Mengalami transmigrasi sebagai tokoh utama di dalam novel yang sebelumnya ia baca, seorang pemuda justru memilih untuk menjadi tokoh yang realistis dengan alasan kesal akan sikap tokoh utama yang terlalu baik.
Dengan begitu, dirinya dihadapkan dengan takdir rumit serta keputusan-keputusan yang harus dipilih dengan matang. Namun, pemuda tersebut tak ambil pusing dan lebih memilih untuk menikmati perjalanannya. Walaupun dia telah mengetahui bahwa perjalanannya tak akan mudah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiyohyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih
Hari baru telah tiba, aku menyambutnya dengan senyuman lebar. Sebelum bangkit dari ranjang tidur, aku menoleh kesamping dan melihat Sylphy tengah tertidur dengan tenang.
Setelah itu, dengan cepat aku turun dari ranjang dan berjalan menuju ruang tengah. Saat ini aku dapat melihat Glenn tengah bermain catur sendirian.
Dengan langkah ringan aku menghampirinya, kemudian duduk dihadapannya sambil melihat papan catur yang telah menunjukkan akhir permainan.
"Sudah lama, Paman?" Tanyaku dengan tenang sambil melihat Glenn yang tampak sangat fokus dengan permainannya.
"Begitulah…" Sahutnya acuh.
Melihat itu, aku tak berani mengganggunya lebih dalam lagi. Dengan tenang aku melihat permainan catur nya yang telah meningkat pesat.
Walaupun saat ini dirinya hanya bermain sendirian, namun semua peningkatannya bisa dilihat dengan jelas.
Sungguh, aku curiga jika dia berlatih semalaman ini? Tetapi, untuk apa?
Disaat aku sedang mempertanyakan mengenai tindakannya itu, tiba-tiba saja Glenn mengakhiri permainannya dan mulai bangkit lalu pergi menuju halaman.
Ketika berada diluar, Glenn mengambil sesuatu di dekat pintu, kemudian melemparkannya ke arahku yang ternyata itu adalah sebuah pedang kayu untuk latihan.
Aku terkagum ketika melihat pedang kayu secara nyata, namun perasaan itu harus ditunda untuk sementara waktu dikarenakan Glenn yang langsung memanggilku untuk menghampirinya.
"Ambilah itu, dan kemari lah!" Pinta Glenn dengan tangan yang telah memegang pedang kayu sama sepertiku.
"Baiklah…"
Aku bangkit dari kursi, dan pergi menuju halaman yang mana terdapat Glenn dengan gestur seperti telah bersiap untuk memberikan latihan yang akan membekas di ingatan.
Berada di sampingnya, aku menunggu instruksi dari Glenn yang masih belum memberikan perintah apapun.
Butuh waktu lama bagiku untuk menunggunya memberikan instruksi, hingga dengan rasa penasaran aku segera bertanya kepadanya, "Paman, apa yang harus kulakukan?" Tanyaku dengan wajah kebingungan.
Mendengar itu, Glenn tampak mengerutkan keningnya, "Apa? Hal dasar yang perlu dilakukan oleh seorang pendekar pedang adalah mengayunkan senjatanya hingga mati!" Jelasnya dengan suara yang tenang seolah perkataannya itu tidak memiliki masalah apapun.
Aku yang mendengar itu hanya tertegun mematung, membuat Glenn terkekeh hingga kemudian menjelaskan kembali perkataannya, "Hahaha! Itu hanya bercanda!" Ungkapnya tampak bahagia.
Hampir saja jiwaku berpisah dengan raga karena candaannya itu. Namun untungnya semua itu tidak benar-benar terjadi...
Paling tidak itulah yang kuharap kan...
"Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?" Tanyaku kembali dengan perasaan tidak sabar.
"Hmm, kau hanya perlu terus mengayunkan pedang kayu itu hingga merasakan perasaan seperti dirimu telah menyatu dengannya!" Jelasnya terlihat serius, kemudian dia berbalik dan berjalan kembali menuju rumah.
Aku yang saat itu masih belum sempat bereaksi, mendapati kembali perintah dari Glenn yang mengatakan, "Ingat, kau perlu melakukan itu dengan benar, bahkan jika itu menghabiskan puluhan tahun!"
Ya, dengan santai dia berkata seperti itu. Kalimat yang sebenarnya tidak pantas untuk dikeluarkan oleh seorang pria dewasa kepada anak kecil sepertiku.
Namun, karena tak ingin membuang banyak waktu, aku pun memilih untuk mengabaikan segala keraguan dan mulai melakukan semuanya sesuai dengan perintahnya.
Untuk sepuluh ayunan pedang, aku merasa latihan ini tak terlalu memberatkan tubuh. Jujur saja aku telah terbiasa merasakan perasaan seperti ini, namun dalam latihan yang berbeda.
Perasaan percaya diri yang awalnya kusimpan di dalam diri, perlahan mulai memudar ketika tanganku mulai merasa mati rasa, padahal saat ini aku baru saja mencapai seratus ayunan.
Namun, perasaan apa ini? Sejujurnya ini merupakan perasaan asing bagi tubuhku. Perasaan dimana tubuh mu mulai kaku dan mati rasa, serta hawa dingin yang perlahan mulai menyelimuti area kesemutan.
Ini sangat aneh!
Ingin rasanya aku berteriak kencang sekarang. Namun ketika melihat Glenn yang justru tampak acuh sambil memainkan kembali catur nya, membuat diriku semakin tertantang dan ingin membuktikan kepadanya bahwa aku bisa.
Tanpa menghiraukan keluhan dari tanganku, aku terus mengayunkan pedang kayu ini secara perlahan dan merasakan setiap hembusan yang dihasilkan oleh ayunan.
Semakin lama aku melakukan ini, semuanya semakin terasa normal. Namun kali ini ada sesuatu yang mengganggu latihan ku. Bukan lagi tubuhku yang mengeluh, melainkan Sylphy yang terus memandang khawatir diriku.
Sungguh, karena terlalu sibuk dengan latihan, aku sampai tidak sadar bahwa hari sudah senja. Ini terasa cukup singkat bagiku, atau mungkin semua ini merupakan hal yang wajar?
Dengan wajah yang dipenuhi bulir keringat, aku menoleh kesamping dan melihat Sylphy sedang memasang ekspresi khawatir dengan tangan yang saling mencengkram.
"Apakah sudah selesai, Miel?" Lirih Sylphy bertanya, namun aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
Melihat tanggapanku, dengan langkah gusar Sylphy menghampiriku, "Sudah cukup, Miel! Ibu tidak ingin melihat tubuh kurus mu ini tersiksa! Lebih baik kamu beristirahat sejenak sebelum kemudian melanjutkannya lagi!" Tegur dirinya sambil mengguncang tubuh mungilku.
Saat ini aku dapat melihat wajah Sylphy yang begitu kusut. Entah mengapa ini terasa lebih menyakitkan daripada perasaan sebelumnya.
Apakah berhenti merupakan keputusan yang terbaik? Sejujurnya sebentar lagi aku yakin bisa mendapatkan perasaan yang dimaksud oleh Glenn. Namun, ini semua tidak penting jika sampai membuat ibuku khawatir seperti ini.
Setelah beberapa pertimbangan, pada akhirnya aku memutuskan untuk mengalah dengan Sylphy. "Baiklah, tapi aku akan melanjutkannya nanti malam!" Ucapku kepadanya.
Sylphy yang mendengar itu terlihat langsung tersenyum bahagia, kemudian memelukku dengan lembut. "Tidak masalah, hanya saja ibu ingin perutmu diberikan asupan sebelum kemudian kembali berlatih!"
Dengan begitu, tubuhku yang telah lemas ini diangkat oleh Glenn untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum benar-benar memasuki rumah, Glenn sempat tersenyum ke arahku dan berkata, "Kau telah melakukan hal hebat, Azmiel!"
Dia mengatakan itu dengan senyuman yang tulus, membuat diriku merasakan perasaan bahagia. Ditambah dengan mulutnya yang baru pertama kali menyebut namaku.
Ini merupakan sebuah hadiah istimewa! Bahkan bagi pria dewasa sepertiku!
***
Setelah memasukan beberapa protein ke dalam tubuhku, aku merasakan energi yang bergejolak memintaku untuk segera menggunakan mereka.
Namun sebelum itu, aku diminta oleh Sylphy untuk beristirahat sejenak. Dan tentu saja aku akan melakukan apapun demi dirinya.
Hingga beberapa saat kemudian, aku yang telah mendapatkan persetujuan langsung pergi keluar rumah yang tampak telah gelap.
Itu wajar, dikarenakan hari ini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Namun itu bukanlah sebuah hambatan bagiku untuk meningkatkan kekuatan! Bahkan dengan terpaan badai pun aku akan tetap melakukannya!
"Apa kau yakin akan melakukannya sekarang juga?" Tanya Glenn di ambang pintu menghentikan pergerakan ku yang telah bersiap untuk mengayunkan pedang kayu.
"Tentu saja. Bukankah ini merupakan keinginanmu, Paman?" Balasku sambil menyunggingkan senyuman percaya diri.
"Haah... Dasar bocah yang gigih!" Lirihnya setelah menghela nafas berat, namun kemudian aku bisa melihat senyuman tipis di wajahnya.
Ya, selagi hasilnya yang akan menguntungkan bagiku, aku tidak pantas untuk mengeluhkan apapun. Beruntung aku memiliki keluarga yang sangat pengertian terhadap kegigihan ku ini.
"Terimakasih..." Gumam ku sebelum melanjutkan latihan beratku dengan wajah yang bersemangat.