Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Eliana melangkah dengan bahu meliuk lesu di belakang Lucien. Setiap kali Pangeran Mahkota itu melangkahkan kaki panjangnya, Eliana hanya bisa menatap punggung tegap berbalut hoodie kelabu itu dengan tatapan membunuh. tangannya yang tersembunyi di dalam saku celana mengepal erat, berkali-kali memperagakan gerakan menonjok udara tepat di belakang kepala Lucien.

"Gila ya ini cowok, semena-mena banget!" umpat Eliana dalam hati, wajahnya ditekuk habis-habisan. "Gue kan lagi cuti! Bebas tugas! Malah dijadikan babu kawalan luar dinas. Kalau bukan Pangeran yang bisa bikin gue masuk penjara, udah gue sleding dari tadi!"

Namun kekesalannya mendadak menguap berganti rasa bingung ketika Lucien membawanya melipir masuk melewati pintu samping sebuah gedung megah. Gedung pencakar langit yang sama dengan tempat acara pelantikan direktur baru tadi perusahaan perhiasan milik keluarga Rosalie.

Eliana menyapu pandangan ke sekeliling aula lantai dasar yang mewah. Di sana, di antara deretan karpet merah dan dekorasi bunga krisan mahal, sosok Rosalie tampak berdiri anggun memegang segelas sampanye. Dan tak jauh dari sana, berdiri Tuan Muda Gerald pria tampan berambut pirang klimis dengan pakaian jas kebangsawanan yang sedang melempar senyum penuh arti ke arah Rosalie.

Eliana membelalak, matanya bergantian menatap Lucien dan pasangan di ujung ruangan itu.

"Lohhh? Di sini juga tujuan Pangeran?!" batin Eliana heboh, sama sekali tidak menyadari bahwa Lucien kembali menyadap seluruh pikirannya. "Ngapain coba dia ke sini? Aah, pasti mau ngeliat kekasih tercintanya yang lagi tampil anggun di depan publik. Kasihan banget sih nih cowok... Dia cuma gak tahu aja kalau cewek idaman yang paling dia cintai itu sebenarnya udah pernah tidur sama mantannya!"

Eliana menyilangkan dada, memasang raut wajah jijik yang amat sangat di dalam batinnya. "Udah gak perawan, penghianat lagi. Iuh, menjijikkan banget!"

SRET!

Tanpa ada peringatan sedikit pun, sebuah cengkeraman kuat berurat menempel di leher Eliana.

Lucien berbalik kilat, mendorong tubuh Eliana hingga terbentur keras ke pilar batu gorden di balik remang-remang koridor samping. Wajah Pangeran Mahkota itu mendadak menggelap, iris mata birunya berkilat membunuh, penuh dengan kemarahan yang tertahan dan rasa guncangan yang luar biasa hebat.

Cengkeraman tangan Lucien di leher Eliana mengencang, mencekik saluran pernapasan gadis itu hingga udara di sekitarnya terasa lenyap seketika.

"P-Pangeran..." cicit Eliana kesusahan. Wajah cantiknya memerah, jemarinya panik mencengkeram pergelangan tangan Lucien yang terasa bagaikan besi panas. Matanya yang membulat menatap Lucien penuh ketakutan dan kebingungan. Ada apa dengan pria ini?! Kenapa tiba-tiba dia kesetanan begini?!

Melihat mata Eliana yang mulai berkaca-kaca dan tubuhnya yang gemetar karena kehabisan oksigen, Lucien seolah tersadar dari kegilaan singkatnya. Ia melepaskan cengkeramannya secara mendadak.

UHUK! UHUK!

Eliana tersungkur pelan, memegangi lehernya yang terasa panas dan memar. Ia terbatuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya yang terasa membakar.

"Anjing! Bangsat! Orang gila!" serapah Eliana menggelegar hebat di dalam hatinya, mengutuk habis-habisan pria di hadapannya tanpa sadar bahwa sang Pangeran mendengar setiap patah kata makian tersebut. "Nih Pangeran kesetanan apa gimana si?! Tiba-tiba nyekik orang tanpa sebab! Sakit jiwa! Emang beneran lebih baik gue cepat-cepat kabur dari kerajaan srek ini, pangerannya aja udah gak waras!"

Di atasnya, Lucien berdiri mematung. Dadanya naik turun menahan emosi yang berkecamuk. Kenyataan pahit yang baru saja disuarakan oleh batin Eliana membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Dari kejauhan di tengah riuk-pikuk hall utama yang megah, suara tepuk tangan riuh membahana. Rosalie berdiri anggun di atas panggung kecil, memegang piala penghargaan kristal dengan senyum memikat. Di sebelahnya, Tuan Muda Gerald berdiri memberikan pujian manis lewat mikrofon, menatap Rosalie dengan pendar mata yang menyimpan sejuta makna terselubung.

Dari sudut remang-remang di balik pilar besar, Eliana melirik ke arah Lucien yang berdiri mematung di sampingnya.

Muka pangeran itu datar, tapi matanya berkilat dingin dan redup. Ada guratan luka dan ketegangan yang sangat jelas di rahangnya yang mengatup rapat.

Eliana menghela napas pelan, menatap Lucien dari samping. "Dia... kelihatan sedih banget," batin Eliana, rasa prihatin yang jujur mendadak menyusup di hatinya, dan suara itu kembali bergema jernih di kepala Lucien. "Tapi kenapa sedih ya? Apa dia terharu banget sampai mau nangis gara-gara senang ceweknya berhasil dapat penghargaan? Ckck, bucin berat emang. Aishh... bodo amat deh!"

Eliana menyenggol pelan lengan tegap Lucien yang terbungkus hoodie. "Pangeran, mumpung orang-orang lagi fokus di dalam, mending kita keluar sebentar. Sumpek di sini," bisik Eliana.

Lucien tidak menjawab, tapi ia membiarkan Eliana memimpin langkahnya melipir keluar lewat pintu samping gedung.

Mereka berjalan menyusuri trotoar bersih yang sedikit lebih tenang. Langkah Eliana mendadak berhenti di depan sebuah kedai minuman modern bernuansa minimalis. Matanya berbinar terang saat melihat papan menu di atas meja kasir.

"Mencari apa kau?" tanya Lucien dengan suara berat dan dingin dari balik kupluk hoodie-nya.

"Minum Matcha!" jawab Eliana antusias tanpa ragu.

Sebagai mantan mahasiswa paruh waktu di dunia nyata, matcha adalah satu-satunya 'kemewahan' yang selalu bisa memulihkan energinya setelah lelah bekerja. Eliana merogoh sisa koin di dompetnya, memesan dua cangkir matcha latte dingin dengan lapisan busa susu yang tebal di atasnya.

Tak lama, Eliana kembali dengan dua cangkir plastik berkeringat. Ia menyodorkan salah satu cangkir ke dada Lucien. "Nih, Pangeran. Minum dulu biar pusingnya hilang."

Lucien menatap cangkir berbahan plastik transparan yang berisi cairan hijau pekat itu dengan alis bertaut tajam. Pandangannya memancarkan penolakan mutlak.

"Saya tidak meminum minuman tak jelas seperti ini," tolak Lucien dingin, melangkah mundur setengah tapak. "Seluruh makanan dan minumanku harus melalui uji tabib istana."

Eliana memutar bola matanya malas, menahan keinginan untuk mendengkus keras. "Gengsi banget nih pangeran kaku. Padahal tiap hari diminumin racun sama ceweknya tetep disedot sampai habis," cibiran batin Eliana mendadak meluncur mulus ke kepala Lucien, membuat Pangeran Mahkota itu membeku di tempat.

Namun, di luar, Eliana tetap memasang senyum paling sopan dan ramah yang ia punya. Ia mengarahkan cangkir itu lebih dekat ke tangan Lucien.

"Aduh, Pangeran... ini enak banget, beneran deh," tutur Eliana dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin, penuh penekanan yang sopan. "Coba dulu sekali aja seumur hidup. Lagipula, ini kan juga hasil olahan dan buatan rakyatmu sendiri di Kerajaan Valdoria, masa Yang Mulia Pangeran Mahkota nggak mau menghargai usaha rakyat kecilnya?"

Lucien menatap cangkir hijau itu, lalu beralih menatap wajah Eliana yang kini memancarkan pendar jahil sekaligus tulus secara bersamaan. Kata 'menghargai buatan rakyat' yang diucapkan gadis itu terasa seperti jebakan manis yang tidak bisa dibilang 'tidak' oleh seorang calon raja.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!