Hasna Nathaya Sabila akhirnya menikah dengan pria yang amat dicintainya diusia 20 tahun, tapi dimalam pertama kenyataan menamparnya dengan cukup keras saat tau suaminya tidak mau menyentuhnya dan berkata kasar
Perempuan yang akrab di sapa Hana itu mencoba mempertahankan pernikahannya yang sedari awal sudah retak
Tapi kehadiran pria bernama Reynard justru memperburuk pernikahannya yang sudah diujung tanduk
Bagaimana nasip Hana setelah ini? Akankah Hana berhasil mempertahankan pernikahan dengan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Sudah Menikah
...Happy reading...
Mereka menghabiskan makanan dengan begitu lahap, kemudian kembali ke lobi perusahaan. Karena terlalu sibuk bicara tentang perusahaan Sampai Hana tidak melihat jalan karena fokusnya lebih kepada Hilda banyak bicara.
Bruk... Tanpa sengaja menabrak seorang pria yang membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.
Dengan sigap pria itu memeluk tubuhnya supaya tidak jatuh, beberapa detik pandangan mereka bertemu, seperti waktu terhenti berputar.
Hingga kemudian Pria itu tersadar dan melepas. pelukannya mengingat ajaran Abi, hiingga akhirnya Hana jatuh hingga terduduk dilantai.
Aduh...
"Astaghfirullah!!" Ucap Reynard ikut terkejut melihat wanita itu terjatuh tepat di depannya. "Maaf, aku tidak sengaja menyentuhmu!"
"Kau!" Hana ingin marah rasanya, sudah benar disambut, tau-tau malah dilepas begini, kan sakit dan malunya double, ditambah banyak karyawan yang berlalu lalang.
"Tidak apa-apa pak." Hana bangkit seraya memegang pinggangnya yang terasa amat sakit.
"Kau baik-baik saja kan, Hasna?" tanya Hilda yang ikut sadar setelah beberapa saat terpaku dengan adegan romantis di depannya.
"Iya aku baik-baik saja, ayo kita kembali bekerja!" ajak Hana berpegangan pada Hilda hingga masuk kedalam lift.
"Aah Hasna, aku tidak bermimpi kan, tadi kalian berdua terlihat sangat serasi tadi, tatapan penuh cinta dari pak Reynard, melelehkan adek bang!" Hilda menangkup pipinya sendiri membayangkan adegan romantis barusan.
"Apaan sih kak, tadi itu aku tidak segaja menabraknya. itu saja!" Hana menggeleng sekilas, Hilda memang heboh orangnya hampir seperti Riska.
"Kamu salah, di kantor ini banyak sekali wanita yang tergila-gila pada pak Reynard, tampan sekali dia! ini pertama kalinya aku melihat dia salah tingkah begitu."
Hana mengenyit heran dengan sikap Hilda yang terlalu berlebihan sepertinya, tapi perkataan tidak salah, Reynard itu memang tampan. Tapi Hana kau harus ingat bahwa dirimu wanita beristri.
"Aku biasa saja kak, bagaimana aku menyukai pria lain, karena aku sudah memiliki suami yang tampan juga." balas Hana membayangkan senyum suaminya yang begitu tampan sekali. walau tidak pernah ditujukan padanya.
"Apa kau sudah menikah!" pekik Hilda seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
...*****...
Dua bulan pernikahannya berlalu begitu saja, Hana sibuk dengan kerja magangnya, sementara suaminya Adrian sibuk dengan pekerjaannya juga. Penolakan demi penolakan selalu diterima membuat Hana merasa putus asa dan berhenti mengejar cinta suaminya.
Hana seakan tidak tau memulai pendekatan dengan cara seperti apa lagi, ingin rasanya sekedar bicara saja, tapi dirinya tidak ada keberanian. Biarlah dirinya dianggap pengecut karena memang itu kenyataan.
Dalam pernikahannya tidak ada perkembangan sama sekali, hanya terasa begitu dingin dan hambar. Entah kemana cinta yang dulu bersemayam di hati untuk suaminya.
Sekarang Hana sedang menikmati secangkir kopi dan seporsi red valvet kesukaannya, sesekali melamun memikirkan nasip rumah tangganya yang tidak menunjukkan
kemajuan sama sekali.
"Hey Han apa yang sedang kamu pikirkan?" Sapa seorang wanita yang langsung duduk di sebelahnya dengan membawa nampan berisi makan siangnya.
"Kak Hilda, tidak ada apa-apa kok!" Hana kembali menyuap Red valvet yang tadi tidak tersentuh karena terus melamun.
Hilda hanya manggut-manggut saja tidak mau terlalu mencampuri urusan pribadinya terlalu dalam lagi.
"Halo boleh saya duduk disini?" Sapa seorang pria membawa nampan makan siangnya juga. Membuat Hilda tersedak karena kaget.
"Pak Rey!"
Hilda melirik Hana sekilas yang terlihat biasa saja lagian ia tidak mungkin menolak permintaan lelaki tampan dihadapannya itu
"Ten-tentu saja boleh, benarkan Han!" Hilda menyikut lengan Hana yang kembali melamun lagi.
"Hmm?" gumamnya menoleh pada Hilda dengan tatapan bingung. Hilda memberi isyarat mata pada Hana sontak saja ia ikut menoleh kearah yang ditunjuknya
Betapa terkejutnya Hana bukankah pria itu...
"Kamu lagi!" pekik Hana setengah berteriak membuat menjadi pusat perhatian banyak orang.
Reynard malah tersenyum lebar seraya mengunyah makanan dengan begitu santainya, apa lagi saat mendengar beberapa orang membicarakannya, tapi Reynard seperti tidak peduli.
"Dia pak Reynard salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan ini. Kau lupa?" bisik Hilda menjelaskan tentang pria tampan di hadapannya.
Hana hanya mengangguk samar, Hana kembali duduk, dan sibuk dengan isi pikirannya sendiri yang begitu kacau.
Reynard yang melihat merasa iba dengan kesedihan dimatanya tanpa bisa melakukan apapun, ingin rasanya dipeluk atau sekedar menghibur tapi tidak bisa, karena itu bukan haknya.
Hana beranjak ketika makanannya sudah habis disusul oleh Hilda yang pamit pada Reynard dan sedikit berlari menyusul Hana.
"Apa yang terjadi pada perempuan itu hingga dari matanya saja begitu terlihat kesedihan walau matanya tidak menangis." Hati Reynard juga terasa sesak seakan merasakan sakitnya.
Biasanya Reynard hanya mengunjungi perusahaan ini setiap sekali dalam seminggu tapi sejak Hana bekerja disini setiap hari ia pasti menyempatkan diri untuk berkunjung pada jam makan siang untuk sekedar melihatnya.
Entah ada apa dengan Reynard beberapa hari ini begitu penasaran dengan sosok wanita itu, bahkan membuntutinya sampai ke Apartemen tempat tinggalnya.
Aah Rey kau benar-benar tidak becus menjadi seorang pria, dia bahkan tidak bisa tersenyum dengan senyum yang kau berikan. gumam Reynard melihat punggung wanita itu menjauh.
Semoga saja masalahnya cepat selesai dan bisa tersenyum seperti saat pernikahannya dulu. walaupun tidak bisa memilikinya Reynard selalu berharap yang terbaik untuk gadis itu.
Reynard melanjutkan makan makanannya yang tersisa hingga habis, setelah itu ia pun kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Jam kerja akhirnya berakhir juga sebagian besar karyawan mulai meninggalkan meja kerjanya dan sebagian kecil lainnya memilih lembur karena pekerjaan menumpuk, termasuk Hana yang diberikan banyak pekerjaan oleh seniornya.
Tidak banyak yang bisa dilakukan hanya bisa mematuhi mereka karena ini semua untuk pengalamannya kelak jika memegang perusahaan ayahnya.
Hana masih berkutat dengan komputer dan secangkir kopi sebagai obat agar dirinya tidak mengantuk
Tidak terasa hari makin larut hingga sudah jam 8 malam, dirinya benar-benar terlalu fokus dengan pekerjaan hingga melupakan jam berapa sekarang. Biasanya dia pulang paling telat adalah jam enam sore.
Hana bergegas berbenah membereskan mejanya yang terlihat berantakan, hingga kembali bersih seperti semula.
Hana keluar dari perusahaan dengan keadaan begitu lelah ia memilih memesan taksi online saja untuk mengantarnya pulang. Sembari menunggu ia duduk di halte bus tidak jauh dari gerbang perusahaan.
Tapi rasanya taksi yang ditunggu begitu lama tiba bahkan sudah 15 menit berlalu. "Kemana perginya taksi itu kenapa belum datang juga?" Hana berkali-kali melihat jam dan jalanan berharap taksi cepat datang.
Lama menunggu taksi tidak juga datang malah sebuah mobil yang berhenti tepat di depannya sembari membunyikan klakson.
Hana mundur selangkah beberapa kali mengerjapkan mata melihat pemilik mobil. "Siapa sih?"
Kaca pintu mobil terbuka ternyata lagi-lagi pria tadi siang, Ada apa sebenarnya dengan pria ini
"Pak Reynard?"
...*****...