Menceritakan kisah seorang perempuan yang bernama Silvia, yang menjalani kehidupan tampa keluarga, dia hidup seorang diri, di usianya yang terbilang muda, sungguh amat kasihan melihatnya harus menjalani hidup tanpa sebuah keluarga, hingga pada akhirnya ada seseorang yang hadir di dalam hidupnya, dan memberikan sedikit warna pada kehidupan sehari-hari nya, namun itu tidak berlangsung lama, sebab ada sosok yang selalu datang di dalam kehidupan nya, untuk mengacaukan segala hari hari nya, begitu pun untuk masa depan nya.
lantas apa kah yang membuat silvia harus hidup sendiri tanpa keluarga?
dan siapa kah yang kini memberikan sedikit warna pada kehidupan silvia?
lalu, siapakah orang orang yang selalu datang untuk mengacaukan kehidupan silvia?
yuk cari tau tentang hal itu di cerita ini, selamat membaca dan semangat 🥳🥳🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Silvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 08 Preman itu selingkuhan mama.
Aku berjalan tergesa-gesa membawa anak anak ke rumah demi keselamatan mereka.
"Kak kenapa sih kita harus kabur?"
tanya fahmi sambil ikut berjalan tergesa-gesa bersama ku.
"Ada yang ngikutin kakak"
jawabku keceplosan, seharusnya mereka gak boleh tau, seketika aku terhenti dari langkah ku, hawatir jika mereka mengadu pada keluarga nya.
"Siapa yang ngikutin kakak?"
tanyak nya fahmi lagi.
"Eeeem, enggak bukan ngikutin, tapi nakut nakutin kakak"
jawabku dengan suara terbata bata.
"Tadi aurel liat orang yang ngawasin kakak, dia siapanya kakak?"
sahut anak itu, ternyata dia sudah menyadari hal iti, gawat jika sampai mereka mengadu pada keluarganya.
"Emm tadi itu bukan siapa siapa adek aurel, kakak gak kenal, mungkin dia lagi liat kita bermain, terus dia inget sama anaknya, bisa jadi kan?"
aku berturur omong kosong pada aurel, dia hanya mengangguk entah percaya atau tidak.
Aku meneruskan jalan ku dengan santai kali ini agar, tidak mencurigakan.
"Paaaa"
teriak fahmi melihat papanya pulang kerja dia berlari menuju papanya,
"Kak silvi, aurel mau ke papa ya"
pinta anak itu.
"Iya boleh"
jawabku sembari mengusap rambut anak itu.
Karena anak anak sudah bersama papanya sebentar saja aku kembali ke paviliun, mengambil gawai ku, lalu kembali lagi ke rumah majikan ku.
"Silvia tunggu"
panggil mas justin.
"Iya ada apa mas?"
tanyaku penasaran.
"Kenapa tadi kamu tergesa gesa?"
tanyanya.
"Aku melihat pereman yang tadi ngikutin aku kak"
jawabku dengan perasaan iba, hawatir jika kak justin mengambil tindakan yang membahayakan dirinya.
"Hhh, apa sih maunya?"
kak justin bergumam.
"Aku juga gak tau kak"
"Di mana kamu liat orang itu?"
"Di pinggir jalan, deket taman samping rumah kak"
"Yasudah kita cek saja sekarang di sana"
ujarnya sembari meraih tanganku, aku juga segera meraih tangan nya dan memohon agar tidak kesana, aku hawatir jika preman itu melakukan sesuatu pada kami.
"Plisst kak jangan"
"Udah ayok gak papa, kamu gak usah takut, ada aku kok di samping kamu"
"Enggak, kak biarin aja pereman itu ngejar terus, yang penting aku selamat"
"Mau sampai kapan kamu di awasi preman terus?, sedangkan kamu gak tau tujuan preman itu apa?"
Aku hanya membalas ucapannya dengan ekspresi bingung, sedangkan tangan ini masih terus berpegangan , tiba tiba ada fani, dia kaget melihat aku dan kak justin berpegangan tangan.
"What ???"
Suara fani membuat aku dan kak justin kaget, namun kak justin tidak melepaskan tangan ku, dia justru meletakkan jari di bibirnya, pertanda agar fani diam dan tidak memberi tahu siapa pun.
Kak justin menarik tangan ku dengan lembut, kami pergi ke tempat preman itu, ku lihat sekilas fani, dia masih terpaku dengan keheranan nya.
Setelah sampai, kami menemukan kertas yang di remas, berbentuk bulat, kak justin membacanya.
"Apa isinya kak?"
tanyaku penasaran, namun setelah membaca dia meremas kembali, dan memasukkan dalam kantong celananya.
"Kak kenapa?"
tanyaku penuh penasaran.
"Dia mengajak kamu ketemu malam ini, di jembatan"
jawabnya terhadapku sembari melepas jauh pandangan nya.
"Tapi aku gak tau kak"
"Nanti malam, kamu gak sendirian, aku bakalan bantu kamu, aku gak mau kalau sampai dia nyakitin kamu"
jawabnya, dirinya kini membuat ku merasa ada yang menyayangi ku kembali.
"Baik lah"
jawabku.
Ke malam harinya. jam menunjukkan pukul 22.45, aku termenung di tepi ranjang, apakah pertemuan malam ini dengan preman akan berjalan lancar?, lagi pula apa sih perlunya preman itu?, sampai aku harus bertingkah seperti ini.
Tiba tiba gawaiku berbunyi, ku lihat ternyata kak justin, akhirnya ku geser warna hijau di gawaiku.
"Halo kak"
"Hai silvia, kamu sedang apa? aku sudah siap, sekarang aku ada di depan pintu paviliun kamu, ayo cepetan"
ujar kak justin sembari berbisik,
aku pun segera membuka pintu, tepat pada saat aku membuka pintu, kak justin seperti melihat seseorang, saking takut nya dia ketahuan, dia masuk dengan terburu-buru, dan jatuh di pelukan ku, lagi lagi aku merasa jantungku berdebar kencang.
"Silvia jantung kamu berdebar kencang"
ucapannya yang masih tergeletak di atas tubuhku, aku hanya diam, sepertinya ada yang berdenyut denyut, tapi entah itu apa, aku tak menghiraukan nya.
"Kak bangun"
pintaku sembari tak sengaja menyentuh kepalanya yang masih nyaman tertidur di dadaku, dengan ke dua tangan ku.
"Maaf silvia maaf"
katanya sembari menyatukan kedua tangan selayaknya orang minta maaf.
Aku pun bangkit dan memaafkan nya, setelah itu, kami bersiap siap untuk pergi menemui preman itu.
Kami menggunakan baju berwarna hitam. menemui preman itu, agar tidak kelihatan oleh siapapun, berjalan sembari celingukan, ber dua, rasanya romantis sekali, bukan rasa takut yang aku rasakan saat ini, tapi baper, setelah berhasil keluar dari kawasan rumah. kami menghampiri sebuah sepeda.
"Kak ini punya siapa?"
tanyaku yang hawatir jika itu milik orang lain.
"Ini punyaku, sengaja aku taruh sini tadi sore, supaya kita lebih nyaman"
"Nyaman gimana?"
tanyaku penasaran.
"Emm maaf bukan nyaman, lebih tepatnya gampang"
jawab nya dengan grogi.
Akhirnya kami berangkat, mengendarai satu sepeda goes ber dua.
Beberapa saat kemudian, kami sampai di sebuah jembatan. tapi preman itu tidak nampak batang hidungnya, kami terus mencari nya, dan kami baru menyadari bahwa dia berada di balik pagar jembatan, hhhhhhh kenapa tidak takut jatuh.
Aku segera menghampirinya, dan bertanya atas keperluan apa dia mengajak ku ketemun di sini, dia segera bangkit dari duduknya dan mengatur posisinya menghadap dirik.
"Aku sedang mencari cari jamila, perempuan yang ada di dalam foto tadi pagi itu"
ucapannya dengan menatap sinis pada ku.
"Iya, dia bernama jamila, maaf sudah berbohong sama kamu, emang ada hubungan apa kamu dengan perempuan itu?"
tanyaku juga tak kalah memberikan tatapan sinis.
"Dia adalah kekasih ku"
jawaban nya membuat hatiku membeku sesaat, kemudian dia melanjutkan pembicaraan nya.
"Dan akhir akhir ini, dia menghilang tanpa kabar, aku sudah mencari dia di rumah nya tapi tidak ada tanda tanda keberadaan nya, dan bahkan di rumah itu, aku rasa tidak ada orang sama sekali, aku hawatir, kemana dia pergi, aku juga menghawatirkan anak ku yang berada di kandungan nya"
bagitu aku dengar mamaku sedang mengandung, netra ini mulai berair dan membasahi pipi ku, kaki ku tak kuat berdiri hingga aku tersungkur di sisi jembatan, berkali kali ku sebut nama mama mama mama, tiada henti, tergambar jelas di fikiranku saat mama di siksa oleh papa, ternyata dia sedang mengandung calon adik tiri ku, kemudian preman itu bertanya.
"Kamu panggil mama?, apa kamu anaknya?"
pertanyaannya itu, ku jawab dengan anggukan saja.
tiba tiba preman itu berubah ekspresi nya menjadi lunak terhadap ku, dan hendak memelukku namun kak justin segera menahan bahu preman itu dengan kakinya.
"Jangan berani beraninya kamu sentuh silvia!!!"
ucap kak justin dengan nada kasar, dan mendorong preman itu menggunakan kakinya, ke belakang hingga terjatuh.
"Heh kurang ajar kamu!!!"
preman itu marah pada kak justin.
"Gara gara kamu, keluarga silvia jadi hancur, dan sekarang kamu mau menghancurkan silvia juga, dengan modus kamu itu?!!!"
ucap kak justin dengan ketus.
Akhirnya preman itu bangkit dan menghajar kak justin, aku takut bila kak justin hancur di buat nya, aku berteriak agar mereka berhenti.
"Stoooooop, berhenti!!!"
suaraku hampir hanis.
Ternyata dugaan ku salah, malah preman itu yang kalah, kak justin menghajarnya dengan membabi buta, aku pun memberanikan diri maju untuk menghadang kak justin, agar tida dapat memukul preman itu lagi, kelihatanya preman itu sudah hampir mati, dia tidak bisa bergerak lagi, tubuhnya bergemetaran.
"Stop kak, aku mohon"
pintaku sembari membingkai kan ke-dua tangan ku di wajahnya, wajahnya penuh keringat dan amarah, namun seketika amarah itu sirna saat melihat ku mendekatinya, aku pun memeluk erat tubuhnya, niat untuk menenangkan nya, tapi aku malah menagis, di pelukannya, menumpahkan segala kesedihan ku di bahunya, dia pun membalas pelukan ku dengan erat, tangis ku semakin menjadi jadi.
klo emang gac bisa jauh, ajak nikah aja si hakim. kamu kan cantik pasti dia kagak bisa nolak