Mengisahkan tentang Keluarga Grizzele yang menyimpan sejuta teka-teki. Setiap potongan teka-teki yang berhasil ditemukan memiliki kisah pilu dan alasan tersendiri. Banyak hal tak terduga yang terjadi diluar kehendak Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ldiian_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8|Nenek Tua
Aku menginjak pedal gas hingga kecepatanku di atas rata-rata. Pandanganku fokus ke depan, tapi sesekali aku melirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Sial, sebentar lagi bel masuk sekolah, aku tidak boleh sampai terlambat hari ini ada simulasi ujian akhir. Karena ke Blowfish kemarin aku pulang dini hari dan berakhir terlambat bangun.
DUK! Aku mengerem mendadak.
Kepalaku terbentur di setir mobil sesaat setelah aku mengerem mendadak karena di depan ada seorang nenek yang tiba-tiba saja menyeberang jalan. Aku kesal saat ini, aku sudah terlambat sekarang. Ah, menyebalkan. Aku segera turun dari mobil dan langsung menghampiri nenek itu karena dia sangat lambat menyebrang kalau menunggunya bisa-bisa aku tiba jam dua belas siang.
“Nek, kenapa menyeberang jalan sembarangan sih?” sambarku menghampiri nenek gendut dengan tongkat antik yang pangkalnya berbentuk kepala naga.
“Nenek bisa melihat gak sih? Jelas-jelas dari kejauhan ada mobilku kenapa masih nekat menyeberang jalan,” lanjutku..
Nenek itu menatapku dengan tatapan horornya, aku merinding, tapi tetap berusaha tenang membalas tatapan nenek itu.
“Nenek sudah tua, jalan pun isi bawa-bawa tongkat segala selain itu lihat fisik nenek yang gendut ini. Lebih baik istirahat saja di rumah, coba bayangkan kalau aku tidak bisa mengerem mendadak bisa-bisa nenek sudah tertabrak. Terus kalau semisal aku tabrak nenek terus nenek mati gimana? Kan nyusahin orang jadinya ya, bisa-bisa aku jadi tersangka tabrak lari loh,” omelku pada nenek itu yang masih belum juga mengeluarkan sepatah kata dari tadi.
Aku pikir sepertinya si nenek ini tunawicara. “Nenek bisu, ya? Bisa ngomong gak sih?” tanyaku.
“Atau nenek tuli, ya?” tanyaku lagi seperti orang bodoh yang bicara pada patung karena nenek itu belum juga bereaksi.
Oke, baiklah. Aku tidak peduli dengan nenek tua yang gendut ini, terserahlah dia bisu atau tuli itu tidak penting bagiku. Aku beranjak memilih untuk pergi saja dari pada harus meladeni nenek aneh ini. Namun, tiba-tiba langkahku terhenti saat si nenek ini menahan tanganku. Aku berbalik lalu tatapan kami saling bertemu, aku bisa merasakan aura yang tidak biasa saat ini. Bulu kudukku merinding, aku bahkan bisa merasakan aliran darah di tubuh ini. Aku semakin merasa aneh saat melihat langit yang awalnya cerah kini mendadak mendung terlihat ada cahaya kilat sesekali detik kemudian hujan pun turun lebat.
“Hujan nek! Lepaskan tanganku!” pintaku panik pada nenek tua yang masih menahan tanganku. Jika berlama-lama seperti ini aku bisa basah kuyup.
Aku benar-benar frustrasi saat ini. Telat ke sekolah untuk ujian simulasi ditambah kehujanan dan berurusan dengan nenek aneh ini. Tunggu, tunggu dulu, aku rasa nenek ini tidak aneh, tapi lebih dari aneh, dia sinting. Ah sungguh menyebalkan.
“Lepasin tangan aku, nek! Aku kasi duit deh, atau apa sih yang nenek mau?” aku bingung karena nenek itu tidak meresponku.
Aku merogoh saku kemeja sekolahku, biasanya aku menyimpan uang jajan seratus ribu di saku itu. “Nah ini, nek. Nih duit buat nenek ya,”
“Ini nek, astaga! Ambil nih duit!” ucapku frustasi diguyur hujan dan si nenek ini masih kuat menahan tanganku.
Aku benar-benar kesal dan akhirnya aku dorong nenek itu sampai dia tersungkur di jalan, begitu juga dengan uang seratus ribu tadi aku lempar tepat mengenai wajahnya. Menyebalkan.
Nenek itu lalu bangun dan kembali menahan tanganku.
“Dasar nenek tua nyebelin! Gak tau diri! Gak tau diuntung! Nenek tua gembrot!” umpatan ku kesal, tidak tahan lagi aku menahan semua emosi dalam diriku.
Nenek itu hanya menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Aku menatap jauh sepasang mata bulat besar berwarna hitam milik nenek itu. Sorot matanya itu seolah menyihirku untuk terus menatapnya. Aku memperhatikan perlahan bibir nenek itu terbuka untuk berucap.
“Bangunlah di pagi hari dengan seluruh ketakutanmu, perbaikilah akhlak dan moralmu hingga ada pria tulus yang sungguh mencintai apa adanya dirimu,” ucap nenek itu dengan suara seraknya terdengar menyeramkan seperti infrasound di film-film horor yang mampu membuat tubuh pendengarnya menjadi panik, gelisah, bahkan membuat jantungnya berdebar kencang.
Aku membeku seketika, ingin sekali rasanya aku menyahuti apa maksud dari ucapan nenek itu, tapi anehnya tidak sepatah kata pun bisa keluar dari mulut ini. Nenek itu melepas tanganku kemudian beranjak pergi meninggalkanku. Aku masih pada posisiku, aku juga masih diam entah kenapa aku tidak mengerti tiba-tiba saja aku mendadak jadi patung. Aku menatap punggung nenek itu yang semakin lama kian menjauh hingga akhirnya menghilang di ujung jalan. Aku langsung menggeleng menyadarkan diriku lalu kembali masuk ke mobil. Hal aneh terjadi lagi, hujan tiba-tiba reda dan cuaca kembali cerah bahkan aspal yang tadinya basah mendadak kering dalam sekejap.
“Apa aku sedang bermimpi?” tanyaku entah pada siapa.
Aku kembali melajukan mobilku menuju sekolah. Aku yakin ini nyata, ini bukan mimpi. Seragamku masih basah karena tadi aku kehujanan, tapi anehnya kenapa jalanan aspal di sana mendadak kering? Bahkan sekarang ini aku sibuk menatap jalanan di depanku yang sama sekali tidak terdapat jejak hujan.
Aku tiba di sekolah dan segera memanjat tembok belakang. Aku yakin simulasi ujian akhir sudah dimulai sejak dua puluh lima menit yang lalu, aku benar-benar terlambat.
“Aw!” pekikku saat kaki ini menyentuh halaman belakang sekolah. Pendaratanku kurang mulus, sepertinya aku ini memanjat tembok yang buruk.
Aku langsung berlari menuju kelasku, dari kejauhan aku bisa melihat pintu kelasku yang tertutup rapat bahkan di setiap lorong yang aku lewati terasa sepi. Aku langsung mengetuk pintu kelas saat tiba di sana. Simulasi akhir ini sangat penting bagiku, rangking dan prestasiku tidak boleh menurun ini bisa merusak image-ku di sekolah.
“Seorang Aurelia Grizelle datang terlambat pada momen ini?” sambut Bu Merlin sesaat setelah membuka pintu kelas itu.
Aku yakin dia tidak akan heran jika aku yang terlambat karena memang aku ini setiap harinya sering telat ke sekolah, tapi aku belum pernah datang terlambat di hari-hari penting contohnya saat ulangan, praktikum, ujian kenaikan kelas, dan hari ini misalnya.
“Apa kamu lupa hari ini adalah hari simulasi ujian akhir, Aurelia?” tanya Bu Merlin padaku.
“Ada kendala di jalan,” sahutku.
Jadi, sebenarnya begini, aku terlambat karena pulang larut semalam. Ah, andai aku tidak terpengaruh dengan kata-kata Bianca yang seperti sudah merencanakan untuk menjebakku dan Trayon agar kami bertengkar karena salah paham. Aku yakin kemarin itu si Bianca sudah merencanakan semuanya, dia sengaja memintaku datang ke Blowfish. Dan saat aku tiba di sana, dia pasti memulai aksi dramanya itu dengan berpura-pura mabuk dan sengaja memeluk Trayon. Dasar, ******.
“Kendala apa? Apa kamu akan bilang kamu kehujanan di cuaca secerah ini? Atau kamu sengaja ya membuat seragammu basah untuk membuat asumsi lain,” tuduh Bu Merlin.
Menyebalkan sekali, ternyata Bu Merlin punya mulut yang super pedas melebihi bon cabai yang sering aku campur setiap kali makan mie instan.
“Iya, Bu. Saya tadi kehujanan di jalan,” ucapku mencoba jujur.
“Hujan?” ucap Bu Merlin seraya menengok ke luar melihat langit biru dengan cahaya mentari yang terang.
“Hujan di bagian mana ya, hahaha…” tawa Bu Merlin yang tidak percaya padaku.
Tidak salah sih, wajar Bu Merlin meragukan aku karena sangat tidak mungkin bajuku basah kuyup begini karena hujan di cuaca secerah ini.
Bu Merlin memicingkan mata padaku, dia pasti tidak mempercayaiku. Siapa juga yang akan mempercayai hujan turun di cuaca secerah ini, tapi kan faktanya aku memang benar-benar kehujanan tadi.
“Ibu berharap kamu membuat alasan yang lebih logis lain kali ya, untuk sekarang karena ini hanya simulasi ujian akhir maka kamu masih ibu perbolehkan dengan syarat mengerjakannya di luar kelas,” putusan Bu Merlin lalu dia kembali masuk untuk mengambil lembar jawaban dan soal.
Tak lama kemudian Bu Merlin kembali dengan lembar jawaban dan soal. Aku langsung mengerjakan simulasi ujian akhir itu di luar kelas.
***
Aku menceritakan semuanya pada Ella dan Daisy saat kami selesai menyantap makan siang di kantin. Dari melihat raut wajah mereka aku sangat yakin mereka tidak mempercayaiku. Oke, baiklah, bahkan mereka tertawa saat ini.
“Hahaha…. Kita bukan anak kecil yang dengan mudah mempercayai dongeng pagi harimu itu, Aurelia,” ucap Ella disela-sela tawanya.
Aku beralih menatap Daisy yang nampak sedang berpikir, aku berharap Daisy akan mempercayaiku. Sungguh saat ini aku ingin ada satu orang yang bisa mempercayaiku. Percaya dengan apa yang aku alami tadi pagi, meski aku sendiri tidak begitu yakin.
“Jadi, kamu berpikir mungkin saja nenek gendut itu seorang penyihir, begitu?” tanya Daisy mencoba menyakinkan semua yang aku ceritakan tadi.
Aku mengatakan pada mereka bahwa mungkin saja nenek itu seorang penyihir yang bisa mendatangkan hujan secara tiba-tiba.
“Sadarlah, Aurelia Grizelle! Penyihir hanya ada di dunia dongeng. Bangun woi!” ucap Daisy mendorong bahuku lalu tertawa terbahak-bahak diikuti oleh tawa Ella kemudian.
Fix! Kalau sudah begini tidak ada yang mempercayaiku. Sebenarnya aku juga tidak ingin percaya, tapi aneh bagiku saat tiba-tiba turun hujan lalu hujan reda dan cuaca kembali cerah bahkan anehnya lagi seragamku masih tetap basah. Bisa tolong jelaskan.
Aku melirik arloji yang melingkar di tangan kiriku, saat ini pukul satu siang. Aku sudah berdiri di depan ruang perpus, tapi belum ada tanda-tanda dari Edgar. Apa dia lupa ya, kita kan dalam masa hukuman membersihkan ruang perpus gara-gara rebutan buku biologi kemarin.
Tiba-tiba pintu ruang perpus terbuka, menampakkan sosok Edgar yang membawa sapu di tangan kanannya.
“Udah berapa lama kamu berdiri di sini?” tanya Edgar mengintimidasi.
“Baru aja,” sahutku menerobos masuk. Aku pikir Edgar belum datang, ternyata dia sudah lebih dulu membersihkan ruang perpus.
Banyak sekali buku-buku berserakan, dasar menyebalkan kenapa orang-orang setelah membaca buku tidak meletakkannya kembali pada rak yang tersedia. Aku mengumpulkan buku-buku itu lalu menaruhnya kembali sesuai dengan jenis buku di rak.
“Bereskan sisanya, aku harus pergi bekerja,” ucap Edgar setelah dia selesai menyapu seluruh sudut ruangan ini.
Aku mengangguk patuh, aku tidak akan protes karena aku rasa ini cukup adil. Edgar sudah menyapu seluruh ruangan sedangkan aku hanya perlu membereskan buku-buku ini.
“Baiklah,” ucapku lalu Edgar beranjak pergi dan menghilang di balik pintu.
Aku kembali merapikan buku-buku ini, fokusku teralihkan pada sebuah buku dongeng yang berjudul Putri Cantik dan Nenek Sihir. Aku duduk lalu membaca buku dongeng itu seraya berpikir mungkinkah keberadaan nenek sihir itu nyata?