Indonesia
NovelToon NovelToon
Sebuah Harga Diri

Sebuah Harga Diri

Status: tamat
Genre:Pelakor / Nikahmuda / Selingkuh / Tamat
Popularitas:40.2k
Nilai: 5
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.

Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.

Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.

Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?

"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Harapan mertua.

Tidak terasa hari bergulir berganti hari. Semua begitu cepat berlalu, hingga satu masa terlampaui seperti dalam mimpi.

Delapan bulan berlalu sudah. Kehidupan rumah tangga Amy dan Heru, tidak berubah. Masih dingin dan beku, malah sekarang keduanya telah tidur pisah kamar.

Hanya demi menjaga nama baik keluarga mereka saja, Amy dan Heru bertahan tinggal seatap. Mereka benar- benar telah menjadi dua orang asing yang tinggal dalam satu atap dan terikat tali pernikahan.

Entah sampai kapan hal ini akan terus berlangsung. Rasa sakit dihati Amy sudah tidak ia pedulikan lagi. Hatinya telah perlahan mati. Sudah tidak perduli lagi apa itu yang namanya pernikahan.

Sepanjang dirinya bisa bertahan dia akan terus bertahan. Amy, tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik. Mengurus rumah, meladeni kebutuhan suaminya menyiapkan makan dan urusan pakaian. Amy bahkan tetap berbicara dan saling sapa, selayaknya dua sahabat. Keduanya begitu pandai bersandiwara.

Setiap orang yang melihat mereka dari luar, pasti mengira mereka adalah sepasang suami istri yang harmonis.

"Dek, tadi mama telepon, akhir pekan ini kita pulang. Dan menginap di rumah mama." ucap Heru, memandang istrinya

dengan tatapan penuh makna saat sarapan bersama.

"Ya, tidak apa-apa. Aku mengerti," sahut Amy menyudahi sarapan paginya. "Itu berarti besok, nanti sepulang kantor aku akan beli oleh-oleh buat mama. Oh, ya kita berapa hari menginapnya, biar aku siapkan pakaian abang,"

"Kita balik hari minggu malam. Berarti dua hari."

"Baiklah," sahut Amy lalu membersihkan meja dan peralatan makan mereka.

"Tidak apa-apa 'kan, dek?" ucap Heru serasa ada yang menganjal hatinya.

"Memangnya ada apa?" Amy malah balik bertanya.

"Maksudku, kita disana sampai dua hari, apa adek tidak keberatan?"

"Yang keberatan dan yang tidak nyaman itu siapa, bang? Ah, sudahlah jangan membahas soal yang tidak penting itu lagi! Dimata orang kita tetaplah suami istri, jadi kita sudah sepantasnya bersikap seperti suami istri di depan mereka. Hanya bersikap, ya bang. Tenang sajalah aku masih waras kok." ucap Amy panjang lebar. Karena Amy melihat kepanikan di mata suaminya.

"Aku minta maaf, dek," ucap Heru.

"Simpan saja untuk nanti, bang." lengos Amy. Seraya mengambil tasnya dan bersiap mau berangkat kerja.

Heru menelan salivanya yang terasa pahit, dengan susah payah. Dari hari ke hari dia menyaksikan dalam diam dan sesal karena telah kehilangan sosok istrinya.

Istrinya tetap menghormatinya sebagai layak seorang suami. Melaksanakan kewajibannya. Terkecuali urusan ranjang. Karena dirinya sendiri yang tidakk mampu sebab trauma dengan kejadian yang menimpa istrinya.

Entah, sampai kapan mereka bisa bertahan. Dia yang begitu pengecut. Sampai sekarang belum menjamah istrinya, walau telah sering dia coba. Tapi selalu gagal dia lakukan.

Hingga akhirnya Amy memilih pisah ranjang, karena tidak ingin membuatnya tersiksa dan terbebani oleh suatu tanggung jawab.

Heru yakin istrinya terluka karena sikapnya. Karena itulah dia menenggelamkan dirinya dengan kesibukkannya bekerja. Berangkat pagi pulang sore, sedang dirinya kadang larut malam baru pulang. Pertemuan mereka dan kesempatan berbicara hanya saat pagi di meja makan.

Terkadang malah, istrinya pergi terlalu pagi. Sehingga mereka tidak sempat bertemu seharian. Bahkan pernah sampai satu minggu, karena waktu berangkat kerja mereka berbeda, tidak saling jumpa dan bicara.

Terkadang Heru, merasa jenuh juga. ingin memperbaiki yang terlanjur dia rusak. Namun Heru, melihat jarak itu sudah terlalu menganga untuk dia lompati.

"Hai, mantu mama, akhirnya kalian sampai juga," bu Meity menyambut kedatangan Amy dan Heru, dengan pelukan hangatnya. "Bagaimana kabarnya, sudah isi, belum?" bisiknya pada menantunya. Tapi cukup terdengar jelas di telinga Heru.

"Belum, ma. Amy minta doanya, ya," ucap Amy memandang mertuanya dengan tatapan luruh.

"Mama selalu, bawa kalian didalam doa, mama. Belum setahun kok, yang sabar aja, ya." bu Meity malah menghibur menantunya. Amy tersenyum manis, dan bersua mata dengan Heru. Heru memalingkan wajahnya, yang mendadak pucat.

"Kalian baik-baik saja 'kan?" tatapan pak Fandy pada Heru sangat lekat. Hati Amy tercekat mendengar nada pertanyaan itu.

"Oh, ya ma, Amy bawakan oleh-oleh buat mama dan bapak," Amy mencoba mengalihkan suasana. Karena sempat melihat sikap Heru yang canggung. Amy langsung menyerahkan oleh- oleh itu ketangan ibu mertuanya.

"Mama dan Bapak tidak meminta oleh- oleh, hanya sering-seringlah pulang ke rumah ini. Masih tinggal satu kota, tapi kalau gak disuruh datang, gak mau datang. Sesibuk apapun, tetap kalian luangkan waktu pada kami," protes pak Fandy.

"Maafkan, kami bapak, ma," ucap Amy dan Heru serempak.

"Udah, pak. Yang penting 'kan mereka sudah pulang. Jangan marah-marah terus, biarkan mereka istirahat dulu," lerai bu Meity menengahi. "Kalian istirahat dulu, kamar kamu selalu mama bersihkan, Her, gak perlu dibersihkan lagi."

"Iya, ma, makasih ya. Ayo, dek," ajak Heru pada istrinya.

"Bapak tadi kenapa, sih. Bikin gak enak sama menantu saja," protes bu Meity sama suaminya setelah Heru dan Amy naik ke atas.

" Bapak itu, marah sama Heru, bukan sama Amy."

"Yah, sama aja, mereka itu 'kan suami istri. Bapak marahi salah satu, sama aja marah sama keduanya."

"Masak gitu, mama ini ada-ada saja. Apa benar Amy juga bekerja, ma? "

"Iya, pak. Makanya mereka sibuk terus."

"Apa tidak cukup Heru saja yang kerja. Kalau mereka kekurangan uang, kita bisa bantu, iya 'kan," ucap Pak Fandy.

"Biarlah itu urusan mereka, pak. Kita jangan mencampurinya. Lagian mereka masih muda. Heru itu sama kek bapak, saat muda, hidup mandiri dan membuktikan bisa sukses karena perjuangan sendiri. Iya 'kan."

"Iya, juga sih, ma. Tapi bapak, kok merasa ada yang aneh dengan mereka. Bapak rasakan tapi gak tau tentang apa?"

"Duh, bapak. Jangan mikir yang gak- gak, nanti malah terkabul. Maksud bapak mereka punya masalah, karena Amy belum hamil, gitu?" telisik bu Meity pada suaminya.

"Kalau masalah itu, adalah pemberian Tuhan. Bapak tidak akan membuat target kapan mereka harus punya anak."

"Trus, apa yang bapak pikirkan," bu Meity begitu penasaran.

"Hanya firasat bapak saja, dan terlalu dini mengemukakannya."

"Aduh, bapak ini. Ngomongnya kok muter-muter sih, bikin bingung saja."

"Kamu itu tadi kenapa, bang?" ucap Amy begitu mereka tiba di kamar.

"Memangnya kenapa" Heru balik bertanya.

"Yah, sikap kamu itu loh, bapak saja bisa menangkap ada yang gak beres dengan kita. Padahal baru beberapa menit kita sampai. Apalagi sehari dua hari kita disini. Bapak dan mama akan tau semuanya tentang kita," ucap Amy kesal.

"Aku hanya kaget dengan pertanyaan mama tadi?"

"Cuma gegara itu, harusnya abang tau kalau pertanyaan seperti itu bakalan kita dengar dari bapak dan mama. Bahkan orang lain."

"Apa kamu tidak merasa apa-apa, saat mama bertanya begitu," ucap Heru.

"Memangnya aku harus bicara jujur begitu? Bagaimana aku bisa hamil kalau anaknya tidak pernah menyentuhku, itu maksud abang," delik Amy dengan napas tertahan.

"Bukan begitu, maksudku dek."

"Sudahlah, bang. Kita ini hanya pasangan suami istri diatas kertas. Tidak lebih! Jadi abang harus tegas, dengan sikap abang. Jika tidak , kita akhiri saja semua ini. Berterus terang saja kepada orang tua kita kalau kita ...."

"Cukup! Amy. Cukup" bantah Heru keras, membuat Amy kaget, karena selama mereka bersama Heru belum pernah berbicara sekasar itu.

"Lalu, sebenarnya apa sih maumu, bang?" *****

1
Ika Marbun
singkat padat jelas ga bertele-tele
lanjut terus thor
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indahnya
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️
Yunerty Blessa
wow... mantap kak thor..
Yunerty Blessa: Sama kasih kak thor
total 3 replies
Yunerty Blessa
betul sekali Pram... nanti dibilang penyibuk 🤣
Yunerty Blessa
Menyatu nya Pram dan Amy ada campur tangan Arya...
Yunerty Blessa
cari kesempatan dalam bilik mandi 🤭🤣🤣🤣
Yunerty Blessa
syukurlah ,Amy telah selamat menjalani pembedahan melahirkan...
Yunerty Blessa
#Heru
Yunerty Blessa
salah sendiri terlalu mencari kesempurnaan, kau rasa diri mu juga terlalu sempurna...
Yunerty Blessa
kasian Heru...beli baju baby untuk teman dan bukan untuk diri sendiri 😒
Yunerty Blessa
berarti kembar lelaki..
Yunerty Blessa
sabar Pram 🤣🤣
Yunerty Blessa
sabar Pram, begitu lah kalau isteri lagi hamil..
Yunerty Blessa
semoga Amy hamil..
Yunerty Blessa
seharian buat baby,apa tak sakit badan 🤭
Yunerty Blessa
malam yang di tunggu² untuk sepasang pengantin baru... olahraga malam untuk mencetak gol 🤭
Yunerty Blessa
sabar Pram...tiga bulan sekejap saja...
Yunerty Blessa
kalau begitu, terima lah lamaran Pram.. apa lagi kedua orang tua Pram juga menyukai mu..
Yunerty Blessa
syukur lah,Amy bisa di terima di keluarga Pram..
Yunerty Blessa
pasti orang tua Pram setuju kerana mereka juga suka dengan Amy..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!