Raya, gadis penyintas trauma yang mencoba menjalani kehidupan normal di sekolah dan organisasi rahasia Horizon. Di balik senyum cerianya, ia menyimpan luka dalam yang mudah tersulut oleh kata-kata tajam.
Kehadiran Adi, anggota yang memandangnya sebelah mata dan menganggapnya hanya gadis manja, membuat hidupnya semakin berwarna tapi juga penuh bahaya. Mulai dari insiden penjemputan yang memicu serangan panik, keseruan berkumpul bersama sahabat dan keluarga, hingga camping berbahaya yang penuh jebakan.
Ketika dendam memuncak, duel sengit pun tak terelakkan. Raya membuktikan kemampuannya, namun racun di lidah musuh mampu melumpuhkan mentalnya lebih sakit dari pukulan fisik.
Akankah Raya mampu bertahan di dunia yang keras ini? Atau bayangan kelam masa lalu akan menyeretnya kembali ke dalam kegelapan? Ikuti kisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu yang Kembali dan Fakta Mengejutkan
Hari itu jadwal latihan bela diri. Suasana di ruang latihan terasa berbeda saat Raya dan Adi saling bertatapan. Tatapan itu tajam, penuh permusuhan, seolah siap meledak kapan saja. Raya sudah terbiasa, tapi kali ini ada Bisma yang berdiri kokoh di sampingnya. Jantung Bisma berdegup kencang setiap kali dekat gadis itu, dan instingnya mengatakan ia harus melindungi Raya dengan segala cara.
"Ada hadiah menunggumu di gerbang," ucap Adi dingin lalu pergi.
Raya penasaran dan berjalan keluar diikuti Riska, Bisma, dan Galang. Namun saat sampai di gerbang, wajah Raya pucat pasi. Ia mundur selangkah demi selangkah, tubuhnya mulai bergetar hebat.
Di sana, berdiri sosok yang selama ini ia coba lupakan. Dion.
"Kaa... kamu kenapa bisa di sini!!" seru Raya terbata-bata.
"Ray aku cuma mau minta maaf... tolong dengerin aku dulu," kata Dion berusaha mendekat.
"NGGAK! PERGI! JANGAN DEKAT-DEKAT!" teriak Raya histeris, matanya membelalak ketakutan.
Bisma dan Galang langsung sigap berdiri di depan Raya melindunginya.
"Lo pergi dari sini! Jangan ganggu dia!" bentak Bisma.
"Gak ada urusan sama lo! Ini urusan gue sama Raya!" bantah Dion emosi.
BUK!
Tanpa aba-aba, Dion memukul pipi Galang. Darah segar seketika menetes. Amarah Galang meledak, ia langsung membalas pukulan itu dengan keras. Perkelahian tak terelakkan. Bisma kewalahan mencoba melerai, sementara kondisi Raya makin memburuk, napasnya tersengal-sengal hingga akhirnya ema. Ia datang dengan wajah murka luar biasa.
"Bisma, Riska, bawa Raya ke ruang kesehatan! Kalian berdua, masuk mobil sekarang!"
Di ruang tamu rumah Farel, suasana mencekam.
"Dari mana lo tau Raya ada di sini?" tanya Fendy tajam.
"Dari sepupu gue yang anggota Horizon," jawab Dion santai.
"Jangan bilang... sepupu lo itu Adi?!" seru Galang terkejut.
Fendy ternganga. Ternyata selama ini Adi, anggota kebanggaan Farel, adalah sepupu dari orang yang telah menghancurkan mental Raya! Benar-benar musuh dalam selimut!
"Lo balik ke kota asal sekarang! Lo nggak akan pernah ketemu Raya lagi!" perintah Fendy tegas.
Setelah Dion pergi, Fendy menghela napas panjang. "Galang, obati luka lo sendiri di laci ada kotak obat. Dan hukuman lo: Bersihin seluruh rumah ini dan dilarang balik ke Horizon sementara waktu."
Sementara itu di ruang kesehatan, Raya perlahan sadar.
"Kenapa aku di sini?" tanyanya bingung. Ternyata, setelah kambuh, ingatannya tentang pertemuan dengan Dion tadi hilang begitu saja.
"Kamu kecapekan aja Ray, istirahat aja," bohong Bisma lembut. Ia tak ingin gadis itu teringat hal buruk.
Sore harinya, seluruh anggota tim berkumpul di rumah Farel untuk menemui Galang dan membahas misi besar: Perburuan Mr.X.
"Wuih enak banget lo disini, jadi tukang bersih-bersih," ledek Deka.
"Emang babu kok baru nyadar," sahut Dimas membuat Galang mendengus kesal.
"Udah ah, fokus! Deka, Dimas, cek CCTV area target!" perintah Raya.
Mereka mulai memantau layar. Mr.X memang legenda, ia selalu menyembunyikan wajah dan identitasnya. Namun mereka punya satu ciri khas: Pria itu selalu membawa kartu unik mirip kartu remi bertuliskan namanya.
"Stop! Itu dia!" tunjuk Raya.
Terlihat di layar, seorang pria berjalan mencurigakan, selalu menutupi wajah dari kamera, dan berniat masuk ke toko perhiasan.
"Dia mau maling!" seru Riska.
"Gas! Kita kejar!"
Mereka berhamburan keluar menuju mobil. Bisma mengemudi dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di sana, mereka langsung mengepung pria itu.
"Anda sudah kami tangkap. Barang bukti sudah ada," kata Raya tegas.
Pria itu hanya diam, lalu tersenyum miring. "Kalau bisa... tangkap aku."
WUSSS!
Tiba-tiba asap tebal mengepul dari benda yang dilempar Mr.X. Semua orang terbatuk-batuk, pandangan kabur. Saat asap hilang, pria itu sudah lenyap. Hanya tertinggal satu lembar kartu di lantai.
"MR.X"
"Sialan! Dia kabur!" umpat Raya gemas.
"Gerakannya sangat terencana dan profesional," komentar Bisma serius. Mereka pun menghubungi Wildan untuk memproses TKP. Kerugian ditaksir mencapai puluhan juta karena kalung berlian langka hilang.
Malam harinya, suasana di rumah Farel jadi hangat dan lucu. Karena kamar terbatas, Galang dan Bisma terpaksa tidur bersebelahan di sofa ruang tamu.
"Bisma... lo suka sama Raya kan?" tanya Galang tiba-tiba di tengah gelap.
Bisma terdiam. "Gue juga gak tau... rasanya aneh. Tapi kalau dibilang suka... iya."
"Perjuangin dong. Cewek kayak Raya itu langka, satu dalam sejuta. Jangan sampai dilepas."
"Tapi gue mau biarin waktu yang jawab. Kalau dia jodoh gue, dia bakal tetap di sini."
"Gue iri deh, gue aja belum pernah ngerasain jatuh cinta," celetuk Galang membuat Bisma tertawa pelan.
Keesokan paginya...
KLIK! KLIK!
Fendy datang naik ojek online, dan kaget bukan main melihat dua pria kekar itu tidur saling memeluk erat di sofa! Tanpa pikir panjang, ia foto dengan senyum jahil.
"ASTAGA KALIAN NGAPAIN ITU?!!" teriak Deka membangunkan semua orang.
"AAAAAAH!!" Bisma dan Galang langsung terlonjak kaget, wajah mereka memerah padam.
"Itu Ray! Si Bisma sama Galang mesum!" ledek Deka tertawa.
"Ehem!" suara deheman Fendy membuat semua hening. "Mana kunci mobil? Gue telat nih!"
Bisma langsung melempar kunci. Fendy pergi sambil tertawa puas, berniat mengirim foto itu ke Raya.
Benar saja, saat melihat foto itu, Raya dan Riska tertawa terbahak-bahak. Bisma yang melihat tawa ceria Raya, semakin yakin dengan perasaannya.
'Tunggu Ray... suatu hari nanti kamu akan jadi milikku selamanya,' batin Bisma.
Raya yang tak sengaja bertatapan mata dengan Bisma, jantungnya berdegup kencang. 'Bisma... apakah kamu yang terakhir untukku?'
Mereka saling diam, membiarkan perasaan itu tumbuh perlahan, menunggu waktu yang tepat untuk bersatu.
"Ray, aku ngantuk banget... mau tidur lagi ya," kata Riska mengantuk berat lalu masuk kamar.
"Yaudah sini aku bantu masak sarapan," tawar Bisma spontan.
Kini tinggal mereka berdua di dapur. Suasana hening, hanya terdengar suara pisau memotong sayur. Namun udara terasa berbeda, penuh dengan getaran cinta yang tertahan.
Mereka diam-diam sering mencuri pandang. Jantung masing-masing berpacu cepat, seakan ingin meledak. Hingga akhirnya... tanpa sengaja, mata mereka bertemu dan saling tatap dalam diam yang panjang.