Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jamuan Makan Malam

Di malam yang telah ditentukan, jamuan makan malam keluarga Salvadore semakin mendekati waktunya.

Dan tepat satu jam sebelum jamuan makan malam tersebut dimulai, Rozen segera meninggalkan kamarnya dan langsung menuju kamar Aurora dengan membawa langkah tenang seperti biasa. Setelan jas hitam yang dikenakannya juga selalu tampak sempurna mempertegas pembawaannya yang berwibawa.

Rozen merupakan seorang pemimpin yang menghargai waktu. Ia tidak menyukai keterlambatan. Apalagi terlambat menghadiri acara keluarga.

Di sinilah Rozen berdiri sekarang, di depan pintu kamar istrinya. Tanpa menunggu lebih lama, Rozen mengangkat tangan kanannya kemudian mengetuk pada daun pintu yang tertutup rapat sebanyak dua kali.

Bunyi ketukan terdengar tegas. Tidak lama setelahnya, suara balasan terdengar dari dalam.

"Masuk." Suara Aurora yang mempersilahkan untuk masuk.

Pintu kamar terbuka perlahan menampilkan sosok Rozen yang terlihat menawan.

Ketika Rozen hendak melangkah memasuki kamar, langkah itu terhenti seketika.

Di dalam kamar, Aurora sedang berdiri di depan cermin mengenakan gaun satin berwarna biru langit. Potongannya tergolong sederhana, tetapi berhasil membentuk siluet tubuh gadis mungil itu dengan anggun. Rambut panjangnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai dengan sentuhan riasan tipis yang membuat wajah kecil itu tampak semakin lembut.

Untuk beberapa saat, Rozen hanya memandang dalam diam.

Sebenarnya bukan karena jantungnya berdebar kencang, atau karena perasaan cinta yang tiba-tiba tumbuh. Rozen hanya terpaku pada warna gaun yang dikenakan Aurora.

Biru langit. Warna yang sering dikenakan mendiang ibunya.

Ingatan Rozen seketika mundur pada moment masa kecilnya. Membayangkan sang ibu berjalan menyusuri taman dengan gaun berwarna serupa, tersenyum hangat sambil membawa sekeranjang bunga yang baru dipetik dari taman.

Kenangan yang datang begitu saja tersebut membuat Rozen kembali merasakan kerinduan yang begitu dalam.

Aurora menyadari tatapan suaminya melalui pantulan di kaca. Tidak dapat terelakkan bahwa Aurora mulai merasa gugup. Gadis itu menunduk sekilas dan mencoba merapikan lipatan gaunnya yang tampak baik-baik saja itu dengan jemari yang gelisah.

"Apa ada yang salah?" tanya Aurora dengan risau sambil memutar posisi tubuhnya menjadi menghadap Rozen.

"Kalau gaun ini kurang pantas, aku masih sempat menggantinya."

Perkataan Aurora tersebut akhirnya sukses membuyarkan lamunan Rozen tentang kisah masa lalunya bersama sang ibu.

Pria itu berkedip pelan sebelum menggeleng.

"Tidak."

Tatapan datar khas Rozen tanpa disadari kembali jatuh pada gaun biru yang dikenakan istrinya.

"Cocok untukmu."

Akhirnya Aurora menghela napas lega. Senyum kecil perlahan menghiasi wajahnya, meski pipinya mulai memerah karena dipuji secara langsung oleh suaminya.

Rozen memalingkan wajah sejenak. Pria itu berkedip pelan, memaksa dirinya kembali ke kenyataan. Ia tahu betul alasan dirinya terpaku tadi.

Semua karena bayangan sang ibu yang seolah kembali hadir. Senyum hangat wanita itu, taman bunga yang selalu dirawatnya, hingga gaun-gaun biru yang kerap dipakainya saat makan malam bersama keluarga. Itu adalah beberapa kebiasaan yang selalu ibunya lakukan. Dan semua kebiasaan tersebut diulang Aurora tanpa gadis itu sadari.

Rozen cukup terkesima. Bukan karena Aurora mengenakan gaun biru langit yang indah, melainkan karena untuk sesaat, warna biru langit itu menghidupkan kembali kenangan tentang satu-satunya wanita yang pernah membawa kehangatan di dalam Mansion Salvadore, ibunya.

Sementara itu, Aurora mengangkat wajahnya perlahan. Tangannya saling menggenggam erat di depan perut, berusaha meredam kegelisahan yang sejak tadi memenuhi dadanya.

Jamuan makan malam itu bukan sekadar acara keluarga biasa. Malam ini adalah pertama kali ia diperkenalkan sebagai istri Rozen Salvadore di hadapan keluarga besar Salvadore.

Aurora tidak takut bertemu orang baru. Yang membuatnya khawatir adalah alasan di balik pernikahan tersebut.

Aurora datang bukan sebagai wanita yang sejak awal dipilih untuk mendampingi Rozen. Ia hanyalah pengganti Isabella, kakaknya yang melarikan diri. Bagaimana jika keluarga suaminya membandingkannya dengan Isabella dan menganggap dirinya hanyalah pengganti?

Aurora mengembuskan napas pelan lalu menundukkan pandangannya masih dengan aktivitas jemarinya yang saling bertaut erat.

"Rozen?" cicit Aurora.

Rozen yang masih berdiri di samping pintu menoleh pelan.

"Ada apa?" Rozen mendekati Aurora beberapa langkah hingga menyisakan jarak di antara mereka sejauh satu meter saja.

Aurora menarik napas panjang sebelum memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya kembali.

"Aku sedikit khawatir."

"Tentang apa?" respon Rozen dengan tenang.

Aurora tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mampu menyembunyikan kegugupannya.

"Ini pertama kalinya aku bertemu keluargamu."

Aurora berhenti sejenak, mencari keberanian untuk melanjutkan. Wanita itu sangat takut jika perkataannya terlalu lancang dan berakhir menyinggung perasaan suaminya.

"Aku takut mereka tidak bisa menerimaku." Meski dengan suara degup jantung yang luar biasa kencang, Aurora berhasil mengatakan perasaannya. Di hadapan suaminya yang selalu bereaksi datar.

Aurora sama sekali tidak tahu apa yang sedang suaminya itu pikirkan.

Suasana kamar mendadak hening.

Aurora dengan ragu mengangkat pandangannya perlahan, menatap pria yang kini menjadi suaminya.

"Mereka pasti tahu kalau seharusnya yang berdiri di sampingmu bukan aku."

Walau pelan, tapi nada suara Aurora semakin lirih. Karena wanita itu sudah teramat tersiksa dengan segala overthinking tersebut.

"Aku hanya pengganti Isabella," lanjutnya lagi.

Kalimat itu terasa begitu berat. Aurora merasakan sesak di dadanya saat mengucapkannya.

Aurora terpaksa menggigit pelan bibir bawahnya agar air matanya tidak jatuh dulu.

"Kalau nanti keluargamu membenciku, aku akan mengerti."

Rozen memandang Aurora beberapa saat. Wajahnya selalu terumbar tenang tanpa perubahan ekspresi seperti biasanya.

"Tidak seorang pun berhak memperlakukanmu dengan buruk."

Aurora sedikit terkejut. Perkataan suami dinginnya itu terdengar seperti sebuah jaminan. Aurora tidak menyangka jawaban itu akan didengarnya langsung dari bibir Rozen.

Rozen melanjutkan dengan nada datar ciri khasnya.

"Sejak hari pernikahan itu selesai, kau adalah istriku."

Hanya satu kalimat yang tidak diucapkan dengan nada lembut dan tanpa senyuman. Namun bagi Aurora, kalimat sederhana itu terasa seperti sebuah penegasan. Walau bukan penegasan yang lahir dari cinta, melainkan dari tanggung jawab yang pernah ditegaskan Rozen sebelumnya.

Tidak masalah karena kecemasan yang sejak tadi memenuhi dada Aurora perlahan berkurang.

Aurora mengulas senyum kecil.

Meski Aurora tahu suaminya belum memiliki perasaan apa pun padanya, mengetahui bahwa suaminya bersedia berdiri di sisinya sebagai seorang suami sudah cukup membuat Aurora merasa sedikit lebih berani menghadapi malam itu.

"Terima kasih. Tapi jujur saja, aku masih sedikit gugup."

Rozen akhirnya mengalihkan pandangannya dari Aurora. Sudah cukup memandang dan mendengarkan kegundahan hati istrinya tersebut.

Rozen memang selalu berekspresi datar dan bersikap dingin. Tapi setiap kali Aurora mengungkapkan isi hatinya, Rozen selalu mendengarkan tanpa memotong atau menghakimi.

"Jangan terlalu memikirkannya. Kita hanya makan malam bersama."

Aurora mengangguk pelan, meski kegelisahan di hatinya belum benar-benar hilang.

Rozen berjalan lebih dulu menuju pintu, lalu berhenti sejenak.

"Ayo."

Di depan pintu, Rozen mengulurkan tangannya, menanti uluran tangan Aurora agar mereka berjalan bersama.

Aurora mengerti niat sang suami dan dengan segera menerima uluran tangan suaminya sebelum meninggalkan kamarnya. Mereka berjalan bersama dengan tangan yang saling menggenggam erat.

Malam itu bukan hanya menjadi pertemuan pertama Aurora dengan keluarga Salvadore. Tetapi juga langkah awal untuk diterima sebagai bagian dari keluarga yang seharusnya tidak pernah menjadi miliknya.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!