Menjadi kuat demi bisa membalaskan dendam atas sebuah pengkhianatan tentu menjadi hal yang lumrah diupayakan semua orang.
Tetapi akan lain ceritanya kalau pembalasan itu dipenuhi dengan intrik cinta yang mematikan seperti yang dilakukan seorang Cassanova sekelas Thomas Harrison. Kepiawaiannya mempermainkan hati orang lain membuat Tom berhasil membalaskan satu persatu dendamnya, kepada ayah yang mencampakkannya, juga kepada kakak dan kekasih yang mengkhianatinya.
** Hai.. hai.. hai.. readers kesayangan! Para penggemar cinta ugal-ugalan wajib banget ngikutin novel yang satu ini.
Jangan lupa tinggalin cinta, komen manis & vote kalian yak! Pantengin terus kisahnya karena dukungan kalian adalah bahan bakar spiritual terbaik utk author 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jovinka_ceva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Rumah
Sherin baru saja kembali dari ruang pimpinannya ketika nama Ailen muncul di layar ponselnya.
“Ya Len?”
“Gimana? Apa sudah ada kabar?”
“Tentu. Bos baru saja mengabarkan kalau rapatnya sudah berakhir dan Tom berhasil mempertahankan HE.” Jelas Sherin berseri-seri.
“Syukurlah.” Ailen akhirnya bernafas lega.
“Apa kamu tahu? Semua orang sedang bergosip tentang betapa hebat dan kerennya sang tuan bungsu.”
“Memangnya apa yang mereka bilang?”
“Tom sangat cerdas dan berkharisma. Dia juga tegas dan berwibawa. Sekali dia buka mulut, para pemegang saham dan dewan direksi langsung kehabisan kata-kata. Mereka yang awalnya koar-koar meninggalkan HE, malah berbalik memperubatkan HE. Harga saham kami melonjak seketika. kami sangat bahagia karena terbebas dari PHK besar-besaran. Dan semua ini berkat Tom. Mereka bahkan berharap Tom yang akan menduduki posisi CEO menggantikan Kak Dave."
Ailen diam-diam tersenyum di ujung telpon.
“Bukan hanya itu. beberapa hari ini, tim audit yang Tom bawa bekerja dengan sangat keras dan efektif. Dalam sekali sapuan, mereka bisa membersihkan semua kotoran hingga ujung dan sudut tersembunyi. Tidak heran kalau D’Track berkembang pesat dan menguasai pasar otomotif dan pembiayaan terbesar se-Asia hanya dalam waktu tiga tahun. Karena pimpinannya adalah Thomas Harrison.”
“Sudahlah! Sudah cukup HE baik-baik saja. Lanjutkan pekerjaanmu! Aku tidak akan mengganggu lagi.”
“Lalu apa kau tidak berniat mengundangku ke acara pesta nanti malam? Aku dengar kalian mengundang nona-nona muda unggulan negri ini. aku sedikit kecewa karena tidak menerima undangan yang sama, hehe...”
“Datanglah! Aku memberimu golden ticket.”
“Ini baru Lelen yang cantik dan baik hati.”
***************
Menjelang senja, Dave mendatangi kamar Alvin dan mendapati Ailen sedang berada di sana juga untuk membantu Alvin belajar.
“Kak Dave?”
“Len, kamu juga ada di sini?”
“Mama lagi bantuin aku bikin tugas, Pa.” Sahut Alvin sambil menarik tangan Dave dan membawanya masuk lalu duduk di kursi dekat meja belajarnya bersama Ailen.
“Gimana sekolah kamu Vin?”
“Baik, Pa. Mama selalu bantuin aku belajar.” Bocah tujuh tahun itu kemudian mengeluarkan sebuah kertas hasil ulangan harian dan memberikannya kepada Dave. “Papa lihat sendiri kan? Alvin selalu dapat nilai bagus saat ujian.”
Dave mengelus rambut sang putra dengan lembut. “Maaf yah, Papa ngga bisa temenin kamu belajar.”
Alvin menggeleng. “Ngga papa, Pa. Mama bilang Papa sibuk kerja. Jadi aku ngga akan gangguin papa. Lagian Papa kan masih sakit. Mama bilang papa masih harus banyak istirahat supaya cepat sembuh.”
“Anak pintar! Oh ya, papa mau bicara sama mama. Alvin main sama Kak Nada dulu yah?”
“Baik Pa.” Bocah berkulit pucat itu segera berlari keluar kamar untuk mencari Nada dan mengajaknya bermain di lantai tiga rumahnya yang khusus dijadikan Dave sebagai taman bermain untuk sang putra semata wayang.
“Len, bagaimana persiapan pestanya?”
“Sudah beres, Kak.”
Dave memberanikan diri meraih dan menggenggam lembut tangan Ailen yang tengah duduk di hadapannya itu. “Len, bisakah kamu tidak pergi ke pesta malam ini? Akhir-akhir ini aku merasa kondisiku semakin memburuk. Aku sadar kalau selama tiga tahun ini kita tidak memiliki banyak waktu untuk bersama. Jadi, bisakah malam ini kamu menemaniku menikmati bulan purnama di atap?”
“Maaf Kak Dave. Tapi sepertinya aku tetap harus datang. Bagaimanapun juga, kita adalah tuan rumah dan aku yang mengundang para tamu penting itu untuk hadir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dan aku tidak berada di sana? bukankah akan sangat sulit untuk mengatasi keadaan kelak?”
Dave melepaskan genggaman tangannya perlahan. “Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, bagaimana kalau kau membawa Alvin bersamamu?”
“Kak, pesta ini adalah pesta Tom. Akan ada banyak asap rokok dan minuman keras di sana. tidak ada hal bagus yang bisa Alvin pelajari di sana.”
“Baiklah, kalau begitu bawa Kamil bersamamu. Aku akan merasa lebih tenang kalau dia menjagamu untukku. Bagaimanapun juga kamu adalah Nyonya Dave Harrison. Tidak boleh ada hal buruk yang terjadi kepadamu di sana.”
“Kakak tenang saja. Ada Tom di sana. Semuanya akan baik-baik saja.”
Tangan Dave kembali mengepal diam-diam. ‘Jadi kau lebih merasa aman bersamanya?’
“Baiklah kalau begitu. Katakan kepadaku kalau ada hal yang kau butuhkan.”
“Baik Kak. Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu untuk bersiap.”
Dave kembali terengah-engah menahan amarahnya. Dadanya terasa kian nyeri, bukan hanya karena penyakit jantungnya tapi juga karena rasa sakit dan cemburu yang mulai membakar hatinya perlahan-lahan.
Saat hendak keluar dari kamar Alvin, ia sekilas melihat ke atas meja belajar yang ditinggalkan Alvin begitu saja. Di sana ia melihat sebuah sketsa wajah mirip Keysa yang sedang tersenyum menatapnya.
“Apa kau sedang menertawakanku Key? Kau pasti merasa puas melihat penderitaanku ini kan? Bahkan kau, wanita yang mengatakan sangat mencintaiku pun bisa melakukan hal keji ini kepadaku.” Gumam Dave sambil menatap sketsa wajah Keysa yang digambar Ailen dan Alvin.
Ia kemudian meremas kertas sketsa itu lalu membawanya pergi sebelum akhirnya membakarnya tak bersisa.
*****************
Sementara itu, Tom sedang berendam di bath up saat Rendi datang ke kemarnya untuk melapor.
“Tuan, apakah anda masih berada di dalam?” tanya Rendi sambil berteriak di depan pintu kamar mandi Tom.
Tom mematikan kran air supaya bisa mendengar perkataan Rendi dengan benar. “Katakan!”
“Tamu sudah mulai berdatangan dan saya juga sudah memeriksa semuanya. Nyonya sudah mempersiapkan segalanya dengan baik sesuai rencana. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan seperti yang Tuan khawatirkan.”
“Baiklah. Kita tunggu saja kejutan apa yang akan mereka berikan nanti.” Gumam Tom sambil menenggak anggur merah di tangannya.
“Saya juga sudah mempersiapkan semua yang Tuan minta. Saya akan meletakkannya di atas meja.”
“Baik. Kamu boleh pergi.”
*****************************
hahaha lanjut terus saya suka ....semoga nantinya panyak pengunjung yg membaca cerita mu semangat....💪💪🤩🤩🤩🤞🤞🤞
ailen b** oh.... sudah hampir 3 tahun hidup sama Dave, tapi ga tau karakternya.... ckckck....
astaga, bab pertama saja sudah begitu menyedihkan.....