalu berjaga-jaga, takutnya ada bahaya yang mendekati nya.
Ia berteriak keras memanggil nama Aqeel, suara nya terdengar nyaring memecah kesunyian. Zulaikha menaiki satu persatu anak tangga, ia akan menuju lantai atas, karena ia merasa di lantai bawah tidak ada anak nya di sana.
Sarang laba-laba terlihat di mana-mana di bagian rumah, dan yang lebih membuat Zulaikha merasa merinding adalah ketika ia melihat bingkai foto berukuran besar yang terdapat pada tembok, di lantai dua di dekat ruang keluarga. Iya, Zulaikha tahu itu ruang keluarga kerena di sana terdapat sofa, meja serta televisi yang di atas benda tersebut debu-debu sudah tebal melekat.
Foto sebuah keluarga kecil, dengan satu anak laki-laki seusia Aqeel, wanita muda sepantaran Zulaikha dan seorang pria yang sepantaran Radit, suami Zulaikha. Dan di belakang mereka, terdapat dua orang wanita, satunya wanita paruh baya dan satunya lagi wanita muda yang juga sepantaran dengan Zulaikha.
Zulaikha menatap lekat wanita muda yang berdiri bersama wanita paruh baya tersebut, karena rasa-rasanya dirinya pernah melihat wanita itu, tapi berulangkali ia mencoba mengingat siapa wanita itu, tetap saja ingatan nya tak sampai, wanita itu seakan masih menjadi misteri bagi dirinya.
''Ah, kenapa aku malah fokus melihat orang-orang yang ada di foto ini, aku ke sini 'kan ingin mencari Aqeel,'' Zulaikha berucap di dalam hati, lalu setelah itu ia membalikkan tubuhnya, dan bertepatan dengan itu juga tiba-tiba terdengar ada benda yang jatuh. Zulaikha menoleh kebelakang lagi, dan ternyata yang terjatuh adalah bingkai foto yang ia lihat tadi.
''Astaghfirullah,'' gumam Zulaikha dengan degup di dada nya yang berpacu cepat. Ia memegang dadanya repleks.
Zulaikha tak mau ambil pusing perihal bingkai tersebut, ia lalu melanjutkan langkahnya lagi untuk mencari keberadaan Aqeel.
''Aqeel, Aqeel, di mana kamu, Nak?'' teriak Zulaikha dengan dada terasa sesak. Ia tidak tahu harus mencari Aqeel ke mana lagi, padahal ia sudah menelusuri seluruh bagian rumah, tetap saja ia tidak menemukan keberadaan Aqeel. Rumah besar itu seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, tapi sesekali suara bising bisa Zulaikha dengar dengan jelas, suara bising yang seperti nya berasal dari bawah lemari dan bawah sofa, suara bising yang di ciptakan oleh mahluk kecil seperti tikus, kecoa dan teman-temannya.
''Siapa pun kamu, tolong lepaskan anakku, kami tidak tahu apa-apa. Kami tidak membuat masalah apa-apa. Kami tidak menggangu kamu. Kalau kamu merasa terganggu dengan kehadiran kami di rumah sebelah, maka kami akan segera pergi dari rumah itu. Yang penting sekarang kamu lepas anakku. Aku mohon.'' Racau Zulaikha dengan air mata sudah mengalir membasahi pipinya.
Bersambung.