' tak lebih dari wanita bodoh, yang bertahan dengan hitam ' batin Loren
" kamu bisakan mempertahankan Geo? "
pertanyaan yang berhasil mengusik keraguan hatinya lagi, namun Loren hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan wanita itu. Hatinya bimbang memilih antara bertahan atau meninggalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin_mars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh ( strange )
Di dalam kamar asrama, Loren tengah berkutat dengan laptopnya untuk mengerjakan laporan hasil penelitian, ia duduk diatas ranjang menghadap jendela. Tanpa sadar seorang gadis masuk membawa koper dengan mengendap-endap " Duar! " gadis itu mengageti Loren.
Loren yang terkejut langsung memegangi dadanya, dan menatap gadis itu dengan kesal " Mela! Ngagetin aja sih "
iya, gadis yang mengagetkan Loren adalah Mela, teman Loren sekamar. Roomate, namun beda fakultas dengannya. Jika Loren anak fakultas ekonomi, sedangkan Mela fakultas pendidikan.
" serius amat sih! sampe nggak nyadar gue buka pintu "
" kok Lo udah balik aja, oh ya btw, gimana kabar nyokap Lo? Udah tenang kan? "
" gila Lo Ren! Lo kira nyokap gue mati apa? Kan Lo tahu yang mati itu bokap gue "
beberapa hari yang lalu Mela pulang ke rumahnya karna dikabarkan ayahnya meninggal, dan saat itu pula ia tidak masuk kuliah, walaupun dikampus ia juga tidak akan masuk kelas, karna kebanyakan mahasiswa semester akhir lebih sering menghabiskan waktu di perpus untuk mengerjakan skripsi, atau beberapa dari mereka juga akan melakukan bimbingan dari dosen.
" Ish, bukan gitu. Maksudnya itu nyokap Lo udah rela ngelepas kepergian bokap Lo? Gitu "
" oh, kalo urusan rela gak rela sih gue kurang tahu pasti, tapi nyokap gue bilang hidup nggak harus selalu bersama buat maju, kadangkala kita juga harus bisa sendirian, lebih tepatnya sih mengandalkan diri sendiri, dan nyokap gue gak mau kalo gue terus-menerus sedih karna rasa kehilangan. "
" salut gue sama nyokap Lo, dia masih bisa bersikap bijaksana ditengah kesedihannya "
" tapi kalo gue boleh jujur, gue masih sedih atas kematian bokap gue. Gue masih belum bisa buat dia bangga " melapun menangis, Loren dengan sigap meminjamkan bahunya untuk Mela, ia mengusap-usap punggung Mela untuk menyalurkan ketenangan.
apa yang dirasakan Mela, Loren pernah mengalaminya, kehilangan sosok yang berharga untuknya, dan belum sempat ia membahagiakan.
Setelah dirasa Mela sudah cukup tenang, Lorenpun mengajak Mela untuk pergi keluar asrama " daripada sedih, mending kita keluar nyari sesuatu yang nyenengin gitu "
" boleh..hiks..tapi gue...hiks... mandi dulu terus ganti baju, soalnya gue belum mandi dari tadi pagi. "ucap Mela sambil mengusap sisa air mata dan melepaskan diri dari pelukan Loren.
" hah? Pantesan dari tadi gue nyium bau kecut " Loren menutup hidungnya seakan-akan memang bau, padahal ia tidak mencium bau apa-apa
Mela yang mendengar itu reflek mencium bau dibadannya, namun yang ia cium justru parfum yang ia kenakan, sontak Mela langsung memandang Loren kesal karna merasa dibohongi " gak ada bau Loren! Sengaja banget sih, buat gue kesel "
Lorenpun hanya tertawa" udah gih sana mandi. awas kalo Lo lama, gue tinggal "
Mendapat ancaman dari Loren, melapun langsung berlari keluar kamar, dan menuju kamar mandi asrama.
###
" harusnya gue udah tahu Lo mau ngajak gue kemana " ucap Mela sedih. Bagaimana tidak? Harusnya dia tahu bahwa Loren akan mengajaknya kemana.
Disinilah mereka di depan perpus
" udah ayo! " ajak Loren masuk, Mela menghembuskan nafas malas, namun tak urung ia juga mengikuti loren
Mereka berdua masuk ke dalam perpus, dengan Mela yang memasang wajah enggan " kenapa harus kesini sih? Kenapa nggak ke cafe atau kalo nggak kita ke taman hiburan gitu? Lo nggak bosen apa ke perpus terus? nggak ada hari tanpa ke perpus "
Loren menemukan tempat duduk kosong iapun mengajak Mela untuk duduk dan mulai membuka tas untuk mengeluarkan laptopnya, lalu memandang Mela yang memberi tatapan malas dan cemberut " udah nggak usah cemberut gitu, lagian disini kan lebih enak, lebih bermanfaat dan yang paling penting kalo laporan udah selesai terus diACC dosen kan kita udah bisa bebas mau ngapain aja "
" iya deh terserah Lo, ngalah aja gue. harusnya gue udah mulai curiga, Lo nyuruh gue bawa laptop, dan bodohnya gue nggak menyadari hal itu sama sekali, malahan nurutin Lo tanpa bertanya " ucap Mela mengeluarkan laptopnya dengan sedikit kesal
Loren hanya tertawa " makanya hal kayak gini kali ini Lo buat pelajaran, biar seterusnya nggak ke ulang lagi "
" emang paling happy Lo buat gue kesel "
" why not? "
Merekapun mulai fokus pada laptopnya dan mengetikan setiap kata ke atas keyboard, tak lama kemudian Loren berdiri. Ia menuju ke salah satu rak untuk mencari sebuah buku, begitu mendapatkan buku yang dicari iapun segera mengambilnya, namun tangannya secara bersamaan disentuh orang lain. Ia menoleh kearah sang pemilik tangan. Ternyata itu adalah Geodan
Loren tertawa, Geodan juga.
" for secondly "
Loren mengernyitkan dahi merasa bingung dengan ucapan Geodan " maksudnya? "
" ini kedua kalinya kita mau mengambil sesuatu secara bersamaan tanpa sengaja " ucap Geodan, namun itu adalah bohong karna pada kenyataannya itu bukanlah tanpa sengaja tapi memang disengaja, karna Geodan sudah tahu Loren ada disini saat ia akan ke perpus juga, ia memperhatikan Loren sedari tadi.
Loren menanggapi dengan senyuman " hanya kebetulan doang " Loren menarik tangannya yang tadi dipegang oleh Geodan
" Lo bisa ambil buku ini, biar gue cari buku yang lain "
" as you wish " Lorenpun mengambil buku tersebut, dan berlalu dari hadapan Geodan.
Melihat hal itu, Geodan mengikutinya dari belakang sampai Loren duduk di mejanya tadi bersama Mela.
Saat ini Mela sudah menidurkan kepala diatas lengannya sambil memejamkan mata, melihat hal itu Loren hanya menggelengkan kepalanya, karna mengira Mela tertidur.
Ia baru menyadari bahwa Geodan mengikutinya " gue boleh duduk disini? " tanya Geodan,
Loren mengangguk, Geodan menarik kursi disamping Loren.
dari samping Geodan memperhatikan Loren yang kembali fokus menatap laptop dan buku tadi secara bergantian. benar-benar terlihat imut dan cantik secara bersamaan. Beruntung ia tadi membawa laptop, jadi dia punya alasan untuk duduk berlama-lama di samping Loren, iapun mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.
Tanpa Geodan sadari Mela yang dari tadi sebenarnya tidak tertidur, tapi hanya merasa malas saja. Memperhatikan setiap gerak-gerik Geodan sedari ia meminta izin untuk duduk disamping Loren tadi.
Mela mengangkat kepalanya dan mulai menatap laptop, namun perhatiannya terus saja teralihkan ke arah geodan, merasa aneh dengan cara Geodan menatap Loren, hingga suara dering dari ponsel Loren terdengar.
Barulah itu Geodan mengalihkan tatapannya, begitupun Mela yang mengalihkan tatapan matanya ke arah ponsel Loren yang berada di samping laptopnya,
Melihat nama si penelpon, rupanya itu adalah Geovano, Loren mengangkat panggilan tersebut.
" Halo Ge? Ada apa? "
"..."
" aku diperpus kamu kesini aja sekarang! "
"..."
" aku sama Mela, dan disini juga ada Geodan"
panggilanpun terputus secara sepihak, sudah seperti biasa,
" kenapa? "
" Geo mau kesini " ucap Loren, lalu meletakkan ponselnya kembali, Melapun mengangguk, dan melirik ke arah Geodan, ia mendapati ekspresi wajah Geodan yang berubah, aneh.
tak terlalu lama mereka berkutat dengan laptopnya, Geopun muncul, sambil memeluk Loren dari belakang dan mengecup puncak kepalanya.
perhatian Lorenpun teralihkan, ia tersenyum melihat siapa yang menciumnya, dan siapa lagi itu kalau bukan Geo.
Geo menepuk bahu Geodan memintanya untuk pindah duduk kesamping Mela, karna disitu hanya menyediakan 4 kursi dengan duduk saling berhadapan.
" kenapa? " Geodan menatap Geo datar
" pindah! " seru Geo datar juga
" kenapa gue harus pindah? "
" Lo masih nanya? gue mau duduk disamping pacar gue " ucap Geo menekankan kata pacar.
Dengan terpaksa Geodanpun pindah mengangkat laptopnya dan iapun duduk disamping Mela.
Saat duduk ia menatap Geovano dengan kesal, dan Melapun mendapatkan tatapan tak suka lagi dari Geodan, Mela bertanya-tanya, ada apa dengan Geodan? Bukannya hal yang wajar kalau Geo mau duduk disamping pacarnya sendiri? kenapa dia harus kesal?
" ngapain Lo liatin gue kayak gitu? " tanya Geodan yang tidak sengaja melihat tatapan aneh dari Mela, Melapun langsung gelagapan mendapat pertanyaan tersebut, iapun langsung kembali fokus pada laptopnya.
Geo yang melihat itu merasa ada yang aneh dengan Geodan, namun perasaan aneh itu segera ia tepis. Karna tak mungkin ia mencurigai Geodan begitu saja.
" kamu udah makan? " tanya Geo pada Loren
Loren hanya meringis ke arah Geo, lalu menggeleng " belum "
Geopun memasang ekspresi lelah, karna Loren selalu saja begitu, jika ia sudah belajar maka ia akan lupa dengan segala hal. itu juga yang membuat Geo selalu mengingatkannya.
tatapan Geo beralih ke arah Mela " Lo gimana sih jadi temen? Kenapa Loren nggak Lo ajak makan dulu sebelum kesini? " marah Geo pada Mela. Mela merasa takut menatap wajah garang Geo, bagaimana tidak? Ia dimarahi begitu saja, ia hanya bisa menunduk " maaf "
" maaf Lo nggak bisa buat dia kenyang " ketus Geo.
" Geo ini bukan salah Mela, ini salah aku. Aku yang ngajak dia kesini, lagipula Mela juga belum makan, tapi aku yang buat dia ada disini " jelas Loren memberi pengertian pada Geo.
Geo menatap Loren lembut lalu mengelus puncak kepalanya " lain kali makan dulu sebelum kemana-mana, jangan buat orang lain khawatir, ngerti? "
" iya aku ngerti, aku minta maaf ya buat kamu khawatir. janji deh sebelum kemana-mana aku bakalan nyempetin diri buat makan dulu "
" udah terlalu sering kamu kayak gini "
" iya, tapi aku kan kali ini udah janji. mana mungkin aku bakalan ingkar sama janji aku sendiri "
" ya udah, ayo makan! "
Lorenpun mengangguk, ia membereskan barang-barangnya.
Geo melihat Mela yang masih menunduk, Geo jadi tak tega melihatnya " Lo juga ikut! " sontak Melapun langsung mengangkat kepalanya menatap Geo.
" nggak usah! Lo sama Loren aja! " tolak Mela gelagapan
Lorenpun menatap Mela " ayo dong Mel, Lo juga harus makan, Geodan juga ikut kok. Ya kan Ge? " beralih menatap Geo dengan tatapan memohon.
" iya Gio juga ikut "
" tuh kan, udah ayo! " Melapun dengan segera membereskan barang-barangnya agar tidak terkena amukan lagi dari Geo. Gila! Ia yang tidak tahu apa-apa disalahkan begitu saja, huh.
Geodanpun melakukan hal yang sama, Loren dan Geo sudah berdiri terlebih dahulu, mereka berduapun berjalan beriringan, namun tak terlalu jauh, Geo berbalik.
" Gio yang traktir hari ini " ucap Geo begitu saja dan berjalan meninggalkan Geodan dan Mela.
Gio yang terkejut mendengar ucapan itu jadi menganga merasa bingung sendiri " kok jadi gue yang traktir? " beo Gio sambil menunjuk dirinya sendiri.
" udah gapapa! Kan Lo kaya, gak akan bangkrut kok, kalo cuma nraktir, iya kan? " ucap Mela menepuk bahu Gio, kemudian berlalu
Geodan yang mendengar itu menghela nafas kasar, iapun mengikuti Mela dari belakang. siapa yang ngajak? Siapa juga yang disuruh nraktir? Hanya Geo yang bisa melakukan itu pada Gio alias Geodan, benar-benar menyebalkan