Di dalam sebuah rumah tangga, terkadang hadir pihak ketiga. Tidak selalu berwujud perempuan cantik yang ingin merebut suami kita, tetapi bisa juga berwujud mertua kejam yang selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya.
Mertuaku tidak menyukaiku karena aku miskin. Berulang kali suamiku disuruh menceraikan aku dan menikah dengan perempuan yang lebih kaya. Aku pikir semuanya selesai setelah suamiku meninggal, ternyata aku salah, mertuaku justru semakin kejam. Sanggupkah aku menghadapinya? Namaku Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Tidak Bisa Bersama
Hari berikutnya mertuaku seperti sengaja menjauhkan aku dari Damar. Setiap kali aku meninggalkan dia di kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumah, mertuaku menyelinap masuk ke kamarku dan membawa Damar.
Beberapa kali akh berlari karena mendengar Damar menangis tetapi aki tidak menemukan dia di kamar. Mertuaku sudah membawanya ke kamarnya. Dan kalau sudah begini sulit sekali Damar bisa kembali padaku.
"Bu, aku ingin melihat Damar sebentar saja." Aku memohon di depan kamar mertuaku. Sudah beberapa menit aku di sini tetapi tidak ada sahutan dari mertuaku.
Ini sudah hampir jam sembilan malam dan aku sama sekali belum melihat Damar. Lain cerita jika aku tidak bertemu anakku karena pergi bekerja, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini.
Aku dan anakku tinggal di rumah yang sama tetapi aku hanya bisa mendengar suara tangisnya tanpa bisa menggendongnya. Setiap dia mulai menangis mertuaku hanya berteriak dari dalam kamarnya agar aku menyiapkan ASI dalam botol bayi.
Mertuaku yang memandikan Damar, mengganti popoknya, menidurkannya, bisa dibilang Damar hampir tidak pernah lepas dari tangan mertuaku. Bahkan kalau dia pergi keluar karena sedang ada acara, dia memilih untuk menyerahkan Damar kepada Heni, bukan kepadaku ibunya. Apakah aku seburuk itu di matanya?
"Bu, tolong buka pintunya. Aku hanya ingin bersama anakku sebentar saja," ucapku lagi. Kali ini aku sudah hampir menangis karena aku sudah terlalu lama menunggu. Aku bahkan sampai duduk di lantai di depan kamar mertuaku.
Perlahan pintu dibuka.
"Sssstt ... Damar sudah tidur, biar malam ini dia tidur di kamarku. Kamu lelah kan seharian mengurus rumah. Dan jangan berteriak di depan pintu, kamu bisa membangunkan dia!" ucap mertuaku.
"Tapi Bu ... " Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku mertuaku sudah menutup kamarnya lagi. "Bu, aku hanya ingin melihat Damar, kalau ibu ingin tidur dengan Damar silahkan. Tapi ijinkan aku melihatnya sebentar."
Pintu kamar terbuka lagi. Aku merasa bahagia karena mungkin mertuaku berubah pikiran setelah mendengar kata-kataku.
"Jangan lupa stok ASI yang banyak agar aku tidak perlu membangunkan kamu jika Damar menangis nanti!"
Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Mungkin dia membenciku tetapi Damar adalah anakku. Akulah yang berhak atas anakku tidak peduli latar belakangku. Apa mertuaku menganggap aku tidak pantas menjadi ibu dari cucunya karena aku miskin? Apa dia pikir aku tidak becus menjadi seorang ibu?
Aku pergi ke kamarku dengan putus asa. Sampai di dalam kamar aku tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan kasur Damar sudah dipindahkan ke kamar mertuaku tanpa sepengetahuanku.
Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Lelah? Tentu saja aku sangat lelah tetapi mata ini tidak mau terpejam. Aku terus memikirkan Damar. Aku tahu dia baik-baik saja di kamar neneknya tetapi tetap saja hatiku tidak tenang.
Aku meraih ponselku lalu aku coba untuk melakukan panggilan video dengan Handi. Mungkin ini akan membuat perasaanku sedikit lebih tenang.
"Hai ... Kamu belum tidur?" sapa Handi begitu dia melihat wajahku di layar ponselnya.
Aku menggeleng. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku juga tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Handi soal ibunya yang seakan menjauhkan aku dari anakku sendiri. Aku juga ragu apa dia akan percaya.
"Bagaimana harimu?"
"Aku bosan karena tidak ada kamu di sini. Bagaimana Damar? Apa dia rewel? Apa dia merindukan ayahnya?" tanyanya sambil menggodaku.
Aku hanya tersenyum sambil terus memandangi wajah Handi.
"Mana dia? Aku ingin melihatnya?"
"Damar bersama ibu, seharian tadi dia bersama ibu. Bahkan sampai sekarang ibu belum puas bersama cucunya dan ingin agar Damar tidur di kamarnya," jawabku sambil tersenyum.
Aku berusaha mengatakan itu dengan santai, tanpa beban seolah itu bukan masalah buatku. Bagaimanapun juga aku harus menjaga perasaan Handi apalagi dia sedang jauh di sana.
"Wajar sih, mungkin ibu lagi senang-senangnya punya cucu lagi. Cucu-cucunya sudah besar-besar. Anak Mbak Eka, cucu terkahir ibu sudah mau SMP. Jadi mungkin sekarang ibu posesif sama anak kita karena sudah lama tidak ada bayi di keluarga kita."
Mataku berkaca-kaca mendengar jawaban Handi. Seandainya dia tahu apa yang aku rasakan.
"Emm ... Kamu tidak apa-apa?" tanya Handi. Mungkin dia melihat ekspresi wajahku yang berubah.
Aku mengangguk.
"Apa kamu sedih? Kenapa kamu menangis?"
"Aku tidak menangis," jawabku dengan suara yang mulai parau.
"Kamu tidak bisa bohong. Jawab Aku Emma, kenapa kamu sedih? Ada masalah apa?!"
"Aku kangen sama kamu Han ... " jawabku dengan air mata yang mulai menetes. Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku lagi. Aku ingin memang sangat merindukan suamiku ini, tetapi alasan aku menangis bukanlah karena rasa rindu ini.
Handi tertawa mendengar jawabanku. "Benarkah?!" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya, berlagak seperti seorang badboy. Biasanya aku akan tertawa jika dia melakukan ini tetapi kali ini aku sedang tidak bisa diajak bercanda karena ini bukan tentang dia. Ini tentang aku, anakku dan ibumu.
"Sabar ya Emm, sekarang memang kita terpisah harus seperti ini. Aku sedang berusaha. Aku akan mengumpulkan uang agar kita bisa membuka usaha, setelah itu kita tidak akan berjauhan lagi."
"Tabunganmu habis untuk membayar biaya operasiku kemarin. Mungkin ibu benar, aku sudah menghabiskan uangmu."
"Jangan bicara seperti itu! Semuanya akan kuberikan untukmu dan anak kita. Uang bisa dicari! Aku akan bekerja keras dan mulai menabung lagi," jawab Handi dengan suara yang juga mulai parau. "Maaf ya Emm, aku tidak bisa memberi kamu kehidupan yang layak," lanjutnya tanpa mau menatap layar handphonenya. Aku tahu dia sedang menyembunyikan air matanya.
"Ini sudah sangat layak buatku."
Aku tidak tahu kenapa kangen-kangenan ini bisa menjadi sangat mellow seperti ini.
Untuk beberapa saat kami sama-sama larut dalam kebisuan.
"Tidurlah ... Ini sudah malam." Aku mengakhiri pembicaraan. Handi mengangguk lalu aku pun menutup teleponku.
Selesai mengakhiri telepon dengan Handi aku mendengar suara Damar menangis. Aku segera berlari ke kamar mertuaku.
"Bu Damar menangis, biarkan aku menyusuinya," ucapku. Mertuaku keluar sambil menggendong Damar. Aku pikir dia akan memberikannya padaku tetapi aku salah.
"Mana? Apa kamu sudah memompa ASI mu?!"
Aku menggeleng. "Berikan saja Damar padaku. Aku bisa menyusuinya langsung tidak perlu memakai botol bayi."
Aku tidak tega mendengar Damar menangis semakin keras. Ingin sekali aku merebut Damar dari tangan mertuaku tetapi dia selalu berbalik setiap kali aku mendekat. Dia menggendong Damar dengan satu tangannya sementara tangan satunya dia gunakan untuk menghalauku seakan aku nyamuk yang akan menggigit Damar. Aku takut jika aku memaksa Damar bisa terjatuh dan dari tangannya.
"Bukankah tadi aku sudah menyuruh kamu agar menyetok ASI?! Kenapa tidak kamu lakukan?! Kamu tega ya membiarkan anakmu nangis karena kehausan seperti ini?! Kamu sengaja?! Ibu macam apa kamu ini?!"
keluarga besar heni belum tulus ngakui kesalahannya...huhuhu
Semangat ka author,di tunggu upnya ka
Terima kasih telah menghadirkan cerita bagus untuk kami