Indonesia
NovelToon NovelToon
TERJERAT PERJODOHAN PAKSA

TERJERAT PERJODOHAN PAKSA

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Aliansi Pernikahan / Konflik etika / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Renja Novel

Terjerat kasus perjodohan menjadikan Dianti harus menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan harta. Gadis itu dijodohkan oleh Ibu kandungnya dengan anak saudagar kaya bernama, Bagas.

Perjodohan ini diikrarkan setelah perjanjian di atas kertas selesai ditandatangani. Dianti dilema, karena merasa kehilangan arah. gadis tersebut nekat ingin bunuh diri dengan cara terjun dari atas jembatan gantung.

Dari sinilah, pertemuan antara Richie dan Dianti terjadi. ketidaksengajaan membuat mereka bertemu dengan kemelut masalah masing-masing. Richie Mahendra yang sedang mencari pembunuh ke dua orang tuanya menolong Dianti yang tengah putus asa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renja Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan bukanlah lelucon

Setiap kalimat yang di ucap mengandung sebuah arti. Begitu pula Richie, dia melamar Dianti secara tiba-tiba .

Atas dasar terdesak atau mengagumi kepribadian gadis di sampingnya?. Lantas, ia berkata dengan lantang, akan menikahi Dianti.

" Menikahlah denganku, Nona." Seru Richie sebelum Dianti beranjak menjauhi pohon tersebut.

Dianti tentu terkejut, pernyataan secara gamblang akan mengubah statusnya menjadi seorang istri kembali membayang. " Tarik kembali kalimatmu, Tuan. " Pekik Dianti.

Tubuhnya mulai memanas, " Aku harap kau tidak berharap lebih terhadap diriku. "Tukas Dianti.

Beranjak dari akar pohon sedang di duduki, " Apakah aku salah akan menjadikanmu seorang istri?. "

Posisi Dianti tengah membelakangi Richie, berbalik. " Atas dasar apa kau ingin menjadikan aku pendamping hidupmu , Tuan?."

Perlahan kakinya melangkah ke arah Richie. " apakah ini syarat ujaran terima kasihku akan di terima?. Sebuah hutang balas budi, benar?. " Dianti merubah sikapnya menjadi dingin.

Jarak di antara mereka semakin dekat, " Sekarang dengarlah ucapanku! . " menyisakan jarak satu jengkal . " Pernikahan bukan semata-mata hanya mengubah gelar dan status. Tapi tentang hidup bersama dan menyatukan dua watak yang berbeda. "

Dianti tidak bisa berkata. Lidahnya seakan kelu untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.

Gadis tersebut memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Mundur satu langkah kemudian mengatur nafas yang terengah-engah menahan luapan emosi.

Sedikit merada kemudian dia berkata. " Lalu kau, begitu mudahnya mengajakku untuk menikah?!. Waah... Sangat aneh bukan?. "

Mendapat jawaban menohok dari Dianti membuat Richie merasa tertantang. Sekilas dari tampilan gadis ini terlihat lugu dan polos.

Tapi untuk seukuran cara bicaranya, cukup pintar ketika di cerna dengan baik. Menurut sebagian orang mungkin mengira paparan kalimat yang terucap melenceng dari pokok pembahasan.

Tapi, tentu tidak bagi pria bergelar CEO tersebut. setiap kata yang terucap, memiliki makna yang dalam.

Sebuah senyum tipis menjadi jawaban dari sikap Dianti. " Hm, Maaf jika ajakanku membuat kau tersinggung. " perbedaan tinggi badan mereka cukup jauh.

" Tentu aku sangat tersinggung. Kau berkesan seperti memaksaku untuk menerima ajakanmu. "

Sembari memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana Richie menunduk dan terkekeh pelan. " Yah, kau benar. Nona. Aku memang memaksamu. Ini terdengar gila, tapi tidakkah kau mengasihaniku. Seperti aku yang menyelamatkan separuh hidupmu?. "

Perubahan nada suara Richie membuat Dianti bingung sekaligus bergidik. " Iya, kau memang menyelamatkan nyawaku. Aku berterima kasih untuk itu. Tapi, untuk menjadi istrimu aku tetap menolak. "

Menghembuskan nafas pasrah, " Berikan aku alasan. Mengapa kau menolak ajakan ku?. "

Dianti kembali merasakan gemuruh panas di dadanya. Tanpa gadis itu sadari.

Kantong sayuran berada dalam genggaman membentuk sebuah kepalan tangan yang menguat memperlihatkan buku-buku jarinya memutih. Kini amarahnya benar-benar tersulut.

" Pertama, " Dianti menunjukkan jari telunjuknya. " Karena kau dan diriku, hanyalah orang asing tanpa sengaja bertemu. "

Dianti menunjukkan dua jarinya. " Lalu ke dua, sebab aku sendiri telah di jodohkan oleh orang tuaku!" . Tekannya.

" Kau kaya, berpenampilan menarik dan pastinya akan diperebutkan bagi khalayak ramai seperti kaum kami. Paras yang kau miliki, akan sangat berpotensi untuk menarik mereka yang mengagumi ketampananmu.! "

Memejamkan mata sejenak, kemudian membukanya kembali. " Carilah, mereka yang sepadan denganmu. Aku yakin kau tidak bodoh untuk mengerti maksudku. "

Sebelum pergi dari sana, Dianti mengimbuhkan. " Jangan pernah menjadikan kata kasihan sebagai tujuan untuk mencapai keinginan. Aku bisa membalas perlakuanmu, tapi tidak dengan menjadi istrimu. Permisi. !. "

Berbalik arah, kemudian melangkah pergi. Menyisakan Richie dengan tatapan datar melihat gadis itu semakin menjauh.

Sudut bibirnya terangkat. " Cukup menarik. Baiklah, kita lihat saja nanti. Kau akan memilihku atau perjodohanmu itu?. "

Bukan Richie jika dia tidak menyukai tantangan. Pernyataan cukup mengejutkan membuat pria itu semakin ingin menjadikan gadis yang ditemuinya sebagai calon istri.

Wawasannya cukup luas jika dibandingkan dengan wanita manapun. Meski mengenyam pendidikan hanya sebatas dua belas tahun, tapi kemampuan yang memadai sudah cukup membuktikan kalau Dianti adalah gadis cerdas.

***

Sementara di rumah Rumi. Jarum jam menunjukkan tepat pada angka sepuluh siang.

Rumi yang baru saja meminta bantuan salah satu tetangga untuk memindahkan meja makan ke dalam ruang tengah.

Tampak kelelahan mengatur tempat yang pas meletakkan benda berbentuk persegi panjang tersebut.

Badan yang cukup berisi begitu kesulitan untuk bisa berjalan kesana kemari memandu mereka. Karena sudah lelah mengatur sisi yang cocok akhirnya Rumi memasrahkan semuanya kepada mereka.

" Semuanya sudah beres, Bu. Saya permisi.." ucap salah satu dari mereka berempat sebagai pemandu.

Rumi menganggukan kepala, " Terima kasih.!".

Wanita beranak satu tersebut mengantar mereka sampai depan pintu. Segala persiapan telah selesai dan rampung. Giliran hidangan yang akan disajikan belum ada satupun di buatnya.

Rumi merasa resah, menjelang setengah hari Dianti tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Tinggal menghitung jam mereka akan segera datang. Inilah yang akan terjadi jika belum mempersiapkan apapun tapi sudah mengundang keluarga calon besan secara mendadak.

Untuk diakui menjadi besan yang layak, Rumi secara tiba-tiba mengundang mereka untuk makan siang bersama di kediamannya.

Wanita itu berpikir, saat ini adalah waktu yang tepat mengenalkan Dianti dengan calon suaminya.

Cukup singkat dari aksi penawaran serupa. Rumi memilih jalan tengah agar mereka semakin dekat dan berharap pernikahan yang akan di gelar dua minggu lagi akan di majukan.

Sungguh licik, predikat tersebut tentu pantas menjadi status baru Rumi. Selain menjadi kategori Ibu yang egois menambah satu kepribadian lagi sepertinya sudah cukup.

Merasa bosan karena berpikir tidak-tidak. Rumi, menunggu di pelataran rumahnya yang cukup luas.

Menampilkan raut wajah gusar, " Aku yakin dia tidak akan kabur. "

Keyakinan akan menjadi acuan saat ini. Bukan lagi memikirkan kendala hidangan yang di suguhkan tapi tentang anaknya takut menghilang.

Kembali menebak sembari berjalan kesana kemari memutari halaman tersebut, " Tidak, aku sangat yakin sekali kalau Dianti tidak akan berani mempermalukan aku. Yaa itu benar.."

Memeras tangannya sendiri sampai memerah, Rumi memutuskan keluar dari pelataran rumahnya. Berniat mencari Dianti.

Namun, sebelum langkah kaki tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dianti muncul dari balik perumahan warga.

Menghembuskan nafas lega, Rumi mengusap dada. " Hem.. Syukurlah dia sudah kembali..."

Akan tetapi, terlepas dari rasa syukur yang hanya bertahan dalam beberapa menit. Mata bulatnya kini memerah, gemuruh di dada yang di tahan oleh rasa ketakutan perlahan menunjukkan sikapnya.

Setelah Dianti semakin mendekat ,Rumi dengan gerakan cepat menghadang putrinya.

" Loh Ibu! " Dianti terkejut. " kenapa ada di sini.? "

Sembari berkacak pinggang. " Dari mana saja kau?. Baru kembali dari pasar?. Pasar di kota apakah sudah pindah tempat?."

Dianti baru saja mendapat masalah, kembali lagi di todong pertanyaan beruntun oleh ibunya.

" Sudahlah, kesabaran ibu sudah habis hendak marah kepadamu. Lebih baik sekarang kau cepat kembali ke rumah. Dan jangan melamun lagi!. "

' Tahu dari mana Ibu aku melamun ' batin Dianti berkata.

Rumi yang paham betul gerak gerik Dianti, " Tidak perlu terkejut, aku adalah ibumu mau seperti apa dirimu bertingkah Ibu sudah awam akan itu,Dianti. " jelas Rumi.

Mendengar perkataan ibunya, Dianti tersenyum masam. Sebuah senyum yang mencerminkan kata seorang 'Ibu' hanyalah status semata.

Lain dari itu predikat memiliki kepribadian ganda sepertinya cocok dimiliki Rumi.

***

Richie yang terlihat senang menemukan seorang gadis tangguh untuk dijadikan istri, tersenyum sepanjang hari.

Pria tampan itu, melupakan gelar pria berdarah dinginnya sesaat. Dan setelah mengingat nama kakeknya dia mengubah wajah sumringah menjadi datar tanpa ekspresi.

Sekitar dua jam lagi kakeknya bernama Ryan. Mengajaknya bertemu di sebuah restoran mewah di pusat kota.

Setelah usianya sekarang tepat berumur dua puluh lima tahun. Pertemuan di antara kakek dan cucu itu bisa di hitung menggunakan jari.

Kesibukan Ryan yang selama ini mengurus langsung Mahendra Corp melupakan cucu pewarisnya. Pemilik perusahaan interior design hampir serupa dengan Richie.

Mahendra Corp juga menjalankan bisnis perkebunan teh dengan akses kerja sama luas bahkan sampai tercetus di manca negara.

Masa jaya Mahendra Corp berkembang pesat sampai sekarang itu semua di peroleh atas hasil jerih payah Ayah Richie. Wijaya Mahendra.

Ketika dalam perjalanan menuju kantor, suara dering gawai yang terselip dalam kantong jas Richie bergetar.

Kringg......

Pria itu lantas merogoh jasnya mengambil benda pipih tersebut.

" Halo, ada apa?!" Tanya Richie setelah meletakkan gawai di telinga.

Nampak Richie menautkan alis tebalnya hingga menyatu. " Apa maksudmu? Untuk apa dia ke sana! "

Terlihat dari seberang, orang yang menghubungi Richie menjelaskan secara detail tanpa tersisa sedikitpun.

Alih-alih merasa kesal, karena laporan dari orang kepercayaan otot-otot di wajah Richie menonjol setelah memutus sambungan telephone secara sepihak.

" Untuk apa paman datang ke perusahaanku!."

1
Gushion_14
tetap kutunggu jandamu tor🤣
Gushion_14
semangat /Rose/
Lael's: maaaciwww/Drool/
total 1 replies
Gushion_14
Semburannya begitu pedas, Richie bahkan merubah sikapnya menjadi lebih cair dari biasanya. sebuah perubahan waahhh. makin seru nih/Hey//Hey//Hey/
Mbr Tarigan
ibu2 rempong TDK punya hati sesuka hati menuduh orang yg tdk2 sebenarnya si Rumi TDK tahan sindiran dari keluarga suami tega mengorbankan kebahagiaan anaknya demi harta
Lael's
Hai, terima kasih sudah menyukai ceritanya 🙏🤗.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!