[Tahap Revisi]
"Jangan suka hujan."
"Kenapa? Karena hujan penyebab langit di salahkan?"
"Bukan. Kalau Lo suka hujan, nanti yang suka Gue siapa?"
Langit, perempuan rumahan yang seluruh waktunya di habiskan untuk belajar dan mengurus pekerjaan rumah bertemu dengan laki-laki yang minim ekspresi di sekolah. Hingga pada pertemuan ke dua, mereka memutuskan untuk memulai hubungan palsu karena alasan tertentu. Namun, hubungan palsu yang dia jalin dengan laki-laki itu malah menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hatinya.
Di saat Langit mulai menyimpan perasaan pada laki-laki itu, semesta malah membentangkan jarak di antara mereka. Dan di saat Langit memutuskan untuk rela melihat orang yang dia suka mulai membangun hubungan dengan perempuan lain, dengan banyak cara semesta juga kembali mendekatkan mereka berdua dalam pertemuan-pertemuan yang tidak terduga.
Akankah perasaan Langit terbalas dan cerita mereka berlanjut? Ataukah cerita mereka hanya sebagai pemanis di masa SMA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namanya Ariel
Langit berulang kali mengetuk pintu sebuah rumah bernuansa kayu. Kemudian selang beberapa menit pintu pun terbuka, menampilkan seorang wanita yang umurnya sekitar empat puluhan tersenyum hangat menyapa mereka. “Nak Gio, nak Langit ada apa kesini?”
Langit dan Gio menyalami tangan wanita tersebut. “Kita mau jenguk Rain, Bu.”
“Rain?”
“Bayi yang kemarin kita bawa kesini.”
“Oh, yang itu. Sebentar, ya.” Wanita bernama Bu Ayu yang merupakan petugas panti itu masuk lagi ke dalam rumah.
“Tahu dari mana kalau namanya Rain?” Gio yang berada di sebelahnya menyahut.
“Asal kasih nama aja. Dia, kan belum punya nama.”
Bu Ayu keluar dengan sosok makhluk kecil yang berada di gendongannya. “Boleh ibu minta tolong sama kalian?”
Langit mengambil alih bayi yang bernama Rain dari gendongan Bu Ayu. “Iya, boleh Bu.”
“Tolong mandikan Rain, ya. Ibu harus masak dulu.”
Awalnya mereka di usir saat mengantarkan Rain ke panti asuhan ini. Karena Bu Ayu tidak mempercayai cerita Langit tentang asal usul bayi yang mereka temukan. Bahkan mereka di tuduh telah melakukan hubungan yang tidak halal, sehingga tidak mau bertanggung jawab dengan menitipkan anak dari hubungan tersebut ke panti asuhan.
Akan tetapi, Langit berusaha dengan perkataannya untuk meyakinkan Bu Ayu bahwa cerita yang mereka sampaikan tidak ada satu pun kebohongan di dalamnya. Akhirnya Bu Ayu luluh oleh perkataan Langit, dan mau menerima bayi tersebut di pantinya.
“Kak Gio, pinjem ponsel. Aku lupa bawa.”
“Buat apa?”
“Buat cari tutorial mandiin bayi.”
“Lo enggak bisa mandiin bayi?”
Langit menggeleng sambil menunduk malu.
“Sini biar Gue aja.” Laki-laki itu mulai menggendong Rain menuju ke kamar mandi.
Langit mengikuti dari belakang, “Emangnya kak Gio bisa?”
“Lo enggak percaya sama gue?”
“Sedikit.”
Tangan Gio telaten memandikan Rain dari atas sampai bawah. Seolah dia memang sudah terbiasa mengurus bayi. Langit menatap tidak percaya pada pemandangan yang dilihatnya. Laki-laki itu benar-benar selalu memberikan kejutan untuk Langit. Semakin lama, laki-laki itu semakin menunjukkan seperti apa dirinya yang sebenarnya. Bukan dari ekspresi melainkan sikap dan tindakannya. Tetapi masih ada begitu banyak sisi misterius yang belum Langit ketahui tentang Gio.
“Bisa bersih-bersih rumah, bisa urusin bayi. Beruntung banget perempuan yang jadi istrinya kak Gio.”
“Lo tertarik enggak jadi istri Gue?”
“Hah?”
“Kalau tertarik, Gue seneng.”
“Maksudnya?”
Gio meninggalkan Langit yang sedang berusaha mencerna perkataannya barusan. Otak Langit sangat lambat untuk menangkap kesimpulan dari perkataan yang Gio lontarkan kepadanya. Padahal dia sudah berpikir selama beberapa menit, tapi tidak menemukan jawaban.
Langit melayangkan pandangan keluar jendela yang menghadap ke sebuah taman. Matanya menangkap sesosok anak kecil perempuan yang sedang duduk di bangku putih dekat pohon dengan wajah sendu.
Dia pun berjalan menghampiri anak kecil tersebut. “Hei, kamu kenapa?"
Anak kecil itu tidak menoleh apalagi menjawab pertanyaannya. Kemudian Langit menepuk pelan pundaknya. “Boleh aku duduk?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah bangku.
Anak kecil berponi itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Tangan kecilnya mulai bergerak di atas buku kecil seperti notebook.
“Maaf kak, aku tuna rungu.” Tulisnya di kertas itu.
Langit membaca tulisannya. Lantas dia juga menuliskan sesuatu di sana. “Nama kamu siapa?”
“Ariel, kalau kakak?”
Mereka mulai mengobrol melalui tulisan di notebook.
“Nama aku Langit.”
“Namanya unik.”
“Kamu kenapa sedih?”
“Kak Langit, kenapa aku harus terlahir seperti ini? Aku juga ingin bisa berbicara dan mendengar seperti mereka.”
“Karena kamu istimewa."
“Kekurangan enggak termasuk istimewa, kak.”
“Kata siapa? Ariel, enggak selamanya bisa mendengar itu menyenangkan.”
“Kenapa bisa gitu?”
“Ada banyak suara yang membuat kamu bahagia, begitu pun dengan suara yang akan membuat kamu sakit hati.”
“Tapi Tuhan enggak adil.”
“Tuhan selalu adil, Ariel. Misalnya, pelangi hanya muncul sesaat karena dia terlalu indah. Kalau Tuhan membuat pelangi abadi di atas langit. Maka matahari, bulan, dan bintang akan cemburu. Karena pastinya orang-orang akan lebih menyukai pelangi daripada mereka.”
“Kak Gio, kenalin ini Ariel. Dia tuna rungu.” Ujarnya saat
melihat Gio yang mulai mendekat ke arah mereka.
Laki-laki itu berjongkok di depan Ariel. Tangannya bergerak-gerak di atas udara. Dia mengajak anak itu mengobrol dengan bahasa isyarat. Untuk ke sekian kalinya Langit di buat terkejut oleh laki-laki itu.
Selama beberapa menit pula Langit hanya bisa memperhatikan mereka tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia penasaran tentang topik yang mereka bicarakan, dan juga kenapa mereka sesekali selalu melirik ke arahnya.
Gio menarik tangan Langit. “Ayo pulang, langitnya mendung.”
Sebelum pulang Langit berpamitan dulu kepada Ariel. Anak kecil itu tiba-tiba saja memeluk tubuhnya. Lantas Langit pun membalas pelukan Ariel. “Nanti kak Langit ke sini lagi untuk ketemu Ariel.” Tulisnya di notebook.
Setelah berpamitan, Gio dan Langit beranjak pergi meninggalkan panti asuhan. Sebenarnya setelah mengunjungi panti asuhan mereka berencana untuk pergi ke laut. Tapi lagi-lagi langit tidak mendukung rencana mereka untuk bertemu senja di laut.
“Kak Gio belajar bahasa isyarat dari mana?”
“Di ajarin Hariz.”
“Tadi sama Ariel ngobrol apa aja?”
“Rahasia.”
“Emangnya pembicaraan kalian penting banget, ya?”
“Mungkin.”
“Tapi tadi kalian kayak lagi ngomongin aku.”
“Enggak, tadi kita lagi ngomongin bidadari tanpa sayap.”
“Siapa bidadari? Di mana?”
“Langit.”
juga, harus punter² nahan mulut siih,, jangan kayak ayahnya Langit,, yg omongan nya sama anak kasar banget..udah gitu nyuruh anak jd yang terbaik, tp kita nya sbg org tua, nggak ngasih perhatian ke anak.. betapa kesepian nya anak kita kan..
mungkin karena aku seorang ibu kali yaa, jd lebih ngerasa dibagian itu siih pelajaran nya..
kalo antara Langit dan Gio,, aku suka sama hubungan mereka aja..
di Sri Langit,,nggak ad yg begitu².. cerita nya nggak lebay.. masih selayaknya anak SMA lah menurut ku.. diksi nya aku suka.. watak² karakter nya aku suka.. Langit, Gio, Giva. tapi yang lain, nggak suka sih. jahat soalnya 🤣🤣
pokoknya suka semua aku
3 tahun waktu yang cukup lama buat menjaga kesetiaan dan cinta.. semoga Langit dan Gio bisa melalui nya bersama..
lanjutkan thoorr 💪💪
kupikir kerjaan ayahnya Gio ttg teror dll itu,biar Gio menjauh dari Langit karna nggak mau Langit susah.. tp agak aneh juga siih kalau itu ayahnya Gio.. kayak nggak sepadan aja lawan nya bocah 17 tahun..
mau curiga ke Naya gara² omongan Giva waktu itu yang nyuruh Langit hati² sama Naya, kayak aneh juga.. kayak berlebihan nggak siih kalau anak kelas 2 SMA, ngelakuin hal² kayak gitu.. apalagi di bab ini, sampai sesadis itu.. kayak kekecilan menuriku,,Naya buat ngelakuin hal² kayak gitu.. tp yaa masalah hati,, nggak ada yg tau yaa... sesakit itu dia ngerasa, dibeda²in terus..
lagian nonton berita juga, sering juga hal² kayak gitu dilakuin bocah².. tapi hatiku tetap menolaaakkk.. kekecilaaann.. yaa walaupun dewasa juga tetap nggak pantes siih..
pelajaran siih buat orang tua,, jangan pernah bandingkan anak. meskipun dengan saudara nya sendiri.. karna kalau sdh sakit hati,, bisa nekad kayak Naya..
up lagi thooorrrrrr... jangan lama-lama yaaaaa... semangat 💪💪💪
lama banget baru UP lagi .. kangeeeeeennn
tp Gio nggak benci kan sama Giva ???
kasian yaa Gio kecil.. kurang kasih sayang dari orang tua nya.. bahkan sampai dia besar.. semoga kedua orang tua nya cepet sadar dehh..
ahh iyaa,, ada 1 uneg-uneg siih yang belum.. semangat berkarya thoorr.. aku selalu setia menunggu update an Sri Langit loohh😚😚
tapi ingat ayah Gio,, kasian juga sama Gio jadi nya.. dia kayak beneran suka sama Langit tapi nggak bisa berbuat semaunya karna paksaan ayahnya..
sekali² POV Gio dong thoor.. biar tau gimana perasaan Gio yang sebenarnya 😁
ndang update lagi yaa thoorrrr