" pokoknya saya nggak mau tahu ya ajari anak itu dengan benar. sungguh merepotkan tak pernah luput dari kesalahan. selalu saja buat susah. anak sial.
ucapan nya selalu terngiang dimana pun aku berada, membuat ku sakit kapan pun jika teringat. dan aku hanya dapat menangis dengan memeluk diriku sendiri lalu terlelap dalam tidur ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Aprilianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Dan Diriku Bab 9
Aku Dan Diriku Bab 9
lho! Eh?! Apa apaan dia ini? Siapa dia?
...
"Kak, kenal sama no ini nggak?"
"Uhm sebentar, lah? Ini kan no cowok yang kemarin. Lihat foto profil nya"
"Lah iya! Kenapa aku nggak liat profil nya? Terus, kenapa dia bisa chat aku kak? Kakak yang kasih no ku?"
"Ehh? Jelas bukan aku lah, orang aku lagi incar dia masa aku kasih no saingan mana ada!"
"Ehh!? Sungguh?"
"Iya april, curigaan banget kamu ini jadi orang!"
"Ya lagian, kenapa juga aku harus di jadikan kaka saingan? Orang aku nggak suka sama tuh orang! Kalo mau kejar ya kejar aja kak, jangan bawa bawa nama orang"
"Ya siapa yang tahu kan, aku incar dia eh dia incar kamu. Gimana?"
"Lah, jelas nggak sih itu bukan urusan aku ah kakak ini, ada ada aja lho bercandaan nya"
"Udah udah lanjut kerja aja, tuh diliatin bos tahu"
"Iya iya, lanjut kerja ko ini"
Ternyata orang itu, ko bisa? Dapat no ku dari mana kalo bukan kak isti yang kasih?
Yah sudahlah tak ingin aku membebani pikiran ku lagi, sudah cukup masalah kemarin pun belum selesai.
"Ah iya benar juga, aku harus beli wadah untuk air di rumah bukan? Aku harus bergegas"
Aku pulang sdengan membawa wadah besar, dan hanya membawa nya dengan kedua tangan ku saja. Tak ada tempat untuk wadah itu, saking besar nya aku juga beberapa kali di tegur orang karena tidak membawa nya dengan benar.
Tok tok
Cetrek
Aku langsung menuju kamar, menyimpan tas lalu ke kanar mandi, memindahkan air yang di wada sebelumnya ke wadah yang baru. Ternyata benar benar besar, bahkan airnya tak sampai penuh ketika di pindahkan pada wadah yang baru saja aku beli.
Baiklah saat nya menimba air.
"Ck April!! Apa apaan sih kamu ini! Tahu kamar mandi disini tuh kecil, apa apaan wadah besar ini. Lihat! Jadi susah jika ingin buang air kecil!!"
"Oh lalu bagaimana?"
"Malah bertanya!! Bawa lah keluar, jangan simpan disini. Cukup panci kecil itu saja jika ingin menyimpan air di kamar mandi, jangan yang ini!"
"Iya"
Aku membawa wadah besar tadi, berat sekali karena sudah terisi air setengahnya. Lalu aku letakan di atas kursi kayu yang ada di belakang, aku khawatir tak di izinkan jika disini, tapi mau bagaimana lagi? Jika aku simpan di bawah wadah nya akan sangat kotor begitu pula dengan air di dalam nya. Karena di belakang rumah ini ada banyak burung perliharaan ayah, sudah dapat di pastikan bahwa airku akan kotor nanti nya.
Akhirnya semuanya selesai, aku punya banyak air sekarang, Alhamdulillah. Setidaknya aku lebih tenang, dan tak akan terlalu tergesa gesa jika akan berangkat bekerja.
"Begini kan terasa luas, cuci wadah sebelumnya! Sangat sangat kotor. Bisa bisa nya kamu memakai air kotor seperti itu!"
Aku tak menjawab nya, kenapa juga dia bertanya. Bukan kah sudah jelas karena aku tak punya pilihan lain.
Nyaman sekali kasurku ini, meski sedikit keras karena tak pernah terkena sinar matahari. Tapi ini cukup untukku. Lagi pula bukan aku tak mau mempercantik kamarku dengan senyaman mungkin, tapi karena semua yang aku lakukan di rumah ini benar benar akan di komentari, meski ingin menghiasi kamar.
"Alah sok sok an, boros litrik tahu pakai yang seperti itu!"
"April, kamu ini kalo mau bersih bersih yang benar! Lihat!! Debu nya terbang ke ruang tengah!"
"Bau banget, pewangi apaan sih ini?"
"Jangan rusak rusakin tembok ya, pake acara tempel tempel yang nggak jelas!"
Aku sudah menyerah dengan semua itu, yang aku kerjakan di kamar dalam rumah ini hanya akan rebahan dan mendengar musik. Yang lainnya tidak akan pernah terjadi.
Meski sebenarnya aku ingin seperti remaja lainnya, menghiasi kamar mereka dengan cantik. Tapi apa boleh buat, karena di rumah ini ada seorang ratu yang berkuasa dan aku hanya hanrus patuh.
...
"April bisa bicara sebentar?"
"Iya"
Aku duduk di depan pintu kamar ku, menghadap ke arash ayah.
"Tetangga sebelah sana, katanya dia suka sama kamu. Besok dia akan datang kemari dengan keluarganya, kemungkinan akan melamar kamu."
"Apa?"
"Orang yang suka sama kamu itu, sudah lama memperhatikan kamu. Katanya dia tertarik sama kamu, dan ingin menjadikan kamu istri"
"Ayah nggak salah bicara kan? Yang benar saja ayah, april saja tak tahu dia siapa, yang mana orang nya? Kenapa tiba tiba datang dan ingin melamar?"
"Ayah juga tak tahu, tapi waktu itu sodara dari anak itu pernah mengatakan bahwa keponakan nya suka ssma kamu ke mamah kamu, ya mamah kamu kan hanya meniyakan saja"
"Nggak, april nggak bisa"
"Kenapa? Ya sudah, kalo ingin memutuskan besok saja di depan keluarga nya, katanya juga tak akan memaksa. Toh dari pada kamu pacaran pacaran berzina, lebih baik langsung menikah bukan?"
Refleks aku langsung berdiri, masuk kedalam kamar dan berisiap siap. Aku tak lagi menjawab pertnyaan ayah.
"Mau kemana kamu?"
"April harus ke klinik, april nggak enak badan"
"Oh ya sudah, pikirkan itu baik baik, besok keluarga nya akan datang pukul 9"
"Iya ayah, april pergi dulu, assalamualaikum"
"Hum, waalaikumsalam"
Apa apaan kejadian tadi? Tak ada angin tak ada hujan tiba tiba ada orang yang ingin melamar?
Setidak nya jika memang orang itu suka sama aku ya aja aku kenalan dong, bukan malah main lamar aja! Dikira aku ini anak ayam apa?
Aku berjalan sangat tergesa gesa, bingung harus kemana. Yang jelas aku tak ingin ada di rumah besok, atau bahkan jika bisa sampai lusa. Karena besok hari minggu dimana semua irang pasti libur dari pekerjaan nya. Dan dengan begitu akan banyak luang untuk orang itu datang ke rumah kapan saja.
Aku harus bagaimana? Kemana aku akan pergi?
Shila! Ya shila. Aku akan meminta bantuan nya.
Tutt tutt tutt
"Halo shila, boleh aku ke rumah kamu?"
"..."
"Ini darurat, aku mohon tolong. Aku tak tahu harus dengan siapa aku meminta tolong"
"..."
"Aku ada di depan klinik rumah sakit"
"..."
"Ok aku tunggu ya"
Syukurlah aku masih punya shila, benar benar kejadian tak terduga ini akan merepotkan banyak orang.
Tak lama shila datang, tanpa banyak bertanya shila langsung membawa aku pergi ke rumah jya, di rumah dia hanya seorang diri, ayah dan ibunya selalau pergi bertugas di luar kota. Maka dari itu dia selalau tinggak sendiri di rumah.
Kami sampai di rumah shila, dadaku sudah sangat sesak sejak tadi, ingin rasanya aku menangis. Aku takut.
Teman teman, jangan lupa bintang nya😄jangan lupa juka like nya, komen nya juga jangan lupa. Agar aku bisa terus semangat untuk terus menulis😆🤗
Mohon maaf kalo ada banyak tipo ya😅🙏
makin seru
makasih ya kak😄😁
maksih ats dukungan nya,, oke siap ka mhon bimbingan nya ya ka🙏🙏🤗🤗
semangat nulis ya, ceritanya bagus loh...
btw tolong mampir di karyaku juga ya 😊😊
see you