Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan yang Aku Biarkan

POV Revan

Aku melangkah tegap, menulusuri setiap ruang rumah yang mulai gelap, tengah malam. Aku baru selesai jaga dirumah sakit, sudah dua Minggu berturut-turut aku pulang hampir larut malam, benar-benar untuk urusan kerjaan. Bukan hanya alasan untuk bertemu dengan Aira, kekasihku.

Aku membuka pintu kamar pelan, cahaya lampu keemasan kini menyelimuti hangat kamarku yang sudah terisi oleh seorang wanita, istriku hanya sebatas status demi memenuhi permintaan dari ibu yang sangat menyukainya.

Tidak terasa sudah satu bulan aku menikah dengan nya.

Aku melangkah pelan, menyalakan sebagian saklar lampu. Agar tidak terlalu terang takut jika mengusik waktu tidur wanita yang sedang meringkuk di balik selimut. Seperti biasa, guling pembatas akan ia tendang sampai terlempar ke bawah lantai, kemudian ia kan mengikis jarak dan tiba-tiba mengambil jatah tempat tidurku.

Sorot mataku tertuju pada wajahnya, begitu teduh dibawah sinar kekuningan lampu tidur disebelahnya. Pantas saja ibu sangat menyukainya.

Satu bulan menikah, ia selalu melakukan tugasnya dengan baik sebagai istri, bahkan aku sudah mewanti-wanti untuk tidak mengurusi keperluanku. Tapi tetap ia lakukan, walaupun hubungan kami semakin terasa hambar.

Bahkan aku sering memamerkan kemesraan dengan Aira lewat ponsel, tapi ia tidak mengusik hubunganku dengan Aira sama sekali. Tidak ada drama rumah tangga yang ia lakukan, ia hidup pada jalannya. Mematuhi suami, selebihnya ia hanya sibuk dengan kegiatannya sendiri, entah apa yang wanita itu lakukan akhir-akhir ini, aku beberapa kali melihat ia sibuk didepan laptopnya.

"Aku memang pernah mengagumi kak, sampai saat ini. Tapi aku tidak ingin memaksakan sebuah rasa, jika kamu tidak menginginkannya. Berbahagialah, dengan apa yang ingin kamu pilih. Aku tahu kamu terpaksa dengan pernikahan ini, jadi aku tidak ingin lebih, dalam mempersulit kehidupanmu."

Wanita ia rela mengorbankan perasaanya demi kebahagiaanku. Maafkan aku Alya, kamu wanita yang sangat baik.

Aku kembali melirik Alya, matanya terpejam sempurna, kelopak mata dengan dihiasi bulu mata lentik itu yang selalu memberiku binar setiap pagi. Tapi selalu aku abaikan. Hembusan nafasnya terdengar lembut, ringan seperti tanpa beban.

Aku membenahi tempat tidurnya, menggeser tubuhnya yang terasa ringan. Menempatkan tubuh ringkih itu, pada tempat tidur yang seharusnya ia tempati. Kembali memungut guling yang tersungkur di lantai, menyimpannya di tengah yang berfungsi sebagai pembatas kami. Walaupun itu akan percuma pada akhirnya.

Aku melirik kaos berwarna biru tua dan celana training berada pada bagian tempat tidurku serta secarik kertas terlampir disana.

Kak Revan, kamu ini adalah seorang dokter. Tapi selalu mengabaikan kesehatan diri sendiri. Tidur, dan ganti pakaian kerja mu. Atau virus akan menjadi mimpi buruk mu. A

Senyum tipis kini mulai terbentuk.

Lah, kenapa aku harus tersenyum?

Gegas aku berganti pakaian, kemudian mencuci tangan dan kaki kedalam kamar mandi. tubuhku sangat lelah, dan ingin segera beristirahat. hawa dingin diluar semakin terasa.

Baru saja beberapa detik aku meninggalkan ranjang ini, kini kasur kembali di kuasai Alya. Kabar baiknya, tubuh wanita ini kecil dan sangat ringan, jadi aku bisa memindahkannya dengan mudah.

Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku dengan nyaman, mulai bisa memejamkan mata dengan baik. Tanpa kepikiran dengan drama apalagi yang akan Aira lakukan, kekasihku. Aku sangat mencintainya. walaupun sedikit menyebalkan tapi aku sangat menyayanginya.

Aira sangat baik dan cantik, tapi mengapa ibu tidak menyukainya. Ibu tidak memberikan alasan apapun akan hal itu.

Pluk...

Alya kembali memeluk ku erat, lengannya yang kecil pas melingkari dada ku. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa bahuku. Wanita ini bergumam kecil dengan suara serak.

"Ayah..adek kangen..."

Perasaan rindu pada ayahnya yang selam ini terpendam, aku bergerak untuk melepaskan pelukan Alya. Berhasil, aku bisa bernafas lega dan kembali memejamkan mata, rasa kantuk dengan kelopak mata mulai lengket kini sudah menyerang ku.

Baru sekejap memejamkan mata, aku kembali merasakan lengan Alya yang kembali memeluk tubuhku, dengan kepala yang bersandar nyaman pada lenganku. Menjadikan lenganku sebagai bantalan untuk kepalanya.

Rasa kantuk semakin menyerang, tidak bisa ditahan lagi. Tak ada lagi tenaga untuk menyingkirkan pelukan Alya pada tubuh ini, sampai tiba-tiba aku terlelap. Membiarkan Alya yang tertidur dan terus memeluk tubuhku.

🌸🌸🌸

Mataku mengerjap singkat, terusik dengan pergerakan kecil disampingku.

Alya yang terbangun dari tidurnya, ia bergerak perlahan untuk bangkit dan berusaha sepelan mungkin agar aku tidak terusik oleh pergerakannya, tapi itu sia-sia. Mataku sudah terbuka lebar dan sedang memperhatikannya.

Rasa kantuk itu sirna sudah, berubah dengan sebuah rasa kesal yang melekat dalam dada.

"Apa kau sengaja? Tidur menghimpit jarak denganku, lalu kau memelukku?"

Alya yang masih berusaha untuk bangkit sontak mendongakkan wajahnya, binar mata bening itu menatapku dengan raut wajah yang merasa bersalah dan takut.

"Kak..." desisnya pelan.

Aku membiarkan sejenak Alya untuk duduk, wanita itu bersila dengan selimut yang masih bergumul pada tubuhnya. Ia masih menatapku dengan wajah yang penuh rasa bersalah.

"Oke jika kamu memiliki perasaan suka padaku. Aku tidak melarang untuk itu, tapi maaf aku tidak akan membalasnya."

Alya menundukkan wajahnya, tatapan matanya begitu kosong. Sesekali jemarinya membenahi letak kancing piyama yang ia pakai.

"Kak...maaf kalau kamu merasa keberatan, tapi aku memang tidak sadar. Itu semua di luar batas kesadaranku, maaf." suaranya terdengar serak dan begitu lemah.

Aku mendengus pelan, satu bulan menikah dan ia selalu tertidur dengan memelukku. Apa itu semua kebetulan atau hanya akal-akalannya saja.

"Sudah ku bilang, kamu urus saja keperluanmu tanpa mengikut campurkan keperluanku. Pernikahan ini terjadi hanya karena aku ingin mengabulkan permintaan ibu saja. Jadi jangan harap lebih dengan pernikahan ini, Alya."

Aku melihat anggukan samar, lantas ia menjawab pelan, dan suaranya terdengar begitu lemah.

"Aku paham kak.."

"Mari jalankan kehidupan masing-masing, pupus harapanmu terhadapku. Karena bisa saja, aku akan melepasmu dalam waktu dekat."

Alya mengangkat wajahnya perlahan, tatapannya begitu terlihat teduh dibawah temaram sinar lampu tidur. Ia menyunggingkan senyum tipis.

"Izinkan aku berbakti padamu kak, sebelum waktu itu terhenti, agar aku bisa terlepas tanpa adanya rasa bersalah. Izinkan aku untuk tetap mengurus keperluanmu. Bukan untuk meraih simpati, tapi sebagai baktiku sebagian seorang istri. Makasih kak, sudah menyadarkan ku pagi ini."

Alya turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.

Entah mengapa kalimat yang barusan ia katakan, membuat dada ini terasa sesak.

Aku bangkit dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Mencerna semua kalimat yang Alya lontarkan padaku, begitu sederhana tapi entah mengapa jika mengingatnya hati ini semakin terasa sesak.

'Brakk...'

Suara benda jatuh terdengar dibalik kamar mandi.

Alya..

"Kak Revan...!"

Bersambung....

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!