Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersembunyi di Air Jernih

Jantung Raka berdegup kencang melihat bayangan gelap itu bergerak semakin dekat ke arah Adit yang masih berusaha berenang panik menuju tepi kolam. Tanpa berpikir panjang, Raka melompat ke dalam air, berenang secepat mungkin untuk membantu sahabatnya.

Namun sebelum ia sempat mencapai Adit, bayangan gelap itu muncul ke permukaan—ternyata hanya seekor kura-kura air besar, jenis yang memang biasa hidup di kolam-kolam alami sekitar air terjun, yang justru lebih ketakutan daripada mengancam.

Adit, yang sudah berhasil mencapai tepi kolam dengan napas terengah-engah, menatap kura-kura yang kini berenang menjauh dengan tenang, lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan dirinya sendiri. "Astaga... aku kira monster air, ternyata cuma kura-kura!"

Naya, yang tadinya panik, ikut tertawa lega, sementara Raka yang sudah basah kuyup karena melompat terburu-buru hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kamu ini, bikin jantungan aja."

"Habisnya gede banget, kirain buaya!" bela Adit, masih terengah-engah sambil tertawa.

Mereka bertiga akhirnya duduk di pinggir kolam, membiarkan pakaian yang basah mengering diterpa angin sepoi-sepoi, sambil berbagi bekal sederhana yang mereka bawa dari rumah—nasi bungkus buatan Bu Sulastri yang ternyata jauh lebih nikmat dinikmati di tengah alam terbuka seperti ini.

"Eh, ngomong-ngomong," Adit memulai, mulutnya penuh nasi, "tadi aku liat, lho."

Naya mengernyit. "Liat apa?"

"Raka pegang tangan kamu tadi."

Wajah Naya seketika memerah, sementara Raka tersedak nasi yang sedang ia kunyah. "I-itu... itu cuma buat nenangin dia aja, kok!" elak Raka, gugup.

Adit menyeringai jahil, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di balik seringainya—sesuatu yang tidak sepenuhnya jenaka, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan baik. "Iya, iya, aku ngerti kok. Cuma nenangin doang."

Suasana canggung menyelimuti mereka bertiga sesaat, sebelum akhirnya Adit memutuskan mencairkan suasana dengan mengajak bermain lempar batu di permukaan air, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun jauh di dalam hatinya, benih perasaan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat mulai terusik—perasaan yang sama terhadap Naya, yang ternyata juga dimiliki oleh sahabatnya sendiri.

Sore harinya, setelah puas bermain air, ketiganya bersiap untuk kembali, namun baru menyadari bahwa mereka tidak tahu jalan pulang yang benar karena terlalu jauh berjalan dari lokasi angkot yang mogok.

Untungnya, seorang penduduk desa yang kebetulan lewat—seorang bapak paruh baya bernama Pak Karto yang biasa mencari kayu bakar di sekitar hutan—menawarkan bantuan setelah mendengar cerita mereka.

"Wah, kalian ini anak sekolahan, ya? Nekat juga jalan sejauh ini sendirian," katanya sambil tertawa ramah. "Ayo, Bapak antar ke desa, dari sana ada angkutan yang bisa balik ke kota."

Perjalanan pulang dengan menumpang gerobak kayu bakar milik Pak Karto menjadi pengalaman lucu tersendiri bagi ketiganya—duduk berdesakan di atas tumpukan kayu sambil tertawa membicarakan kejadian kura-kura yang mengagetkan Adit tadi siang.

Namun di tengah tawa itu, Raka menyadari sesuatu yang berubah dalam diri Adit—caranya menatap Naya kini sedikit berbeda, lebih lama dari biasanya, meski tetap tersembunyi rapi di balik candaan seperti biasa.

Ia belum sepenuhnya mengerti apa artinya, namun perasaan tidak nyaman yang sama seperti beberapa minggu lalu kembali muncul di dadanya—perasaan yang kelak akan ia sadari sebagai awal dari sebuah persaingan diam-diam yang tidak akan pernah mereka bicarakan secara terbuka, namun akan mengubah dinamika persahabatan mereka bertiga selamanya.

Sesampainya di kota menjelang petang, mereka berpisah di persimpangan biasa, dengan janji akan bertemu lagi keesokan harinya untuk melanjutkan bantu-bantu di rumah Raka.

Namun malam itu, ponsel Naya kembali berdering—kali ini bukan dari orang tuanya, melainkan pesan singkat dari nomor tak dikenal yang membuat wajahnya seketika pucat pasi:

"Naya, ini Kak Wisnu, pengacara Ayah. Sidang perceraian dimajukan jadi besok pagi. Ayah minta kamu hadir di pengadilan jam 9."

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!