Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Keesokan harinya, Zara sudah siap untuk pergi ke salon. Meskipun sebenarnya ia tidak perlu repot-repot ke sana karena tim penata rias Benedict sudah pastinya siap 24 jam untuknya.

"Nyonya, pihak manajemen rumah telah menghubungi tim penata busana dan penata rias profesional terbaik di kota. Mereka siap datang ke kediaman dalam waktu tiga puluh menit untuk mempersiapkan Anda menghadiri pesta nanti malam." jelas Tara.

Zara yang sedang merapikan jam tangan di pergelangan tangannya memutar tubuh perlahan, ia tersenyum tipis, sebuah senyuman lembut.

"Terima kasih, Bi, tapi tidak perlu. Saya lebih suka pergi ke salon sendiri di luar." jawab Zara.

Tara sedikit terkejut, dahinya tampak berkerut cemas. "Namun, Nyonya... Tuan telah mengamanatkan agar seluruh kebutuhan Anda dipenuhi dengan standar tertinggi. Menghadiri salon umum mungkin-"

"Bibi." potong Zara dengan halus. "Saya pergi bukan karena tidak menghargai fasilitas di rumah ini, saya hanya ingin keluar dan menikmati udara segar. Mohon pengertiannya." jawab Zara.

Melihat keteguhan dan ketenangan yang terpancar dari Zara, akhirnya Tara menunduk patuh.

"Baik, Nyonya. Saya akan meminta Pak Karta menyiapkan kendaraan dan mendampingi Anda selama di luar."

Dua jam kemudian, di sebuah salon dan butik yang terkenal menjadi langganan untuk orang-orang kelas atas di pusat kota.

Zara duduk di depan cermin besar bernuansa emas. Di sekelilingnya, para penata rias sedang melayaninya dengan kehati-hatian ekstra setelah melihat kartu bertuliskan Benedict Group yang disodorkan Pak Karta saat kedatangannya.

Zara menatap pantulan dirinya di cermin, tidak ada lagi wajah pucat dan mata penuh ketakutan dari gadis yang selalu disudutkan oleh ibu tiri dan adik tirinya dulu.

Ia memilih sebuah gaun malam berwarna hijau zamrud gelap dengan potongan elegan, tapi tidak terlalu mencolok, namun tetap memancarkan kemewahan. Riasan wajahnya juga sengaja dibuat halus, tipe Korean beauty.

"Anda terlihat sangat luar biasa dan anggun, Nyonya." puji kepala penata rias dengan kagum saat memasangkan anting berlian simpel di telinga Zara.

Zara menyentuh anting itu perlahan, lalu menyunggingkan senyuman lembut.

"Terima kasih."

Selene dan Roselin pasti membayangkan ia akan datang dengan gaun murahan atau penampilan yang berantakan karena ditelantarkan oleh suaminya. Mereka berniat mempermalukannya di depan seluruh tamu undangan, tapi Zara tidak akan membiarkannya.

Zara merapikan gaunnya, lalu berdiri dengan dengan hati-hati.

.

The Elysian Grand Hotel.

Zara melangkahkan kakinya yang terbalut heels hitam di atas karpet merah saat memasuki Ballroom Hotel, tempat pesta perayaan suksesnya Adhitama Corp digelar.

Ruangan itu tampak berkilau oleh lampu kristal, dan dipenuhi alunan musik klasik serta riuh percakapan dari kalangan pengusaha terkenal.

Zara melangkah anggun, gaun hijau zamrud gelapnya membalut tubuhnya dengan sangat elegan dan tampak mencolok di antara kerumunan para sosialita kelas atas.

Namun, belum sampai lima langkah ia menginjakkan kaki di sana, sebuah suara bernada ejekan halus langsung membuat langkahnya terhenti.

"Wah, lihat siapa ini?"

Seorang wanita sosialita paruh baya dengan gaun merah mencolok dan perhiasan yang terlalu berlebihan melangkah mendekat. Ia adalah Fransiska, salah satu teman arisan kepercayaan Roselin yang terkenal sangat bermulut tajam dan berbisa. Di belakangnya, beberapa wanita sosialita lain ikut mengekor dengan tatapan menilai yang merendahkan.

"Bukannya ini Zara? Astaga, Mami dan adikmu tadi cerita kalau kamu sengaja datang sendirian. Ternyata benar-benar datang tanpa suami, ya?" bisik Fransiska namun dengan volume suara yang sengaja dikencangkan, agar menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.

Para sosialita di sekelilingnya mulai berbisik-bisik seraya menutup mulut dengan kipas.

"Kasian sekali ya... Baru beberapa hari menikah, suaminya sudah kabur ke luar negeri, katanya pengantin pengganti, pantas saja tidak dianggap oleh Regantara Benedict." timpal wanita di samping Fransiska sambil terkekeh sinis.

"Paling gaun yang dipakainya itu juga cuma sewaan." cibir Fransiska lagi, sambil menatap Zara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Kasihan sekali Adhitama Corp harus mempunyai anak yang ditinggal suaminya di malam pertama, tapi masih nekat datang ke pesta perayaan seperti ini hanya untuk cari perhatian." ujarnya.

Roselin dan Selene yang berdiri tak jauh dari sana menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan.

Selene menyesap sampanyenya dengan senyuman puas yang mengembang lebar, sementara Roselin tampak membusungkan dadanya, merasa rencananya untuk mempermalukan Zara di depan umum berjalan dengan mulus.

Namun, Zara tidak menunjukkan raut wajah panik, sedih, atau bahkan marah sedikit pun.

Ia berdiri tenang sambil memperbaiki posisi tas genggamnya, lalu menatap Fransiska dengan mata tajam yang membuat wanita sosialita itu mendadak menghentikan tawa nyaringnya.

"Tante Fransiska." sapa Zara dengan suara yang lembut, namun penuh penekanan.

"Sejak kapan seorang wanita diukur harganya dari apakah suaminya perlu mengekor ke mana pun ia pergi?" Zara menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman yang tampak elegan.

"Tuan Benedict sedang mengurus bisnis bernilai puluhan triliun di Eropa, apakah suami Tante Fransiska tidak punya pekerjaan setinggi itu sampai harus selalu menemani Ibu tiriku pergi arisan setiap hari?" lanjut Zara, sambil melangkah lebih dekat hingga Fransiska refleks mundur.

"A-apa... apa-apaan kamu ini, Zara?!"

Beberapa sosialita di sekeliling mereka menahan napas, sebagian bahkan langsung berbisik-bisik sambil menutupi senyum yang tadinya tampak merendahkan.

Sindiran menohok dari Zara tepat mengenai sasaran, karena suami Fransiska memang terkenal hanya hidup dari warisan dan kerap mengekor ke mana pun istrinya pergi tanpa memiliki bisnis yang jelas.

"Saya hanya menjawab pertanyaan Tante." ujar Zara tenang, namun memiliki racun. "Bukannya Tante sendiri yang penasaran dengan keberadaan suami saya? Jadi saya jelaskan agar Tante tidak perlu repot-repot berspekulasi." jelasnya.

"Kamu... kamu benar-benar tidak punya sopan santun! "Anak tidak tahu diri! Kamu pikir kamu siapa hanya karena memakai gaun hijau itu?!" bentak Fransiska.

"Dia adalah Nyonya Benedict." sebuah suara bariton yang terdengar tegas langsung memotong percakapan dari arah belakang kerumunan.

Selene dan Roselin yang tadinya menikmati pertunjukan itu dari kejauhan seketika membeku.

Kerumunan tamu langsung melangkah mundur, untuk memberi jalan. Pak Karta, didampingi dua pria berjas hitam tegap yang berpenampilan sangat dingin melangkah maju dan berdiri di samping Zara dengan sikap sangat hormat.

Pak Karta memegang sebuah kotak beludru hitam berukir logo emas Benedict Group.

"Mohon maaf atas keterlambatan kami, Nyonya." kata Pak Karta. "Tuan Regantara mengirimkan ini khusus dari Jenewa untuk Anda kenakan di acara malam ini, Tuan menyampaikan permohonan maaf karena jadwal transaksi korporat di Eropa menahannya, namun perhatian beliau sepenuhnya ada pada Anda." jelasnya.

Pak Karta membuka kotak tersebut.

Di dalamnya ada sebuah kalung berlian langka yang bertatahkan batu zamrud murni, perhiasan bernilai puluhan miliar yang pernah menjadi sorotan di lelang internasional.

Mata Selene melotot hampir melompat keluar dari rongganya. Sedangkan Roselin tersedak napasnya sendiri, tangannya yang memegang gelas seketika gemetar hebat.

Zara tersenyum tipis, lalu membiarkan Pak Karta membantunya untuk mengalungkan perhiasan bernilai fantastis itu di leher jenjangnya.

Ia menatap Fransiska yang kini makin pucat pasi.

"Jadi, Tante Fransiska, ada hal lain yang ingin Tante tanyakan tentang suami saya?"

"..."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!