Vita di jebak oleh sahabatnya, Alika yang terlilit hutang. Sampai Vita melakukan percintaan semalam dengan seorang pria yang tidak dia kenal. Sang sahabat justru kabur, dan tiga bulan kemudian Vita hamil.
Demi tidak membuat keluarganya menanggung aib karena kecerobohannya terlalu percaya pada sang sahabat. Vita pergi meninggalkan keluarganya tanpa pamit secara langsung. Hanya meninggalkan sepucuk surat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Meninggalkan hidup Alika yang dipenuhi penyesalan karena menikah dengan pria yang sejak awal tidak di restui oleh kedua orang tuanya. Yang menyesal hanya karena telah percaya dan jatuh cinta pada James. Alika bahkan lupa, kalau dia pernah menyakiti seorang sahabat yang sudah menganggapnya sebagai saudara. Yang demi dirinya bahkan rela menunda kuliahnya, bahkan karena dirinya sekarang wanita itu tak pernah kuliah. Dan malah harus terus bekerja keras demi anaknya dan keluarganya.
Sejak saat James mendapatkan uang dengan mudah hanya dengan menyuruh Alika melayani teman-teman berjudinya. Sejak itu hidup Alika makin sengsara saja.
***
Meninggalkan kehidupan Alika yang penuh dengan air mata dan rasa sakit. Sejak kehadiran Tegar, kehidupan Vita malah justru semakin berwarna.
Malam hari setelah Tegar tidur, Azizah mendatangi kamar Vita. Sebelumnya dia mengirim pesan pada Vita, apakah Tegar sesudah tidur atau belum. Vita membalas pesan Azizah itu dan mengatakan kalau tegar sudah tidur.
Setelah itu Azizah mendatangi kamar Vita, namun mengajaknya untuk bicara di luar kamar.
"Ada apa Azizah?" tanya Vita penasaran kenapa sampai Azizah mengajaknya mengobrol di luar kamar.
"Ci Vita, saya sengaja ajak ci Vita bicara di sini. Tadi sewaktu saya jemput Tegar dari sekolahnya, ibu gurunya bilang Tegar bertengkar dengan teman sekolahnya. Mereka memang tidak saling pukul, tapi mereka saling dorong. Tegar bahkan mendorong teman sekelasnya yang bernama Mahyon itu dengan kuat hingga dia terjatuh ke lantai. Kata ibu gurunya Tegar, untung Mahyon tidak terluka dan hanya menangis saja!" jelas Azizah.
Tapi Vita langsung menunjukkan ekspresi terkejutnya. Pasalnya dia tidak pernah mengajari putranya untuk bersikap kasar pada orang lain. Vita juga yakin kalau Azizah dan Ama Lin juga sama. Mereka selalu mengarahkan Tegar menjadi anak yang baik dan tidak suka cari masalah.
"Tapi kenapa Tegar seperti itu? apa ibu gurunya menjelaskan padamu Azizah?" tanya Vita yang begitu penasaran.
Azizah terlihat menunduk sedih.
"Masa tuh, saya yang mengaku sebagai Tante dari Tegar. Jadi ibu gurunya Tegar menjelaskan semua pada saya. Problem tuh di mulai karena sudah beberapa hari ini Mahyon said if Tegar tuh tak punya father, tak punya ayah. Tegar said kalau dia sudah sabar selama tiga hari ini Mahyon berkata seperti itu pada dia. Tapi hari ini Tegar said kalau Mahyon berkata kak dia, Mahyon bertanya macam mana rupa ayahnya, Tegar pun diam tak bisa menjelaskan. Sebab tuh, Mahyon makin meledek dan menertawakannya, Seba tuh pula Tegar emosi dan mendorong Mahyon!" jelas Azizah panjang lebar sambil memegang tangan Vita.
"Sepulang sekolah tadi, Tegar pun bertanya pada saya. Seperti apa rupa ayahnya, macam mana cara bicara ayahnya. Saya tak tahu harus jawab apa, tapi Tegar malah tersenyum. Dan itu buat saya sedih!" ucap Azizah yang langsung membuat mata tegar berkaca-kaca.
"Saya bicara pada ci Vita ini sebenarnya tak di beri kuasa oleh Tegar. Sebab Tegar tahu kalau dia tanya soalan ayah dia pada ci Vita, Tegar pun takut ci Vita sedih!" tambah Azizah lagi.
Saat ini Vita sudah tak dapat menahan air matanya. Dirinya merasa sangat terharu terhadap cara pikir putra semata wayangnya yang masih berusia lima tahun itu.
"Saya cuma mau katakan itu saja pada ci Vita. Sebab Tegar melarang saya ceritakan tentang dirinya yang bertengkar di sekolah. Dia takut ci Vita kepikiran. Tapi saya tahu, hanya ci Vita yang bisa memberi pengertian pada Tegar. Saya pamit dulu ci Vita. Good night ci Vita!" ucap Azizah yang langsung berlalu dari tempat itu menuju ke kamarnya.
Vita masih terdiam, dia merasa kalau dia memang harus menjelaskan semuanya pada Tegar. Vita melihat ke arah langit malam yang seperti mendung karena tak ada bintang yang terlihat satu pun. Vita berpikir bagaimana menjelaskan sosok ayahnya pada Tegar. Karena Vita pun tak pernah melihat wajahnya dengan jelas.
Malam itu Vita hanya sekali menyentuh wajahnya, itupun saat dia berusaha untuk mendorong pria itu agar tidak mencium Vita. Tapi seingatnya, pria itu punya lesung pipi yang sama seperti Tegar. Sama persis seperti Tegar, di pipi sebelah kirinya.
Vita juga masih ingat suaranya yang begitu berat dan serak saat bicara beberapa patah kata waktu itu. Dan yang paling dia ingat, pria itu menyebut kata Fanny.
Namun saat Vita berusaha mengingat bagaimana sosok pria itu, air matanya kembali mengalir. Karena saat itu dia juga tak bisa menghapus ingatan bagaimana bering4snya pria itu merenggut mahkota nya.
Vita langsung berdiri dan menyeka air matanya. Selanjutnya dia masuk ke dalam kamarnya dan tidur sambil memeluk Tegar setelah sebelumnya mencium puncak kepala putranya itu.
Keesokan paginya, tidak seperti biasanya Tegar yang akan bangun terlebih dahulu di bandingkan Vita. Pagi ini, Vita sudah bangun terlebih dahulu karena tidurnya juga tidak nyenyak malam tadi.
Saat Tegar membuka matanya, Vita sudah berada di dekatnya sambil memandanginya dengan tersenyum.
"Selamat pagi kesayangan ibu!" sapa Vita.
Tegar langsung terkesiap kaget, dia langsung lompat dari tempat tidur dan melihat ke arah jam weker yang ada di atas meja. Anak kecil yang tampan dan cekatan itu berpikir kalau dirinya terlambat bangun. Tapi saat dia melihat jam wekernya ternyata malah belum waktunya berbunyi.
Sambil mengucek matanya, Tegar meletakkan jam wekernya kembali ke atas meja lalu merapikan tempat tidurnya. Vita sangat bangga pada anaknya itu, dia selalu meletakkan semua barang kembali ke tempatnya tanpa Vita memintanya. Bahkan Tegar selalu membereskan tempat tidur sendiri, dan melakukan semua aktivitas paginya sebelum berangkat sekolah sendiri. Tegar adalah anak yang sangat mandiri.
"Ibu ada pekerjaan ya? ibu akan berangkat pagi? Tegar buatkan roti lapis selai ya Bu!" ucapnya padahal nyawanya saja sepertinya belum kumpul penuh.
Vita lalu memeluk Tegar dengan erat, setelah itu dia merapikan rambut tegar yang seperti rambut singa yang acak-acakan tak karuan.
"Tidak usah sayang, ibu sudah siapkan semuanya. Oh ya, ibu ingin dengar cerita tegar di sekolah kemarin. Kan semalam ibu pulang larut, jadi tidak bisa dengar cerita Tegar!" ucap Vita dengan lembut sambil mendudukkan Tegar di pangkuannya.
"Tidak ada yang istimewa Bu, sama seperti biasanya. Aku datang pagi, menyapu kelas, di beri lolipop oleh Bu Zia tapi karena Emi menangis, aku berikan pada Emi. Lalu aku pulang dengan bibi Azizah!" ungkap tegar yang memang semuanya yang dia katakan itu benar.
Tapi tegar melewatkan pertengkarannya dengan Mahyon.
"Begitu ya? baiklah. Ibu hanya ingin mengatakan pada Tegar. Kalau ayah Tegar itu punya wajah yang sangat mirip dengan Tegar. Ayah tegar juga punya lesung pipi di pipi sebelah kiri. Persis seperti Tegar. Suaranya besar... kalau dia masih ada. Cara dia panggil Tegar pasti begini 'Tegar' begitu!" Vita menirukan suara pria yang berat saat menyebut nama Tegar.
Dan hal itu pun membuat Tegar terkekeh senang. Vita juga ikut tersenyum, entah kenapa melihat Tegar senang saja, dia pun merasa senang.
"Sekarang aku tahu seperti apa ayahku, aku akan katakan pada Mahyon, agar dia tidak mengejekku lagi...ups!" Tegar menutup mulutnya karena keceplosan pada ibunya.
"Tidak apa-apa nak, ibu mengerti. Mulai sekarang Tegar tidak usah perdulikan ejekan orang lain ya nak. Karena apa? karena kita tidak bisa membungkam mulut orang lain untuk berkata yang tidak-tidak, tapi kita bisa pakai kedua tangan kita untuk menutup telinga kita agar tidak terpengaruh pada ucapan yang tidak enak di dengar itu!" jelas Vita yang di dengarkan dengan seksama oleh Tegar.
***
Bersambung...
alur cepat, tdk bertele2 😍😍😍
terimakasih author